"Besok pagi basahi rambutmu, Nisa. Jangan pernah buka cadarmu di depan saya. Ingat itu."
Bab 05
Luruh sudah tubuh Nisa di balik pintu kamar. Rasa sesak di dadanya sudah tak mampu ia tahan. Nisa mengusap dadanya berkali-kali. Berharap rasa sakit dalam hatinya itu bisa sedikit berkurang. Nisa berdiri dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia berjanji dalam hatinya tak akan tidur sebelum lelaki halalnya itu pulang.
Nisa akan menuntut penjelasan pada lelaki halalnya itu, apa sebenarnya lelaki itu tutupi? Atau, mungkin saja lelaki itu tengah melakukan permainan tanpa melibatkan Nisa?
Jam dua puluh tiga lebih, Nisa mendengar deru mesin motornya mendekat ke kontrakan. Ia menatap cermin, membersihkan air mata yang telah mengering menghiasi wajah putihnya agar lelaki halalnya itu tak tahu. Nisa berusaha bangkit dan segera membuka pintu menyambutnya dengan senyuman.
Tak ada yang berubah, wanita itu seperti biasa mengambil tas dan menyimpan jaket lelaki halalnya di kamar. Yusuf pun langsung menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Baju tidur dengan lengan panjang telah membalut tubuh kekar Yusuf. Nisa hanya duduk di ujung ranjang menunggunya, ingin menanyakan Yusuf pergi kemana belakangan ini. Jika tidak masuk kerja, lalu lelaki itu kemana?
"Nisa, kenapa belum tidur? Tadi pagi udah dibilangin, kan?"
"Nisa belum ngantuk, Mas. Nisa ingin menanyakan sesuatu pada Mas, sebenarnya. Mas, pergi kemana?" tanya Nisa dengan berusaha menatap mata Yusuf. Akankah di mata itu tersimpan banyak kebohongan?
"Maksud kamu apa, Nisa? Saya kerja!"
Nisa tersenyum getir mendengar jawaban lelaki halalnya.
"Jangan bohong kamu, Mas. Tadi Nisa ke kantor tempat kerjanya Mas, untuk mengantarkan makan malam. Nisa enggak tega kalau Mas sampai lupa makan karena sibuk kerja. Tapi, kata Pak satpam Mas cuti selama tiga hari. Lalu, Mas pergi kemana?" tanya Nisa dengan sedikit gemetar.
"Kamu tak perlu tahu urusan saya!" jawabnya dengan singkat. Wajah lelaki halalnya memerah.
"Mas, Nisa juga berhak tahu. Nisa itu istri sah Mas Yusuf."
"Nisa, dengarkan, saya terpaksa menikahi kamu. Pernikahan kita itu tak lebih dari pernikahan di atas kertas. Saya cuma tak ingin disebut anak durhaka. Ngerti!"
Deg!
Dar ah Nisa berdesir hebat. Nisa pikir Yusuf menikahinya karena Allah. Namun, ternyata pikiran Nisa salah. Lalu, sekarang Nisa harus apa? Haruskah Nisa bercerita kepada Abi? Ah, tidak. Abi pasti kecewa berat. Lagi pula Abi pernah bilang. Cinta akan datang secara perlahan. Nisa tidak bisa memaksa Yusuf mencintainya, tapi Nisa yakin Yusuf akan luluh seiring berjalannya waktu. Bukankah Allah maha membolak balikkan hati?
Nisa, menahan lautan air matanya. Nisa tak akan membiarkan lautan air matanya tumpah di depan lelaki halalnya itu. Jangan perlihatkan bahwa dirinya itu lemah.
"Mas, apa Mas menganggap pernikahan itu sebuah lelucon? Sehingga Mas menyebutnya pernikahan di atas kertas. Mas, pernikahan itu ikatan suci. Bukan sebuah lelucon. Astaghfirullahal'adziim." Nisa berucap dengan dada yang semakin sesak.
"Saya capek! Saya mau istirahat!" sambungnya seraya membaringkan tubuhnya di kasur dan menutup seluruh tubuhnya oleh selimut.
Seketika, Nisa keluar kamar seraya membawa selimut. Nisa mematikan lampu ruang depan. Ia membaringkan tubuhnya di atas kursi. Untuk pertama kalinya Nisa tak seranjang dengan Yusuf. Meskipun satu ranjang pun Yusuf tidak pernah menyentuhnya.
Ada yang lebih menyakitkan dari sekedar memendam rasa, ialah saat kita melabuhkan cinta. Namun, pada seseorang yang salah. Jika ada orang yang menanyakan berapa kali Nisa menyerah dalam satu tahun ini, ketahuilah ia lupa untuk menghitungnya.
Namun, Rabbnya sungguh maha baik. Pertolongan selalu datang dengan cara terbaik, melalui ayat-ayatNya, melalui berbagai peristiwa yang menorehkan hikmah. Semuanya berhasil menghapus air mata yang terlanjur jatuh itu.
***
Pagi ini Nisa bangun kesiangan. Ia tak sempat membuat sarapan. Ia langsung membeli nasi dan sate, juga beberapa aneka gorengan. Saat ia terbangun tadi, ternyata lelaki halalnya telah berangkat kerja.
Saat nasi telah berpindah ke perut, Nisa langsung mengumpulkan pakaian kotor untuk segera ia cuci. Seperti biasa, Nisa selalu mengecek setiap saku. Tiba-tiba ....
"Bekas Mas Yusuf belanja," ucap Nisa dengan lirih. Mata Nisa menyipit, mencoba mencerna hitam di atas putih itu. Namun ....
'Dddrrtt.'
"Mamah," ucap Nisa dengan pelan.
[Assalamu'alaikum, menantu Mamah yang cantik dan shalihah?]
[Wa'alaikumussalam, Mah. Iiih, Mamah bisa aja deh menggoda Nisa. Mamah, gimana kabarnya?]
[Mamah enggak menggoda, Sayang. Semua itu fakta. Alhamdulillah sehat, Nak. Gimana kabar kamu sama Yusuf?]
[Alhamdulillah kami sehat, Mah.] Nisa mengingat kejadian semalam. Namun, ia tak akan pernah permasalahan rumah tangganya itu terdengar oleh siapapun.
[Nak, nanti ke sini, ya? Mau ada acara empat bulanan kehamilan Teh Arini.]
[In Syaa Allah, Mah. Nisa sama Mas Yusuf ke sana. Alhamdulillah, akhirnya Teh Arini mau jadi Ibu.] Nisa berucap bahagia mendengar kabar baik itu. Sehingga rasa sedih di hatinya sedikit teralihkan.
[Iya, semoga Nisa juga cepat nyusul, ya? Mamah pengen banget punya cucu dari Nisa.]
[In Syaa Allah, Mah. Doakan terus Nisa sama Mas Yusuf ya, Mah?] Nisa berharap, semoga rumah tangganya kedepannya baik-baik saja.
[Iya, Nak. Doa sudah pasti Mamah panjatkan untuk seluruh anak dan menantu Mamah. Mamah tutup dulu, ya, telponnya?]
[Baik, Mah.]
[Assalamu'alaikum? ]
[Wa'alaikumussalam.]
Setelah sambungan telpon itu berhenti, Nisa langsung kembali dengan niat awal yang akan mencuci pakaian. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti saat matanya melirik kertas kecil itu. Dengan perlahan tangan putih itu mengambilnya, menatap setiap tulisan yang tertera di sana.
Bedak, susu ibu hamil, baju atasan, rok, aneka jajanan, dan aneka minuman.
"Astaghfirullahal'adziim, Mas Yusuf membeli semua ini untuk siapa? Susu ibu hamil? Siapa yang hamil? Apa ini semua titipan Mbak Arini? Tapi kenapa enggak sama Mas Adit." Hati Nisa menjerit. Entah akan ada drama apa lagi dalam rumah tangganya. Namun, Nisa berusaha berprasangka baik pada lelaki halalnya itu. Meskipun kejadian semalam mampu membuat hatinya itu berkeping-keping.
Nisa kembali menyimpan pakaian yang akan dicucinya itu. Ponsel menjadi tujuannya, Mas Miqu tertera di layar ponsel yang menyala itu.
[Assalamualaikum, Mas. Maaf mengganggu waktu kerjanya.]
[Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, iya, ada apa Nis, nelpon saya?]
[Mas, kata Mamah nanti kita harus ke rumah Mamah. Ada acara empat bulanan Teh Arini. Acaranya setelah salat Maghrib.]
[Iya, saya usahakan pulang sore.]
[Baik, Mas. Nisa tunggu di kontrakan.]
Wanita itu akan menunggu lelaki halalnya itu. Kembali ia akan menuntut penjelasan. Meskipun pada akhirnya mungkin ia akan terluka. Luka bekas semalam pun tak kunjung sembuh, lalu akan ada kejutan apa lagi?
*
Setelah salat ashar, Nisa langsung berdandan di depan cermin. Matanya menatap wajah cantiknya dari pantulan cermin itu.
"Mas, apa Nisa seburuk itu di mata Mas Yusuf?" Nisa tersenyum getir menatap pantulan wajahnya.
Nisa menunggu Yusuf dengan duduk di kursi ruang depan dengan memakai pakaian serba hitam. Saat lelaki itu tiba di rumah, Nisa menyambutnya. Tak ada yang berubah dari sikapnya itu. Nisa kembali duduk menunggu lelaki itu selesai mandi. Karena, Nisa menunggu Yusuf dingin dulu. Jika pas pulang kerja menanyakan semua itu, Nisa takut yang ada hanya emosi dan amarah yang menyetir lelakinya.
"Sudah, siap?"
"S--sudah." Jantung Nisa berdebar kencang, kala mata itu sedikit menatapnya.
"Mas, sebelum berangkat ada yang ingin Nisa tanyakan."
"Ada apa lagi sih, Nisa?" tanyanya dengan wajah yang kurang enak untuk dipandang.
Kerongkongan Nisa sedikit tercekat.
"Coba, Mas jelaskan ini semua?" pinta Nisa seraya menyodorkan kertas putih itu yang ditemukan tadi pagi.
Seketika Yusuf mengambilnya dari tanga putih Nisa. Rona wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Kamu dapat ini dari mana, Nisa?" tanyanya seraya mengusap kasar wajah tampannya itu. Nisa tersenyum menatap wajah lelaki itu.
"Dari saku kemeja, Mas. Tolong jawab jujur, Mas. Nisa tak ingin ada kebohongan dalam rumah tangga ini." Nisa berucap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Nisa! Kejujuran ini akan sangat menyakitkan, untukmu." Yusuf menatap Nisa dengan senyuman yang sulit Nisa artikan. Antara rasa bahagia atau sedih.
"Rasa sakit? Semua itu sudah biasa untuk Nisa, Mas."
"Nisa, sudah saya bilang, bahwa pernikahan kita hanya pernikahan di atas kertas! Saya tidak pernah mencintai kamu Nisa. Saya hanya menuruti keinginan Mamah saja, enggak lebih." Lelaki itu menjelaskan.
"Kenapa?"
"Kenapa, Mas tidak belajar untuk mencintai Nisa?" tanya Nisa dengan air mata yang mulai mengambang. Siap meluncur begitu saja.
"Tidak! Saya tidak ingin belajar mencintai kamu."
"Sekeras itukah hatimu, Mas?" Nisa menatap mata lelakinya itu.
"Lalu, susu ibu hamil, siapa yang hamil, Mas?"
"Sudah! Sekarang rapikan semua pakaianmu, masukkan ke tas! Nanti saya jelaskan di rumah Mamah," ucapnya seraya pergi menuju teras meninggalkan Nisa yang masih mematung di dekat kursi.
Seketika, lautan air mata sudah tak mampu dibendung lagi. Terlalu sakit.
"Sehina inikah aku di matamu, Mas? Sehingga aku tak layak untuk kamu cintai?" Dada ini selalu ada namamu
