Enam bulan telah berlalu sejak kehancuran simulasi di Sektor 16. Ija, Lyra, Scarlett, Aria, Vera, dan Aiko kini tinggal di sebuah kota besar yang padat penduduk, menyamar sebagai keluarga besar yang menjalankan bisnis galeri seni dan bengkel restorasi antik.
Hidup sebagai manusia biasa ternyata jauh lebih melelahkan daripada bertarung melawan dewa kosmik. Tidak ada auto-heal, tidak ada teleportasi. Ija harus bangun pukul lima pagi untuk membuka toko, berurusan dengan pelanggan yang cerewet, dan membayar pajak tepat waktu.
Namun, di balik kehidupan yang tampak normal itu, Ija merasakan sesuatu yang ganjil.
"Tuan, pelanggan dari sektor industri baru saja menelepon lagi," ujar Aiko sambil meletakkan secangkir kopi di meja kerja Ija. Aiko kini mengenakan kacamata berbingkai tipis, penyamaran sempurna untuk seorang mantan AI super yang kini harus berurusan dengan akuntansi manual.
Ija menyesap kopinya, matanya menatap tajam ke arah kalender di dinding. "Pelanggan itu sudah menelepon lima kali dalam minggu ini, Aiko. Dan setiap kali dia menelepon, frekuensi suara di latar belakangnya selalu memiliki pola biner yang sama."
"Pola Silent Elders," sahut Vera yang muncul dari pintu belakang, tangannya yang terampil baru saja selesai mengasah pisau restorasi. Ia tidak lagi memakai seragam militer, tapi cara berjalannya yang tegas tetap menunjukkan aura sang Jenderal. "Mereka belum menyerah. Mereka hanya berganti taktik. Mereka tidak lagi menggunakan tentakel atau portal—mereka menggunakan pengaruh manusia."
Scarlett dan Lyra sedang berada di lantai atas, mengawasi jalanan dari balik tirai jendela. Scarlett, yang kini menjadi seniman lukis, sedang menatap kanvasnya dengan gusar. Lukisannya bukan pemandangan indah, melainkan sketsa samar dari menara hitam yang mereka lihat di akhir Arc 2.
"Mereka mulai menyebar," gumam Scarlett tanpa menoleh. "Orang-orang di kota ini mulai bertindak aneh. Kemarin, aku melihat seorang pengusaha besar berdiri di tengah jalan selama satu jam, menatap kosong ke langit. Saat aku mendekat, matanya... matanya benar-benar kosong, seperti kaca."
Ija berdiri, menghampiri jendela. Di bawah sana, kota tampak hidup, namun ada kejanggalan dalam gerak-gerik orang-orang di trotoar. Mereka berjalan dengan ritme yang terlalu seragam, seolah-olah dipandu oleh sebuah metronom tak terlihat.
"Aria?" Ija memanggil.
Aria keluar dari ruang tamu, wajahnya tampak lebih khawatir dari biasanya. "Aku sudah memeriksanya, Ija. Bukan hanya di kota ini. Secara medis, mereka tidak sakit. Tapi secara energetik... jiwa mereka sedang 'dikosongkan'. Seseorang atau sesuatu sedang memanen esensi mereka, pelan-pelan, agar tidak memicu alarm realitas."
Ija mengepalkan tangannya. Ia tahu mereka harus tetap menjadi "manusia", tapi ia juga tahu bahwa mereka tidak bisa membiarkan para dewa itu mencuri nyawa orang-orang di sekitar mereka.
"Kita sudah sepakat untuk hidup normal," ujar Ija pelan. "Tapi jika mereka merusak kedamaian ini, mereka tidak akan menyukai apa yang akan kita lakukan."
[HIDDEN DATA ALERT: 0.01% SYSTEM FRAGMENT REACTIVATED]
[TASK: IDENTIFY THE VECTOR]
Sebuah teks tipis muncul di sudut mata Ija. Sistem itu benar-benar masih ada. Namun, kali ini sistem itu terasa berbeda—lebih redup, lebih personal.
"Siapkan peralatan kalian," perintah Ija, tatapannya kini sedingin es. "Kita akan pergi ke perjamuan amal malam ini. Konon, orang yang berada di balik keanehan ini akan hadir di sana."
Lyra tersenyum tipis, sebuah seringai yang sangat dirindukan Ija. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tersembunyi di bawah lantai—bukan berisi senjata canggih, tapi senjata kuno yang telah mereka modifikasi dengan teknologi rahasia Sang Pencipta.
"Sudah saatnya kita menunjukkan pada para dewa itu," bisik Lyra, "bahwa manusia memiliki hobi baru: berburu dewa."
