Cherreads

magic of machine

JK_PILLOWS_
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
6.7k
Views
Synopsis
“Semuanya demi masa depan di mana dia bisa tersenyum… bukan begitu?” Seorang pria dengan wajah tertutup coretan abstrak menatap Kinroku dari kejauhan—seolah mengenalnya. Saat Kinroku terbangun di dunia yang dipenuhi sihir dan keajaiban, dia menyadari satu hal yang aneh: sihirnya berbeda dari orang lain. Sihir anomali yang ia miliki mulai menarik rangkaian kejadian aneh, kebetulan yang terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Dari akademi sihir hingga konflik yang dapat mengubah dunia, Kinroku perlahan menyadari bahwa hidupnya mungkin adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan di balik semuanya… seseorang telah mengawasinya sejak awal. “Pahlawan? Jangan bercanda.”
VIEW MORE

Chapter 1 - chapter 1, akademi bergengsi...kan?

Ahhh, pada akhirnya aku menerima undangan itu, apa ini sesuatu yang baik, mungkinkah aku harus kembali, bagaimana kalau aku kemabli sekarang saja, tunggu ini, bukan kah aku sudah sampai di depan gerbang, wah...gerbangya sangat tinggi, apa aku harus masuk.

Gerbang emas menjulang tinggi, bahkan untuk pria setinggi 178 cm sepertinya, pagar emas itu sudah lebih dari dua kali kuran tubuhnya, dia menengok ke kiri dan kekanan, mencoba meyakinkan dirinya untuk masuk.

 "kau ingin masuk atau ku tendang sampai rumah?"

"heh.... maa... maaf."

 "bercanda, anak baru?"

"iya pak." jahat...

Satpam itu menepuk bahu pemuda di depanya, sebelum kemudian mendorongnya masuk dengan senyuman tak bersalah, tak menghiraukan seberapa kaget orang yang dia dorong sampai masuk ke dalam akademi sihir itu.

Pria itu kemudian masuk, tempat halaman super luas, dengan beberapa anak baru sepertinya tengah berkumpul menunggu sesuatu, masing masing dari mereka memiliki semacam kelompok?, atau mungkin gang dari sekolah sebelumnya yang sama.

Sedangkan dia, hanya seorang diri, ini pertama kalinya dia keluar dari lingkungan rumahnya,setelah sekolah dari rumah, dan setelah beberapa tahun melakukan hal seperti itu akhirnya dia dapat izin untuk keluar ke dunia luar.

 *duarr!!!*

Ledakan sihir bersekala kecil nampak menggempur ruang olahraga di ujung halaman kanan, untuk sesaat beberapa orang menoleh begitu pula dia, namun kemudian melanjutkan obrolan mereka.

 

hei tunggu tunggu, bukankah itu terlalu santai?, apa itu biasa, itu ledakan loh, ledakan bisa saja tabung gas, atau sesuatu yang berbahaya meledak... orang orang memang menakutkan, kakek, tolong... akuu ingin pulang.

 Dia melamun tampa menyadari sekitarnya, hanya seperti sistem bawaanya dia berjalan begitu saja kedepan tampa memperhatikan ada apa di depanya.

 Suara gedebruk yang aneh, saat dia sadar dia sudah terjatuh di tanah, dia memperhatikan, dan sangat panik, dia sudah menabrak seseorang, telebih seseorang itu sangat cantik.

"maaf, maaf.. apa kau baik baik saja."

"apa maksudmu, kau yang jatuh."

 Ekspresi dingin yang menusuk, pria itu sempat terdiam terpesona dengan kecantikan gadis berambut hitam panjang di depanya, sebelum kemudian dia sadar dan bangun secepat mungkin, dia membersihkan pakaianya, dan hanya bisa menahan malu.

 Astaga dia cantik, apa dia putri bangsawan?, tungu sebentar nona sepertinya mungkin semacam putri, bagaimanapun apa apaan ini dia sangat cantik, benar benar cantik, dia tipeku.

"maaf tadi aku melamun, kak tak apa?"

"kita seangkatan."

 "apa?."

"ku bilang kita sangkatan."

"ouh, maaf ku kira kau kakak kelas."

"aku tak apa, lagi pula kau yang jatuh."

"haha.."tawa canggung dari si pria, mencoba mencairkan suasana, tapi tatapan menakutkan gadis itu masih saja membuatnya malu.

 "a...anu, ruang guru dimana."

"lurus lewat ginasium, masuk lorong belok kanan."

"begitu ya terima kasih."

 Pria itu menunduk dan pergi terburu buru, meninggalkan gadis yang nampak sedikit penasaran denganya.

 "...apa maksudnya gadis bangsawan.."

 Pipi gadis itu nampak mengembung dan sedikit kesal, beberapa saat kemudian nampak pria itu yang berlari melewati ginasium, pikiranya nampak masih tertinggal di depan gadis cantik tadi, namun sebelum dia benar benar sadar.

 *duarr...*

"eh..."

 Ledakan kembali terjadi tepat di samping pria itu, meja kursi papan apapun yang ada di dalam ginasium itu terpelenting ke luar, tepat ke arah pria itu, sepersekian detik, sebelm secara naluriah dia menarik kepalanya sedikit lebih rendah menghindari papan tulis yang bisa saja mengakhiri cerita ini sekarang juga.

Dia terus berlari, seakan ledakan itut berubah menjadi rentetan yang mengikutinya, untungnya dia cukup gesit untuk melewati ginasium tampa mengotori pakaianya.

 Nampaknya aku sudah lebih kuat...hehe

pria itu mengatakanya dengan bangga, tampa menyadari tasnya sudah menggantung tertancap sapu yang meledak tadi, tampa merasakan apapun melanjutkan perjalananya dengan rasa bangga.

Dia berjalan melewati koridor yang tertata bersih dengan berbagai poster ruangan club yang membuatnya sedikit tertarik, baseball sapu sihir, sastra, renang, sepak bola, dan lain lain, satu yang membuatnya tertarik, club penelitian teknologi sihir.

"...wah..ah.." nadanya naik, namun seketika runtuh saat melihat rembesan cairan merah dari pintu club peneliti.

 Nyalinya ciut begitu saja, dia berlari dengan panik menjauh, pintu club terbuka, dan nampak gadis berambut pink yang penuh dengan cat merah keluar sambil terbatuk batuk.

"hah?"

 

 "permisi."

Pintu ruang guru terbuka, nampak pria itu akhirnya sampai disana, beberapa guru langsung melihatnya, dan nampak acuh tak acuh, pria itu nampak gugup, sulitmngambil langkah pertama, sampai dimana salah satu guru datang dari belakang.

 "kau ingin masuk atau ku keluarkan."

"maaf pak."

 "yah bercanda, masuklah dulu."

 Seorang guru tinggi dengan penampilan suram rambut panjang dan kantung mata mendorong pria itu masuk, beberapa detik kemudian dia duduk, dan nampak melihat dokumen di tanganya.

 "kau siswa undangan."

"i..iya pak."

 "ya begitu ya."

 Wajahnya semakin suram, yang satunya nampak pucat, beberapa saat kemudian guru itu menghelan nafas, dan melihat ke arah pria itu.

 "namaku theodor, aku guru mata pelajaran bahasa, sekaligus wali kelasmu."

"siap pak."

 "siapa namamu."

"kikai kinroku pak."

"ah, sihir anomali itu ya."

 "an... ya, betul pak." wajah kinroku semakin pucat.

"tak perlu khawatir seperti itu, masuklah ke kelas, beberapa saat lagi aku akan kesana untuk sambutan."

 "baik pak."

"kelasmu 1A."

 

 Dia bilang anomali... anomali, akhhh aku malu, tolong aku ingin pulang, tapi jika aku pulang kakek pasti akan membunuhku... anomali... akhhhh...

Kepalanya terasa berputar, tampa sadar kakinya telah berhenti di depan kelas bertuliskan 1A, dia menelan ludah, menarik nafas dalam dalam, sebelum beberapa saat berlalu, namun dia masih belum masuk.

Dia nampak melamun begitu saja disana, namun kemudian suara lonceng tanda masuk terdengar, dan dengan panik dia masuk kedalam kelas, tatapan langsung terkunci ke arahnya.

 *woshh*

Suara jiwanya yang keluar nampak secara fisik, hal itu semakin parah ketika semua orang yang tadinya mengobrol dengan asik nampak kembali ke bangkunya masing masing, dan nampak menjadi hening.

 Tamat sudah... ini namanya pembulian kan?

Saat dia terdiam membatu, dia merasakan tepukan kecil di bahunya, beberapa kali hingga dia benar benar sadar, dia kemudian melihat kebelakang tempat theodor nampak memperhatikanya, dan merasa sama bingungnya denganya.

 "eh?"

"eh matamu, kau mau duduk disini apa di luar."

 Theodor menepuk bahu kinroku dengan sangat keras dan kinroku berteriak cukup melengking, hal itu memecah suasana, mereka tertawa, dan kinroku hanya bisa kebingungan dengan apa yang terjadi.

 

 "eh.. baiklah, namaku theodor, aku wali kelas kalian, untuk 1 tahun kedepan, aturanya satu jangan buat masalah, sekian."

"pak sudah menikah belum.?"

"apa matamu ingin ku colok."

 Kinroku tenggelam dalam kelas yang riuh dan hangat, sesaat dia merasa bersyukur ini tak seperti bayanganya, tampa sadar sedikit terseyum.

 "...?"

 Sentuhan kecil di pundaknya membuatnya menoleh, tubuhnya sedikit membungkuk, rambut hitam panjangnya nampak sangat halus, dia menatap dengan wajah dingin namun polos, di tangan kirinya tergantung tas kinroku yang nampak kinroku lupakan.

 "apa ini milikmu..?"