Cherreads

Chapter 8 - bagaimana?, memangnya aku salah apa para kakak kelas sekalian?

 ".DIMANA DIA, CARI SAMPAI DAPAT."

"jika ketemu dia miliku."

 "hah?, milikmu aku yang menemukanya terlebih duu."

"tidak itu aku."

 Lorong akademi nampak di penuhi para kakak kelas yang menelusuri gedung kelas satu, mereka dengan wajah haus darah nampak mencati dari satu sudut ke sudut lain, memastikan setiap jengkal tak mereka lewatkan.

Di salah satu pojok nampak kinroku yang bersembunyi di balik pintu kelas kosong, dia terduduk lemas dengan nafas panik mencoba bersembunyi dari mereka, dengan pikiran kosong kinroku berteriak dalam hatinya.

 Memikirkan kenapa hal seperti ini bisa terjadi-

 "dia disini."

"akh."

 Salah satu kakak kelas memergoki kinroku dan mendobrak pintu dengan kuat, beruntung kinroku berhasil menghindar, melihat beberapa kakak kelas bersiap mengejarnya, dan tampa aba aba kinroku berlari mlewati pintu di sampingnya.

Lorong sudah penuh dengan para kakak kelas yang mencarinya, ekspresi mereka berubah girang membuat kinroku semakin ketakutan, para kakak kelas berlari mengejar kinroku, dan dia hanya bisa ikut berlari.

Kejar kejaran terjadi, kinroku berbelok dari lorong satu ke lorong lainya, dia memasuki satu kelas melihat ini para kakak kelas mengikuti kinroku, dan saat masuk mereka sadar kinroku sudah tak ada.

 "apa?"

"maaf kakak kelas sekalian!!"

 Kinroku muncul di belakang mereka menarik pintu dan menguncinya dari luar, sebelum kemudian kembali berlari, kinroku sedikit lengah saat salah satu kakak kelas hampir menangkapnya.

Kinroku kemudian menghindari kakak kelas itu, dia melompat di lorong itu mencoba mendapat momentum dan melesat lurus, beberapa kakak kelas kembali datang, kali ini dengan jaring dan perangkat penangkap hewan.

Kinroku yang sedang di udara mengambil sapu menepis tongkat penahan para kakak kelas, dan mendarat di depan mereka, salah satu dari mereka melempar jaring ke arah kinroku, namun dengan cepat kinroku melempar sapunya dan menjerat jaring itu ke atap lorong.

Mata mereka mengunci ke arah kinroku, sedangkan dia nampak memperhatikan mereka semua, suara tetesan ember menjadi tanda, para kakak kelas serentak mencoba menangkap kinroku.

Namun dengan cepat kinroku membanting salah satu kakak kelas berbadan besar ke kerumunan, membuat mereka tertahan dan secara bersamaan menggunakan uang koin di sakunya, kinroku menghancurkan keran pemadam di atas mereka.

"apa ini."

"aku basah."

"kemana dia, menyingkir kalian."

 Kinroku yang memiliki waktu kabur kemudian berlari ke arah sebaliknya, kembali melewati kelas sebelumnya.

saat dia melewati kelas tempat dia menahan para kakak kelas sebelumnya, pintu di dobrak dengan keras tepat saat kinroku berada di depanya.

 "kena kau, sekarang."

 Beberapa kakak kelas menahan kinroku di jendela tertutup, kinroku sedikit terkejut, dia menatap para kakak kelas, raut wajah tak enak terpahat di wajahnya, sebelum kemudian tanpa memiliki pilihan kinroku.

 "sekarang ber-"

Kinroku menendang perut salah satu kakak kelas sampai terpental mengenai yang lainya, dan dengan cepat membuka jendela dan melompat jatuh ke bawah, para kakak kelas hanya bisa melihat kinroku yang jatuh sambil terpelanga.

Kinroku terjatuh menembus semak membuat mereka kehilangan pandangan mereka dari kinroku.

 "kejar dia."

Saat sampai di sana mereka tak menemukan apapun kecuali bekas semak berlubang, merekasaling melihat, sebelum kemudian berpencar mencari keberadaan kinroku.

 "..."

"kenapa kau disini."

 "..lapar pak.."

"kau pikir panti jompo?"

 Nampak kinroku dengan dedaunan di rambutnya, kinroku nampak menangis tersedu sedu,dia kemudian menutup jendela ruang guru, dan duduk bersembunyi.

dia merogoh sesatu yang penyek dari sakunya itu makan siangnya, roti coklat, atau lebih tepatnya roti penyek coklat, dan air mineral berlubang yang setengah terisi.

kinroku hanya menghelan napas dan mulai memakan roti gepeng itu.

Theodor yang melihat ini hanya menghelan napas dan melanjutkan pekerjaanya, tak menghiraukan kinroku yang makan di belakang mejanya di ruangan guru.

 "jadi siapa itu?"

"para kakak kelas..huhu." kinroku menjawab sambil menangis.

 "kenapa mereka mengejarmu?"

"entahlah pak... aku juga takut."

 Theodor memperhatikan salah satu siswa yang mencari kinroku, dia memakai ban klub tenis dan membawa raket, sadar akan sesuatu theodor kemudian berbalik ke arah kinroku.

 "mereka anggota klub kan?"

"saya tak tahu."

 "apa yang mereka bilang."

"mereka... mereka hanya bilang kau milik kami dan, dan sesuatu soal perkumpulan... ini gawat mungkin sekte sesat."

 "itu bukan sekte sesat, jangan cengeng" theodor memukul kepala kinroku.

 

 theodor kemudian menyodorkan nasi kotak pada kinroku, sambil menyerput kopinya, kinroku hampir menangis lagi, namun theodor memukul kinroku dengan kotak nasi itu.

 "kau laparkan, makanlah."

"tapikan ini punya bapak."

 "aku bisa makan sambil mengajar."

"..."

 Kinroku kemudian menerima itu sambil menunduk.

 "jadi?, kenapa kau tak masuk salah satu saja dan semua beres."

"maaf pak, tapi aku tak tertarik."

 "hanya itu?"

"sebenarnya saya lebih condong ke hobi pribadi."

 Theodor nampak membuka buku absensinya, mengecek siapa saja yang masuk klub dan sadar kebanyakan muridnya banyak yang tak mengikuti klub, apalagi dari kelasnya.

 "...hah, intinya tak mau kan?"

"benar pak."

 "kalau begitu kenapa tak osis saja?"

"kenapa?"

 

 Theodor mengambil bulpoin dan menulis surat, menempelkan stampel dan beberapa saat kemudian menyerahkanya pada kinroku, dengan ekspresi bingung kinroku menerima surat itu, dan nampak sangat bertanya tanya.

 "berikan pada ketua osis dan semua selesai."

"apa bapak membantu saya..." nampak kinroku yang terharu, namun beberapa detik kemudian theodor membalikan badanya.

 "cepatlah."

"baik pak."kinroku menegakan tubuhnya dan berdiri, sebelum kemudian menunduk dan pergi begitu saja.

 Theodor hanya diam, sebelum kemudian theodor melihat stiker kadaluarsa dan sedikit menghelan napas, dan berdoa.

 Kinrok yang mendapat surat kebebasan kemudian segera menuju kantor osis, namun kali ini dia menyelinap melewati beberapa kakak kelas yang masih mengejarnya.

 Satu dua lorong kinroku terejut karena ruangan osis ternyata hanya berjarak 1 kelas dari ruangan guru, pintu kayu coklat dengan gagang keemasan dan motif yang mewah, sesaat aroma dupa yang kuat kinroku cium.

 Kinroku kemudian mengetuk pintu itu dua kali namun tak ada jawaban, tepat sebelum ketukan ketiga dia inginkan pintu itu terbuka secara tiba tiba menyambut kening kinroku, mengeliat kesakitan kinroku mengintip dari celah pintu dan kemudian masuk.

 "permisi..."

"masuklah~"

 Seorang gadis kecil berkepang dengan mata besar kulit mulus sedang terduduk sambil mencatat beberapa dokumen, gadis itu mendongkak untuk melihat kinroku jubah kebesaranya juga ikut bergeser, tepat saat gadis itu melihat kinroku sorot matanya menjadi berbeda.

 "siapa kau?"

"aku... ingin bertemu dengan ketua osis."

 "iya ada apa?"

"...aku diminta untuk menyerahkan surat, sekaligus menyuruhku untuk berbicara padanya."

Gadis itu beranjak darikursinya, berjalan menyeret jubah kebesaranya dan berdiri di depan kinroku, perbedaan tinggi 50cm mereka terlihat jelas, kinroku menunduk untuk menatap gadis kecil dengan mata jutek itu.

 Gadis itu mengangkat tanganya meminta surat yang di tangan kinroku, ia menyerahkanya sambil membungkuk dan terlihat gadis itu yang mengambilnya dengan kasar.

Amplop terbuka gadis itu membaca dengan acuh, sebelum kemudian merobek kertas itu dan melemparnya ke lantai, membuat kinroku sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan.

 "sialan itu."

"..."

 Gadis itu menenangkan dirinya dengan segelas susu yang terbang mendektinya, dia kemudian menjentikan jarinya melayang rendah dan kembali duduk di kursinya sambil menulis dokumen baru.

 "kau kikai kinroku?"

"iya?"

 "kalau begitu pergilah."

Gadis itu yang telah duduk di kursinya mengabaikan kinroku dan melanjutkan pekerjaanya, kinroku yang semakin heran kemudian selangkah maju untuk memastikan.

 "maaf tapi... bisakah aku bicara dengan dengan ketua osis."

"tak sopan."

 Gadis itu menatap tajam ke arah kinroku sebelum beberapa saat kemudian kinroku sudah berpindah tempat ke depan jendela, merasa terkejut kinroku berbalik untuk melihat gadis itu lagi.

 "yang benar... nona ketua osis yang terhormat, abe utsune."

 Gadis itu melayang sambil menyilangkan kakinya di depan kinroku dan mengenalkan dirinya, geraian rambut kepangnya menyebar di udara dengan bebas dengan mata angkuh menatap lurus ke arah kinroku.

 "k...ketua?"

"iya."

 "hah?, tapikan keua osis kelas 2.... bukan anak t-"

 Kinroku kembali sadar kali ini dia sudah terseungkur di tanah, dia tak mengetahui apapun soal itu, yang dia tahu hanyalah dia sudah jatuh, tak ada gerakan, tak ada sentuhan, hanya ada dia dan utsune.

Kinroku kemudian duduk dengan tenang sambil menatap utsune, dia kemudian paham dan menundukan kepalanya.

 "maaf, aku tak sopan."

"ya."

 "sekali lagi maaf ketua."

"berisik.... hah, kenapa orang orang aneh terus bermunculan."

 Utsune berbalik sambil terbang menuju salah satu rak, dia meraih telpon di rak itu dan menekan nomor di telpon itu, dering telpon terdengar namun anehnya dering itu terdengar dari balik pintu.

Tampa aba aba pintu terbuka gadis lain berambut hitam panjang dengan wajah acuh masuk tampa permisi, gadis itu melihat kesekeliling, ban osis tergantung di bahunya, dan nampak dia yang menatap ke arah kinroku untuk sesaat.

 "tugas."

"..."

 "dia milikmu, pergilah dan patroli."

"iya."

 Kyouko, dia kemudian meraih tangan kinroku menariknya dengan kuat dan menyeret kinroku keluar, dia yang terkejut untuk sesaat tersipu malu karena berpegangan tangan.

 "sebentar... tunggum tanjou kemana kita."

"panggil saja kyouko, aku lebih suka itu."

 "\\\... kyouko (kyouko-chan)."

"..."

Mereka berdua berhenti, kyouko tampa melepaskan peganganya menatap kinroku dengan dalam, sebelum beberapa detik kemudian kepalanya sedikit memiring.

 "memangnya kau lebih tua?"

"hah?"

 "kau berapa usiamu?"

"17?"

 "...benar juga..."

 Kyouko menunduk dan kemudian melepaskan gengamanya, dia berjalan di depan kinroku dengan santai sambil menatap keluar jendela, melihatnya kinroku kemudian mengejar dan berjalan di belakang bayangan kyouko.

 "apa?"

"tidak."

 "ehh.."

 Wajah kinroku berubah pucat interprensi diri yang minder menyerang tepat seperti critikal hit 9999 damage, sedangkan kyouko?, dia hanya berjalan santai, dia kemudian berhenti sesaat melihat kebelakang, dan mendapati kinroku telah menghilang.

 Kyouko kemudian berjalan mendekati salah satu loker penyimpanan alat kebersihan, membukanya dia mendapati kinroku bersembunyi disana sambil mengatakan hal yang tidak tidak.

 "maaf... maaf... maaf."

"kinroku kita harus pergi."

 " maaf maaf maaf maaf maaf." nadanya semakin cepat.

"kinroku..."

 

Ini percuma

Urat marah kyouko naik dia dengan kasar meninju perut kinroku, membuat kinroku terduduk lemas hingga keluar loker, kyouko kemudian menyeret kinroku untuk berjalan.

Ajaibnya kinroku kemudian sadar dari mode pesimisnya.

 "apa yang terjadi."

"kamu jatuh?... secara harpiah."

"apa?"

Kinroku kemudian berdiri dia merasakan sakit di perutnya dan bertanya tanya kenapa dia bisa mendapatkanya, kyouko hanya membuang wajah, mereka kemudian berjalan bersama menyelusuri lorong sekolah.

Kinroku melamun memikirkan banyak hal, terutama tentangnya.

Ini gawat untuk jantungku... memang benar, kyouko benar benar cantik, tidak ada tandingan, benar benar cantik nomor satu... aku bersyukur masih hidup, aku bersykur pada pak theodor, bahkan pada ketua loli... terima kasih tuhan.

Kinroku menatap kyouko tanpa sadar kekagumanya nampak terlihat jelas dari sorot matanya,

memikirkan banyak hal kinroku luput dari fakta bahwa sadari tadi kyouko yang berjalan sedikit lebih cepat, mencoba menghindari kinroku.

Menyadarinya, kinroku mempercepat langkahnya mencoba mengejar kyouko yang semakin jauh, langkah sepatu mereka menghasilkan bunyi berderit mereka sedikit berlari-

-kinroku yang tertekan kemudian mendahului kyouko.

 "maaf kenapa?"

"..."

 "..."

Perbedaan tinggi mereka tak jauh berbeda kinroku kagum karena kyouko adalah gadis tertinggi yang dia lihat, setidaknya menurutnya hanya kyouko-lah yang pertama kali setinggi itu.

 Tinggi... kupikir dia lebih pendek, saat ku pikir lagi, sepertinya kyouko memang lebih tinggi dari gadis lain... berapa tingginya ya?

"172 cm." kyouko menjawab dengan polos.

 "begitu ya, pantas saja tinggi."

"ya, kalau kau?"

 "aku?... terakhir kali saat smp sekitar 178 atau mungkin 182?"

"oh."

 "iya..."

Kinroku masih tak sadar namun beberapa detik kemudian dia terpaku, dalam benaknya dia bertanya apa dia sudah menanyakan hal itu?, atau secara tak sadar menanyakanya.

Eh...sebentar, apa itu?

"baca pikiran."

"...ha?"

"kubilang baca pikiran."

Kyouko menatap lurus ke arah kinroku dengan nada santai dia bilang hal tabu seperti cenayang di acara supranatural, tidak kinroku lupa ini memang serial supranatural.

Kinroku mundur beberapa langkah wajahnya nampak pucat dan pikiranya kosong.

 "...jadi, dari tadi kamu..."

"...\\\.."

 Kyouko diam dia memeluk dadanya sendiri sambil membuang muka, wajah pucat kinroku berubah menjadi merah padam- semua pikiran bejatnya terhadap kyouko beserta pujian dan pikiran jujurnya ternyata selama ini bisa kyouko dengar dengan jelas.

 "ap...maaf, tidak bukan begitu... maaf."

"kenapa kau minta maaf?"

 "habisnya... menjijikan bukan?"

"..."

 Kyouko berfikir sesaat lampu ide di kepalanya menyala terang sebelum kemudian dia mendekati kinroku dan memegang dada kinroku.

 "nah bagaimana kita impas?"

"haaa?... hah!///."

 Kinroku mundur dengan langkah cepat sembari memegangi kedua dadanya wajanya nampak lebih merah dari sebelumnya, kyouko hanya diam dan dengan santai berjalan mendekati kinroku.

 "apanya yang impas///."

"tidak, nah begini kau kan memikirkan dadaku?, makanya sekarang aku membalasmu dengan memegang dadamu, impas kan?"

 Gadis acuh itu menjelaskan sambil memberi isyarat dengan tanganya, sebelum kemudian dia diam karena ragu dengan apa yang baru saja dia katakan.

 "ta-"

 

 "TANJOU KYOUKO AKU MENANTANGMU!!!"

 Keduanya terdiam mereka melihat kebelakang, seorang pria dengan mata penuh keyakinan.

 "..."

"..."

 "..."

 Semua terdiam diantara si pria misterius yang tiba tiba merasa canggung, kyouko yang bingung dan kinroku yang lebih bingung, suasana menjadi lebih aneh ketika kyouko mendengar isi hati pria itu yang memikirkan sudah merusak suasana.

 "tenang saja-aku terbuka untuk siapa saja."

"..ah, iya kalau begitu maju kau."

 "ya?, kinroku tolong."

 Kinroku kemudian berjalan diantara mereka, dia berdiri diantara pria itu dan kyouko sebelum kemudian merapal mantra dan menjentikan jarinya, sebuah sihir yang sama seperti seminggu yang lalu.

 "open arena."

 Sebuah cahaya lembut yang menyilaukan terpancar di depan mereka bertiga, kinroku yang selesai kemudian berniat memanggil para medis kyouko sampai selesai bertarung.

 "yo."

"!?"

 Kyouko kembali sepersekian detik setelah mereka sama sama masuk kedalam domain arena, di samping kyouko pria yang di seretnya sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang hancur tak berbentuk.

Kinroku yang melihat ini hanya bisa mematung tak bergerak, padahal dia ingat sekali beberapa detik yang lalu baru saja merapal mantra, namun kini kyouko sudah berdiri di depanya.

 "ah tenang saja, tak perlu panggil medis."

 Kyouko menjentikan jarinya, dan seketika pria yang tadi ia seret menghilang entah kemana, dengan santainya kyouko hanya membersihkan tanganya dengan sapu tangan, dan berjalan santai ke arah kinroku.

 "ayo."

"apa... apaan itu?"

 "ku kalahkan."

"bagaimana?"

 "bagaimana?... aku whoss dan bommm.. dan selesai?"

Mata kinroku terbelangan penuh keheranan sedangkan kyouko memiringkan kepalanya karena menunggu kinroku merespon, keduanya diam namun kemudian kyouko berbalik dan berjalan di depan kinroku.

"kyou-"

 "kenapa?"

"..."

 Tanganya di tarik oleh sesuatu.

 Kyouko terdiam napasnya untuk sesaat behenti jantungnya terpacu, bau badan yang bercampur dengan parfum coklat,-

 otot dada yang lebar di ujung matanya, sedikit sentuhan di kaki dan beberapa bagian sesitif.

 Kyouko yang masih syok mencoba untuk melihat, wajahnya sangat dekat rasanya kyouko hanya perlu berjinjit untuk bisa mencium kinroku, tatapan kinroku sedikit berbeda tajam dan penuh kewaspadaan.

Poninya sedikit terangkat, kinroku kemudian menatap ke arah kyouko dengan tatapan serius sambil terus memojokanya ke dinding.

 "kyouko..."

More Chapters