Cherreads

Chapter 38 - Bab 38: Retak di Balik Topeng Kedamaian

Kebenaran yang dibawa oleh Ija 0-01 menggantung di udara seperti racun yang tak terlihat. Hutan yang tadinya tampak asri, kini terasa seperti penjara yang sangat rapi. Ija berdiri terpaku, menatap tangannya sendiri. Ia mencoba mencari "menu" sistem, namun yang ia temukan hanyalah degup jantungnya yang terasa lebih berat—seolah-olah detak itu bukanlah miliknya, melainkan detak sebuah mesin pengolah data.

"Jadi..." suara Lyra memecah keheningan, nadanya bergetar antara marah dan takut. "Selama tiga tahun ini, saat kita bercinta, saat kita tertawa, saat kita membangun rumah ini... apakah itu semua karena 'sistem' yang memaksa kita untuk tetap terikat agar tidak terhapus?"

Pertanyaan itu menghantam dada Ija lebih keras daripada hantaman robot Titan di masa lalu. Ia menoleh ke arah kelima wanitanya. Wajah mereka yang biasanya tampak damai, kini dipenuhi oleh keraguan yang menyiksa.

Aria, yang selama ini menjadi penenang bagi mereka, mundur selangkah. Ia menatap telapak tangannya sendiri. "Aku... aku selalu merasa sangat bahagia berada di dekatmu, Ija. Tapi sekarang, aku mulai bertanya-tanya. Apakah kebahagiaanku itu asli, atau hanya parameter yang disetel untuk menjaga level stabilitas sistem kita?"

"Jangan bicara begitu, Aria!" seru Ija, mencoba meraih tangan wanita itu. Namun, saat jemari mereka bersentuhan, sebuah sensasi glitch biru elektrik menyambar di antara mereka.

[NOTIFICATION: STABILITY WARNING - DOUBT DETECTED]

[CONSISTENCY INTEGRITY: 88% - DROPPING]

Ija menarik tangannya seolah tersengat api. Notifikasi itu... ia bisa melihatnya di sudut matanya, transparan dan berkedip dengan warna merah yang mengancam. Ija 0-01 benar. Sistem itu tidak hilang; ia telah berpindah ke dalam kesadaran mereka. Mereka bukan lagi manusia yang bebas, mereka adalah baterai emosional yang harus tetap dalam kondisi "mencinta" agar tidak hancur menjadi debu digital.

Scarlett, yang biasanya paling tenang dan sarkastik, tertawa hambar. Matanya menatap Ija dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hebat. Kita pikir kita sudah menang melawan dewa, ternyata kita hanya dipindahkan ke dalam kandang yang lebih cantik. Apakah kau sudah tahu tentang ini dari awal, Ija?"

Ija menatap Scarlett dengan mata yang berkaca-kaca. "Demi Tuhan, Scarlett, aku tidak tahu. Aku benar-benar mengira kita sudah bebas."

"Tentu saja kau akan bilang begitu," sahut Vera dingin, membelakangi Ija. "Karena jika kau mengaku, sistem akan menghapusmu lebih dulu. Bukankah begitu cara kerjanya? Kita semua adalah tawanan dari perasaan kita sendiri sekarang."

Di tengah ketegangan itu, langit di atas desa mereka tiba-tiba berubah. Awan-awan yang putih bersih mendadak terbelah, menampilkan pemandangan yang seharusnya tidak ada: deretan mata-mata raksasa tanpa pupil yang menatap dari balik dimensi. The Silent Elders telah menemukan mereka.

"Mereka sudah tahu," bisik Aiko, suaranya sangat pelan namun terdengar seperti vonis mati. "Ketidakstabilan emosi kita tadi telah mengirimkan sinyal ke Sektor 16. Mereka datang untuk memanen 'baterai' yang sudah matang ini."

Ija mencabut kapak kayunya, namun ia tahu senjata itu tidak ada gunanya. Ia menoleh ke wanitanya. Jika mereka tidak bisa menahan rasa benci, ketakutan, dan keraguan yang kini mulai merasuki mereka, maka dunia ini akan runtuh dalam hitungan menit.

"Dengar!" teriak Ija, suaranya lantang namun penuh keputusasaan. "Mereka ingin kita ragu! Mereka ingin kita membenci satu sama lain agar sistem ini meledak dan mereka bisa memanen energi kehancuran kita! Jika kita ingin selamat, kita tidak boleh memberikan itu kepada mereka!"

"Tapi bagaimana kita tahu jika cinta kita ini nyata?!" balas Lyra dengan air mata yang mulai jatuh.

Ija melangkah mendekat, mengabaikan peringatan merah yang berkedip-kedip di pandangannya. Ia merangkul mereka semua ke dalam lingkaran, mengabaikan rasa sakit glitch yang menusuk sarafnya.

"Aku tidak peduli apakah ini nyata atau diprogram oleh sistem!" seru Ija. "Yang aku tahu, saat aku melihat kalian, aku tidak ingin ada dunia lain. Jika ini adalah simulasi, maka inilah satu-satunya simulasi yang layak untuk dihuni sampai akhir. Jika kita harus mencintai untuk tetap hidup, maka mari kita lakukan dengan cara yang paling gila, paling tulus, yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh algoritma dingin mereka!"

Sistem memberikan peringatan yang sangat keras, namun Ija mengabaikannya. Ia memaksakan tekadnya.

[NOTIFICATION: SYSTEM OVERRIDE - WILLPOWER EXCEEDS PARAMETERS]

More Chapters