Cherreads

Fate of The Conqueror

Overhack
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
253
Views
Synopsis
Di ambang kekacauan besar menjelang pecahnya Pemberontakan Serban Kuning, seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Li Wei terbangun di tubuh baru—di dunia yang hanya ia kenal sebagai kisah dari novel legendaris Romance of the Three Kingdoms. Di kehidupan sebelumnya, ia hanyalah seorang pemuda lemah di tahun modern yang meninggal karena penyakit keras. Namun kini, ia terlahir kembali sebagai anak bangsawan kecil di ibu kota Dinasti Han, dengan satu keunggulan yang tak dimiliki siapa pun—ingatan lengkap tentang masa depan. Ia tahu: Kekaisaran Han akan runtuh Para panglima perang akan bangkit Nama-nama besar seperti Cao Cao, Liu Bei, dan Sun Quan akan mengubah sejarah. Namun, itu belum semuanya. Dalam dirinya, terbangun sebuah Sistem Takdir—sebuah kekuatan misterius yang memberinya misi, hadiah, dan kemampuan untuk tumbuh jauh melampaui manusia biasa. Di tengah dunia penuh intrik, perang, dan pengkhianatan, Li Wei harus memilih: Apakah ia akan mengikuti alur sejarah… atau menghancurkannya dan menciptakan takdirnya sendiri?
VIEW MORE

Chapter 1 - BAB 1 — Kebangkitan di Ambang Kekacauan

Angin musim semi berhembus pelan di ibu kota Luoyang, namun tidak membawa kedamaian.

Sebaliknya… ada sesuatu yang terasa salah.

Langit tampak lebih kelabu dari biasanya.

Di dalam sebuah kamar luas dengan tirai sutra halus, seorang pemuda terbaring lemah di atas ranjang kayu ukir. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.

Lalu—

Matanya terbuka.

"…Aku… masih hidup?"

Suara itu lirih, penuh kebingungan.

Pemuda itu perlahan bangkit, menatap kedua tangannya dengan gemetar. Kulitnya halus, tanpa bekas infus, tanpa luka, tanpa tanda-tanda penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhnya.

"Ini… bukan tubuhku…"

Kenangan mulai mengalir deras seperti banjir.

Rumah sakit.

Bau obat-obatan.

Suara mesin detak jantung.

Dan akhirnya… kegelapan.

Namun di saat yang sama—

Ingatan lain muncul.

Nama: Li Wei

Usia: 16 tahun

Status: Anak bangsawan kecil di ibu kota

Ia terdiam.

"Reinkarnasi…?"

Jantungnya berdegup kencang.

Sebagai seseorang yang dulu gemar membaca novel, terutama Romance of the Three Kingdoms, ia tidak asing dengan konsep seperti ini.

Namun… mengalaminya sendiri?

Itu hal yang berbeda.

Ia turun dari ranjang, langkahnya sedikit goyah. Saat membuka jendela, pemandangan kota terbentang luas—bangunan kayu, jalanan ramai, dan orang-orang berpakaian khas Dinasti Han.

Tidak ada lagi mobil.

Tidak ada listrik.

Tidak ada dunia modern.

Yang ada hanyalah—

"Masa Tiga Kerajaan…"

Ia menarik napas dalam.

Jika ingatannya benar… maka waktu saat ini adalah sebelum pecahnya Pemberontakan Serban Kuning.

Awal dari kehancuran.

Awal dari legenda.

Dan awal dari neraka.

"Ini berarti…"

Tatapannya berubah tajam.

"Semua akan segera dimulai."

Nama-nama besar terlintas di pikirannya.

Cao Cao — sang jenius penuh ambisi.

Liu Bei — pahlawan bermoral tinggi.

Sun Quan — penguasa selatan yang cerdik.

Dan ratusan tokoh lainnya.

Jika ia hanya diam…

Ia akan menjadi figuran yang terlupakan oleh sejarah.

Namun—

Tiba-tiba.

[Ding!]

Suara aneh bergema di dalam kepalanya.

Li Wei membeku.

"Apa itu…?"

[Ding! Sistem Takdir berhasil diaktifkan.]

[Selamat datang, Tuan Rumah.]

Mata Li Wei membelalak.

"Sistem…?!"

Layar transparan muncul di hadapannya, seolah hanya bisa dilihat olehnya.

[Status Awal]

Nama: Li Wei

Usia: 16

Kekuatan: 5

Kecerdasan: 8

Karisma: 6

Keberuntungan: 7

"Ini…"

Napasnya tercekat.

Sama seperti novel-novel yang pernah ia baca.

Namun kali ini—ini nyata.

[Ding! Misi Pertama Diterima]

[Misi: Bertahan di Awal Kekacauan]

Deskripsi: Dalam 30 hari, Pemberontakan Serban Kuning akan dimulai.

Tujuan: Persiapkan diri untuk bertahan hidup.

Hadiah: Teknik Dasar Bela Diri + 10 Poin Status

Li Wei menatap layar itu lama.

Lalu—

Perlahan… ia tersenyum.

Bukan senyum biasa.

Tapi senyum seseorang yang akhirnya melihat kesempatan di tengah keputusasaan.

"Bagus…"

Ia mengepalkan tangan.

"Kalau ini memang dunia Tiga Kerajaan…"

Tatapannya dipenuhi tekad.

"Maka aku tidak akan jadi penonton."

Angin kembali berhembus.

Namun kali ini, membawa sesuatu yang berbeda.

Bukan ketakutan.

Melainkan—

ambisi yang akan mengubah sejarah.