Cherreads

Chapter 3 - BAB 3 — Jalan Menuju Kekuatan

Langit pagi masih diselimuti kabut tipis ketika Li Wei sudah berdiri di halaman belakang rumahnya.

Udara dingin menusuk kulit, namun ia tidak bergeming.

Tatapannya lurus ke depan.

Tenang.

Terfokus.

Di hadapannya, hanya ada tanah kosong, beberapa tiang kayu latihan, dan rak senjata sederhana.

"Temukan satu jalur kekuatan…"

Suara sistem kembali terngiang di kepalanya.

Pilihan.

Bela diri.

Strategi.

Politik.

Semua adalah jalan menuju kekuasaan di dunia ini.

Namun—

"Kalau aku ingin bertahan dalam waktu dekat…"

Ia mengepalkan tangan.

"Maka aku harus punya kekuatan untuk melindungi diri sendiri."

Tanpa kekuatan fisik, semua strategi hanyalah teori kosong.

Tanpa kemampuan bertarung, bahkan pelayan pun bisa menginjaknya.

Ia tidak punya waktu.

Tidak punya perlindungan.

Dan tidak punya pilihan.

"Aku pilih… bela diri."

[Ding!]

[Konfirmasi: Jalur "Bela Diri" dipilih.]

[Hadiah diberikan: Teknik Dasar Bela Diri]

Seketika—

Gelombang informasi membanjiri pikirannya.

Gerakan.

Postur tubuh.

Cara bernapas.

Cara menyalurkan tenaga.

Seolah ia telah berlatih selama bertahun-tahun.

Li Wei sedikit terhuyung.

"Ini… luar biasa…"

Ia mengangkat tangannya perlahan.

Lalu—

Wush!

Sebuah pukulan lurus dilepaskan.

Cepat.

Tepat.

Dan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Matanya sedikit melebar.

"Tubuh ini… langsung menyesuaikan."

Namun ia tidak lengah.

Ia tahu satu hal:

Pengetahuan bukanlah kekuatan—latihanlah yang membuatnya nyata.

Hari itu, Li Wei mulai berlatih.

Pukulan demi pukulan.

Tendangan demi tendangan.

Gerakan demi gerakan.

Awalnya, tubuhnya kaku.

Napasnya tidak stabil.

Ototnya cepat lelah.

Namun—

Ia tidak berhenti.

Setiap kesalahan ia perbaiki.

Setiap gerakan ia ulangi.

Keringat mulai membasahi tubuhnya.

Napasnya semakin berat.

Namun tatapannya…

Semakin tajam.

Dari kejauhan, Xiao Yu berdiri diam memperhatikan.

Matanya penuh keterkejutan.

"Tuan muda… benar-benar berubah…"

Biasanya, Li Wei bahkan malas bergerak.

Namun hari ini—

Ia berlatih tanpa henti.

Bahkan saat matahari mulai meninggi.

Srak!

Li Wei terjatuh ke tanah.

Tubuhnya gemetar.

Napasnya terengah-engah.

"Haah… haah…"

Otot-ototnya terasa seperti terbakar.

Setiap bagian tubuhnya menjerit kesakitan.

Namun—

Ia tertawa pelan.

"Ini… baru terasa hidup…"

Di kehidupan sebelumnya, ia hanya bisa berbaring lemah.

Tidak bisa bergerak.

Tidak bisa berjuang.

Namun sekarang—

Ia bisa merasakan setiap detik usahanya.

Dan itu… membuatnya ketagihan.

[Ding!]

[Latihan mencapai batas harian.]

[+1 Kekuatan]

[+1 Daya Tahan]

Li Wei menatap notifikasi itu.

Senyumnya semakin dalam.

"Jadi memang… bisa meningkat lewat latihan."

Ini penting.

Sangat penting.

Artinya—

Ia tidak sepenuhnya bergantung pada sistem.

Ia bisa tumbuh dengan usahanya sendiri.

Hari kedua.

Li Wei kembali ke halaman.

Tanpa ragu.

Tanpa jeda.

Ia langsung memulai latihan.

Namun kali ini—

Ia lebih terstruktur.

Pemanasan.

Latihan dasar.

Pengulangan teknik.

Ia mengatur ritmenya.

Menghemat tenaga.

Memaksimalkan hasil.

Hari ketiga.

Tubuhnya mulai beradaptasi.

Gerakannya lebih halus.

Pukulannya lebih kuat.

Napasnya lebih stabil.

Hari kelima.

Ia mulai menggunakan senjata.

Pedang kayu.

Awalnya terasa asing.

Namun dengan bantuan sistem—

Gerakannya cepat berkembang.

Ting!

Pedang kayu menghantam tiang latihan.

Suara benturan menggema.

Retakan kecil muncul di permukaan kayu.

Li Wei terdiam.

Lalu—

"Bagus…"

[Ding!]

[+1 Kekuatan]

[+1 Kelincahan]

Hari ketujuh.

Perubahan sudah jelas terlihat.

Tubuhnya lebih kokoh.

Gerakannya lebih cepat.

Auranya… berbeda.

Bahkan para pelayan mulai memperhatikannya dengan tatapan baru.

Bukan lagi meremehkan.

Tapi—

Penasaran.

Suatu pagi, saat Li Wei sedang berlatih—

Suara tepuk tangan terdengar.

"Tidak buruk."

Li Wei berhenti.

Menoleh.

Di sana berdiri Li Zheng.

Ayahnya.

Tatapannya tajam, mengamati setiap gerakan anaknya.

"Sejak kapan kau mulai berlatih seperti ini?"

Li Wei menunduk sedikit.

"Beberapa hari ini."

Li Zheng berjalan mendekat.

Mengambil pedang kayu dari rak.

"Serang aku."

Li Wei sedikit terkejut.

Namun ia tidak ragu.

"Baik."

Ia mengambil posisi.

Menarik napas.

Dan—

Wush!

Ia menyerang.

Cepat.

Langsung ke arah bahu.

Namun—

Tap!

Pedangnya dengan mudah ditepis.

"Lambat."

Li Zheng bergerak.

Sekejap—

Pedang kayunya sudah berada di leher Li Wei.

"Dan terlalu terbuka."

Li Wei membeku.

Keringat dingin mengalir di punggungnya.

Cepat.

Terlalu cepat.

Ia bahkan tidak sempat bereaksi.

Li Zheng menarik pedangnya.

"Namun…"

Ia menatap Li Wei dalam-dalam.

"Untuk seseorang yang baru mulai, ini cukup baik."

Li Wei sedikit terkejut.

Itu… pujian?

"Teruskan latihanmu."

Li Zheng berbalik.

Namun sebelum pergi—

"Dunia ke depan… tidak akan damai."

Langkahnya berhenti sejenak.

"Jika kau ingin bertahan, kau harus lebih kuat dari ini."

Lalu ia pergi.

Li Wei berdiri diam.

Kata-kata itu bergema di kepalanya.

"Dia juga tahu…"

Tentu saja.

Sebagai bangsawan, ayahnya pasti merasakan tanda-tanda kekacauan.

[Ding!]

[Misi: Memahami Fondasi Kekuatan — Progress meningkat]

[Evaluasi: Jalur Bela Diri berkembang baik]

Li Wei mengepalkan tangan.

"Belum cukup…"

Ia menatap tangannya.

"Masih jauh dari cukup."

Jika dibandingkan dengan para jenderal legendaris—

Ia bahkan belum layak disebut petarung.

Hari kesepuluh.

Latihan semakin keras.

Ia mulai menambah beban.

Menambah intensitas.

Melawan rasa sakit.

Melawan kelelahan.

Hari keempat belas.

Hujan turun deras.

Namun Li Wei tetap berlatih.

Tubuhnya basah kuyup.

Lumpur menempel di kakinya.

Namun ia tidak berhenti.

Pukulan.

Tendangan.

Ayunan pedang.

Semua dilakukan tanpa jeda.

[Ding!]

[Latihan ekstrem terdeteksi]

[Bonus: +2 Daya Tahan]

Li Wei tersenyum tipis.

"Bagus…"

Ia mulai memahami sistem ini.

Semakin keras usahanya—

Semakin besar hasilnya.

Hari kedua puluh.

Perubahan drastis terjadi.

Gerakannya tajam.

Refleksnya cepat.

Tenaganya meningkat jauh.

Ia bukan lagi pemuda lemah seperti sebelumnya.

Suatu sore, ia berdiri di halaman.

Mengatur napas.

Lalu—

Wush!

Ia mengayunkan pedang.

Cepat.

Bersih.

Presisi.

Udara terbelah oleh gerakannya.

[Ding!]

[Stat diperbarui]

Nama: Li Wei

Usia: 16

Kekuatan: 8

Kecerdasan: 9

Karisma: 6

Keberuntungan: 7

Daya Tahan: 8

Kelincahan: 7

Li Wei menatap statusnya.

Dari 5 menjadi 8 dalam kekuatan.

Itu bukan peningkatan kecil.

Namun—

Ia tidak tersenyum.

Sebaliknya, ekspresinya serius.

"Masih belum cukup…"

Ia menatap langit.

Awan gelap kembali berkumpul.

Seolah mengingatkannya.

Bahwa waktu terus berjalan.

[Ding!]

[Misi: Bertahan di Awal Kekacauan]

[Sisa waktu: 10 hari]

"10 hari…"

Jantungnya berdetak pelan.

"Artinya… semuanya akan segera dimulai."

Pemberontakan.

Perang.

Kematian.

Ia menggenggam pedangnya erat.

Tatapannya berubah.

Lebih dalam.

Lebih tajam.

Lebih berbahaya.

"Kalau begitu…"

Ia mengangkat pedangnya.

Mengarahkannya ke depan.

"Biarkan mereka datang."

Angin berhembus.

Membawa aroma hujan.

Dan di tengah dunia yang perlahan menuju kehancuran—

Seorang pemuda mulai menempa dirinya.

Untuk menghadapi takdir.

Atau…

Menghancurkannya.

More Chapters