Dunia tidak pernah benar-benar diam.
Ia hanya menunggu…
momen yang tepat untuk bergerak.
GEDUNG PELNI — RUANG KONTROL
Layar masih menyala.
Call conference belum berakhir.
Wajah Daniel Dorow Rooschom masih terlihat di layar utama.
Namun sekarang—
bukan hanya dia.
ALERT BARU MASUK
Yuri menatap layar.
“Pak… ada koneksi lain masuk.”
Mayjen Okta langsung tegang.
“Dari mana?”
Yuri membaca cepat.
“…Asia Timur.”
Sunyi.
Profesor Arief menyipitkan mata.
“Terima.”
Yuri ragu.
“Pak… ini bukan jalur biasa…”
Doni hanya berkata satu kalimat:
“Terima.”
LAYAR TERBELAH
Satu layar menjadi dua.
Di sisi kanan—
muncul seorang pria berusia sekitar 50-an.
Rapi.
Tenang.
Namun aura berbeda.
MR. LIE
Ia sedikit menunduk.
“Selamat malam.”
Tidak ada basa-basi.
DANIEL
Menatap layar baru.
“…jadi mereka juga ikut.”
Nada suaranya berubah.
Lebih serius.
MR. LIE
“Saya tidak datang untuk ikut.”
Ia berhenti sejenak.
“…saya datang karena diminta.”
Sunyi.
MAYJEN OKTA
“Diminta oleh siapa?”
Mr. Lie tidak langsung menjawab.
Namun sebelum ia berbicara—
Profesor Arief pelan berkata:
“…Yu Bai Tzen.”
Sunyi.
REAKSI
Yuri langsung menoleh.
“…siapa itu…”
Namun Mayjen Okta—
diam.
Dan untuk pertama kalinya sejak awal—
raut wajahnya berubah.
“…itu nama yang tidak seharusnya muncul di sini.”
MR. LIE
Mengangguk pelan.
“Ibu Sepuh Yu Bai Tzen meminta saya memastikan…”
Ia menatap langsung ke arah kamera.
“…bahwa BSP tidak jatuh ke tangan yang salah.”
Sunyi.
DANIEL
Tersenyum tipis.
“Semua orang bicara seolah mereka yang paling berhak.”
MR. LIE
Menatap balik.
“Ini bukan soal hak.”
“…ini soal keseimbangan.”
MOMEN GLOBAL
Ruangan menjadi sunyi.
Untuk pertama kalinya—
bukan hanya dua pihak.
Namun tiga kekuatan besar—
berada dalam satu ruang.
Tanpa bertemu.
Namun saling menekan.
DONI
Masih diam.
Namun kali ini—
semua mata tertuju padanya.
DANIEL
“Kita tidak punya waktu.”
“Unit kami siap.”
“Kalau Indonesia tidak membuka akses…”
Ia berhenti.
“…kami akan masuk dengan cara lain.”
MAYJEN OKTA
Langsung berdiri tegak.
“Coba saja.”
Suasana langsung panas.
MR. LIE
Namun tetap tenang.
“Kalian berdua terlalu cepat.”
Ia menatap keduanya.
“Kalau salah langkah…”
“…bukan hanya satu negara yang jatuh.”
Sunyi.
PROF ARIEF
“Karena ini bukan konflik biasa.”
Ia menatap layar.
“…ini sistem lama yang bangun.”
YURI
“Perjanjian lama…”
Ia berbisik pelan.
MR. LIE
Mengangguk.
“Ibu Sepuh hanya memberi satu pesan.”
Sunyi.
Semua menunggu.
MR. LIE (PELAn)
“Jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Sunyi.
Namun kalimat itu—
tidak sederhana.
FLASH HALUS
Arsip lama.
Pertemuan.
Perjanjian.
Dan sesuatu yang pernah hampir terjadi.
KEMBALI DANIEL
“Kesalahan itu sudah terjadi.”
Ia menatap Doni.
“…ketika dia aktif kembali.”
Sunyi.
DONI
Akhirnya bergerak.
Satu langkah maju.
Tatapannya tajam.
“Kesalahan…”
Ia berhenti.
“…atau keputusan?”
Sunyi.
MR. LIE
Melihat Doni lebih dalam.
Seolah membaca sesuatu yang tidak terlihat.
“…jadi kamu ingat.”
Ruangan langsung membeku.
YURI
“I… ingat apa…”
Namun tidak ada yang menjawab.
DANIEL
“Kalau kamu ingat…”
“…maka kamu tahu apa yang akan terjadi.”
DONI
Tidak menjawab.
Namun diamnya—
sudah cukup.
MOMEN PUNCAK
Layar bergetar sedikit.
Sinyal tidak stabil.
Yuri langsung panik.
“Pak… ada interferensi!”
Mayjen Okta:
“Dari mana?!”
Yuri menatap layar.
“…bukan dari mereka…”
Sunyi.
CUT TO: RUMAH DONI
Julio duduk diam.
Tidak bergerak.
Matanya kosong.
Sri menatapnya.
“Julio…?”
Tidak ada jawaban.
DALAM KEPALA JULIO
…semua sudah mulai…
KEMBALI KE RUANG KONTROL
Layar berkedip.
Semua koneksi terganggu.
MR. LIE
Wajahnya tetap tenang.
“…dia bangun.”
DANIEL
“Tidak mungkin…”
DONI
Pelan berkata:
“Sudah.”
Sunyi.
LAST LINE
“Sekarang bukan dunia yang memaksa…”
“…tapi sesuatu yang lebih tua dari dunia itu sendiri.”
