Ija berdiri tegak di atas bahu baja The Goliath-01 yang masih bergetar hebat akibat hantaman tinjunya. Di hadapannya, Baron Voltz merangkak mundur di dalam kokpit transparan, wajahnya pucat pasi melihat aura emas kemerahan yang membungkus tubuh Ija.
Ija tidak lagi menyerang secara fisik. Ia memejamkan mata, memanggil kembali otoritas yang sempat ia abaikan karena terlalu larut dalam emosinya.
[NOTIFICATION: ADMINISTRATOR SYSTEM RE-LINKED]
[STATUS: UNSTABLE EMOTIONAL OVERLOAD DETECTED]
[CONVERTING LUST & ADRENALINE INTO RAW DATA CALCULATION...]
[SUCCESS: ADMIN PRIVILEGE LEVEL 4 ACTIVATED]
Tiba-tiba, di depan mata Ija muncul deretan barisan kode berwarna emas yang hanya bisa dilihat olehnya. Ia melihat struktur molekul robot milik Voltz sebagai rangkaian angka-angka yang rapuh. Dengan satu pemikiran, Ija bisa menghapus keberadaan baut paling kecil sekalipun yang menopang mesin raksasa ini.
"Kau... kau monster!" teriak Voltz, tangannya gemetar mencoba menekan tombol darurat. "Bagaimana mungkin kau bisa menembus perisai Void yang sudah kupasang kode enkripsi tingkat dewa?!"
Ija menatap Voltz dengan pandangan dingin yang membuat bulu kuduk pria tua itu berdiri. "Kodemu adalah sejarah kuno bagiku, Voltz. Di hadapan Administrator, enkripsimu hanyalah coretan krayon anak kecil."
[COMMAND: AREA DE-COMPILATION]
[TARGET: THE GOLIATH-01 - ARMAMENT SYSTEM]
[EXECUTION: 100%]
Dalam sekejap, meriam plasma ganda di bahu robot itu hancur menjadi partikel cahaya, seolah-olah mereka tidak pernah ada di sana. Voltz berteriak histeris saat melihat senjata andalannya lenyap begitu saja.
Di bawah sana, Vera, Lyra, Scarlett, dan Aria mendongak menatap pemandangan itu.
"Lihat itu..." gumam Scarlett, matanya berbinar melihat keanggunan Ija dalam mengendalikan sistem. "Itu adalah pria yang baru saja menciumku hingga napasku habis. Lihat betapa berkuasanya dia."
Lyra mengepalkan tangannya, merasakan getaran energi yang terpancar dari Ija. "Dia benar-benar menyatu dengan sistemnya. Kekuatan ini... jauh melampaui apa yang dimiliki Arsitek lama."
Ija mengangkat tangannya ke udara. Sebuah jendela sistem raksasa muncul di langit Sektor 14, bisa dilihat oleh seluruh penghuni kota terapung itu.
[GLOBAL ANNOUNCEMENT: SECTOR 14 UNDER NEW MANAGEMENT]
[RULE 1: TYRANNY IS EXECUTABLE]
[RULE 2: ALL ILLEGAL BLOCKADES DELETED]
"Voltz," suara Ija bergema bukan dari mulutnya, tapi langsung dari sistem audio di seluruh kota. "Kau telah merusak keseimbangan dunia baru yang kubangun. Hukumanmu bukan kematian... tapi penghapusan total dari memori galaksi."
Ija menekan sebuah tombol virtual di udara.
[SYSTEM ACTION: MEMORY WIPE & CORE EXTRACTION]
Cahaya emas meledak dari tubuh Ija, menyelimuti Voltz. Pria itu berteriak saat seluruh harta, kekuasaan, dan identitasnya sebagai Baron disedot masuk ke dalam database sistem Ija. Robot raksasa itu runtuh, perlahan-lahan terurai menjadi debu digital yang beterbangan tertiup angin nebula.
Ija melompat turun dari reruntuhan, mendarat dengan ringan di depan kelima wanitanya. Pendar emas di matanya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan lelah namun penuh kemenangan.
Aria segera berlari dan memeluk Ija, menyalurkan energi penyembuhannya. "Cukup, Ija. Kau sudah menggunakan terlalu banyak otoritas hari ini. Tubuh manusiamu belum sepenuhnya siap menahan beban data sebesar itu."
Ija menyandarkan kepalanya di bahu Aria, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan. "Aku tahu... tapi aku harus menunjukkan pada mereka siapa pemilik dunia ini yang sebenarnya."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi sistem baru muncul, kali ini berwarna merah gelap yang tidak pernah dilihat Ija sebelumnya.
[WARNING: UNKNOWN ENTITY DETECTED IN SECTOR 15]
[THREAT LEVEL: WORLD-ENDER]
[NOTE: THE FIRST OVERSEER HAS ARRIVED]
Ija menegang. Ia menatap teman-temannya. "Sepertinya perayaan kita harus ditunda. Sesuatu yang lebih besar dari Voltz baru saja mendarat di sektor sebelah."
Vera menghunuskan pedangnya kembali. "Penguasa yang sebenarnya tidak pernah punya waktu untuk istirahat, bukan?"
Ija menyeringai, meskipun napasnya masih terengah. "Kalau begitu, mari kita sambut tamu kita dengan cara yang pantas."
