Cherreads

Chapter 6 - kumohon... setidaknya jangan duel...

 ...tanjou nampaknya dia juga sepertiku...

 tatapan kinroku terkunci ke arah gadis berambut hitam panjang dengan mata acuh itu, rasanya seperti ada filter yang berkilau mengkilap yang membedakan kyouko dengan gadis gadis lain, spanduk bertuliskan gadis dengan pesona dingin.

Kinroku melamun sambil memperhatikan kyouko tampa sadar sebuah siluet bayangan tinggi besar nan kekar menghalangi cahaya lampu, kinroku masih tak sadar dengan orang tinggi di belakangnya, sebuah sentuhan kecil di bahunya memberi isyarat untuk berbalik.

 "ah, iya istirahat kan, aku tak lapar...kalian dulua saja..."

Kinroku berbalik sambil tak mengalihkan pandanganya dari kyouko mengacuhkan siapapun di belakangnya, sentuhan kecil itu berubah menjadi tepukan yang sedikit kuat, terkejut kinroku kemudian berbalik untuk memastikan.

 Matanya berubah pucat, seorang pria tinggi dengan tubuh penuh otot sebesar betisnya berdiri kokoh di depanya, kinroku melihat dari bawah kaki, hingga ujung kepala licin orang itu, dan menelan ludahnya sendiri.

 "...anu, ada yang bisa ku bantu.."kinroku mencoba tak menatap pria itu, dia mengalihkan pandanganya, dia tak bisa menyembunyikan ketakutanya.

Tarikan napas berat serta tatapan tajam pria botak itu menatap langsung ke arah kinroku, pria itu memperhatikan penampilan kinroku, wajahnya nampak memerah karena marah.

 "kau kikai kinroku."

"iya." kinroku menjawab dengan nada ketakutan, lidahnya hampir tergigit sendiri

 "begitu ya."

Pria itu kemudian melangkah satu langkah kedepan kinroku, sebelum beberapa detik kemudian sebuah ledakan terjadi, dari luar sekolah, nampak bangunan kelas kinroku sudah meledak mengepulkan asap reruntuhan.

Tembok yang berlubang mengarah langsung ke lapangan, yang bersamaan dengan ledakan itu, nampak kinroku yang melayang terpental, merasa masih bingung kinroku kemudian memutar tubuhnya, dan mendarat dengan kaki yang utuh.

 "...eh... sebentar-sebentar apa ini, kamu siapa, kenapa tiba tiba."

"jangan banyak bicara."

 Pria itu berdiri di lubang kelas kinroku, sebelum kemudian melompat dan mendarat dengan sihir tanahnya, pria itu mendekati kinroku dan sampai di hadapanya, perbedaan tinggi nampak terlihat, bahkan untuk kinroku yang memiliki tinggi 180 cm pria itu nampak masih lebih tinggi.

Kinroku yang masih ketakutan mundur selangkah, wajahnya nampak pucat panik dia mencoba melihat kesekeliling, sadar dirinya kini menjadi tontonan beberapa siswa membuatnya menjadi lebih panik lagi.

 "aku mobu dari kelas b1, kau kikai."

"ya..."

 "begitu ya..., jika seperti itu maka tak perlu basa basi lagi."

"heikss."

 Kinroku hampir menangis sebelum sihir tanah mobu bisa menyerangnya, sebelum beberapa saat kemudian sebuah pedang menancap di tengah tengah mereka, sama sama menoleh ke kanan nampak ken dengan ban osis di bahunya berjalan mendekat dengan santainya.

 "ada apa ini."

"cih... aku menantangnya."

 "..."

 Ken terdiam sebentar dia nampak menatap tajam ke arah mobu, sedangkan kinroku bersyukur mengira ken berhasil menghentikan mobu, tempat beberapa saat kemudian ke menarik pedangnya yang tertancap, dan mundur beberapa langkah.

 "kalau begitu kau tahukan peraturanya."

 ehh??

"ya."

ehhhh???

 "duel akan di laksanakan."

 hahhh? duel apa kamu.

 Ken mengangkat pedangnya tinggi tinggi, menarik perhatian beberapa siswa di tempat itu, mendengar kata duel beberapa siswa nampak antusias, mereka kemudian terus memperhatikan kinroku dan juga mobu, sindrom demam panggung kinroku kumat membuatnya rasanya ingin melompat dan lari dari sana.

 "anu... hikari... apa maksudnya duel."

"kau tak tahu?"

 "iya." kinroku mengangkat tanganya, sambil terus memegangi perutnya yang mules, dengan wajah pucat berusaha mengerti situasi.

 "begitu ya wajar kau tak tahu, jadi du-"

 -Biar aku saja yang jelaskan

 Duel di akademi grandmagic merupakan sebuah tradisi dimana, saat para siswa yang memiliki peringkat A sampai D bertarung satu lawan satu untuk memperebutkan peringkat yang lebih tinggi.

Dalam beberapa kasus jika peringkat orang yang berduel itu sama sama B, maka butuh 3 kali duel dengan siswa lain untuk naik peringkat ke A, namun kali ini mobu menantang kinroku yang memiliki peringkat di atasnya yaitu B.

Jika siswa yang memiliki peringkat di bawah peringkat siswa lain, menantang siswa dengan peringkat lebih tinggi, maka tak ada alasan untuk siswa dengan peringkat lebih tinggi untuk menolak.

Tapi kenapa?, kenapa peringkat kinroku bisa A, padahal dia belum pernah sama sekali bertarung, jawabanya sederhana 'sihir bawaanya' kinroku bisa di klasfikasikan menjadi peringkat a karena memiliki sihir yang tergolong kuat dan memiliki potensi tinggi.

 "teh begitu, apa kamu mengerti peraturanya."

"tapi pertarungan... apa tak bisa yang lain saja."

 "kamu bisa menolak kok."

"benarkah ka-"

 "tapi siap siap biaya sekolahmu di naikan ke biaya kelas menengah."

"..."

 "lalu pak theodor juga... siap siap kau di bakar olehnya jika memberikan peringkat A mu begitu saja."

 Mata kinroku kosong untuk sesaat bayangan uang melayang di padukan dengan theodor iblis yang mengamuk memenuhi kepalanya, dia kemudian berbalik ke arah mobu dan bersiap.

 "...tolong..."

 

 "bersiap.... OPEN ARENA."

Ken mengucap mantra sambil memutar pedangnya, seketika kinroku dan mobu berpindah tempat, sebuah proyeksi hologram muncul di tempat mereka berdua sebelumnya berdiri, dan nampak mereka berdua yang telah berpindah tempat ke sebuah kota kosong.

 "...apa ini..."

 Kinroku memperhatikan arena kota kosong di sekelilingnya, dia merasa takjub dengan sihir dimensi tersebut, namun beberapa saat sebelum dia menyelesaikan takjubnya, rentetan paku batu raksasa meluncur lurus ke arahnya.

Beberapa inci sebelum paku paku itu menembus tubuhnya, kinroku dengan cepat melompat ke samping, melihat mobu dengan tongkat sihirnya sedang membidiknya lagi, mantra kembali terucap dan rentetan paku batu lainya kembali mengarah ke kinroku.

Kinroku nampak menghindari semua paku batu itu, dan berlari ke arah sebaliknya untuk menghindari serangan mobu, mobu yang kesal kemudian mengetuk tanah sambil membaca mantra, membuat tanah di bawah kinroku bergeser dan mehempaskan kinroku.

 

 Bukanya aku tak bisa bertarung... kakek sudah bilang... aku sudah siap masuk ke dunia luar juga karena aku sudah bisa menjaga diriku sendiri.

Kinroku memikirkan kakeknya saat dia melompat dari dinding gedung ke gedung lain, untuk mendapat momentum hempasan dan memanfaatkanya untuk kabur, kinroku nampak melihat sebuah rantai toko yang tergantung di papan nama, dan mengambilnya.

Dia memutarnya dan mengaitkanya ke salah satu tiang lampu mengambil ancang ancang dan menarik dirinya sendiri agar naik ke balkon salah satu rumah kosong, dia kemudian bersembunyi dan memikirkan strategi.

 "keluar kau kikai, jangan bersembunyi seperti pengecut... orang sepertimu yang terlahir dengan bakat harusnya bisa memberikan perlawanan bukan pelarian."

Mobu nampak semakin marah, dia memperhatikan area sekitar mencoba menemukan keberadaan kinroku, tiba tiba dia melihat ke atas menemukan kinroku yang sedang berdiri memperhatikan dirinya.

 "stone ball."

"..."

Bola bola batu berukuran sedang melesat lurus ke arah kinroku, melihatnya kinroku kemudian melompat dari gedung itu ke gedung di sebelahnya, kinroku terus melakukan parkure dari satu gedung ke gedung lain, menghindari setiap serangan jarak jauh milik mobu.

Beberapa saat kemudian salah satu bola batu berhasil mengenai kaki kinroku membuatnya kehilangan momentum dan hampir terjatuh, kinroku kemudian menggangtung di salah satu ac sihir di apartemen di dekatnya.

 "wild arrows."

Mobu merapal mantra sebuah panah tajam yang tervuat dari angin kemudian terbentuk dari pusaran kecil, panah itu meluncur dengan kecepatan luar biasa ke siap menembus punggung kinroku.

Namun kinroku menarik dirinya sendiri dan juga ac di atasnya, membuatnya jatuh ke balkon apartemen kosong di bawahnya serta menghindari panah angin mobu, kinroku mengambil ancang ancang dan melempar ac itu dengan sekuat tenaga ke arah mobu.

 "shield."

Beruntung mobu sempat merapal mantra membuat sebuah perisai sihir yang memantulkan ac itu sampai hancur berkeping keping bersama perisainya, memanfaatkan hal itu kinroku muncul di depan mobu dengan kuda kuda bertarung.

BUK-BUK-BUK

satu pukulan masing masing di rahang, dada dan perut dari kinroku yang cepat, di akhiri oleh tendangan memutar yang menghempaskan tubuh besar mobu, mobu terpental hingga menghantam pagar toko kosong sampai hancur.

 "uhkh..."

 Mobu nampak menerima serangan kuat darah keluar dari hidungnya, dia kemudian bangkit dengan susah payah hanya untuk melihat kinroku di depanya, tak ada rasa takut di benaknya, hanya amarah karena melihat ekspresi kinroku.

 "apa apaan wajah itu."

"..."

 Kinroku diam dia mengangkat kepalanya, poninya yang panjang sedikit memperlihatkan wajahnya, keraguan yang bercampur dengan keenganan, kinroku menatap lurus ke arah mobu.

 "kenapa."

"...maaf."

 "sialan!!!"

 Mobu berteriak dengan kuat dia mengangkat tongkatnya merapal mantra dengan cepat dan sebuah cahaya kekuningan kemudian terlihat, sebuah bola petir berukuran sedang menyentakan energinya ke tanah dan area sekitar.

Mobu kemudian mengarahkan tongkatnya ke arah kinroku, dan serentak beberapa rentetan jalur petir menyerang kinroku dengan kuat, kinroku berhasil menghindar namun sebagai gantinya nampak kameja sekolahnya robek.

 Untung ku singkap jubahku... akan jadi masalah jika rusak...

Kinroku kemudian melihat kedepan ia melompat tinggi ke arah balkon apartemen, memperhatikan sekelilingnya, namun kemudian rentetan petir kembali menyambar tempatnya berdiri.

Mobu nampak percaya diri namun kemudian sangat terkejut, kinroku melompat di dinding satu gedung ke gedung lain dengan kecepatan di luar nalar, mobu yang nampak panik karena serangan petirnya bahkan terlalu lambat dan tak bisa memprediksi gerakan kinroku.

Dengan putus asa kemudian mobu mengangkat tongkatnya, dia menambahkan energi sihirnya ke bola petirnya, sebuah lingkaran sihir muncul melingkari bola sihir itu, dan menambah ukuranya sedikit demi sedikit.

 "...sekarang."

Sebelum bola petir itu cukup besar, kinroku melesat ke arah bola petir itu, bersamaan dengan mobu yang selesai membaca mantra dan mengarahkan tongkatnya ke arah kinroku.

Sebuah sambaran petiru kuat mengarah ke kinroku di udara, namun kemudian kinroku mengeluarkan potongan besi pagar, dia melemparkan besi itu ke tanah, dan menutupi rambutnya dengan jubah akademi.

Seketika membelokan energi listrik itu ke arah besi pagar di tanah, mengalirkan energinya ke bumi dan hilang begitu saja, kinroku kemudian mendarat di tanah, dan berdiri di depan bola petir itu.

 "kenapa... kenapa orang orang berbakat sepertimu bisa sangat kuat tampa latihan... kenapa kau tak perlu kerja keras untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi."

 Nampak mobu yang semakin frustasi kemudian mencaci maki kinroku, kinroku hanya diam mobu tak bisa melihat wajah kinroku yang diam, namun beberapa saat kemudian mobu menjadi semakin kesal karena sadar sesuatu.

 "kau meremehkanku.. apa menurutmu aku tak cukup kuat."

"tidak begitu."

 Kinroku menatap mobu dengan tatapan kasihan, sebelum kemudian mobu mengarahkan tongkatnya kearah kinroku dan bersiap.

 "kalau begitu kumohon kasihani aku dan kalahkan aku dengan sihirmu."

"..." kinroku diam memikirkan beberapa kenangan bersama pelatihan kakeknya, neraka tingkat 7 yang menurutnya adalah sebuah ujian kedamaian.

 Ia kembali fokus dengan pertarungan, kinroku kemudian terseyum lembut ke arah mobu.

 "...baiklah aku mengerti... kumohon... jangan mati."

"kau!!!"

 Mobu berteriak bersamaan dengan sambaran petir yang mengarah langsung ke kinroku, kinroku tetap tenang bahkan ketika petir itu hampir membakarnya hidup hidup.

 "tembak."

Sebuah tembakan energi menghancurkan sambaran petir yang ingin mengenai kinroku, terkejut mobu langsung melihat ke arah asal tembakan besar itu, sebuah dinding apartemen berlubang.

Lubang itu kemudian jebol, menunjukan sebuah meriam moderen milik kinroku yang sedang mengarah ke arahnya.

"Machine Magic, Hepaistus."

Sebuah portal keemasan yang memancarkan energi kekuningan layaknya air mancur terlihat, gagang katana futuristik berwarna hitam dengan ornamen emas mencuat keluar, kinroku menarik katana itu.

Nampak sarung katana yang di penuhi rune dan bentuk mesin mesin kecil, dan gir berputar yang kontras dengan rune bercahaya ungu, kinroku menarik bilah katana itu, sebuah bilah dengan ujung logam yang di topang dengan struktur tambahan berbasis gir, memperlihatkan sebuah karya seni dari sihir bernama mesin.

 Ya inilah tongkat sihir kinroku, hepaistus, sebuah tongkat sihir yang sudah berevolusi ke tahap selanjutnya bisaa berubah menjadi bentuk yang mencerminkan penggunanya.

 "apa itu..."

"..ini sihir."

 Nadanya dingin dan kasar mobu merasakan hawa yang berbeda tatapan tajam dari balik tudung jubah kinroku, kinroku membuka tudungnya menyingkap rambutnya kebelakang, memperlihatkan wajah dinginya yang ternyata lumayan tampan.

Namun ini aneh dia tak menunjukan ekspresi khas gugupnya, sebaliknya tak ada yang tercermin dari wajahnya, hanya ada kekosongan dan mata gelap yang dalam menatap langsung ke mata mobu.

Untuk sesaat bulu kuduk mobu bergidig, namun kemudian dia mengabaikan itu mobu mengetuk tanah, menyiapkan satu serangan terakhir menggunakan segenap sihirnya yang tersisa dan meluncurkan bola petirnya.

 "Mega Lighting Ball."

"...tembak."

 -DUAR-

 Kinroku hanya mengarahkan katananya ke arah bola petir raksasa itu, sebelum kemudian dari berbagai arah, muncul tembakan energi kuat secara serentak menghantam bola energi yang ingin meluncur itu, menghasilkan ledakan yang cukup kuat sampai sampai menghempaskan mobu kembali ke belakang.

Kepulan asap terlihat memenuhi area sekitar, tempat kinroku berjalan santai dengan katana di tanganya, dia melihat kesekeliling memperhatikan setiap meriamnya yang tersembunyi di balik apartemen serta gedung di sekitar area pertarungan.

Meriam meriam itu kemudian lenyap menjadi percikan cahaya kuning, bersamaan dengan kinroku yang sampai di depan mobu yang sudah tak berdaya, ekspresi kinroku dingin, dia menacapkan katananya ke tanah.

Memanggil satu meriam lagi, kali ini mengarah langsung ke arah mobu, mobu yang panik mencoba menahan dengan tanganya namun terlambat, sebuah ledakan kembali terdengar.

 

 Jadi itu kikai kinroku... tak kusangka murid yang terlihat penakut itu ternyata memiliki keahlian tarung yang luar biasa...

Ken nampak terpukau dengan kinroku sambil terus menunggu, nampak di sampingnya seorang wanita berdada besar yang berdiri sama sama menunggu kinroku dan juga mobu kembali.

Beberapa saat kemudian sebuah portal muncul di depan mereka, tempat kinroku yang sedang menggendong mobu yang ukuran tubuhnya, kinroku nampak masih memegang katananya kemudian menjatuhkan mobu di depan ken.

Mereka berhadapan kinroku mengeser kepalanya miring ke kanan, sambil terus menatap dengan ekspresi dinginya.

 "biar aku yang obati."

"ya tolong."

 Gadis berdada besar yang nampak ingin medekati mobu itu kemudian terkejut dengan suara di belakangnya, dia berbalik hanya untuk tanganya yang menabrak pria di belakangnya.

 "\\\"

 Nampak kinroku dengan wajah dinginya berdiri di belakang gadis itu, terkejut sekaligus terpesona gadis itu buru buru mendekati ken dan bersembunyi di belakangnya.

 "itu kikai kan."

"ya itu kikai, teman sekelas kita."

 "...\\\"

"selamat kau menang kikai."

 

"..." kinroku hanya menatap acuh, sebelum kemudian dia berbalik dan bersiap pergi.

 "mau kemana kau, rewardnya belum selesai."

"..."

kinroku kemudian berhenti, dia berbalik dan menatap ken dengan diam, sedangkan gadis berdada besar itu mencoba tak menatap kinroku dan fokus ke mobu, kinroku kemudian mengaruk kepalanya.

 

 "...tembok."

"??"

 "perbaiki tembok kelas."

 

 "bagaimana menurutmu."

"...dia kuat."

 "yah dia sama sepertimu..."

 Nampak dari kejauhan pria berambut merah tua sedang memperhatikan kinroku dari jarakyang lumayan jauh, dari belakang pria itu muncul theodor yang sedang makan mie cup, dengan santainya berdiri di samping pria itu.

 "dia juga sudah awakening sama sepertimu... ryuji banjou."

More Chapters