Sore itu, suasana di kediaman keluarga Li terasa berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih tegang.
Bahkan para pelayan berjalan lebih hati-hati dari biasanya, seolah takut membuat suara yang terlalu keras.
Li Wei menyadarinya sejak ia keluar dari ruang latihannya.
"Terjadi sesuatu…"
Ia menghentikan langkahnya di koridor.
Tatapannya mengarah ke aula utama.
Pintu besar tertutup.
Namun dari dalam—
Terdengar suara percakapan.
Pelan.
Tapi penuh tekanan.
Li Wei mendekat tanpa suara.
Ia berdiri di sisi dinding, cukup dekat untuk mendengar, namun tetap tersembunyi.
"Li Zheng, kau harus mengerti posisi kami."
Suara seorang pria terdengar.
Berat.
Dingin.
Bukan suara orang biasa.
"Aku mengerti," jawab ayahnya, Li Zheng, dengan nada terkendali.
"Namun keputusan ini… terlalu mendadak."
"Mendadak?" pria itu tertawa kecil.
"Seluruh Luoyang sudah tahu situasinya memburuk."
Li Wei menyipitkan mata.
"Situasi memburuk…"
Ia semakin fokus mendengar.
"Kau adalah pejabat logistik tingkat rendah," lanjut pria itu.
"Tugasmu jelas—menyediakan suplai untuk pasukan."
Li Zheng tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
"Jumlah yang diminta… tidak masuk akal."
Nada suaranya lebih dalam.
"Aku tidak punya sumber daya sebesar itu."
Suasana hening.
Kemudian—
"Itu bukan masalahku."
Suara pria itu berubah dingin.
"Perintah dari atas harus dijalankan."
Li Wei mengepalkan tangan pelan.
Ia mulai memahami.
"Permintaan suplai paksa…"
Ini buruk.
Sangat buruk.
Dalam sejarah, menjelang Pemberontakan Serban Kuning, banyak pejabat korup memanfaatkan situasi untuk menekan bawahan.
Dan sekarang—
Keluarganya berada di tengah pusaran itu.
"Aku butuh waktu," kata Li Zheng akhirnya.
"Waktu?" pria itu mendengus.
"Kau punya tiga hari."
"Apa?"
"Jika dalam tiga hari kau tidak memenuhi permintaan ini…"
Nada suaranya menurun, hampir seperti bisikan.
"…maka aku tidak bisa menjamin keselamatan jabatanmu."
Ancaman.
Jelas.
Dan langsung.
Langkah kaki terdengar.
Li Wei segera menjauh dari pintu.
Berpura-pura berjalan santai di koridor.
Pintu aula terbuka.
Seorang pria keluar.
Pakaian mewah, ekspresi dingin, mata penuh perhitungan.
Ia melirik sekilas ke arah Li Wei.
Namun hanya sebentar.
Lalu pergi.
Beberapa saat kemudian—
"Masuklah."
Suara Li Zheng terdengar dari dalam.
Li Wei tidak terkejut.
Ia memang sudah menyadari keberadaannya.
Ia masuk dengan tenang.
Di dalam, ayahnya berdiri di tengah ruangan.
Wajahnya lebih serius dari biasanya.
"Sudah berapa lama kau di luar?"
"Cukup lama untuk mendengar semuanya."
Li Zheng tidak marah.
Tidak juga terkejut.
Ia hanya menghela napas.
"Kalau begitu, kau pasti tahu situasi kita sekarang."
Li Wei mengangguk.
"Ya."
Ia melangkah maju.
"Permintaan suplai yang tidak realistis… dan ancaman jika gagal."
Li Zheng menatapnya.
Untuk pertama kalinya—
Tatapannya penuh perhatian.
"Menurutmu… apa yang harus kita lakukan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Berat.
Namun bagi Li Wei—
Ini adalah kesempatan.
Kesempatan pertama untuk masuk ke dalam permainan.
Ia menarik napas pelan.
"Mereka tidak benar-benar butuh suplai sebanyak itu."
Li Zheng menyipitkan mata.
"Lanjutkan."
"Ini bukan soal logistik," kata Li Wei tenang.
"Ini soal tekanan."
Ia menatap ayahnya langsung.
"Mereka ingin menguji apakah Ayah akan patuh… atau melawan."
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
"Kau… cukup tajam."
Nada suara Li Zheng berubah.
Lebih serius.
Lebih menghargai.
"Jika kita patuh," lanjut Li Wei, "maka mereka akan terus menekan."
"Jika kita menolak?"
"Kita dihancurkan."
Li Zheng tersenyum tipis.
"Jadi menurutmu?"
Li Wei memejamkan mata sejenak.
Menyusun pikirannya.
Ia mengingat semua yang ia tahu.
Tentang dunia ini.
Tentang kekuasaan.
Tentang manusia.
"Jangan memilih salah satu."
Ia membuka mata.
"Kita harus… bermain di tengah."
Li Zheng terdiam.
"Jelaskan."
"Kita penuhi sebagian permintaan."
"Sebagian?"
"Ya. Cukup untuk menunjukkan itikad baik."
"Dan sisanya?"
"Kita tunda."
Li Wei melangkah mendekat.
"Dengan alasan."
"Alasan seperti apa?"
"Gangguan distribusi. Kekurangan bahan. Atau ancaman di jalur suplai."
Ia menatap tajam.
"Hal-hal yang… sulit dibuktikan salah."
Li Zheng menatapnya lama.
Sangat lama.
Seolah melihat orang yang berbeda.
"Dan apa tujuannya?"
"Tiga hal."
Li Wei mengangkat tiga jari.
"Pertama—kita tidak terlihat melawan."
"Ketiga—mereka tidak mendapatkan semua yang mereka inginkan."
"Dan kedua?"
Li Zheng bertanya.
Senyum tipis muncul di wajah Li Wei.
"Waktu."
Satu kata.
Namun penuh makna.
"Dalam tiga hari ini…"
"Banyak hal bisa berubah."
Ia menatap keluar jendela.
Langit mulai gelap.
"Ayah sendiri tahu… situasi negara tidak stabil."
Li Zheng perlahan mengangguk.
Ia tahu.
Ia merasakan.
Bahkan lebih dari siapa pun.
"Jika sesuatu terjadi…"
Li Wei melanjutkan.
"Tekanan itu bisa hilang dengan sendirinya."
Sunyi kembali mengisi ruangan.
Namun kali ini—
Bukan sunyi karena tegang.
Melainkan sunyi karena berpikir.
Akhirnya—
"Kau…"
Li Zheng berbicara pelan.
"…benar-benar berubah."
Li Wei tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
"Baik."
Li Zheng berbalik.
"Untuk saat ini… kita akan mengikuti rencanamu."
Itu adalah keputusan besar.
Dan Li Wei tahu—
Ini hanyalah awal.
Malam itu, suasana rumah kembali tenang.
Namun di balik ketenangan itu—
Sesuatu sedang bergerak.
Di sebuah ruangan gelap di bagian lain kota Luoyang…
Pria yang tadi datang ke rumah Li duduk di hadapan seseorang.
"Bagaimana?"
Suara dari bayangan bertanya.
"Dia akan mencoba bermain aman."
Pria itu menjawab.
"Bagus."
Suara itu terdengar puas.
"Orang seperti itu… mudah dikendalikan."
Pria itu sedikit ragu.
"Namun… anaknya berbeda."
Hening.
"Anaknya?"
"Ya. Tatapannya… tidak seperti anak bangsawan biasa."
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
"Kalau begitu…"
Suara itu berubah dingin.
"…perhatikan dia."
Kembali ke rumah keluarga Li—
Li Wei berdiri di halaman.
Menatap langit malam.
Bintang-bintang bersinar redup.
Namun hatinya tidak tenang.
[Ding!]
[Misi Tersembunyi Terpicu]
Matanya menyipit.
[Misi: Langkah Pertama di Dunia Politik]
Deskripsi: Anda telah memasuki permainan kekuasaan.
Tujuan: Bertahan dari tekanan dalam 3 hari
Hadiah: Skill "Analisis Situasi"
Li Wei tersenyum tipis.
"Seperti yang kupikir…"
Ia menatap langit lebih lama.
"Permainan ini… baru saja dimulai."
Dan di balik bayangan malam—
Roda takdir mulai berputar.
Lebih cepat dari sebelumnya.
