Cherreads

Chapter 7 - BAB 7 - Kopi dan Pertanyaan yang Tidak Direkam

Kedai kopi yang buka dua puluh empat jam di distrik Mapo tidak pernah sepi, tapi jam sebelas malam bukan jam sibuknya.

Mereka duduk di sudut — Jun-hee dengan kopi hitam yang ia pesan tanpa melihat menu, Hyun-woo dengan teh hangat yang membuat Jun-hee menatapnya sebentar dengan ekspresi yang tidak bisa memutuskan apakah ini mengejutkan atau tidak mengejutkan sama sekali.

Yeon-ji bergabung dua puluh menit kemudian, memesan minuman manis yang terlalu berwarna untuk jam sebelas malam, dan duduk di sebelah Jun-hee dengan cara yang menyiratkan bahwa percakapan yang sudah dimulai tanpa dirinya adalah pelanggaran yang cukup serius.

"Sudah mulai?" tanyanya ke Jun-hee.

"Baru," jawab Jun-hee.

"Bagus." Yeon-ji menatap Hyun-woo. "Aku juga punya pertanyaan."

"Tentu," kata Hyun-woo.

Jun-hee meletakkan cangkirnya. "Kamu bisa merasakan energi dimensi tanpa sistem. Kamu tahu karakteristik tiap lantai tower tanpa pernah masuk sebelumnya. Kamu bertarung dengan presisi yang tidak masuk akal untuk seseorang tanpa Awakening." Ia berhenti. "Dan sesuatu dari lantai empat belas — sesuatu yang membuat tim A-rank berpengalaman berhenti bergerak hanya dari suaranya — ragu saat mendekatimu."

Keheningan.

"Pertanyaannya?" tanya Hyun-woo.

"Bukan Awakened," kata Jun-hee. "Tapi juga bukan orang biasa. Apa yang kamu?"

Cara ia mengucapkan pertanyaan itu — bukan siapa tapi apa — menunjukkan bahwa Jun-hee sudah melompati beberapa kesimpulan dan mendarat di tempat yang lebih dekat ke kebenaran dari yang Hyun-woo antisipasi.

Ia mempertimbangkan ini.

Seberapa banyak?

Bukan pertanyaan tentang apakah ia mempercayai mereka — itu variabel yang terlalu dini untuk dievaluasi. Tapi pertanyaan tentang berapa banyak informasi yang bisa keluar malam ini tanpa melanggar sesuatu yang jauh lebih besar dari keputusan pribadi.

Aliansi punya protokol untuk situasi seperti ini.

Protokol resminya: tidak ada yang diungkapkan, tidak ada kontak yang dilanjutkan, mundur dan laporkan ke dewan.

Tapi Hyun-woo sudah melanggar protokol pertama dengan masuk ke tower. Dan yang kedua dengan duduk di kedai kopi ini. Dan kakeknya — kalau tahu — akan tertawa keras sambil memukul kepalanya dan berkata bahwa aturan dibuat untuk orang yang tidak punya penilaian sendiri.

Ayahnya akan menghela napas panjang.

Ibunya akan menyiapkan makanan dan bertanya bagaimana perasaannya tentang semua ini.

"Kamu pernah dengar tentang kultivator?" tanyanya akhirnya.

Jun-hee dan Yeon-ji bertukar pandang.

"Legenda," kata Yeon-ji. "Cerita lama. Manusia yang bisa mengembangkan kekuatan mereka sendiri tanpa sistem — tapi itu sebelum Awakening ada. Sebelum tower muncul."

"Bukan legenda," kata Hyun-woo.

Keheningan yang lebih panjang.

Jun-hee mengangkat cangkirnya, minum perlahan, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang sangat terkontrol untuk seseorang yang baru saja menerima informasi yang mengubah beberapa asumsi fundamental tentang dunia.

"Berapa banyak?" tanyanya.

"Cukup banyak," jawab Hyun-woo. "Tapi tidak banyak yang akan kamu temui. Mereka memilih untuk tidak terlihat."

"Kamu memilih untuk terlihat malam ini," kata Yeon-ji.

"Situasinya tidak memberi banyak pilihan."

"Tapi kamu memilih untuk masuk," lanjut Yeon-ji. "Kamu tidak harus masuk. Kamu bisa berdiri di luar dan membiarkan kami mengurus sendiri."

Hyun-woo tidak menjawab langsung.

Di luar jendela kedai, lampu-lampu Seoul bersinar seperti bintang yang jatuh dan memutuskan untuk tinggal. Dari sini, Tower B-7 tidak terlihat — diblok oleh bangunan-bangunan di antaranya. Tapi Hyun-woo masih bisa merasakannya, samar-samar, seperti gigi yang longgar yang mengingatkan keberadaannya setiap kali lidah menyentuhnya.

Sesuatu di lantai empat belas masih ada di sana.

Menunggu.

"Sesuatu di lantai empat belas tadi," katanya akhirnya, "bukan Champion. Bukan kategori yang ada dalam laporan publik manapun tentang tower di seluruh dunia sejauh ini."

Jun-hee diam.

"Artinya?"

"Artinya tower ini sudah memasuki fase yang berbeda lebih cepat dari proyeksi," kata Hyun-woo. "Dan tim eksplorasi yang masuk berikutnya perlu tahu ini sebelum mereka sampai di lantai empat belas."

"Kamu mau memberikan informasi ke guild?" tanya Jun-hee. Nada yang sedikit berbeda — lebih hati-hati, seperti seseorang yang mengenali nilai dari sesuatu dan sedang menghitung apa artinya.

"Aku mau memastikan orang-orang yang masuk ke tower itu tidak mati karena tidak tahu apa yang menunggu mereka," koreksi Hyun-woo. "Ada perbedaan."

Jun-hee menatapnya cukup lama.

"Kamu tidak tertarik dengan sistem. Tidak tertarik dengan guild. Tidak tertarik dengan pengakuan." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi kamu malam ini masuk ke tower yang bukan urusanmu, membantu tim yang tidak kamu kenal, dan sekarang duduk di sini memberikan informasi yang bisa sangat berharga."

"Dan pertanyaannya?" kata Hyun-woo untuk kedua kalinya malam ini.

"Kenapa?"

Hyun-woo memandang cangkir tehnya sebentar. Bukan karena ia perlu waktu untuk menemukan jawabannya — ia sudah tahu jawabannya. Tapi ada perbedaan antara tahu sebuah jawaban dan memutuskan apakah jawaban itu layak untuk diucapkan keras.

"Tower itu ada di bumi ini," katanya akhirnya. "Dan bumi ini juga tempat saya tinggal."

Sederhana. Terlalu sederhana untuk pertanyaan yang kompleks. Tapi Jun-hee mendengar sesuatu di balik kalimat itu yang Yeon-ji mungkin belum dengar — bukan karena Jun-hee lebih pintar, tapi karena A-plus rank bukan hanya soal kekuatan. Ia soal berapa banyak situasi yang sudah kamu hadapi sampai kamu bisa mendengar apa yang tidak dikatakan.

"Boleh aku menghubungimu lagi?" tanya Jun-hee.

"Kalau perlu."

"Nomormu?"

Hyun-woo memberikan nomornya.

Jun-hee menyimpannya. Lalu menatapnya dengan ekspresi yang sudah melewati semua lapisan profesionalisme dan mendarat di sesuatu yang lebih jujur.

"Baek Hyun-woo," katanya. "Kultivator. Yang kebetulan lewat."

Sudut bibir Hyun-woo bergerak — sangat tipis, sangat singkat.

"Kira-kira begitu."

Yeon-ji yang sudah diam cukup lama menyeruput minumannya dengan keras, sengaja, sebagai cara mengekspresikan perasaan tentang malam yang ia jalani tanpa harus menyusunnya menjadi kalimat.

"Besok aku harus menulis laporan," gumamnya. "Bagaimana cara menulis laporan yang menyebutkan kultivator tanpa terdengar seperti orang gila."

"Jangan sebut kultivator," saran Hyun-woo.

"Lalu aku tulis apa?"

"Individu dengan metode latihan non-standar."

Yeon-ji menatapnya.

"Kamu serius."

"Selalu."

Yeon-ji menyeruput minumannya lagi, lebih keras.

Di luar, Seoul terus berjalan seperti Seoul selalu berjalan — tidak peduli tower, tidak peduli dimensi, tidak peduli pemuda kultivator yang duduk di kedai kopi jam sebelas malam dan baru saja memutuskan bahwa menjaga jarak dengan dunia Awakened lebih sulit dari yang ia rencanakan.

Hyun-woo menatap cangkir tehnya yang sudah hampir habis.

Kakek pasti sudah tahu, pikirnya.

Dan besok pagi pasti ada pukulan yang menunggu di dekat gerbang.

Bersambung.....

More Chapters