Sejak hari itu ... Aku tidak pernah benar-benar sendiri .
Bahkan disaat aku ditengah keramaian .
Bahkan saat aku mencoba mengalihkan pikiran .
Mereka tetap ada .
Diam .
Melihat .
Menunggu .
Aku mulai terbiasa ... Atau mungkin terpaksa terbiasa .
Tidak lagi berteriak .
Tidak lagi berlari .
Karena ke mana pun aku pergi ... Mereka ikut .
Tapi ada satu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya .
Sampai malam itu datang .
Aku duduk di kamar .
Lampu redup .
Pintu tertutup .
Seperti malam-malam sebelumnya .
Aku mencoba menenangkan diri .
Menarik napas perlahan .
Mengulang dalam hati -
ini hanya ujian ... Ini hanya ujian ...
lalu -
"Sari ... "
Aku langsung membuka mata .
Tubuhku menegang .
Suara itu jelas .
Memanggil namaku .
Aku menoleh ke kanan .
Tidak ada siapa-siapa .
" Sari ... "
Sekali lagi .
Lebih dekat .
Lebih jelas .
Aku berdiri perlahan .
Langkahku ragu .
Jantungku berdetak cepat .
" Siapa ...? "
Suaraku pelan .
Hampir tidak terdengar .
Tidak ada jawaban .
Aku berjalan menuju pintu keluar .
Tangan gemetar saat memegang gagang .
Perlahan ... Aku membukanya .
Gelap .
Ruang tengah kosong .
Tapi aku tahu-
Suara itu bukan dari dalam kamar .
" Sari ..."
Sekarang ... Dari arah luar rumah .
Tanpa sadar ... Aku melangkah keluar .
Satu langkah .
Dua langkah .
Seperti ada sesuatu yang menarikku .
Bukan paksa .
Tapi halus .
Mengajak .
Udara malam terasa dingin .
Lebih dingin dari biasanya .
Aku berhenti di depan pintu .
Memandang ke arah halaman .
Dan di sana ...
Ada seseorang .
Berdiri membelakangi .
Diam .
" Sari ... "
Dia yang memanggil .
Aku ingin berhenti .
Aku tahu ini tidak benar .
Tapi kakiku tetap melangkah .
Satu langkah lagi .
Dan saat itulah -
" SARI OJO METU! "
Suara itu keras .
Tiba-tiba .
Menghentikan langkahku .
Aku tersentak .
Seolah baru sadar dari sesuatu .
Aku langsung mundur .
Napas memburu .
Sosok di halaman itu perlahan berbalik .
Bukan manusia .
Wajahnya tidak utuh .
Matanya kosong .
Mulutnya terbuka ... Terlalu lebar .
Dan suara yang keluar darinya -
Masih memanggil namaku .
" Sari ... "
Tapi sekarang ... Tidak terdengar seperti panggilan .
Lebih seperti ... Jebakan .
Aku langsung menutup pintu .
Menguncinya .
Tubuhku gemetar .
Kakiku lemas .
Aku terduduk di lantai .
Tidak sanggup berdiri .
Air mataku jatuh .
Tanpa sadar .
Sedikit lagi ...
Aku hampir keluar .
Sedikit lagi ...
Aku mungkin tidak akan kembali .
Dari dalam kamar -
Aku mendengar langkah .
Pelan .
Mendekat .
Dan saat aku mengangkat kepala -
Perempuan tua itu sudah berdiri di sana .
Lebih dekat dari sebelumnya .
" Kowe gampang dipanggil ..."
kamu mudah dipanggil .
Aku menunduk .
Tidak berani menatap .
" Yen kowe ngene terus ... "
Kalimatnya terhenti .
Tapi aku tahu maksudnya .
Aku ... Bisa hilang .
