Cherreads

Chapter 3 - tes sihir yang menyebalkan

 "baiklah selanjutnya."

 

 "hei kinro, tenaglah jangan mati dulu."

"aku sudah pasrah mereka psti jijik denganku."

 "apa maksudmu."

"kau lihatkan sihirku."

 "iya itu sihir yang kuat bukan."

"bukan kah kau merasa jijik karna aku memunculkan meriam bukan bola api."

 "tidak juga menurutku itu sihir yang keren."

 

Kinroku terus meringkuk di tanah bahkan ketika kokonei meyakinkannya, aura kelam menyebar dari sekelilingnya, dan kokonei hanya tertawa dan menyeret kinroku atas saran dari theodor.

Kinrroku masih larut dalam lamunanya,sebelum kemudian melihat gadis berambut hitam yang tadi pagi memungut tasnya berjalan ke arahnya, mereka berpapasan untuk sesaat mata mereka bertemu.

 warna merah gelap yang hampir sama seperti darah, kinroku memperhatikan mata gadis itu, namun gadis itu kemudian memalingkan mata dengan acuh, membuat kondisi kinroku menjadi lebih parah.

 Nona bangsawan memang cantik... aku bersyukur bisa melihatnya hehe...

Kinroku tertawa kecil, tanpa tahu gadis itu mengetahuinya, gadis itu lalu berdiri ditempat yang sama dimana kinroku berdiri, matanya tajam menatap lurus ke manekin dengan rompi anti sihir baru.

Tampa mengucap sepatah katapun dia menjentikan jari dan sebuah bola api sedang menerjang rompi itu dan terbakar hingga habis, sebuah sihir dasar yang senyap dan terlihat tak ada yang aneh.

 "lulus, 180 dari 200."

"..."

 "siapa namamu tadi."

Gadis itu berbalik matanya menatap lurus ke arah theodor, pengalaman yang cukup horor dengan nuansa khas, rasanya seperti boneka tradisonal dengan rambut hitam panjang yang mempesona, gadis itu kemudian berjalan pergi tampa menoleh setelah menatap beberapa detik.

 "tanjou kyouko."

 Namanya kyouko, gadis berambut hitam panjang dengan nilai tertinggi sejauh ini, mata kinroku tak bisa lepas darinya,untuk sesaat dia merasakan perasaan menusuk yang aneh, namun beberapa saat kemudian kokonei menepuk bahunya dengan kuat sambil tertawa.

 "kinro, kau terlalu bersemangat... jika begitu dia akan takut loh." kokonei terseyum jahil sambil menunjuk ke arah kyouko.

 Kepala kinroku miring tanda tak mengerti, sebelum kemudian dia paham dan merasa panik, saat tahu kyouko memalingkan wajahnya dari kinroku sambil menutupi dadanya.

 "tidak, bukan seperti itu."

"ayolah jangan mengelak kau juga pria kan."

"ti..." dia ingin membantah, namun untuk sesaat pikiran seperti itu memang muncul, kinroku diam dan memalingkan wajah sambil berusaha mengelak.

 

 "kyou chi hebat, tos."

"ye..." nada dingin yang kurang antusias

 "yey." menepuk tangan kyouko dengan ceria.

 Gadis berambut hijau mendekati kyouko, dan mereka berdua kemudian mengobrol sambil kembali ke barisan para gadis, satu satunya benteng mutlaknya yang menghalangi kinroku untuk melihat kyouko.

 

Yah sudah kuduga...theodor memperhatikan beberapa murid yang menurutnya memiliki potensi cemerlang, diantaranya kinroku, kyouko, ken, dan satu pria lagi dengan rambut merah gelap, di ujung yang nampak diam dengan tatapan marah.

 Theodor kemudian menggaruk kepalanya sambil melihat nilai murid muridnya, menjentikan jarinya dan memunculkan sebuah kursi, dia duduk dengan menyilangkan kakinya, dengan wajah acuh menghiraukan siswa yang hanya bisa duduk di tanah.

 "baiklah, hari ini cukup sampai sini, kalian boleh pulang ke asrama."

"eh...?"

 Para murid terdim tatapan mereka satu itu theodor, beberapa dari mereka melihat ke arah jam besar di sekolah memastikan bahwa ini masih jam pelajaran, mereeka bingung dan lebih bingung karena theodor nampak sangat santai.

mereka di penuhi pertanyaan seperti plothole di novel murahan, ken yang dari tadi kesal kemudian kembali mengacungkan tanganya, theodor yang melihat ini tak terkejut dan kemudian menyimpan bulpainya.

 "benar juga ini orientasi, harusnya ada sesi tanya jawab.." theodor mengatakan itu sambil menguap, dan datang kopi entah dari mana.

 "jadi siapa yang ingin bertanya duluan."

"saya pak."

 "ya aku melihatmu hakari."

"ka-"

 "duduk."

 Kata kata ken terpotong namun dia dengan patuh kemudian duduk.

 "boleh saya tahu kenapa kita langsung praktek pak."

"itu karena kelas A adalah kelas khusus."

 Beberapa orang nampak menoleh dan tertarik, yang lain nampak bingung namun penasaran, terlebih kinroku yang dari tadi menyimak hampir salah fokus dengan cangkir theodor yang bergambar idol pop.

 "secara umum, akademi memiliki kelas, A sampai G... dan semuanya menyesuaikan dengan petensi muridnya, itu jadi salah satu alasan kenapa tak ada pembagian ulang kelas, atau penukaran kelas... yah aku terbantu untuk itu."

 Dia menyeruput kopi dan menatap ke arah ken dengan tajam, terdapat jeda singkat pada kata katanya, mungkin isis hatinya keluar lagi.

 "di kelas ini, aku pribadi memilih 31 murid berpotensi dari 2489 murid yang mendaftar, jadi kalian adalah orang orang berpotensi yang berada di bawah bimbingan khusus ku."

"..."

 "apa kau mengerti selebihnya hakari."

 Theodor sedikit terseyum sambil meminum kopinya.

 "ya pak." tatapan tegas ken yang nampak paham kemudian diam.

 

 "selanjutnya, apa ada pertanyaan lagi."

"apa bapak punya anak gadis pak?"

 "..."

Kokonei bertanya dengan lantang, membuat theodor menyemburkan kopinya, membuat kelas tak bisa menahan tawa melihat theodor yang terbatuk batuk, theodor menatap tajam ke arah kokonei sebelum kemudian mengambil pulpen dan buku nilai yang tadi selesai di isi.

 "sialan ku kurangi nilaimu." mencari nama kokonei

"ampun pak, bercanda pak." kokonei dengan panik berusaha merebut buku nilai dari theodor.

 

 Susana kembali mencair, dari ujung lapangan kinroku hanya terseyum, dia memikirkan banyak hal dan menghelan napas, sebelum kemudian melihat tanganya sendiri dan tatapanya sedikit murung.

 

 "apa apaan anak jaman sekarang."

Theodor membersihkan kopi di jaketnya, di belakangnya terlihat kokonei sedang duduk dengan benjolan besar di kepalanya, hanya diam dan mengerutu.

 "ada lagi yang ingin bertanya?"

"aku..."

 Pria berambut merah gelap di sebrang kelompok kemudian mengangkat tanganya, membuat theodor sedikit tertarik dan melihat bukunya untuk memastikan namanya.

 "ryuji banjou, apa pertanyaanmu."

"apakah nilai praktek yang tadi, gunanya untuk nilai saja?"

 "tidak, itu untuk menuntukan peringkat kalian."

"oh iya selain kau dan nona tanjou..."

 Katanya tertahan, dia kembali memastikan nilai mereka di bukunya, dan kemudian dengan yakin mengatakanya, saat itu kinroku kurang mendengarkan apa yang theodor coba bilang, dia teralihkan dengan kokonei di belakang pak theodor yang nampak juga ingin mengatakan sesuatu.

 "... kau kinroku, peringkatmu A."

"ha..?"

More Chapters