Cherreads

Chapter 3 - BAB 3 - Langkah Pertama ke Dalam

Pintu tower tidak terkunci.

Tidak pernah terkunci — begitulah cara kehendak bumi bekerja. Ia membuka jalan, lalu membiarkan manusia memutuskan apakah mereka cukup berani untuk melangkah masuk. Semacam ujian yang dimulai sebelum ujian sesungguhnya.

Hyun-woo melangkah masuk pertama.

Yeon-ji mengikuti setengah detik kemudian, satu tangan di gagang senjatanya, mata langsung memindai interior dengan kecermatan seseorang yang sudah melakukan ini ratusan kali. Pintu menutup di belakang mereka dengan suara yang terlalu pelan untuk ruang sebesar ini — seperti sesuatu yang bernapas, bukan sesuatu yang mekanis.

Lantai satu Tower B-7 terbentang seperti hutan batu.

Langit-langit setinggi dua puluh meter dengan stalaktit kristal hitam yang memancarkan cahaya biru redup — cukup untuk melihat, tidak cukup untuk merasa aman. Lantai berbatu dengan retakan-retakan yang memancarkan cahaya yang sama. Pohon-pohon tanpa daun terbuat dari material yang bukan kayu tapi bukan batu, berdiri seperti kerangka di antara kabut tipis yang melayang setinggi lutut.

"Kamu pernah masuk tower sebelumnya?" tanya Yeon-ji, suaranya otomatis turun beberapa desibel begitu pintu tertutup.

"Tidak." Jawaban Hyun-woo datang tanpa jeda. "Tapi aku sudah membaca semua laporan eksplorasi yang tersedia untuk publik tentang tower ini."

"Laporan publik hanya mencakup sampai lantai delapan."

"Aku tahu."

Yeon-ji menatapnya sebentar. "Jadi dari lantai sembilan ke atas, kamu tidak punya informasi."

"Dari laporan, tidak." Hyun-woo sudah mulai berjalan ke arah tangga yang terlihat di ujung ruangan — spiral batu hitam yang melingkar ke atas seperti tulang punggung sesuatu yang sangat besar. "Tapi energi di tiap lantai punya karakteristiknya sendiri. Aku bisa membacanya saat kita naik."

"Membaca energi." Yeon-ji mengikutinya, langkah lebih berhati-hati dari Hyun-woo yang berjalan seolah ia tahu persis tidak ada yang akan menyerangnya dari sudut manapun. "Tanpa sistem."

"Tanpa sistem."

"Bagaimana?"

"Latihan."

Yeon-ji menunggu penjelasan lebih lanjut. Tidak ada yang datang.

Mereka melewati lantai dua hingga delapan dalam diam yang relatif.

Monster-monster di lantai bawah sudah dibersihkan oleh tim sebelumnya — yang tersisa hanya jejak pertempuran di dinding batu, bekas energi sistem yang masih bisa dirasakan Hyun-woo seperti asap setelah api padam, dan sekali-sekali suara dari lantai atas yang turun melalui tangga seperti gema dari dunia yang berbeda.

Yeon-ji bergerak dengan efisiensi yang tidak bisa disembunyikan — postur tubuh, pola langkah, cara matanya memindai setiap sudut. Rank B dengan pengalaman lapangan yang nyata, bukan rank B yang didapat dari grinding monster lemah.

Hyun-woo mencatat ini tanpa komentar.

Di lantai sembilan, sesuatu berubah.

Udara terasa lebih berat. Bukan secara fisik — lebih seperti perbedaan tekanan yang hanya bisa dirasakan oleh sesuatu selain paru-paru. Cahaya kristal di langit-langit berubah dari biru ke ungu redup. Dan dari balik formasi batu di kejauhan, terdengar suara pernapasan yang bukan milik manusia.

Yeon-ji berhenti. Tangannya mengangkat senjatanya.

Hyun-woo tidak berhenti.

"Ada tiga," katanya pelan, masih berjalan. "Dua di sebelah kiri, satu di kanan. Yang kanan lebih besar. Biarkan aku yang kanan."

"Tunggu—" Yeon-ji hampir menarik lengannya tapi menahan diri. "Kamu tidak punya senjata."

"Punya." Hyun-woo menepuk sisi pinggangnya — dan Yeon-ji baru menyadari ada sesuatu yang ia lewatkan sejak tadi. Di bawah jaket Hyun-woo, terikat dengan cara yang membuatnya hampir tidak terlihat kecuali kalau kamu tahu harus melihat ke mana, ada dua sarung pedang tipis.

"Kamu membawa senjata masuk ke zona perimeter militer," kata Yeon-ji dengan nada yang sudah melampaui terkejut dan masuk ke wilayah apresiasi yang tidak mau ia akui. "Bagaimana kamu—"

Makhluk pertama keluar dari balik batu.

Tinggi dua setengah meter, berbadan seperti serigala yang diputuskan untuk berdiri dengan dua kaki tapi tidak sepenuhnya berkomitmen pada keputusan itu. Kulitnya seperti batu vulkanik dengan retakan cahaya merah di antaranya. Matanya — empat buah, tersusun vertikal — menatap langsung ke Hyun-woo.

Lalu berhenti.

Hanya satu detik. Tapi Yeon-ji melihatnya dengan jelas — makhluk itu ragu. Sesuatu dalam diri Hyun-woo membuat makhluk yang tidak pernah ragu dalam hidupnya menjadi tidak yakin selama satu detik penuh.

Lalu detik itu berlalu, dan makhluk itu menyerang.

Hyun-woo bergerak ke kanan.

Bukan lompat, bukan berlari — hanya satu langkah menyamping yang waktunya terlalu tepat untuk disebut keberuntungan. Cakar makhluk itu membelah udara tempat ia berdiri setengah detik lalu. Hyun-woo sudah ada di sisi makhluk itu, satu tangan di gagang pedang kanannya.

Ia tidak menariknya.

Sikunya bergerak — gerakan pendek, hampir tidak terlihat — dan menghantam titik di bawah tulang rusuk makhluk itu dengan presisi yang tidak punya kata lain untuk mendeskripsikannya selain bedah.

Makhluk itu terhuyung. Bukan karena kekuatan pukulan — tapi karena sesuatu dalam pukulan itu terasa salah bagi tubuhnya. Seperti arus yang tiba-tiba berbalik arah.

Qi yang tersalur melalui titik tekanan. Teknik dasar kultivasi yang bahkan murid tahun pertama di Celestial Blade Academy bisa lakukan — tapi dalam tangan Hyun-woo, dasar terasa seperti kata yang salah untuk digunakan.

"Dua kiri-mu," katanya tanpa menoleh ke Yeon-ji.

Yeon-ji sudah bergerak.

Senjatanya — tombak pendek dengan ujung berenergi sistem berwarna biru — melesat ke makhluk pertama dari dua yang muncul di sisinya. Tidak elegan, tapi efektif. Rank B bukan angka yang didapat dengan mudah.

Makhluk ketiga — yang lebih besar, yang Hyun-woo klaim sebagai miliknya — muncul dari sisi kanan. Dua kali ukuran yang pertama. Empat kaki, bukan dua, dengan kepala yang terlalu lebar untuk lehernya dan rahang yang terbuka terlalu jauh ke samping.

Hyun-woo akhirnya menarik pedang kanannya.

Tidak ada cahaya. Tidak ada energi yang memancar. Hanya baja yang keluar dari sarungnya dengan suara yang sangat bersih — dan seorang pemuda dengan mata hitam yang berdiri di depan sesuatu yang tiga kali ukurannya dengan ekspresi yang tidak berubah sedikit pun.

Makhluk itu menerjang.

Yang terjadi selanjutnya berlangsung dalam empat detik.

Detik pertama: Hyun-woo tidak mundur. Ia maju — masuk ke dalam jarak serangan makhluk itu, bukan keluar darinya, memaksa rahang yang terbuka itu melewatinya tanpa target.

Detik kedua: Pedangnya bergerak dua kali. Bukan menebas — lebih seperti menyisipkan bilah ke celah yang seharusnya tidak ada di antara lapisan kulit batu makhluk itu. Presisi yang tidak masuk akal untuk seseorang yang mengaku baru pertama kali masuk tower.

Detik ketiga: Makhluk itu berhenti bergerak. Bukan karena mati — karena sesuatu dalam sistem sarafnya baru saja diberitahu oleh dua luka yang sangat spesifik bahwa melanjutkan gerakan adalah ide yang sangat buruk.

Detik keempat: Makhluk itu jatuh.

Yeon-ji menyelesaikan makhluk keduanya tepat saat yang ketiga jatuh. Ia berbalik — napas sedikit lebih cepat dari biasa, senjata masih aktif — dan melihat Hyun-woo sudah memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya.

Tidak ada darah di bilahnya.

"Kamu..." Yeon-ji memulai kalimat itu dan tidak tahu harus mengakhirinya di mana.

"Lantai sepuluh," kata Hyun-woo, sudah berjalan ke tangga. "Energi di sini mulai tidak stabil. Kita perlu cepat."

"Kamu baru saja—" Yeon-ji menunjuk ke makhluk yang tergeletak. "Tanpa sistem. Tanpa skill. Kamu hanya—"

"Yeon-ji."

Ia berhenti.

Hyun-woo sudah ada di kaki tangga, menatapnya dengan ekspresi yang sama tenangnya seperti saat mereka pertama bertemu di perimeter tadi. Tidak puas, tidak bangga, tidak mencari pengakuan.

Hanya seseorang yang sedang menghitung waktu.

"Tim yang kita cari masih di atas," katanya. "Pertanyaanmu bisa menunggu sampai mereka aman."

Yeon-ji menutup mulutnya.

Lalu mengangguk.

Dan mengikutinya naik.

Bersambung.....

More Chapters