Cherreads

Chapter 19 - Chapter 19 — Lima Lapis Bayangan

Tidak semua yang datang itu ancaman.

Kadang—

yang datang…

adalah keluarga.

Dan justru itu yang paling berbahaya.

JAKARTA — SORE

Langit masih menyisakan jejak cahaya emas.

Video Garuda sudah menyebar ke mana-mana.

Orang-orang berbicara.

Media berteriak.

Dunia mulai melihat.

Namun di balik semua itu—

ada sesuatu yang lebih dalam.

Sebuah nama.

Atau lebih tepatnya—

sebuah kode.

BSP

Dan untuk pertama kalinya—

Istana tidak lagi bisa berpura-pura tidak tahu.

ISTANA — RUANG KRISIS

“Subjek BSP aktif.”

Sunyi.

“Perjanjian lama ikut aktif.”

Tidak ada yang membantah.

Karena semua tahu—

ini bukan sekadar teknologi.

Ini adalah warisan.

CUT TO: PURWAKARTA — SORE MENJELANG MALAM

Langit mulai gelap.

Sebuah mobil melaju keluar dari halaman rumah.

Toyota Zenix Q Hybrid — hitamPlat: B 2777 GWM

Di dalam—

Ika duduk di kursi belakang.

Perutnya terlihat jelas.

Ia sedang hamil.

Tangannya menggenggam kursi dengan kuat.

Matanya tidak tenang.

“Mas…”

Suaminya menoleh.

“Iya?”

“Aku nggak enak…”

Sunyi.

Mobil tetap melaju.

Di depan dan belakang—

kendaraan pengawal menjaga jarak.

Tidak mencolok.

Namun sangat terlatih.

IKA

Ia menatap ke luar jendela.

Lampu jalan lewat satu per satu.

“Dari tadi…”

“…aku kepikiran Papa terus…”

Suaminya mencoba menenangkan.

“Papa kuat.”

Ika menggeleng.

“Bukan itu…”

Ia memegang perutnya.

“…ini beda.”

Sunyi.

Ia menutup mata.

Seolah mencoba menahan sesuatu.

“Kayak dulu…”

Suaminya langsung menatapnya.

“Dulu?”

Namun Ika tidak menjawab.

Ia hanya berbisik pelan:

“Semoga nggak kejadian lagi…”

CUT TO: JAKARTA TIMUR — CIRACAS

Malam mulai turun.

Sebuah mobil berhenti di depan rumah sederhana.

Hyundai Ioniq 5 Signature Long Range — silverPlat: B 234 GWM

Lampu menyala lembut.

Namun di sekitarnya—

pengamanan tidak lembut sama sekali.

Beberapa orang berdiri.

Tidak berseragam.

Namun jelas—

mereka bukan orang biasa.

INT. RUMAH KORIN

Korin berdiri di ruang tamu.

Matanya merah.

Ponsel di tangannya.

“Aku takut…”

Suaminya mencoba menenangkan.

“Tenang… ini cuma pengamanan.”

Korin langsung menggeleng.

“Enggak… ini bukan biasa…”

Ia hampir menangis.

“Papa kenapa sih…”

Di lantai—

anak mereka yang berumur 1 tahun merangkak.

Lalu tiba-tiba—

berdiri sambil berpegangan.

Dan dengan suara kecil—

“Baaa…bah…”

Korin menoleh.

Anak itu tersenyum.

“Baaah… Doni…”

Sunyi.

Korin membeku.

Matanya langsung berkaca.

“Mas…”

Ia menatap suaminya.

“Dia manggil Papa…”

Suaminya diam.

Karena anak itu—

tidak pernah diajari itu.

MOMEN EMOSI

Korin langsung menggendong anaknya.

“Jangan bilang begitu…”

Namun anak itu tertawa kecil.

“Mbah… Doni…”

Korin langsung menangis.

“Aku nggak suka ini…”

“Aku nggak suka…”

Suaminya memeluknya.

“Sudah… kita ke Jakarta.”

LUAR RUMAH

Tim pengawal membuka pintu mobil.

Ioniq 5 siap berangkat.

Namun pengawalan kali ini—

lebih ketat dari sebelumnya.

Dua mobil di depan.

Dua di belakang.

Semua tanpa sirine.

Tanpa suara.

Namun—

siap menghadapi apa pun.

DALAM MOBIL

Korin duduk sambil menggendong anaknya.

Masih menangis pelan.

“Papa kenapa sih…”

Anak itu kembali berkata:

“Mbah… Doni…”

Korin menutup wajahnya.

“Aku takut…”

Mobil mulai bergerak.

Menuju Jakarta pusat.

Menuju satu titik.

CUT TO: GEDUNG PELNI — RUANG KONTROL

Yuri melihat layar.

“Pergerakan keluarga terkonfirmasi.”

Mayjen Okta:

“Dua arah.”

“Purwakarta dan Ciracas.”

Sunyi.

Semua menoleh ke Doni.

DONI

Matanya berubah.

“…mereka tidak seharusnya datang.”

PROF ARIEF

“Justru seharusnya.”

Doni menatapnya.

“Ini bukan dunia mereka.”

Profesor Arief tersenyum tipis.

“Ini selalu dunia mereka.”

Sunyi.

MOMEN BERAT

Yuri melihat layar.

“…BSP…”

Ia berbisik pelan.

Seolah takut menyebutnya.

MAYJEN OKTA

“…kami bahkan tidak tahu…”

Ia berhenti.

“…kami menjaga siapa.”

Sunyi.

DONI

Akhirnya bicara.

“Sekarang kalian tahu.”

Nada suaranya—

tenang.

Namun tidak bisa dibantah.

CUT TO: BLACK SUN

Layar menampilkan:

Doni Julio Ika Korin

FAMILY NETWORK — CONFIRMED

Pria itu tersenyum tipis.

“Jadi benar…”

“…ini bukan satu titik.”

“…ini jaringan.”

KEMBALI KE JAKARTA

Dua mobil berbeda—

menuju satu tempat.

B 2777 GWM (Ika)B 234 GWM (Korin)

Dua arah.

Satu tujuan.

LAST SCENE

Doni berdiri sendiri.

Melihat layar.

Titik-titik itu mendekat.

Keluarganya.

Masa lalunya.

Dan dunia—

yang akhirnya datang.

LAST LINE

“Kalau semua sudah berkumpul…”

“…maka tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.”

More Chapters