Di bawah pohon besar yang berdiri di tengah hamparan bunga itu, Hina masih duduk dengan kedua tangan di pangkuannya. Setelah pertanyaan Elyss tentang pasangan keluar begitu saja, wajah Hina seketika memerah hingga ke telinga. Ia menunduk, memainkan jari-jarinya sendiri, dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Melihat reaksi itu, Elyss tersenyum kecil.
Bukan senyum mengejek, melainkan senyum lembut seperti seseorang yang baru saja menemukan jawaban yang ia cari.
Elyss:
"Apa pertanyaanku terlalu memalukan untuk kamu ceritakan, Hina?"
"Atau aku memang terlalu jauh?"
Mendengar itu, Hina buru-buru mengangkat kedua tangannya, melambaikannya kecil di depan dada seperti menolak anggapan tersebut.
Hina:
"B-Bukan begitu…"
"Bukan karena itu…"
"Aku hanya… sedikit malu."
Elyss terkekeh pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi dan berkata dengan nada yang jauh lebih santai.
Elyss:
"Kalau begitu, ceritakan saja."
"Aku ingin tahu… pria seperti apa yang membuatmu bertahan sampai sekarang."
Hina menarik napas panjang.
Matanya menatap hamparan bunga di kejauhan, lalu perlahan mulai bercerita.
Hina:
"Dulu… aku tidak memiliki siapa-siapa."
"Kedua orang tuaku meninggalkanku saat aku masih kecil."
"Dan keluarga lain pun tidak ada yang benar-benar ingin merawatku."
"Jadi sejak kecil aku harus belajar hidup sendirian… walau sebenarnya aku belum mengerti bagaimana caranya."
Suara Hina pelan. Lembut. Tapi setiap kata yang keluar membawa rasa sepi yang terlalu lama ia pendam.
Hina:
"Saat SMP…"
"aku mendapat banyak perlakuan buruk."
"Aku dikucilkan."
"Dijauhi."
"Dan tidak ada seorang pun yang benar-benar menolongku."
"Aku hanya bisa diam… dan bertahan sebisaku."
Elyss tidak menyela. Ia hanya mendengarkan.
Sorot matanya pelan-pelan berubah, seolah kisah itu menyentuh bagian hatinya yang sangat lama ia tutup.
Hina melanjutkan, suaranya sedikit lebih tenang saat memasuki bagian hidup yang berbeda.
Hina:
"Lalu saat SMA… hidupku mulai berubah."
"Aku mendapatkan kekuatan penyembuh."
"Dan dari situ aku berpikir…"
"kalau aku harus berubah juga."
"Aku harus menjadi seseorang yang berbeda…"
"…agar tidak terluka seperti dulu lagi."
Hina menunduk sesaat, lalu tersenyum pahit.
Hina:
"Jadi aku memakai topeng."
"Aku memaksa diriku menjadi gadis yang lembut, tenang, dan selalu tersenyum."
"Karena aku pikir… selama aku bukan diriku yang dulu, mungkin aku tidak akan disakiti lagi."
Angin di tempat itu berhembus pelan.
Bunga-bunga di sekeliling mereka bergoyang seperti ikut mendengarkan.
Hina memejamkan mata sejenak, lalu di wajahnya muncul bayangan seseorang.
Hina:
"Tapi… setelah lama memakai topeng itu…"
"perlahan topengku mulai retak."
"Dan yang membuatnya retak…"
"…adalah seorang pria demon."
Elyss mengangkat alisnya tipis, tertarik.
Elyss:
"Pria demon?"
Hina mengangguk, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Senyum yang jauh berbeda dari senyum-senyum sebelumnya.
Ada kehangatan di sana.
Hina:
"Iya."
"Awalnya aku pikir dia orang yang sangat arogan…"
"…dingin, sombong, dan menyebalkan."
"Dia seperti tidak peduli kepada siapa pun."
"Dan entah bagaimana… justru dia yang menyadarkanku."
"Dia membuatku berhenti bersembunyi di balik topeng itu."
Suara Hina melembut.
Hina:
"Sedikit demi sedikit…"
"aku mulai menjadi diriku sendiri lagi saat berada di dekatnya."
"Dan aku baru sadar…"
"bahwa pria itu selalu ada di sisiku."
"Seperti sedang melindungiku."
"Seperti tidak ingin aku kembali sendirian."
Elyss menatap Hina cukup lama.
Lalu perlahan, ia tersenyum.
Bukan senyum biasa.
Lebih seperti rasa senang bercampur iba.
Hina:
"Tapi yang tidak banyak orang tahu…"
"…dia juga sebenarnya terluka."
"Dia terlihat kuat… sangat kuat."
"Tapi hatinya juga penuh luka."
"Jadi akhirnya aku belajar…"
"…untuk mencoba mengobati lukanya."
"Dan pada akhirnya… kami bersama."
"Kami saling mengobati."
Kalimat terakhir itu keluar dengan sangat pelan, namun begitu jujur.
Lalu wajah Hina kembali meredup.
Senyum hangat itu perlahan hilang.
Hina:
"Dan sekarang…"
"aku diculik."
"Aku menjalani eksperimen yang bahkan aku sendiri tidak mengerti tujuannya."
"Dan aku menahannya…"
"…demi melindungi pria yang kucintai."
Setelah kalimat itu selesai, suasana di bawah pohon besar itu menjadi hening.
Elyss menatap Hina lama sekali.
Matanya menunjukkan dua perasaan yang bercampur menjadi satu—senang… dan kasihan.
Senang, karena gadis di hadapannya masih punya seseorang yang ingin ia lindungi.
Kasihan, karena setelah semua luka masa lalunya, Hina justru harus menerima penderitaan baru.
Beberapa saat kemudian, Hina yang sejak tadi bercerita akhirnya menoleh balik kepada Elyss.
Hina:
"Kalau begitu…"
"bagaimana dengan dirimu, Elyss?"
"Kamu bilang kamu pernah menjalani eksperimen ini…"
"Berarti kamu tahu apa tujuan mereka melakukan hal seperti ini, bukan?"
"Lalu bagaimana kamu bisa tetap seperti sekarang?"
"Dan bagaimana kamu bisa menyelamatkanku?"
Mendengar pertanyaan bertubi-tubi itu, Elyss melebarkan matanya sejenak, lalu tertawa kecil.
Elyss:
"Seperti biasa…"
"Hina, kamu masih penuh dengan pertanyaan."
Namun kali ini, Elyss tidak langsung mengalihkan topik.
Ia menghela napas pelan, lalu menatap jauh ke padang bunga di depan mereka, seolah sedang melihat dunia lain yang sangat jauh dari tempat itu.
Elyss:
"Dahulu…"
"aku tidak jauh berbeda denganmu, Hina."
"Aku dan beberapa temanku tidak memiliki siapa-siapa."
"Kami tidak punya keluarga."
"Kami tidak punya tempat untuk kembali."
"Dan pada akhirnya… kami diambil oleh sebuah panti asuhan."
Hina mendengarkan dengan saksama.
Elyss:
"Waktu itu kami berpikir…"
"akhirnya kami akan punya tempat tinggal."
"Tempat yang damai."
"Tempat yang bisa kami sebut rumah."
Suara Elyss perlahan menurun.
Senyumnya tetap ada, tapi tipis dan kosong.
Elyss:
"Tapi semua itu hanya kamuflase."
"Karena setelah setiap anak mencapai usia tertentu…"
"…kami dibawa ke ruang bawah tanah."
"Dan di sanalah kami mengerti bahwa tempat itu bukan rumah."
Wajah Hina perlahan memucat.
Elyss tetap melanjutkan, walau suaranya kini lebih berat.
Elyss:
"Aku… memiliki teman masa kecil…"
"kami sama-sama tidak memiliki siapa-siapa."
"Kami selalu bersama."
"Kami membuat janji bahwa kami akan terus bersama…"
"apa pun yang terjadi."
Hina melihat perubahan kecil pada wajah Elyss.
Untuk pertama kalinya, ada kelembutan yang sangat berbeda di sana.
Bukan kelembutan kepada Hina.
Tapi kepada seseorang yang sedang ia kenang.
Elyss:
"Di saat itu…"
"kami memberikan nama kepada satu sama lain."
"Dia memberiku nama Elyss…"
"dan aku menyebutnya…"
Begitu Elyss hendak menyebut nama anak laki-laki itu—
seketika dunia Hina seperti terguncang.
Tidak ada suara.
Tidak ada nama.
Yang ada justru rasa sakit mendadak di kepalanya, tajam dan menusuk, hingga Hina spontan memegang kepalanya sendiri.
Hina:
"Ah…!"
Elyss yang melihat itu tidak panik.
Ia hanya tersenyum kecil—senyum yang lebih getir daripada sebelumnya.
Elyss:
"Maaf, Hina."
"Sepertinya… memang aku tidak bisa menceritakan kisahku sepenuhnya kepadamu."
"Apalagi menyebut namanya."
Rasa sakit di kepala Hina perlahan mereda, tapi kebingungannya justru bertambah.
Ia mengangkat wajahnya dengan napas yang sedikit tidak teratur.
Hina:
"Apa… apa maksudnya itu…?"
Namun Elyss melanjutkan lebih dulu, seolah bagian itu memang tidak bisa disentuh lebih jauh.
Elyss:
"Tapi yang harus kamu tahu…"
"orang-orang yang melakukan hal kejam itu…"
"…sekarang mungkin sedang melakukan hal yang sama kepadamu di luar sana."
"Dan kenapa aku bisa menyelamatkan jiwamu…"
"…karena sumber kekuatan dari eksperimen itu adalah diriku ini."
Mata Hina langsung membesar.
Ia benar-benar terkejut.
Hina:
"Apa…?"
"Itu benar, Elyss?"
"Kalau begitu apa kamu ini sekarang…"
"…apa kamu sekarang hanya sisa-sisa jiwa?"
"Dan sudah tidak memiliki tubuh fisik?"
Elyss tidak langsung menjawab.
Ia menatap cangkirnya sebentar, lalu tersenyum lembut—terlalu lembut untuk seseorang yang sedang membicarakan nasibnya sendiri.
Elyss:
"Aku memang tidak memiliki tubuh fisik saat ini."
"Tapi bukan berarti aku tidak bisa memilikinya."
Hina menatapnya tanpa berkedip.
Lalu Elyss mengalihkan pandangannya ke langit putih keemasan yang membentang di atas mereka.
Elyss:
"Alasannya sederhana."
"Aku tidak ingin hidup sendirian di luar sana."
"Karena aku tidak memiliki tujuan untuk hidup kembali."
Suara Elyss menurun di akhir kalimat.
Begitu tenang, namun justru terasa jauh lebih menyakitkan.
Elyss:
"Karena…"
"aku rasa anak laki-laki itu mungkin sudah tiada."
"Jadi untuk sekarang ini aku tidak memiliki alasan untuk kembali."
Setelah kalimat itu keluar, suasana di antara mereka menjadi hening.
Hina tidak tahu harus berkata apa.
Ia hanya bisa menatap Elyss—gadis yang sejak awal terlihat misterius, tenang, dan sedikit sulit dibaca—dan untuk pertama kalinya, Hina bisa melihat dengan jelas bahwa di balik semua itu, Elyss membawa luka yang sangat dalam.
Luka yang mungkin bahkan lebih tua dan lebih sepi daripada luka yang pernah Hina rasakan.
Dan di bawah pohon besar itu, Hina hanya bisa terdiam… melihat seseorang yang masih tersenyum lembut, walau jelas hatinya sedang mengenang kehilangan yang belum pernah benar-benar sembuh.
