"Dokter, tolong istri saya! Dia pen da rah an!"
Aku berlari ke ruang IGD … lalu membeku saat melihat siapa pasien itu.Wanita yang akan melahirkan itu sedang mengandung a n a k suamiku.
🌼🌼🌼
"Dan saya rasa setelah ini, kita perlu membicarakan sesuatu tentang hasil pemeriksaan lama Anda."
Amira menatap lurus ke arah laki-laki yang masih berstatus suaminya itu. Pintu ganda ruang operasi baru saja tertutup di belakang pung gung nya. B a u ta jam antiseptik dan sisa ketegangan berjam-jam di ruang be dah masih menguar pekat dari seragam medis yang ia kenakan.
Amar mendongak cepat. Air mata membasahi pi pi nya. Pria itu menangis lega di depan pintu ruang operasi. Wa jah nya yang semula pu cat pasi kini berangsur memerah. Ba hu nya bergetar hebat meluapkan beban ketakutan yang sejak tadi menimpanya.
"Syukurlah. Terima kasih, Amira. Sungguh, aku bisa jelaskan semuanya padamu."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan."
Amira me mu tar tu buh nya. Wa jahnya setenang laut sebelum badai menerjang. Tidak ada setetes pun air mata yang ja tuh dari pelupuk ma ta nya. Luka di hatinya sudah terlalu dalam hingga menembus batas rasa sakit itu sendiri.
"Tolong dengarkan aku dulu!" mohon Amar sambil melangkah maju menahan lengan Amira.
"Aku khi laf. Ini semua ke ce la ka an."
"Khi laf sampai punya a n a k?" Amira tersenyum miring dan me ne pis tangan Amar perlahan.
"Simpan tenagamu untuk mengurus mereka berdua di dalam sana. Tugasku sebagai dokter kandungan sudah selesai hari ini. Dan nanti setelah semuanya selesai, kita harus bicara!"
"Amira, jangan tinggalkan aku. Aku masih mencintaimu."
"Cinta? Jangan me no dai kata itu di depanku. Fokus saja pada a n a k laki-lakimu yang baru lahir."
Amira berjalan pergi begitu saja menyusuri lorong rumah sakit. Sepatunya berketuk nyaring beradu dengan lantai keramik yang dingin. Tidak ada adegan tam par an. Tidak ada te ri a kan marah atau ca ci ma ki mu rah an yang sering terjadi di drama televisi. Sikap dingin
Amira justru membuat Amar me ma tung ketakutan di tempatnya. Amar lebih memilih istrinya itu me nga muk dan me lem par barang daripada bersikap seperti balok es begini. Keheningan Amira adalah sebuah an cam an paling me ma ti kan.
Di ruang kerjanya, Amira duduk bersandar. O tot-o tot pung gung nya terasa ka ku setelah berdiri berjam-jam menyelamatkan nyawa se ling kuh an suaminya sendiri. Suster Nita masuk membawa secangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul pelan.
Lima belas tahun.
Tangannya sempat berhenti di udara sebelum meraih cangkir teh yang dibawakan Suster Nita.
"Dokter Amira tidak apa-apa?" tanya Suster Nita dengan raut khawatir.
"Saya baik-baik saja, Nita," jawab Amira tenang.
Hangatnya porselen itu menjalar ke telapak tangannya, memberikan sedikit ketenangan di tengah ba dai pikirannya.
"Tolong ambilkan data pasien atas nama Sheila tadi, aku mau melihatnya."
"Apakah Dokter yakin mau melihatnya sekarang?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Baik, Dok." Suster Nita keluar dan tak lama kembali membawa sebuah map. "Ini datanya. Apakah ada hal lain yang Dokter butuhkan?"
"Cukup ini saja. Terima kasih banyak. Kamu boleh pulang sekarang."
"Mari, Dok!"
Amira membuka map itu dengan gerakan terukur. Ma ta nya menyapu deretan angka dan huruf di formulir pendaftaran Sheila. Hatinya mencelos seketika. Perempuan itu tinggal di sebuah kompleks perumahan elit di kawasan selatan kota.
Perumahan yang har ga satu unitnya bernilai mi li ar an rupiah. Amira tertawa pelan menyadari ironi ini. Selama ini dia me ngi kat pe rut dan menahan keinginan berbelanja demi membantu keuwangan Amar, namun suaminya justru membelikan istana untuk wanita lain.
---
Malam itu juga, saat Amar belum pulang ke rumah, Amira duduk manis di meja kerjanya. Lampu temaram menyinari wa jahnya yang keras dan fokus. Dia membuka laptop kesayangannya. Amira bukan hanya dokter kandungan biasa. Dia adalah partner investor di dua klinik kesehatan besar di ibu kota. O tak nya terbiasa mem be dah angka, grafik, dan strategi bisnis. Amira mengambil ponselnya dan memutar nomor seseorang.
"Halo, Bisma. Maaf mengganggu waktumu malam-malam begini," kata Amira santai.
"Halo, Amira. Tumben sekali kamu menelepon jam segini. Ada kejadian besar apa?" balas
Bisma dari seberang sana dengan nada heran.
"Kamu masih berprofesi sebagai pengacara hukum keluarga, benar?"
"Tentu saja. Kenapa? Ada temanmu yang mau ber ce rai atau menuntut seseorang?"
"Bukan temanku. Aku sendiri yang mau menuntut suamiku."
Bisma terdengar menarik napas panjang. Keheningan sesaat menyelimuti percakapan mereka.
"Amar? Kalian berdua bertengkar hebat?"
"Dia baru saja punya a n a k dari perempuan lain. Dan coba tebak siapa yang membantu proses persalinannya hari ini?"
"Astaga. Kamu bercanda, kan?"
"Aku sangat serius, Bisma. Aku sendiri yang meng o pe ra si dan menyelamatkan se ling kuh an nya."
"Ya Tuhan! Amira, aku turut prihatin mendengarnya. Jadi kamu ingin aku mengurus berkas per ce ra i an secepatnya?"
"Tidak secepat itu. Aku butuh bantuanmu untuk hal yang lebih besar."
"Katakan apa yang harus aku lakukan untukmu."
Amira menatap pantulan dirinya di layar laptop yang gelap sesaat. Pandangannya se ta jam elang yang mengintai mangsa.
"Aku sebenarnya sudah lama curiga, Bisma. Selama tiga tahun terakhir aku diam-diam menyalin mu ta si rekening Amar. Aku juga menyimpan semua rekap trans fer nya secara rutin."
"Kamu sudah mengumpulkan bukti keuwangan selama tiga tahun penuh?"
"Ya. Aku juga punya bukti kepemilikan a se t atas nama pihak ketiga. Ditambah beberapa tangkapan layar percakapan mencurigakan di ponselnya yang rutin aku amankan."
"Luar biasa g i l a! Kamu benar-benar sudah siap sejak lama. Kenapa baru sekarang kamu mau me le dak kan nya?"
"Aku hanya menunggu waktu yang sangat tepat. Dan waktu itu adalah hari ini. Ba yi nya sudah la hir dengan selamat. Sekarang giliranku yang bergerak me nye rang."
"Kamu yakin? Kalau ini dibuka, reputasinya bisa run tuh. Bisa jadi urusan pa jak. Bisa jadi skan dal perusahaan. Kamu siap menghadapi pe rang seperti itu?"
"Yakin. Aku tidak mau hidup dengan seorang peng khi a nat, Bisma. Sebelum semua ini berakhir, aku ingin memastikan dia kehilangan sesuatu yang selama ini ia banggakan."
Amira menatap layar laptop yang gelap, melihat pantulan dirinya sendiri. Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar.
Tapi ke bo hong an lima belas tahun jauh lebih ke jam.
"Baik. Aku paham posisi kamu sekarang. Apa rencanamu besok pagi?"
"Kita bertemu di kedai kopi biasa dekat kantormu. Jam sepuluh pagi tepat."
"Siap. Bawa semua bukti yang kamu punya. Kita susun strategi yang bersih. Tidak gegabah."
Sambungan telepon terputus. Amira kembali menatap layar laptopnya. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan gerakan cepat dan pasti. Dia mengetikkan nama perusahaan tempat Amar sering mengaku bekerja.
Selama belasan tahun, Amar terus meyakinkan Amira bahwa dia hanya pegawai biasa ber ga ji lima ju ta ru pi ah sebulan. Amira selalu menutupi kekurangan urusan rumah tangga tanpa banyak protes, mengira suaminya sedang berjuang dari bawah. Bahkan setiap nominal angka yang diminta Amar, Amira selalu menurutinya.
Jari Amira mengklik halaman profil perusahaan tersebut. Halaman situs web itu memuat struktur organisasi petinggi perusahaan. Ma ta nya menyipit ta jam membaca deretan nama jajaran eksekutif. Nama Amar terpampang jelas dan gagah di sana beserta foto pria itu yang mengenakan setelan jas mahal. Posisinya adalah Direktur Keuwangan.
"Gaji lima juta?" Amira bergumam sendiri sambil tersenyum sinis. "Sandiwara yang sangat bagus, Amar."
"Direktur Keuwangan, ya? Menarik sekali. Orang yang paling paham cara menyembunyikan uwang ternyata lupa menyembunyikan jejak."
Amira tersenyum tipis. "Dan besok pagi, hidupmu akan mulai berubah, Amar."
Iya do'akan saja yang terbaik dari Tuhan, kita hanya manusia biasa
