Cherreads

Chapter 4 - hari pertama di akademi sihir...?

 "hei kinro apa nama sihirmu."

"hwek...?" kinroku mengigit lidahnya sendiri karena terkejut.

 "hwekk?"

 Kinroku kemudian menenangkan dirinya sendiri, walau nampak dia masih cemas keringat dingin mengucur deras dari kepalanya, dia kemudian mengambil kartu dari tangan kokonei sambil memalingkan wajah.

 "bukan sesuatu yang spesial."

"heii jangan seperti itu, ayolah... ah benar juga, sihirku adalah lightning."

"petir?"

"ya, bagaimana menyetrumkan?"

"apa maksudnya."

 Kokonei hanya tertawa, mereka melanjutkan permainan kartu sambil mengobrol, entah kenapa mereka masih diam di kelas setelah tes itu, mungkin itu karena sebelumnya beberapa murid kelas lain memandang mereka dengan tatapan heran, kami tak ingin membuat keributan atau mencolok, kata ken.

Murid kelas 1A bersantai mengobrol dan menghabiskan waktu, setidaknya itu yang mereka ingin lakukan, walau beberapa orang benar benar bisa menikmati waktu ini, pak theodor di ujung kelas yang sedang merokok tetap memberikan suasana canggung untuk mereka.

"ada apa, ah jangan khawatirkan bapak bersantailah oke."

theodor mengatakan itu dengan nada ramah dan antusias khas orang suram, rasanya seperti dia menemukan oasisnya sendiri, tak ada pekerjaan karena secara teknis dia sedang bekerja, harusnya begitu.

"yah, aku bersyukur bekerja jadi guru, tak kusangka sesantai ini."

*tit tit tit*

 "ya halo~" theodor mengangkat telpon sihirnya, dia masih menggunakan nada cerianya, mengiyakan beberapa hal sebelum kemudian menutup telpon itu, wajahnya masih terseyum ceria.

 "aku benci pekerjaan ini." wajahnya kembali murung, dia menghelan nafas panjang, mencubit keningnya dan meraba buku catatanya di meja salah seorang murid.

 "aku ada urusan, jangan buat masalah."

"...."

 Kenapa orang seperti itu bisa jadi guru?

Mereka sepakat tentang satu hal, theodor itu tak patut di contoh, dalam artian luas.

 Kinroku yang sedari tadi tak memperhatikan kemudian mengambil kartu terakhir dari tangan kokonei, namun kemudian wajahnya berubah masam, tepat ketika giliran kokonei tiba, kinroku sudah menyerah duluan.

 "aku menyerah, kau hebat kokonei."

"ahaha, aku sering bermain dengan kakak ku."

 "hee, kau punya kakak ya." mata kinroku melihat ke arah jendela saat mengatakan itu, dia nampak tak antusias, dia tak mendengarkan apa yang kokonei bicarakan, untuk sesaat pikiranya kosong.

Burung merpati yang terbang dengan bebas di luar jendela itu terasa terhenti di langit, dia merasa sinar matahari yang sedikit membakar tanganya terasasangat dejavu, untuk sesaat kinroku mengingat.

 "namanya ko-"

"kosue."

 Kinroku memotong ucapan kokonei, untuk sesaat mereka berdua sama sama terdiam terkejut, saat kinroku masih terdiam, kokonei tertawa keras dan menepuk bahu kinroku.

 "apa kau sudah kenal dengan kakak ku?, kenapa kau tak bilang."

"tidak, aku tak mengenalnya, sungguh." kinroku mengelengkan kepalanya.

 Mereka sama sama bingung, namun beberapa detik kemudian lonceng tanda istirahat berbunyi, mereka saling menatap, dan kemudian sama sama berdiri.

 BEBERAPA JAM KEMUDIAN.

 "dan apakah kalian tahu apa yang dia katakan ketika aku bilang, salmon lebih enak di goreng, ya ampun harusnya kalian lihat wajahnya ahaha..."

"..."

 Nampak seorang guru wanita yang bercerita dengan keras di depan kelas kinroku, dia nampak sangat menikmati waktunya tak mempedulikan bagaimana para murid yang merasa ngantuk saat mendengar cerita ibu ibu komplek.

 "...dan sel-"

 *suara lonceng sekolah*

 "ah, sudah waktunya, ya ampun aku tak sadar sudah bercerita selama 4 jam, anak anak bersiap untuk pulang ke asrama kalian, oh benar untuk yang belum punya kunci asrama harap segera minta ke wali kelas kalian ya."

 Guru itu kemudian mengemasi buku yang bahkan tidak dia buka, sebelum kemudian pergi dari kelas itu, para siswa menghelan nafas nampak mereka yang lelah kemudian satu persatu bubar begitu saja, mereka pergi tampa berkemas, karena beberapa sudah berkemas dari jam ke 4.

Kinroku melakukan hal yang sama, dia mengemasi beberapa buku dan meninggalkan buku lainya di laci mejanya, dia mengambil tas sebelum kemudian beranjak dari kursinya, kokonei melompat dari belakang dan mengejutkan kinroku, sebelum kemudian mereka berdua pergi bersama.

 "hei kinro kau tahu asramanya dimana."

"apa kau tak baca brosur kokonei."

 "tidak." matanya polos, jawabanya cepat dan percaya diri.

 Kinroku kemudian mengambil brosur sekolah dari papan buletin di lorong kelasnya, brosur itu dibukanya, dan seketika hologram peta muncul di depan mereka, tata letak akademi yang sangat luas dan kompleks membuat mereka takjub.

 "wah, canggih."

"kau benar... tunggu apa itu kantin, aku baru tahu kita punya 3 kantin."

 "dan ketiganya selalu penuh, sebenarnya berapa jumlah siswa kita?"

"entahlah banyak."

 Kinroku kemudian menutup brosur dan berjalan, kokonei hanya mengikutinya dari belakang, mereka berbincang sambil menjelajahi akademi yang super luas itu, setiap lorong di penuhi jendela besar yang mengarah ke lapangan utama tempat kinroku memperhatikan para siswi yang baru saja keluar dari akademi.

"aku mencari seseorang?"

"memangnya kenapa?"

 "tidak hanya saja rasanya kau terlihat mencari seseorang."

"benarkah...?"

 Terdapat jeda dalam kalimatnya, kinroku bahkan tak tahu siapa yang dia cari, mereka kemudian sampai di pintu keluar gedung utama, pintu kayu besar yang penuh dengan para siswa yang baru saja keluar kelas membludak seperti tsunami manusia.

Kinroku nampak enggan melati kerumunana orang itu, dia melihat kekanan dan ke kiri, mencoba menacri jalan lain, namun terlihat kokonei yang berjalan dengan santai menuruni tangga menuju kerumunan itu.

Kinroku yang terkejut mengikutinya, dan melewati kerumunan orang, untuk sesaat karena banyaknya orang kinroku kehilangan padanganya pada kokonei, diantara orang orang disana kinroku yang semakin panik kemudian mencoba untuk lebih cepat.

 "kokonei, sebentar." kinroku menjulurkan tanganya, mencoba meraih bahu seseorang.

 Mata mereka bertemu tangan kinroku tepat di bahunya, mereka berdua terdiam, kinroku kembali memperhatikan dan akhirnya dia sadar, yang dia tarik ternyata gadis berambut hitam yang tadi pagi memungut tasnya.

 "..."

"..."

 Eh...sebentar, apa ini? Tanganku di bahunya, aku yakin tadi itu kokonei,apa aku melamun lagi... tidak tidak tidak sebentar dari pada itu, kenapa aku memegang bahunya.

Otak kinroku behenti bekerja, kyouko hanya diam bingung mereka berdua sudah ada di luar sekolah beberapa orang memperhatikan mereka dan terseyum sebelum kemudian mengalihkan pandangan.

Teman teman kyouko yang melihat ini nampak terkejut dan tersipu, sedangkan kokonei yang baru menoleh kebelakang sadar kinroku sedang menarik kyouko, dia hanya terseyum dan memberikan jempol manisnya.

 "...."

"anu?"

"ya."

 "bisa kau lepaskan?, aku harus pergi."

"ah, iya maaf maaf, kukira kamu yang ku cari."

"ya...?"

 Kinroku melepaskan tanganya, nampak dia yang masih panik menoleh ke arah kokonei, wajahnya memerah marah bercampur malu, sedangkan kyouko yang acuh kemudian berjalan ke arah teman temanya.

 "kokonei sialan kau kenapa kau main jalan seperti itu."

"habisnya bukanya lebih cepat begitu?"

 "apanya yang lebih cepat, hah..." nada lelah di akhir ucapanya, kinroku benar benar lelah dengan apa yang terjadi.

 Mereka berdua telah ada di lorong asrama laki laki nampak beberapa siswa yang juga sudah ada disana sedang bersantai setelah sepulang sekolah, kinroku yang masih canggung nampak berjalan di belakang kokonei.

Kinroku melamun secara tak sengaja saat jaraknya dengan kokonei sedikit menjauh, dia menabrak seseorang dan terdengar suara plok yang terdengar aneh, kinrokuyang baru sadar kemudian panik.

 "akh..."

"ah?.."

 Di lantai terlihat mie instan yang telah jatuh membasahi lantai, kinroku kembali memperhatikan dan ternyata yang dia tabrak adalah seorang kakak kelas tinggi, dia yang panik hanya bisa terdiam dengan wajah pucat sambil terus memikirkan ah sudah tamat aku.

"kau."

"..ah..."

 Kinroku terdiam saat kakak kelas itu berbalik ke arahnya, matanya menyala rambutnya terangkat giginya nampak mengertak kesal, kinroku hanya pasrah melihat ini.

 "ap-"

"maafkan hamba."

Kinroku bersujud sebelum kakak kelas itu menyelesaikan kata katanya, membuat dia sangat terkejut dan balik panik, kakak kelas itu mencengkram bahu kinroku dan membuatnya berdiri karena panik.

 "hei jangan seperti itu, ayolah itukan cuma mie."

""eh..."

 Nampak kakak kelas tadi yang terlihat marah terlihat panik, dia menceramahi kinroku tentang tiba tiba sujud di depan umum, membuat kinroku sedikit aneh melihatnya.

 "intinya jangan tiba tiba bersujud seperti itu ya."

"..iya... tapi mie mu bang."

 "alah hanya mie instan, jangan khawatirkan itu."

"aku akan ganti."

 "tak usah, santai saja...saat baru masuk aku pernah melakukan yang lebih parah." untuk sesaat kakak kelas itu memalingkan wajahnya, namun kemudian kembali menatap kinrku.

 "kau murid kelas 1."

"ya kak."

 "begitu ya, kalau begitu santai saja, aku murid kelas dua semuanya baik, jadi jika hanya mie jangan khawatir soal itu."

 "ya kak..."

 Kinroku mengiyakan, dalam hatinya dia merasa sangat bersyukur, sebelum beberapa saat kemudian kokonei kembali datang sambil memegang mie instans di tanganya.

 "ada apa?"

"ah..."kinroku menatap mie di tangan kokonei."

 "apa?"

"..."

 

"ahaha, jadi begitu kinroku kau sangat sial ya, ahaha."

"aku tak tahu di sekolah ini menyediakan mie gratis untuk siswa..."

"ahaha."

 Mereka berdua kemudian makan mie instandi ruang kumpul kelas 1, nampak kinroku memperhatikan beberapa orang, suasana hangat yang menurutnya tak terlalu buruk, dia menghabiskan mienya dan kemudian mencari kunci kamarnyadi saku jaket.

 "ayo, aku duluan ya."

"um..umm,ummm."

 "habiskan dulu."

"...aku bilang hati hati."

 "ya."

 Kokonei berkata demikian sambil mengambil lagi porsi mie tambahan di saming 3 mangkok mie yang baru saja dia habiskan, kinroku hanya menghelan nafas, dan bergegas pergi.

 Mungkin hari ini aku seperti orang linglung...

Kinroku mengaruk kepalanya dia melihat lagi keluar jendela, mencoba menenangkan dirinya sendiri, perfapasan satu dua satu dua, dia kemudian menatap jauh kedepan.

Ini tak seperti yang kakek bilang... apanya yang pelatihan ekstream dan diskriminasi di akademi kakeknya sekolah di akademi militer disini orang orangnya baik dan ramah, meski gurunya sedikit... tapi yah mungkin aku bisa betah...

Kinroku sedikit terjeda namun dia mencoba optimis bahkan ketika ingatan tentang theodor yang ingin membakarnya, kinroku menepuk pipinya dengan kuat.

 Tidak jangan pesimis kinroku, ingat kau masih punya harapan terakhir orang normal di akademi... benar teman sekamarku.

Dengan wajah optimisnya, kinroku membuka pintu kamarnya tampa memeriksa kuncinya, tempat kemudian dia menangis bahagia karena di dalam kamarnya, terlihat seorang murid gendut kribo yang sedang membaca buku di kursinya.

 "ah, kamu teman sekamarku."

"haha, iya, namaku kikai kinroku salam kenal."

 "iya, namaku takeo juryo."

 Kinroku kemudian menyimpan tasnya, dia nampak senang sekamar dengan orang yang terlihat biasa saja di ujung kursi itu, dia menutup pintu dan mulai berganti pakaian dengan kaos santainya.

 "benarkah... ahaha, itu menarik."

"ya, aku takut saat pak theodor mencatat nilai."

 "aku juga."

"kau enak."

 "tidak sama sekali ayolah."

 Kinroku kemudian menaiki kasur tingkatnya, tempat dia kemudian terdiam seribu bahasa, tumpukan majalah pemersatu banga dari berbagai kategori limit berada di ranjangnya.

Kinroku kemudian menengokke arah juryo, dan ke arah majalah itu lagi diam masih memikirkan apa yang terjadi, tanganya tak sengaja menyentuh salah satu majalah, dia melihat sampul majalah itu, tulisanya edisi spesial kakak berambut hitam.

 "..."

"ada apa?"

 "..."

More Chapters