Suara kicauan burung yang liar—bukan sekadar rekaman audio—menjadi hal pertama yang menyambut indra pendengaran Ija. Tidak ada dengungan sistem, tidak ada notifikasi level up, dan tidak ada sensor radar yang memindai ancaman. Hanya suara angin yang berhembus melalui dedaunan pohon yang tumbuh dengan pola alami, bukan susunan piksel yang sempurna.
Ija membuka matanya. Kepalanya terasa berat, sebuah sensasi manusiawi yang hampir ia lupakan. Langit di atasnya berwarna biru cerah dengan gumpalan awan yang bergerak lambat, sangat kontras dengan pemandangan nebula atau kehampaan ruang angkasa yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya.
"Ija...?"
Suara itu datang dari sampingnya. Ija menoleh dan mendapati Aria terbaring di atas rumput hijau yang lembut. Wajahnya tampak pucat namun tenang. Tidak ada aura cahaya pelangi yang keluar dari tubuhnya; hanya seorang wanita dengan napas yang teratur dan detak jantung yang nyata.
Satu per satu, wanita-wanita lainnya mulai tersadar. Lyra bangkit dengan napas tersengal, memeriksa tangannya yang kini tidak lagi memegang pedang bintang, melainkan hanya menyentuh permukaan bumi yang basah oleh embun. Scarlett, Vera, dan Aiko perlahan mengumpulkan kesadaran mereka di bawah naungan pohon-pohon besar yang mengelilingi tempat mereka terdampar.
"Sistem..." bisik Ija, mencoba memanggil antarmuka yang selama ini menjadi nyawanya. Tidak ada respon. Tidak ada jendela transparan yang muncul. "Benar-benar sudah hilang."
Vera berdiri, mencoba merasakan kekuatannya. Ia mengepalkan tangannya, lalu mendesah panjang. "Tidak ada aura. Tidak ada statistik. Aku... aku merasa sangat ringan, sekaligus sangat rapuh."
Aiko menatap telapak tangannya sendiri, air mata menetes dari sudut matanya. "Aku tidak bisa meretas apa pun. Tapi... aku bisa merasakan hangatnya matahari di kulitku. Ini adalah data yang belum pernah aku rasakan."
Ija bangkit, lalu berjalan menuju mereka. Ia melihat ke arah kelima wanita yang selama ini menjadi kekuatannya. Mereka tampak berbeda sekarang—tidak lagi bersinar seperti dewi, melainkan menjadi wanita yang nyata. Penuh kelemahan, namun jauh lebih indah dalam kerentanan mereka.
Scarlett adalah yang pertama menghampiri Ija. Ia tidak lagi bergerak dengan kecepatan bayangan, namun sentuhannya saat memeluk lengan Ija terasa jauh lebih hangat dan mendalam. "Kita benar-benar selamat, bukan? Kita bukan lagi data yang dikonsumsi oleh dewa."
"Ya," jawab Ija, menarik mereka semua ke dalam pelukannya. "Kita adalah manusia. Kita adalah apa yang kita pilih untuk menjadi."
Tiba-tiba, dari kejauhan, mereka melihat sebuah desa kecil yang terletak di kaki bukit. Itu adalah kehidupan yang sederhana—asap mengepul dari perapian, orang-orang yang bekerja di ladang, dan kehidupan yang tidak memiliki tujuan lain selain untuk terus hidup.
"Ke mana kita harus pergi?" tanya Lyra, menatap Ija dengan penuh kepercayaan yang selama ini hanya ia berikan pada seorang Administrator.
Ija tersenyum. Ia menatap matahari yang baru saja terbit, memberikan warna oranye yang indah di cakrawala. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki misi, tidak ada musuh yang harus dihapus, dan tidak ada dunia yang harus dikelola.
"Kita tidak pergi ke mana-mana," kata Ija mantap. "Kita akan membangun sesuatu di sini. Sesuatu yang benar-benar milik kita."
Ija menatap kelima wanitanya—wanita-wanita yang telah melalui neraka simulasi bersamanya. Mereka kini bukan lagi prajurit yang terikat kontrak sistem, melainkan individu yang bebas. Di dunia baru ini, tidak ada lagi harem yang terikat pada status 'sub-admin'. Mereka adalah pasangan hidup yang memilih untuk tetap bersama, bukan karena dipaksa oleh plot cerita, melainkan karena pilihan hati.
Ija menggenggam tangan mereka satu per satu. "Mulai hari ini, kita tidak lagi menjalani bab demi bab dari nasib yang ditulis oleh orang lain. Kita akan menulis cerita kita sendiri."
Saat mereka mulai melangkah menuju desa di kaki bukit, Ija menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di sana, di atas langit yang biru, tidak ada gerbang dimensional atau dewa kosmik. Hanya langit yang luas dan tak terbatas, menanti untuk dijelajahi sebagai manusia yang sesungguhnya.
Dunia mungkin telah kehilangan seorang Administrator, namun seorang pria bernama Ija baru saja menemukan dunianya yang sebenarnya.
TAMAT - EPILOG ARC 1: THE HUMAN ASCENSION
Terima kasih telah menemani perjalanan Ija di Arc 1!
