Cherreads

Chapter 1 - BAB 1 — Retakan di Tengah Kota

Langit Seoul tampak biasa.

Terlalu biasa.

Orang-orang berjalan cepat di trotoar. Suara kendaraan bercampur dengan percakapan ringan. Tidak ada yang menyadari bahwa sesuatu… sedang retak.

Di antara keramaian itu, seorang pemuda berjalan santai.

Tangan di saku. Langkah ringan. Ekspresi nyaris bosan.

Kang Tae Hyun.

Headphone menggantung di lehernya. Tatapannya sekilas tampak kosong—tapi sebenarnya, matanya terus bergerak halus.

Menghitung jarak. Membaca ritme. Mengamati pola.

Kebiasaan.

"Tae Hyun! Kelas pagi, jangan telat lagi!"

Seorang teman melambaikan tangan dari depan gerbang kampus.

Tae Hyun mengangkat tangan tanpa semangat. "Kalau dosennya telat, itu bukan salahku."

"Dasar…"

Mereka tertawa ringan.

Normal.

Sampai—

KRRRRTTTTT—!!

Suara retakan tajam merobek udara.

Semua orang berhenti.

Langit… pecah.

Retakan hitam muncul, berdenyut seperti luka hidup. Energi gelap berputar, memakan cahaya di sekitarnya.

Ukuran retakan itu… terus membesar.

Terlalu cepat.

"Gate?!"

"Kenapa di tengah kota?!"

"Itu ukurannya—gila, itu bukan rank rendah—!"

Orang-orang mulai panik.

Beberapa langsung berlari.

Beberapa terlalu terpaku untuk bergerak.

Tae Hyun mendongak.

Ekspresinya berubah tipis.

Bukan takut.

Tapi… fokus.

Fluktuasi energi tidak stabil.

Tekanan terlalu padat.

Ini bukan gate biasa.

Angin berubah arah.

Udara terasa berat.

BOOOOOM!!

Ledakan dari dalam retakan mengguncang jalan.

Makhluk pertama jatuh ke aspal.

Tubuhnya besar, kulitnya seperti batu retak, urat hitam menjalar di seluruh tubuhnya.

Matanya… hidup.

"MONSTER!!"

Teriakan pecah.

Dan satu monster… menjadi banyak.

Seorang pria terjatuh di tengah jalan.

Monster berlari ke arahnya.

Terlalu cepat.

Terlalu dekat.

Tap.

Seseorang berdiri di depannya.

Kang Tae Hyun.

"Kalau masih mau hidup," katanya santai, "lari sekarang."

Pria itu tidak butuh dua kali perintah.

Monster mengayunkan lengannya.

Udara terbelah.

Tae Hyun tidak mundur.

Dia menarik napas pendek.

Halus.

Teratur.

Tidak seperti Hunter.

Lebih dalam.

Lebih terkontrol.

Aliran Qi… stabil.

WHOOOSH!!

Tubuhnya bergerak.

Bukan cepat seperti lari—

Tapi seperti… menghilang.

Monster itu sempat kehilangan target.

Sepersekian detik.

Cukup.

DUAK!!

Pukulan Tae Hyun menghantam sisi leher monster.

Tapi—

Tidak langsung jatuh.

Monster itu hanya terdorong mundur.

Retakan di kulitnya melebar.

Tapi masih berdiri.

Tae Hyun sedikit mengangkat alis.

"Lebih keras dari kelihatannya…"

Monster itu menggeram dan menyerang lagi.

Lebih liar.

Serangan hampir mengenai wajahnya—

SWISH!

Tae Hyun memiringkan kepala setipis kertas.

Angin dari serangan itu menyapu rambutnya.

Lambat.

Kali ini—

Langkahnya masuk lebih dalam.

Pinggul berputar.

Tenaga dikumpulkan dari kaki—

Disalurkan.

DUAAK!!

Pukulan kedua.

Lebih dalam.

Lebih berat.

CRACK!!

Leher monster itu patah.

Tubuhnya jatuh dengan suara berat.

Sunyi sesaat.

Beberapa Hunter yang baru tiba langsung membeku melihat pemandangan itu.

"Dia… siapa?"

"Tanpa senjata…?"

"Itu bukan teknik Hunter…"

Seorang pria berarmor—kemungkinan Rank B—menyipitkan mata.

"Cara dia bernapas… aneh…"

Tae Hyun tidak menoleh.

Matanya tetap tertuju ke gate.

Lebih banyak monster keluar.

Kali ini lebih cepat.

Lebih agresif.

Dia menghela napas ringan.

"Jadi belum selesai…"

WHOOOM!!

Langkahnya meledak.

Gerakannya bersih.

Efisien.

Tidak ada yang sia-sia.

Tendangan ke lutut—monster jatuh.

Siku ke rahang—retak.

Putaran tubuh—pukulan ke jantung.

Setiap gerakan seperti… sudah direncanakan.

Namun—

Salah satu monster berhasil menyentuhnya.

BRAK!!

Tubuh Tae Hyun terdorong beberapa langkah.

Aspal retak di bawah kakinya.

Seorang Hunter berteriak, "Dia kena—!"

Tae Hyun berhenti.

Menatap lengannya.

Sedikit memar.

"…lumayan."

Dalam sekejap—

Dia kembali menghilang.

DUAK! DUAK! CRAK!!

Satu per satu monster jatuh.

Lebih cepat dari sebelumnya.

Lebih presisi.

Dalam hitungan detik—

Area itu bersih.

Sunyi.

Para Hunter hanya bisa menatap.

Keringat dingin mulai muncul.

"Kalau dia bukan Hunter…"

"Terus dia apa…?"

Tae Hyun berdiri diam.

Tapi kali ini—

Matanya berubah.

Dari dalam gate—

Tekanan muncul.

Bukan sekadar energi.

Tapi… sesuatu yang hidup.

GRAAAAAAAAAHHH!!!

Raungan besar mengguncang udara.

Tanah bergetar.

Beberapa Hunter langsung berlutut.

"Tekanan ini—!"

"Ini rank apa?!"

"Tidak masuk akal…!"

Udara menjadi berat.

Sulit bernapas.

Siluet besar muncul di dalam kegelapan.

Langkahnya lambat.

Tapi setiap langkah—

Membuat dunia terasa lebih kecil.

Tae Hyun menatap lurus ke arah itu.

Diam.

Untuk pertama kalinya—

Senyumnya benar-benar hilang.

Ini… berbeda.

Angin berhenti.

Suara menghilang.

Dan jauh di dalam dirinya—

Sesuatu bergerak.

Seolah merespons.

Seolah… terbangun.

KRZZZT—

Petir kecil melintas di ujung jarinya.

Hanya sesaat.

Tapi cukup untuk membuat udara bergetar.

Makhluk di dalam gate…

Berhenti.

Keheningan jatuh.

Tae Hyun memutar bahunya pelan.

Ekspresinya kembali santai.

"Kayaknya… mulai sedikit menarik."

Dia melangkah maju.

Perlahan.

Di belakangnya, para Hunter bahkan tidak berani bergerak.

Sementara di langit—

Awan mulai berkumpul.

Tanpa suara.

Tanpa hujan.

Hanya tekanan.

Dan jauh… sangat jauh…

Bayangan seekor naga terbentuk samar.

Namun—

Belum saatnya.

Tae Hyun berhenti beberapa meter dari gate.

Tatapannya tenang.

Belum perlu serius.

~~~~•

More Chapters