Langit di atas Seoul telah berubah sepenuhnya.
Awan hitam berputar seperti pusaran raksasa, menekan kota dari atas. Kilatan cahaya sesekali muncul di baliknya, bukan sebagai penerang… tapi seperti sesuatu yang mencoba keluar.
Udara menjadi berat.
Setiap tarikan napas terasa seperti memikul beban.
Di tengah kehancuran jalanan, dua sosok berdiri saling berhadapan.
Satu… adalah makhluk dari dalam gate.
Dan satu lagi…
Kang Tae Hyun.
Monster itu kini tidak lagi sama.
Tubuhnya membesar, urat-urat merah menyala seperti lava yang mengalir di bawah lapisan kulit hitamnya. Retakan yang sebelumnya muncul kini terbuka lebih lebar, memancarkan panas dan energi yang membuat udara di sekitarnya bergetar.
Matanya tidak lagi kosong.
Kini ada sesuatu di sana.
Insting.
Dan… ketakutan.
Tae Hyun berdiri dengan tenang.
Namun bagi mereka yang cukup peka—
Ada sesuatu yang berbeda.
Seorang Hunter yang tergeletak di tanah perlahan mengangkat kepalanya, napasnya terengah-engah.
"Apa… yang terjadi…"
Matanya terpaku pada sosok Tae Hyun.
Tubuh pemuda itu tidak mengeluarkan aura mencolok seperti Hunter.
Tidak ada ledakan mana.
Tidak ada efek visual berlebihan.
Namun…
Tekanan.
Sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa menekan dari segala arah.
Seperti berada di bawah langit sebelum badai besar turun.
Monster itu meraung.
GRAAAAAAAAAAHHH!!!
Gelombang energi merah meledak dari tubuhnya, menghancurkan sisa-sisa kendaraan di sekitarnya. Aspal terangkat, kaca-kaca pecah, dan udara seperti terbelah oleh tekanan itu.
Namun Tae Hyun tidak bergerak.
Tidak mundur.
Dia hanya menarik napas.
Dalam.
Lambat.
Teratur.
Satu gerbang sudah terbuka.
Kalau lebih dari ini…
Tubuhku belum tentu bisa menahannya.
Matanya sedikit menyipit.
Tapi cukup.
Monster itu menghilang.
BOOOOM!!
Tanah di tempat Tae Hyun berdiri hancur.
Namun tubuhnya sudah tidak ada di sana.
WHOOOSH!!
Dia muncul di sisi kiri monster.
Tangannya bergerak.
Bukan sekadar pukulan.
Gerakan itu lebih dalam.
Lebih terarah.
DUAAAAK!!!
Pukulan menghantam tepat pada retakan di dada monster.
Gelombang kejut menyebar.
Udara bergetar keras.
Monster itu terhuyung mundur.
Namun kali ini—
Ia tidak langsung jatuh.
Sebaliknya, ia mengayunkan lengannya dengan kecepatan brutal.
BRAK!!
Serangan mengenai bahu Tae Hyun.
Tubuhnya terpental.
Menabrak bangunan di belakangnya.
Dinding retak.
Debu runtuh.
Untuk sesaat—
Dia tertutup reruntuhan.
Sunyi.
Para Hunter menahan napas.
"Dia… kalah…?"
Tiba-tiba—
KRSSSHHH!!
Reruntuhan itu meledak dari dalam.
Tae Hyun keluar.
Langkahnya berat.
Napasnya lebih dalam.
Darah kini jelas terlihat di lengannya.
"…lumayan sakit."
Namun matanya—
Tetap tenang.
Monster itu tidak memberi waktu.
Ia kembali menyerang.
Langkahnya menghancurkan tanah.
Udara terbelah.
Tae Hyun bergerak.
Kali ini—
Lebih cepat.
Lebih halus.
Tubuhnya seperti menyatu dengan aliran gerakan.
Dia menghindar satu serangan.
Dua.
Tiga—
Namun yang keempat—
BRAK!!
Mengenai sisi tubuhnya.
Tubuhnya bergeser.
Namun tidak jatuh.
Kekuatan meningkat lagi.
Dia melangkah mundur.
Satu langkah.
Lalu berhenti.
Matanya menatap monster itu dalam.
Tidak cukup dengan tangan kosong.
Angin berhembus pelan.
Debu berputar di sekitar kakinya.
Tangannya terangkat.
Perlahan.
Para Hunter yang melihat itu merasakan sesuatu berubah.
"Apa dia…?"
Di telapak tangan Tae Hyun—
Energi mulai berkumpul.
Bukan mana.
Lebih padat.
Lebih murni.
Lebih… berat.
KRZZZZZZT—!!
Petir muncul.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Lebih liar.
Langit merespons.
Kilatan menyambar.
Untuk sesaat—
Siluet seekor naga terlihat jelas di balik awan.
Monster itu mundur.
Satu langkah.
Instingnya berteriak.
Bahaya.
Tae Hyun membuka matanya perlahan.
"…sudah cukup bermain."
Namun—
Dia tidak menyerang.
Sebaliknya—
Dia menurunkan tangannya.
Petir itu tetap ada.
Namun terkendali.
Dia melangkah maju.
Tanpa tombak.
Masih belum.
Belum perlu sampai sejauh itu.
Monster itu meraung marah.
Seolah merasa dihina.
Ia menyerang dengan seluruh kekuatannya.
Langkahnya menghancurkan tanah.
Tinju raksasa mengarah lurus ke Tae Hyun.
Namun—
WHOOOM!!
Tae Hyun menghilang.
Tidak seperti sebelumnya.
Kali ini—
Gerakannya seperti kilatan.
Dia muncul tepat di depan monster.
Tangannya bergerak.
DUAAAAK!!!
Pukulan yang diperkuat petir menghantam tepat di inti.
CRACK!!!
Retakan besar muncul.
Monster itu menjerit.
Untuk pertama kalinya—
Ia benar-benar terluka.
Para Hunter terdiam.
"Dia… melukainya…"
"Serangan itu… apa itu…?!"
Tae Hyun tidak berhenti.
Dia melangkah lagi.
Serangan kedua.
DUAK!!
Serangan ketiga.
DUAK!!
Setiap pukulan—
Selalu ke titik yang sama.
Presisi absolut.
Monster itu mencoba melawan.
Namun setiap gerakannya—
Sudah dibaca.
Sudah dihitung.
Tae Hyun bergerak seperti bayangan.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Tidak ada emosi.
Hanya eksekusi.
Namun—
Monster itu meraung.
Energi merah meledak liar.
BOOOOOOM!!!
Ledakan besar menghantam area sekitar.
Tae Hyun terdorong mundur.
Napasnya kini lebih berat.
Tubuhnya mulai terasa panas dari dalam.
Batasnya… mulai terasa.
Dia menatap monster itu.
Retakan di tubuhnya semakin besar.
Namun—
Belum cukup.
Monster itu masih berdiri.
Masih hidup.
Masih berbahaya.
Sunyi sesaat.
Angin berhenti.
Dan di langit—
Awan berputar semakin cepat.
Petir mulai menyambar lebih sering.
Para Hunter perlahan mundur.
Insting mereka berteriak.
Ini bukan lagi pertarungan yang bisa mereka pahami.
Tae Hyun menutup matanya.
Menarik napas dalam.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Lebih berat.
Di dalam tubuhnya—
Energi mulai bergetar.
Lebih liar.
Lebih kuat.
Dan untuk sesaat—
RAAAWWRRR—
Suara raungan terdengar.
Bukan dari luar.
Dari dalam dirinya.
Matanya terbuka.
Petir menyambar.
Dan bayangan naga—
Muncul jelas di belakangnya.
Para Hunter membeku.
"Itu… apa…?"
Monster itu—
Mundur.
Untuk pertama kalinya—
Ia benar-benar takut.
Tae Hyun menatapnya.
Ekspresinya dingin.
"…selesai."
Dia melangkah maju.
Langit meraung.
Petir turun.
Dan untuk pertama kalinya—
Kekuatan itu…
Mulai bangkit.
~~~•
