Cherreads

Chapter 24 - Bab 24: Amukan Sang Administrator

Ija melangkah keluar dari pintu palka kapal The Anomaly dengan langkah yang terasa lebih berat namun penuh dengan tenaga yang meluap-luap. Di belakangnya, Vera mengikuti dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak, sementara Lyra, Scarlett, dan Aria tetap berada di perimeter pintu palka untuk memberikan perlindungan awal. Udara Sektor 14 yang dingin dan lembap oleh uap nebula langsung menyapa kulit Ija, namun rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat sentuhan dan cumbuan ketiga wanitanya tadi jauh lebih mendominasi. Sisa aroma tubuh Scarlett dan kehangatan bibir Aria seolah masih tertinggal, menjadi stimulan alami yang membuat adrenalin Ija terpompa ke titik maksimal.

"Kau terlihat sangat bersemangat, Administrator," gumam Vera yang berjalan di sampingnya, matanya melirik ke arah bibir Ija yang masih sedikit memerah. "Kurasa 'ritual' kalian tadi memberikan dampak yang lebih besar daripada sekadar buff energi biasa. Kau tampak seperti singa yang baru saja diberi makan dan sekarang siap untuk berburu."

Ija hanya menyeringai tipis, matanya yang mulai berpendar emas menatap lurus ke arah dermaga yang diterangi lampu neon temaram. "Kau akan melihat sendiri, Vera. Di duniaku, emosi adalah bahan bakar terbaik untuk menghancurkan logika mesin."

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, suasana sunyi kota terapung itu pecah oleh suara alarm yang melengking tinggi. Dari balik bayang-bayang kontainer kargo dan atap-atap bangunan bergaya cyberpunk, ratusan drone tempur tipe Stinger meluncur keluar. Sensor merah mereka berkedip cepat, mengunci posisi Ija sebagai target utama. Tanpa peringatan, rentetan peluru energi mulai menghujani area dermaga, menghancurkan lantai logam dan menciptakan percikan api di mana-mana.

"Lyra, Scarlett! Bersihkan lalat-lalat ini!" teriak Ija.

Lyra melesat maju seperti kilat perak. Dengan sisa gairah yang masih membara di matanya, ia mengayunkan pedang bintangnya dengan liar. Setiap tebasan tidak hanya membelah baja, tapi juga melepaskan gelombang kejut yang menghancurkan sirkuit internal drone di sekitarnya. "Rasakan ini, besi tua! Jangan berani-berani mengganggu waktuku dengan Ija!" teriaknya sambil memutar tubuh, membelah tiga drone sekaligus dalam satu gerakan indah.

Di sisi lain, Scarlett bergerak seperti hantu. Ia merayap di dinding, menghilang ke dalam kegelapan, dan muncul tepat di atas kerumunan drone musuh. Dengan belati bayangannya, ia menusuk titik vital mesin-mesin itu dengan presisi mematikan. Sesekali ia melirik Ija yang berdiri tenang di tengah hujan peluru, memberikan kedipan mata yang nakal di tengah pertumpahan darah mekanik tersebut. Bagi Scarlett, pertempuran ini hanyalah pemanasan sebelum ia menagih "janji" Ija di tempat tidur nanti malam.

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Sebuah robot raksasa setinggi gedung tiga lantai, The Goliath-01, muncul dari balik hanggar utama. Di atas kepala robot itu, berdiri Baron Voltz yang memegang sebuah tongkat frekuensi hitam.

"Cukup bermain-mainnya, Ija!" Voltz berteriak melalui pengeras suara yang menggelegar. "Kau pikir kau hebat hanya karena bisa bercinta dengan beberapa wanita kuat? Di hadapan kekuatan penghancur void ini, kau tidak lebih dari sekadar glitch yang akan kuhapus!"

Voltz mengaktifkan tongkatnya, memancarkan gelombang hitam yang membuat pandangan Ija sempat kabur. Energi emas di tangan Ija mulai tidak stabil, bergetar hebat seolah ingin meledak. Namun, Ija justru tertawa. Ia memejamkan mata, memanggil kembali sensasi panas dari ciuman Lyra dan bisikan nakal Aria tadi sebagai jangkar kesadarannya.

"Kau salah besar, Voltz," desis Ija, suaranya kini terdengar seperti guntur yang tertahan. "Kau menyerang logikaku, tapi kau lupa bahwa aku sedang tidak dipandu oleh logika. Aku dipandu oleh nafsu untuk menang... dan kembali pada mereka."

Ija melompat tinggi, tubuhnya diselimuti aura emas kemerahan yang sangat pekat. Ia menerjang ke arah robot raksasa itu bukan dengan pedang, melainkan dengan tinju telanjang yang dialiri data murni. Saat tinjunya menghantam perisai energi robot tersebut, terjadi ledakan cahaya yang membutakan mata. Perisai itu pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam palu godam.

Vera yang melihat itu tertegun. "Kekuatan apa ini? Itu bukan sekadar manipulasi data... itu adalah manifestasi dari keinginan murni."

Ija berdiri di atas bahu robot raksasa itu, menatap Voltz yang kini gemetar ketakutan. "Sekarang, Baron... mari kita lihat seberapa tahan robotmu ini menghadapi kemarahanku."

More Chapters