"hei apa kau dengar tentang itu?"
"ah benar, murid kelas 1 yang memiliki tongkat awakening?"
Kabarnya telah menyebar tentang seorang siswa kelas 1 yang memiliki tongkat sihir awakening, sudah satu minggu sejak duel kinroku terjadi, rumor tentangnya menjadi topik hangat di kalangan laki laki, terutama perempuan.
"katanya siswa itu sangat tampan."
"benarkah?"
"aku serius~"
"ah ini gawat, aku ingin melihatnya."
"aku juga, tapi aku tak tahu kelasnya."
Benar, kabar tentang kinroku tidak hanya sampai sana, beberapa perkumpulan gadis menyebarkan rumor berdasarkan fakta tentang ketampanan kinroku tampa poni, sedangkan orang bersangkutanya? Meringkuk di pojok kelas sambil mengingau tak karuan.
"ahahaha sudah berakhir..."
Nampak diujung kelas kinroku yang mengeliat sambil terus menutupi kepalanya dengan kantong coklat tertawa pasrah, sejak seminggu yang lalu kondisinya malahan semakin parah.
"kita tak bisa biarkan ini juryo."
"ya... benar juga, ini gawat jika kinro terus begini siapa yang akan menemaniku belanja dvd."
Kokonei dan juryo nampak berbisik membelakangi kinroku, mereka nampak sepakat untuk membantu kinroku, namun dengan gerak gerik yang mencurigakan menarik perhatian ken yang tak sengaja lewat.
Ekspresi ken nampak heran dengan kelakuan mereka berdua, dia berusaha untuk tak ikut campur mundur beberapa langkah dan menjauh, namun untuk sesaat dia melihat dua pemandangan sekaligus.
Juryo yang sedikit mengeluarkan majalah dewasa dari tasnya untuk menyemangati kinroku, dan belahan bokongnya yang tak sengaja terlihat karena celana yang ketat-
-ken mencoba menahan tawa melihat celah jurang itu, namun ia teringat masih memiliki kewajiban sebagai ketua kelas.
Dan sebagai ketua kelas yang baik dia harus melakukan tugasnya, mengamankan majalah tersebut.
"kalian ap..."
"nah nanti dia.."
Ken melihat hewan menjijikan yang bermain biola, setidaknya itulah pribahasa yang bisa menggambarkan ekspresinya sekarang, di depanya nampak kokonei dan juryo yang sedang mencoba trik kartu, namun kartunya adalah kumpulan gambar tak senonoh.
Mereka sama sama terdiam, kartu di tangan juryo berhamburan jatuh dan beberapa detik kemudian tampa basa basi mereka berdua langsung membersihkan tkp, bersiap pergi tanpa sepatah katapun.
"jadi kenapa kalian melakukan itu."
"...keberatan-, apa apaan kau ken, bukankah ini berlebihan."
"oh berlebihan, benar juga... yah benar deh." ken mengaruk kepalanya dengan santai.
Tidak mempedulikan kokonei dan juryo yang berusaha tetap berdiri dengan satu kaki, menghindari pedang pedang ken di tanahyang siap menusuk mereka, kokonei yang kesal kemudian berteriak dengan kuat
"benarkan, lagi pula laki laki mana yang tak punya majalah dewasa."
"iya."
"benarkan."
"benar." ken terseyum ramah menjawab omelan kokonei.
"jadi bisa kembalikan.... hehe."
"tidak mungkin." dia mengatakanya dengan satu notasi singkat dan dingin.
Ken nampak menyita harta kokonei dan bersiap pergi.
"yah tenang dulu hakari."
"..."
"kami berniat untuk menghibur kinroku."
"dengan majalah porno?"
"kau tak mengerti teman..."
Juryo menjelaskan betapa pentingnya stimulasi fisiki oleh lawan jenis pada ken, namun ken hanya melihatnya sebagai ocehan yang mengada ngada, ken kemudian melihat kantong coklat yang baru saja dia rebut dari mereka berdua mencoba memastikan itu benar benar majalah dewasa.
"...maka dari itu ki-"
"hah?"
Matanya terbelanga wajah syok ken terpahat jelas, tanganya yang sedikit mengintip judul majalah itu nampak bergetar, dia ingin memastikan lebih lanjut namun sepertinya itu tak di perlukan.
"xlr-"
"..."
Ken menutup muluntnya sendiri dia sadar telah sedikit membaca judul majalah itu, matanya terbelanga bukan karena judul itu- tidak maksudku itu memang alasanya, yang lebih membuatnya terkejut adalah karena majalah tersebut salah satu dari 4 seri favorit ken.
Juryo menangkap sinyal telepati itu dia tahu betul isi pikiran ken, dengan wajah kejam dia terseyum sebelum kemudian mendekati ken dan menepuk bahunya dengan akrab.
Berbisik pelan juryo membuat ken tak bisa menyangkal apa apa.
"xlr 569, hey our mom, its so yabai, milf 556."
"ukh..." suara pukulan telak ke hulu ati (secara pra-per harga dirian)
"hei teman... jadi itu seleramu."
Juryo tersenyum puas melihat ken hampir jatuh, dia kemudian mengambil kantong coklat itu dan berjalan mendekati kinroku, dia hendak menyerahkanya pada kinroku, namun tepat sebelum tanganya hendak mendekat, dengan cepat ken menahanya.
"apa maksudmu... itu ku sita."
"hah?"
Ken mencengkram tangan juryo dengan kuat, dia menarik tanganya namun terlihat juryo yang melawan balik menarik tanganya sendiri, tarik menarik terjadi, sebelum beberapa saat kemudian suasana semakin kacau saat kokonei ikut menarik tubuh ken.
"ken tak baik itu punya orang, nanti aku belikan."
"tidak, apa maksudmu... itu, itu akan kusita dan amankan."
"setelah kau pakai"
"apa maksudmu pakai, akh lepasakan sialan."
Kokonei dan juryo terus menahan ken, namun terlihat ken yang tak mau melepaskan majalah itu, kancing kameja ken meluncur lepas karena di tarik oleh kokonei, bahkan dengan kedua orang itu menahan ken tekadnya untuk mendapat-maksudnya mengamankan majalahnya, tetap kokoh.
Tepat ketika perebutan bodoh itu terjadi seseorang dengan tubuh tinggi dan otot terlatih yang ramping dan rambut merah gelap berjalan mendekati, langkahnya tetap dengan background suara DAM-DUM-DAM-DUM terpanpang jelas.
Pria itu nampak mendekati kinroku tatapan tajam yang mengancam memancarkan aura naga tak biasa, pria menakutkan itu kemudian berhenti di depan kokonei juryo dan juga ken.
Perbedaan tinggi nampak mencolok pria misterius itu menatap ke arah mereka, sebelum benar benar ingin mengatakan sesuatu dia mengalihkan pandanganya ke arah kinroku dan hendak melewati mereka bertiga.
"APA YANG KAU LAKUKAN."
*plakk*
Suara kipas kertas besar menghantam kepala pria itu dengan kuat, suara ledakan angin yang bertemu kepalanya menciptakan hentakan yang menarik perhatian, pria tu hanya diam, tatapanya sedikit terjeda dia kemudian berbalik ke arah kokonei dengan ekspresi heran.
"sakit."
"sakit.... sakitkan, benaar itu juga yang kinroku rasakan dasar sialan."
"apa salahku."
"tidak ada."
"...lalu.."
"apa kau mengerti."
"tidak."
"dasar tak berguna."
Kokonei berdiri di atas kursi agar terlihat mendominasi, pria itu yang masih bingung hanya bisa terdiam, dia nampak patuh menundukan kepalanya sambil meminta maaf.
"jadi apa kau mengerti."
"iya maaf."
"bagus, sekarang pergi kesana dan semangati dia."
"baik...maaf." pria itu menunduk merasa bersalah.
"cepatlah!!!"
"he.. hei, kikai semangatlah... ayo semangat."
"hehe..hehee..."
Nampak pria misterius itu berjongkok sambil mengepalkan kedua tanganya mencoba menghibur kinroku dengan wajah datar, kinroku mengintip pria yang tak dia kenal itu dan tak menghiraukanya.
"tunggu sebentar siapa kau." nada cepat kokonei yang terlihat dingin.
Pria itu mendengarnya dengan jelas, dia berbalik sambil masih berjongkok, pria itu kemudian berdiri dan menggaruk kepalanya mencoba mencari jawaban yang dia inginkan.
"...kalian tak mengenalku."
"artis dewasa."
"pemain rugbi."
"ryuji banjou?"
"benar."
Ken menatap tajam ke arah juryo dan kokonei yang nampak membuang wajah, sebelum kemudian dia menghelan napas, dia kemudian mendekati banjou dan bertanya lebih jelas.
"maaf mereka memang begitu, jadi ryuji, ada urusan apa kamu dengan kinroku."
"panggil saja banjou."
"banjou?"
"iya, aku kesini hanya untuk kikai."
"..."
Mereka terdiam kaku sedangkan kinroku yang tadinya lemas kini menjadi waspada, dia memeluk dirinya sendiri sambil menggeser duduknya sedikit menjauh, raut mukanya nampak panik jijik dan juga pucat.
Ken kemudian sedikit bingung, dan melanjutkan.
"lebih tepatnya... kamu punya urusan?"
"ya... urusan spesial." banjou mengatakanya sambil memalingkan wajahnya, pipinya sedikit memerah, dan nampak dia yang memancarkan aura bersemangat.
Melihat ini ken nampak lebih waspada, sedangkan kokonei dan juryo dengan ekspresi pucat bersembunyi di belakang kinroku.
"..."
"ak-"
"GAY... SUDAH JELAS ITU GAY."
"AKU TIDAK GAY!!!."
"HAH?, apanya tidak lihat nada itu, dan kerutan di mulutnya, lalu aura sugar daddy itu, sudah pasti kau gay."
"aku tidak gay, aku memiliki gadis yang kusuka."
"hoo, siapa."
"itu..."
Banjoau memalingkan wajahnya dia nampak terbata bata dengan panik khas orang datar mencoba mengelak, kokonei yang melihat celah kemudian mendekat dengan cepat dan memojokan banjou.
"siapa ayo."
"...ra.. rahasia..."
"apa apaan itu, kau sebut kita teman tapi kau menyembunyikan sesuatu."
"..kita...kita teman." wajah banjou memerah karena senang.
Uwahh...yang satu mesum, yang satu sengklek, yang satu lagi kelewat polos... dan yang satu lagi malah meringkuk di pojokan sepanjang minggu, apa apaan kelas ini... tahun depan... tidak aku lupa tak bisa ganti kelas...ken terdiam.
Ken tampa memalingkan pandangan dari kokonei dan banjou diam diam tanganya bergerak dengan lembut memasukan majalah itu ke tasnya di samping,
tempat sebelum setengah kantong coklat itu masuk kedalam tasnya, tiba tiba sebuah tangan mencengkram pergelangan ken dengan kuat.
"..."
"kawan mencuri itu tak baik."
"..."
"jika kau benar benar menginginkanya aku bisa tunjukan dimana kau bisa membelinya."
"...sialan."
Ken merasakan tatapan girang juryo yang sedang mencengkram tanganya, sebelum kemudian dia menarik tangannya dengan kuat, secara tak sengaja melempar kantong berisi majalah itu tepat ke arah banjou.
Kantong itu tepat mendarat di wajah banjou yang nampak sedang menghindari kokonei, banjouyang terkejut kemudian mengambil kantong coklat itu penasaran dia mengantip isinya, dan nampak dia yang panik.
"i...i.ini... majalahh.."
"stt, diam jangan kencang kencang."
"berikan padaku!!!"
Ken langsung melompat ke arah Banjou dan menarik majalah itu dengan paksa.
"Oi—itu bukan untukmu!"
Tarik-menarik pun kembali terjadi. Kali ini Banjou, yang sama sekali tidak tahu apa-apa, hanya berusaha mempertahankan majalah itu dengan ekspresi bingung.
Di sisi lain, Ken terlihat panik setengah mati—keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia menyadari majalah itu hampir saja dilihat oleh orang lain.
*crakk..*
Suara aneh terdengar dari kantong coklat itu saat ken menarik lebih kuat, ken sadar ada yang salah melonggarkan tarikanya namun banjou malah memperkuat tarikanya, secara tak sengaja melempar majalah itu kebelakang banjou.
Kantong coklat yang membungkus majalah itu robek menjadi dua, menunjukan setengah bagian majalah itu, secara tak sengaja majalah itu mengarah langsung kee seorang gadis yang nampak sedang mengobrol dengan teman temanya.
"hup."
Dengan satu gerakan luar biasa cepat gadis itu menangkap majalah dewasa itu, dia melihatnya sekali dan dengan wajah biasa saja mengalihkan padanganya ke arah rombongan kinroku.
"milikmu?"
Dia berjalan dengan santai ke arah mereka, dan setelah sampai di depan banjou ken dan kokonei yang nampak memasang ekspresi luar biasa panik, namun dengan wajah dingin danacuh menyodorkan majalah itu.
"punyamu?"
"..."
Dengan wajah pucat mereka saling melihat, dengan isyarat sepakat kemudian menunjuk ke arah pojok ruangan, merasa itu bukan milik mereka, gadis itu kemudian berjalan mendekati kinroku yang masing terhuyung dan tak tahu apa apa.
Gadis itu berjongkok perlahan di hadapan kinroku, rambut hitam panjangnya jatuh lembut melewati bahunya, beberapa hela menggantung di depan wajahnya yang tenang.
Dengan gerakan santai dia menyodorkan majalah itu ke arah kinroku, seragamnya sedikit menyesuaikan dengan lekukan tubuhnya, dan dengan polos bertanya.
"punyamu?"
Itu kyouko, kinroku yang melihatnya langsung membeku.
