Turun lebih cepat dari naik.
Selalu begitu dalam situasi seperti ini — kaki tahu cara bergerak lebih cepat dari yang pikiran izinkan saat ada alasan yang cukup kuat di belakang mereka.
Delapan orang menuruni tangga spiral dengan formasi yang terbentuk secara organik: dua anggota Absolute Zero di depan membuka jalan, empat di tengah melindungi yang terluka — dua anggota dengan luka ringan dari pertempuran tadi — Yeon-ji di sisi kanan barisan tengah, dan Jun-hee di belakang sebagai penutup.
Hyun-woo ada di paling belakang bersama Jun-hee.
Bukan karena ia diminta. Bukan karena ada yang menugaskannya. Ia hanya ada di sana, dan Jun-hee yang sudah cukup berpengalaman untuk membaca medan pertempuran tidak mempertanyakan keputusan yang sudah terbukti tepat dalam lima menit terakhir.
"Seberapa cepat itu bisa turun?" tanya Jun-hee pelan, matanya tetap ke atas — ke arah tangga yang mereka tinggalkan.
"Tergantung apa yang turun," jawab Hyun-woo. "Tapi lebih cepat dari kita kalau kita tidak tambah kecepatan."
"Champion?"
Hyun-woo tidak menjawab langsung. Ia sedang mendengarkan — bukan suara, tapi getaran energi yang turun dari atas seperti gelombang yang sangat lambat tapi sangat berat.
"Kemungkinan," katanya akhirnya.
Jun-hee tidak bereaksi secara visual. Tapi Hyun-woo bisa merasakan perubahan kecil dalam ritme napasnya — kalkulasi seorang pemimpin yang sedang memproses angka dan tidak menyukai hasilnya.
Champion. Setara gate boss tier satu. Dengan tim yang sudah terkuras setelah pertempuran panjang di lantai tiga belas.
Angkanya tidak bagus.
"Berapa lama kita punya waktu?" tanya Jun-hee.
"Kalau Champion — enam menit. Kalau sesuatu di atasnya—" Hyun-woo berhenti sebentar. Energi yang turun terasa semakin jelas sekarang, seperti kabut yang mulai mengental menjadi sesuatu yang punya bentuk. "Empat."
"Empat menit untuk turun dari lantai tiga belas ke lantai satu."
"Tidak." Hyun-woo melirik ke bawah — ke formasi delapan orang yang bergerak cepat tapi tidak cukup cepat. "Empat menit untuk keluar dari jangkauan energinya. Kita tidak perlu sampai lantai satu. Kita perlu sampai lantai delapan."
"Kenapa delapan?"
"Energi dimensi di lantai delapan ke bawah sudah terlalu terstruktur oleh tim eksplorasi sebelumnya. Terlalu banyak jejak sistem. Makhluk dari lantai empat belas ke atas menghindari area dengan saturasi energi sistem yang tinggi — mengganggu orientasi mereka."
Jun-hee diam selama dua detik. "Kamu tahu ini dari mana?"
"Observasi."
"Kamu bilang ini pertama kali masuk tower."
"Iya."
"Tapi kamu—"
Suara dari atas memotong kalimatnya.
Bukan teriakan, bukan raungan — sesuatu yang lebih buruk dari keduanya. Suara yang terasa seperti frekuensi yang tidak seharusnya ada di udara yang bisa dihirup manusia. Rendah, berat, dan terasa seperti berjalan di dalam tulang lebih dari di dalam telinga.
Seluruh formasi melambat tanpa komando.
"Jangan berhenti," kata Hyun-woo. Cukup keras untuk semua orang mendengar.
Mereka bergerak lagi — lebih cepat dari sebelumnya.
Lantai sebelas. Sepuluh. Sembilan.
Di lantai sembilan, Hyun-woo merasakan perubahan. Energi yang turun dari atas berhenti bergerak — bukan karena sumbernya berhenti, tapi karena sesuatu yang membuat sumbernya ragu.
Sama seperti makhluk di lantai sembilan tadi.
Ragu karena merasakan sesuatu yang tidak masuk dalam kalkulasi mereka.
Ragu karena merasakan Hyun-woo.
Ia tidak mengubah langkahnya. Tidak menoleh. Tapi di ujung kesadarannya, sesuatu yang sudah lama hanya duduk diam di balik mata hitamnya bergerak sedikit — seperti seseorang yang sedang tidur yang mendengar nama mereka dipanggil dan hampir terbangun.
Diam, pikirnya. Tidak ke orang lain. Ke sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Belum waktunya.
Lantai delapan.
"Berhenti," kata Hyun-woo.
Semua orang berhenti.
Keheningan. Lalu — tidak ada apa-apa. Suara yang tadi terasa seperti berjalan di dalam tulang sudah tidak ada. Energi dari atas sudah tidak turun lebih jauh.
Lantai delapan. Batas yang ia kalkulasi tepat.
"Kita aman di sini?" tanya salah satu anggota Absolute Zero — suara pemuda, sedikit terlalu keras untuk situasi ini karena belum sepenuhnya memegang kembali kendali atas nada bicaranya.
"Untuk sekarang," jawab Hyun-woo.
Jun-hee berdiri di sebelahnya sekarang, menatap ke atas tangga dengan ekspresi yang tidak menunjukkan rasa takut tapi menunjukkan seseorang yang sedang mengkalibrasi ulang seluruh model pemahamannya tentang sesuatu.
"Itu bukan Champion," katanya pelan.
Bukan pertanyaan.
"Tidak," jawab Hyun-woo.
"Tapi kita hidup."
"Untuk sekarang," ulangnya dengan nada yang persis sama.
Jun-hee akhirnya memalingkan pandangannya dari tangga dan menatap Hyun-woo secara langsung — dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Bukan scan Awakened yang menilai dan mengklasifikasi. Sesuatu yang lebih dekat ke cara seseorang menatap teka-teki yang baru saja membuktikan bahwa kategori yang mereka punya tidak cukup.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya.
Hyun-woo mempertimbangkan beberapa jawaban.
Lalu memilih yang paling jujur dan paling tidak informatif sekaligus.
"Seseorang yang kebetulan lewat," katanya.
Ekspresi Jun-hee tidak berubah.
"Tidak ada yang 'kebetulan' dalam situasi seperti ini."
Hyun-woo sedikit memiringkan kepalanya — gerakan kecil yang, bagi siapapun yang cukup memperhatikan, terlihat seperti sebuah senyum yang tidak sampai ke wajah.
"Kita perlu keluar dari tower," katanya. "Diskusi bisa di luar."
Bersambung.....
