Cherreads

Chapter 23 - Chapter 23 — Saat yang Terlepas

Ada momen dalam hidup…

di mana semua yang selama ini terasa terkendali—tiba-tiba runtuh dalam hitungan detik.

Dan di momen itu…tidak ada lagi jabatan, kekuasaan, atau sistem.

Yang tersisa hanya satu pertanyaan sederhana—

“Masih sempat… atau sudah terlambat?”

GEDUNG PELNI — LANTAI 6

Suasana di ruang kontrol yang sebelumnya penuh konsentrasi tiba-tiba berubah menjadi tegang.

Layar-layar besar berkedip tanpa pola. Data mengalir liar. Sistem yang selama ini selalu tunduk pada perintah manusia… sekarang berjalan dengan kehendaknya sendiri.

Yuri berdiri terpaku di depan layar, jarinya masih menggantung di atas keyboard.

“Pak… ini bukan error biasa,” suaranya pelan, tapi penuh tekanan.“Garuda… aktif sendiri.”

Arka yang berdiri di sisi lain langsung menoleh. Wajahnya berubah.“Aku belum masuk ke sistem… ini bukan dari aku.”

Mayjen Okta melangkah maju, suaranya tegas namun ada tekanan yang tidak biasa.“Matikan sekarang.”

Yuri mencoba. Cepat. Berulang kali.Namun setiap perintah yang dikirim… tidak direspons.

“Tidak bisa, Pak…”“Seperti… ada yang mengambil alih.”

Profesor Arief yang sejak tadi diam akhirnya berbicara, suaranya pelan tapi menghantam.

“Bukan diambil alih…”

Ia menatap layar dalam.

“…kita yang sudah tidak memegangnya.”

DETIK YANG BERUBAH

Di tengah kekacauan itu, Doni masih berdiri.

Ia tidak panik.

Tidak berteriak.

Namun tiba-tiba—tangannya perlahan menekan dada.

Napasnya mulai berat.

Awalnya hanya sedikit…namun dalam hitungan detik—semakin dalam.

Yuri yang melihat langsung mendekat.“Pak…?”

Doni mencoba tetap tegak.Masih mencoba terlihat kuat.

“…lanjutkan…”

Kalimatnya terputus.

Kakinya goyah.

Dan tanpa peringatan lagi—

tubuhnya jatuh.

KEHENINGAN YANG MENYAKITKAN

Ruangan itu langsung sunyi.

Bukan karena tidak ada suara—tapi karena semua orang kehilangan satu detik untuk memahami apa yang terjadi.

“PAK DONI!”

Mayjen Okta langsung bergerak cepat.Yuri sudah memanggil bantuan medis.

Arka hanya berdiri, membeku.Untuk pertama kalinya, ia melihat sosok yang selama ini terlihat tidak tergoyahkan… jatuh seperti manusia biasa.

RESPON TAK TERDUGA — AKPER PELNI

Dalam hitungan menit, beberapa mahasiswa AKPER dari lantai 8 dan 10 berlari masuk.

Napas mereka cepat.Namun tangan mereka—tetap stabil.

“Beri ruang!” salah satu dari mereka berkata tegas.

Mereka langsung bekerja.Cek nadi.Pasang oksigen.Pantau respon.

“Detak lemah… tekanan turun!”“Ini kemungkinan besar serangan jantung!”

Tidak ada drama.Tidak ada panik berlebihan.

Hanya kerja cepat.

Profesional.

DI LUAR RUANGAN

Beberapa security berdiri di lorong.

Mereka tidak masuk.

Namun mereka melihat.

Dan perlahan… wajah mereka berubah.

“Itu Pak Doni ya…”

“Iya…”

Sunyi sejenak.

Salah satu dari mereka menghela napas pelan.

“Beliau yang kemarin bantu kita pas sistem parkir error…”

“Iya… yang sering nyapa kita kalau lewat…”

“Yang nggak pernah sombong…”

Kalimat-kalimat itu keluar pelan.Bukan sebagai laporan.Tapi sebagai… kenangan kecil.

Dan untuk pertama kalinya—mereka tidak melihat seorang direktur.

Mereka melihat seseorang yang mereka kenal.

Dan itu… jauh lebih menyakitkan.

EVAKUASI

Ketika Doni dibawa keluar dengan stretcher, lorong itu terbuka dengan sendirinya.

Security yang biasanya hanya berjaga…kali ini membantu.

Tanpa perintah.

Tanpa komando.

Mereka membuka jalan.

Menjaga jarak orang lain.

Dan hanya bisa melihat—dengan harapan yang tidak mereka ucapkan.

KONVOI MENUJU RSPAD

Kendaraan bergerak cepat.

Tanpa sirine.

Tanpa keributan.

Namun setiap titik jalan—sudah dikondisikan.

Pengawalan rapat.Koordinasi presisi.

Di dalam kendaraan, monitor terus berbunyi.

“Tekanan turun lagi!”“Stabilkan! Jangan sampai hilang!”

Setiap detik terasa panjang.

RUMAH DONI — MALAM

Di sisi lain kota, suasana jauh lebih sunyi.

Sri berdiri di ruang tengah saat telepon itu datang.

Ia tidak langsung menjawab.

Namun ketika ia mendengar—

“…dibawa ke rumah sakit…”

tangannya langsung gemetar.

“Tidak…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ika langsung mendekat.“Mama… kenapa?”

Sri menatap mereka.

Air mata mulai jatuh.

“…Papa kalian…”

Ia tidak bisa melanjutkan.

Korin langsung menangis.

“Mba Ika… aku takut…”

Ia memeluk anaknya erat, seperti takut kehilangan sesuatu yang belum terjadi.

JULIO

Di tengah semua itu, Julio berdiri.

Diam.

Matanya kosong.

Seperti tidak benar-benar di sana.

Namun ketika ia mendengar satu kata—

“Papa…”

sesuatu berubah.

Ia tersentak.

Seperti terbangun dari mimpi panjang.

“Papa?”

Ia melihat ke sekeliling.

Bingung.

“Bu… Papa kenapa?”

Suara itu kembali seperti anak kecil biasa.

Tidak ada lagi aura aneh.

Tidak ada lagi ketenangan yang tidak wajar.

Hanya… seorang anak.

Sri langsung memeluknya.

“Papa lagi ke rumah sakit…”

Julio langsung panik.

“Lho kok bisa…”

“…Papa sakit ya?”

DI SAAT YANG SAMA

Di tempat lain—

Garuda yang sebelumnya aktif…

perlahan meredup.

Cahayanya hilang.

Sistemnya berhenti.

Dan akhirnya—

diam.

KEMBALI KE GEDUNG PELNI

Yuri menatap layar.

“…Garuda berhenti…”

Arka menarik napas pelan.

“Bukan berhenti…”

“…dia memilih berhenti.”

Profesor Arief menatap dalam.

“…karena yang menghubungkan mereka… sudah kembali.”

PENUTUP

Di jalan—Doni berjuang antara hidup dan mati.

Di rumah—keluarga menunggu dalam ketakutan.

Di sistem—kekuatan besar memilih diam.

Dan dunia—

tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

LAST LINE

Kadang…

yang paling kuat bukan yang bergerak.

Tapi yang memilih berhenti—

di saat semuanya hampir hancur.

More Chapters