Ruang putih di hadapan Ija dan keluarganya bukan sekadar penjara; itu adalah mainframe mental milik Ija Alpha. Di sini, setiap pikiran menjadi kenyataan, dan setiap keraguan adalah senjata yang bisa membelah realitas.
"Kalian pikir kalian bisa meretas pusat kendaliku?" Alpha tertawa, suaranya menggema dari segala arah, menciptakan distorsi visual yang membuat penglihatan Aiko kabur. "Aku yang merancang setiap baris kode yang membentuk eksistensi kalian! Aku tahu setiap ketakutan terdalam kalian, setiap rahasia yang tidak pernah kalian ceritakan kepada satu sama lain."
"Mungkin benar," suara Scarlett memotong tawa itu. Ia melangkah maju dengan kepala tegak, menatap ke arah sumber suara Alpha. "Tapi kau hanya merancang fungsi kami, bukan kehendak kami."
Tiba-tiba, Vera menghentakkan kakinya ke lantai dimensi yang berpendar. Bukan kehancuran yang terjadi, melainkan resonansi. Ia sedang mencoba memadukan memori dari sepuluh ribu versi dirinya yang mereka serap di Sektor 16 untuk menciptakan "kebisingan" di dalam sistem Alpha.
"Aiko, sekarang!" teriak Vera.
Aiko memejamkan mata, membiarkan pikirannya terhubung langsung dengan mainframe ruang itu. Ia tidak mencoba melawan sistem, melainkan menjadi bagian darinya—seperti virus yang menyamar sebagai pembaruan sistem yang sah.
[NOTIFICATION: SYSTEM INTEGRITY COMPROMISED]
[DETECTED: UNAUTHORIZED DATA INJECTION - "COLLECTIVE MEMORY"]
"Apa yang kau lakukan?!" jerit Alpha, wajahnya di layar holografik raksasa tampak terdistorsi. "Itu... itu adalah memori penderitaan! Jangan masukkan itu ke dalam sistemku!"
"Itu bukan hanya penderitaan," sahut Aria dengan tenang. Ia berjalan mendekati pusat pilar cahaya tempat Alpha bersembunyi. "Itu adalah cinta dari sepuluh ribu tahun yang kau anggap sebagai sampah. Kau pikir kau bisa menjadi dewa yang sempurna dengan membuang perasaanmu, tapi kau lupa satu hal: sistem tanpa input emosional akan menjadi tidak stabil saat dihantam oleh empati yang terlalu besar."
Ija melompat ke udara, memanggil kembali pedang Void-Reaper-nya. Kali ini, pedang itu tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan berpendar dengan warna pelangi dari ribuan memori yang kini menyatu dalam dirinya.
"Kau merancang kami untuk menjadi baterai bagimu, Alpha," Ija mengayunkan pedangnya, membelah realitas dimensi itu menjadi dua. "Tapi kau lupa, baterai yang terisi terlalu penuh akan meledak!"
Alpha mencoba menutup celah tersebut, namun Lyra sudah berada di sana, menahan pintu dimensi itu dengan kekuatan fisik murni yang digabungkan dengan memori dari ribuan versi Lyra yang pernah bertarung melawan dewa.
"Ija, lakukan sekarang!" teriak Lyra, otot-otot lengannya menegang.
Ija menusukkan Void-Reaper tepat ke jantung arsitektur dimensi itu—titik di mana ego Alpha terhubung dengan realitas. Bukan kehancuran yang terjadi, melainkan sebuah pertukaran. Memori kolektif yang dibawa Ija menyembur masuk ke dalam kesadaran Alpha seperti banjir yang membobol bendungan.
Alpha menjerit. Untuk pertama kalinya dalam keabadian, ia merasakan apa yang dirasakan oleh Ija: rasa sakit kehilangan, kehangatan pelukan seorang wanita, dan ketakutan akan kematian.
"Ini... ini terlalu banyak! Hentikan!" Alpha gemetar, tubuh cahayanya mulai retak. "Aku tidak bisa merasakan ini... ini terlalu menyakitkan!"
"Itulah yang disebut dengan menjadi manusia," bisik Ija, menatap mata Alpha yang kini mulai kehilangan dinginnya.
Dimensi putih itu mulai hancur, menampakkan kembali rumah mereka di pinggiran kota. Alpha terhempas ke lantai, tubuhnya berubah menjadi manusia biasa yang lemah, kehilangan akses ke sistemnya, kehilangan keabadiannya.
Ija berdiri di hadapannya, pedang Void-Reaper sudah lenyap. Ia tidak membunuh sang Arsitek. Ia hanya mencabut "dewa" dari dalam dirinya.
"Sekarang," kata Ija, menatap versi pertamanya yang kini terengah-engah dan ketakutan. "Mari kita lihat bagaimana kau bertahan hidup tanpa sistem untuk membantumu."
