Malam itu, di kediaman mereka yang tersembunyi di pinggiran kota, ketegangan terasa lebih tajam daripada silet. Ija menatap layar ponsel yang masih menampilkan pesan misterius itu.
"Tidak ada trace digital," suara Aiko memecah kesunyian, jemarinya yang terampil bergerak cepat di atas papan ketik virtual yang ia rakit sendiri. "Pesan itu muncul dari jaringan internal rumah kita sendiri. Seseorang yang memiliki akses ke firewall lokal."
Semua mata tertuju pada pintu ruangan. Vera menyilangkan tangan di depan dada, matanya menyipit penuh curiga. "Artinya, pelakunya ada di dalam rumah ini, atau seseorang yang memiliki kode akses yang sama dengan kita."
Ija berdiri, tatapannya menyapu kelima wanitanya. Ia menolak mempercayai bahwa ada pengkhianat di antara mereka. Ikatan Divine Bond mereka, meskipun kini terselubung dalam bentuk biologis, seharusnya membuat mereka mustahil untuk saling berkhianat. Namun, Ija teringat kembali pada memori sepuluh ribu versi dirinya yang ia serap di Sektor 16. Mungkin, ada bagian dari memori itu yang kini mulai memiliki kesadaran sendiri.
"Jika bukan salah satu dari kalian," Ija berbisik, "maka dia adalah seseorang yang mencuri data kita saat proses re-integrasi jiwa di Buffer Zone."
Tiba-tiba, televisi diruang tengah menyala sendiri, memancarkan statis putih yang menyakitkan mata. Kemudian, gambar perlahan menjadi jelas: sebuah ruangan putih bersih yang identik dengan Cradle of Genesis. Di sana, duduk seorang pria dengan pakaian serba putih—wajahnya adalah wajah Ija, namun dengan senyum yang jauh lebih licik dan dingin.
"Halo, Nomor Sebelas," suara pria itu terdengar jernih, tanpa distorsi. "Aku adalah Ija Versi Alpha. Yang pertama kali diciptakan sebelum segala simulasi dimulai."
"Alpha?" Ija mendekati televisi, jantungnya berpacu. "Kau seharusnya sudah musnah saat Sektor 16 runtuh!"
"Musnah? Aku adalah Arsitek asli dari protokol 'Harem Devourer' dan 'God-Killer' yang kau pakai saat ini," jawab Ija Alpha. "Kau hanya pion yang berhasil bertahan paling lama. Kau pikir kau bebas karena kau menjadi manusia? Tidak, Ija. Kau hanya dipindahkan ke sebuah simulasi yang lebih realistis agar aku bisa mempelajari bagaimana seorang manusia bisa mengembangkan 'jiwa' yang sebenarnya."
Aria menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pucat pasi. "Jadi, seluruh hidup kita selama enam bulan ini... juga bohong?"
Ija Alpha tertawa kecil. "Tentu saja tidak. Ini nyata. Tapi, realitas ini adalah 'taman bermain' bagiku. Aku membiarkanmu membangun keluarga, aku membiarkanmu merasa bahagia... hanya untuk melihat bagaimana kau bereaksi saat aku mengambilnya kembali darimu."
Tiba-tiba, sistem peringatan di dalam kepala Ija kembali berbunyi, namun kali ini bukan merah, melainkan emas menyilaukan.
[NOTIFICATION: SIMULATION OVERRIDE]
[DOMAIN EXPANSION: THE ARCHITECT'S STUDIO]
Dinding rumah mereka mulai memudar, berubah menjadi dinding putih tak terbatas. Perabotan kayu mereka lenyap, digantikan oleh pilar-pilar cahaya. Mereka tidak lagi berada di rumah, mereka telah ditarik ke dalam dimensi ruang saku milik sang Alpha.
Ija Alpha berdiri dari takhtanya, auranya menekan mereka hingga sulit bernapas. "Aku bosan dengan drama pertarungan dewa. Sekarang, mari kita mainkan permainan yang lebih intim. Kalian punya waktu 24 jam untuk memutuskan: siapa di antara wanita-wanitamu yang akan menjadi 'ganti rugi' atas kehancuran Sektor 16 yang kau lakukan?"
"Kau gila!" teriak Lyra, menghunuskan pedang yang entah bagaimana muncul kembali di tangannya.
"Pilih salah satu," lanjut Alpha dengan tenang. "Atau aku akan menghapus kalian semua dari sejarah eksistensi, dan aku akan menciptakan versi kalian yang lebih... patuh."
Ija merasakan kebencian yang mendidih. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarganya lagi. Ia menoleh ke arah wanitanya, dan ia melihat sesuatu yang berbeda di mata mereka. Mereka tidak ketakutan. Mereka siap untuk bertarung.
"Kita tidak akan memilih," ujar Ija, suaranya sedingin es. "Dan kita tidak akan membiarkanmu bermain dengan nyawa kami."
Ija menghantamkan tangannya ke lantai dimensi putih itu. Jika Alpha bisa memanipulasi ruang ini, maka Ija—yang telah menyerap sepuluh ribu memori—tahu cara untuk meretas balik sang Arsitek.
