Lantai tiga belas berbeda dari semua yang ada di bawahnya.
Bukan hanya dalam skala — meskipun langit-langitnya sudah tidak terlihat, hilang di balik kegelapan yang terlalu pekat untuk disebut bayangan. Bukan hanya dalam suhu — meskipun udara di sini terasa seperti awal musim dingin yang memutuskan datang lebih awal dari jadwal.
Yang berbeda adalah keheningan-nya.
Lantai-lantai bawah punya suara. Angin yang bergerak melalui formasi batu. Tetesan air dari kristal langit-langit. Suara langkah mereka sendiri yang memantul dan kembali dari arah yang tidak selalu masuk akal.
Di sini tidak ada suara sama sekali.
Seperti sesuatu yang sangat besar sedang menahan napas.
"Tim Absolute Zero masuk empat jam lalu," kata Yeon-ji pelan, suaranya terasa terlalu keras bahkan dengan volume sekecil itu. "Kalau mereka bergerak dengan kecepatan normal, seharusnya sudah sampai di sini dua jam lalu."
"Mereka ada di sini." Hyun-woo sudah berhenti berjalan. Matanya memindai kegelapan di depan mereka dengan cara yang membuat Yeon-ji sadar ia tidak benar-benar melihat — ia mendengarkan dengan sesuatu yang bukan telinga. "Tiga ratus meter ke depan. Mereka tidak bergerak."
"Tidak bergerak berarti—"
"Bertahan. Bukan jatuh." Singkat. "Tapi tidak akan lama lagi kalau kita tidak bergerak."
Mereka berlari.
Bukan berlari panik — berlari dengan arah yang jelas, Hyun-woo di depan dengan kecepatan yang membuat Yeon-ji harus sedikit memaksakan diri untuk mengikuti meskipun ia Awakened dan ia bukan.
Tiga ratus meter dalam kegelapan.
Lalu cahaya — bukan dari kristal, tapi dari energi sistem yang aktif, biru dan putih berkilat dari enam figur yang membentuk lingkaran di ruangan yang terbuka. Di luar lingkaran mereka, setidaknya dua belas makhluk mengepung dari segala arah.
Makhluk-makhluk ini berbeda dari yang di lantai sembilan.
Lebih tinggi, lebih ramping, dengan empat lengan masing-masing berakhir di cakar yang panjangnya tidak proporsional dengan tubuhnya. Yang paling mengkhawatirkan: mereka tidak menyerang serentak. Mereka bergantian. Terkoordinasi. Menguji batas pertahanan tim Absolute Zero dengan kesabaran yang tidak seharusnya dimiliki oleh makhluk dari dimensi lain.
Veteran, pikir Hyun-woo. Bukan Grunt biasa. Ini Veteran.
Di tengah lingkaran, seorang perempuan dengan armor putih dan rambut merah pendek — pemimpin tim, dari postur dan cara anggota lain mempertahankan formasi di sekitarnya — melihat ke arah mereka.
Matanya melebar.
"Bantuan?!" Suaranya keluar setengah tidak percaya. "Dari mana—"
"Belakang!"
Hyun-woo tidak berteriak. Ia hanya mengucapkan kata itu dengan volume yang cukup, dan entah bagaimana kalimat itu sampai dengan jelas di tengah kekacauan.
Pemimpin tim itu berputar tepat saat makhluk yang menyelinap dari belakang formasi menerjang. Senjatanya — pedang panjang yang memancarkan cahaya sistem — terangkat dan memblok serangan itu, tapi tekanannya membuat ia mundur dua langkah.
Hyun-woo sudah bergerak.
Ia masuk ke dalam pertempuran dari sisi yang tidak ada yang jaga — celah yang terbentuk saat perhatian semua orang, termasuk para makhluk, terpusat ke arah satu titik. Dua pedangnya keluar bersamaan kali ini.
Tidak ada yang sempat melihat kapan persisnya ia menariknya.
Makhluk pertama yang ia sentuh tidak mengerti apa yang terjadi sampai sudah di lantai. Makhluk kedua bereaksi lebih cepat — memutar salah satu dari empat lengannya ke arah Hyun-woo dengan kecepatan yang seharusnya tidak bisa dihindari dalam jarak sedekat ini.
Hyun-woo membungkuk di bawahnya, satu lutut hampir menyentuh lantai, dan menjawab dengan satu gerakan pedang kiri yang singkat dan sangat tepat.
Makhluk itu mundur tiga langkah. Tidak jatuh — tapi dari cara ia memegang salah satu lengannya, ia sudah selesai sebagai ancaman efektif untuk malam ini.
"Iron Vanguard, posisi kanan!" Yeon-ji sudah bergabung di sisi lain, tombak pendeknya aktif penuh, energi sistem bersinar biru cerah. "Dua target mendekat dari sudut timur laut!"
Formasi mulai bergerak — kali ini dengan dua titik tekanan baru yang mengubah dinamika pengepungan. Para makhluk yang tadinya mengepung dengan rapi mulai kehilangan koordinasi, terpaksa membagi perhatian antara enam target yang sudah ada dan dua tambahan yang masuk dari arah yang tidak mereka antisipasi.
Tiga menit.
Itu yang dibutuhkan untuk mengubah situasi dari bertahan menunggu jatuh menjadi bertahan dengan kontrol.
Lima menit setelah itu, makhluk terakhir mundur ke kegelapan.
Bukan mati — mundur. Pilihan yang Hyun-woo catat dengan cermat. Veteran tidak bertarung sampai habis kalau kalkulasi tidak menguntungkan. Mereka menarik diri, menunggu kondisi yang lebih baik.
Ini bukan akhir dari malam ini.
Keheningan kembali — tapi kali ini berbeda kualitasnya. Bukan keheningan sesuatu yang menahan napas. Keheningan enam orang yang baru saja melewati sesuatu dan belum memutuskan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu.
Pemimpin tim Absolute Zero mendekat.
Dari dekat, ia lebih muda dari yang Yeon-ji perkirakan. Mungkin dua puluh tiga, dua puluh empat. Tapi matanya punya kedalaman seseorang yang sudah melihat lebih banyak dari yang seharusnya untuk usianya. Di bawah kerah armornya, tanda berkah mengalir terang — rank A-plus bukan angka yang bisa dipalsukan.
"Seo Jun-hee," katanya, mengulurkan tangan ke Yeon-ji lebih dulu. "Absolute Zero, pemimpin tim. Terima kasih."
"Cha Yeon-ji. Iron Vanguard." Yeon-ji menjabat tangannya. "Pengamat eksternal yang seharusnya tidak masuk."
Jun-hee melirik Hyun-woo.
Ia melakukan hal yang sama seperti Awakened di kereta tadi pagi — scan cepat, menilai, mengklasifikasi. Tapi berbeda dari yang di kereta, matanya tidak langsung beralih ke abaikan.
Mereka berhenti.
"Kamu tidak punya tanda berkah," katanya. Bukan tuduhan — lebih seperti seseorang yang melihat sesuatu yang tidak masuk dalam kategori manapun yang ia punya dan mencoba mencari tahu di mana harus meletakkannya.
"Tidak," jawab Hyun-woo.
"Tapi kamu baru saja—"
Lantai bergetar.
Bukan gempa — lebih terfokus dari itu. Dari atas. Dari lantai empat belas yang seharusnya belum terbuka.
Semua orang di ruangan itu merasakan getaran itu berbeda-beda. Enam anggota Absolute Zero dan Yeon-ji merasakannya sebagai ancaman fisik — insting bertarung yang langsung aktif, tangan ke senjata, formasi terbentuk dalam dua detik.
Hyun-woo merasakannya sebagai informasi.
Lantai empat belas baru saja terbuka, pikirnya. Dan sesuatu yang turun dari sana bukan Veteran.
"Kita harus turun sekarang," katanya. Tidak ada infleksi urgensi dalam suaranya — tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya yang membuat tidak ada yang mempertanyakan atau menunda.
Jun-hee mengangguk sekali. "Formasi mundur. Sekarang."
Mereka bergerak.
Bersambung.....
