Di bawah pohon besar yang berdiri sendirian di tengah hamparan bunga itu, Hoshizora Hina dan gadis asing bernama Elyss duduk saling berhadapan.
Angin berhembus lembut.
Kelopak-kelopak bunga kecil beterbangan pelan, sesekali melintas di atas meja mungil di antara mereka.
Suasana tempat itu terlalu tenang—terlalu indah—hingga terasa berlawanan dengan keadaan hati Hina yang masih dipenuhi kebingungan.
Di atas meja kecil itu, Elyss mengangkat teko bening yang entah sejak kapan ada di sana. Dengan gerakan tenang, ia menuangkan cairan hangat berwarna keemasan pucat ke dalam dua cangkir.
Uap tipis naik perlahan.
Aromanya lembut. Menenangkan.
Namun Hina tetap tidak langsung menyentuh cangkir di depannya.
Elyss yang melihat keraguan itu mengangkat pandangan, lalu tersenyum kecil.
Elyss:
"Kamu tidak perlu curiga seperti itu, Hina."
"Aku tidak menaruh apa pun di minumanmu."
"Kamu bisa lihat sendiri… aku juga meminumnya."
Setelah berkata begitu, Elyss mengangkat cangkirnya sendiri dan menyesapnya perlahan.
Hina yang melihat itu seketika tersadar.
Ia merasa sedikit malu karena sudah menunjukkan kecurigaan sejelas itu kepada seseorang yang justru tampak sedang menolongnya.
Hina:
"Maaf…"
"Aku hanya… masih bingung."
Elyss hanya tersenyum, seolah tidak mempermasalahkannya sama sekali.
Dengan ragu, Hina akhirnya meraih cangkir itu dengan kedua tangannya. Permukaan cangkirnya hangat, namun tidak panas. Ia mendekatkannya pelan ke bibir, lalu meminum sedikit.
Begitu cairan itu melewati tenggorokannya—
mata Hina langsung sedikit melebar.
Tubuhnya, atau lebih tepatnya… keberadaan dirinya di tempat itu, mendadak merasakan sesuatu yang hangat. Bukan panas, bukan juga geli—melainkan rasa hangat yang pelan-pelan menyebar dari dalam, menenangkan sesuatu yang sejak tadi terasa rapuh.
Hina menurunkan cangkirnya perlahan.
Hina:
"Kenapa…"
"Kenapa setelah aku meminum ini… tubuhku terasa hangat?"
"Bukankah aku sekarang hanya sebuah jiwa…?"
Elyss menaruh kembali cangkirnya ke meja.
Senyumnya kali ini lebih tipis, lebih tenang.
Elyss:
"Minuman itu bukan minuman biasa."
"Itu adalah sebagian kecil dari hasil kekuatanku…"
"…yang kubuat agar jiwamu tetap stabil."
Hina mengerutkan kening, masih belum sepenuhnya mengerti.
Hina:
"Stabil…?"
"Untuk apa?"
Tatapan Elyss sedikit berubah. Tidak menakutkan, tetapi cukup serius hingga membuat Hina tanpa sadar ikut menegakkan duduknya.
Elyss:
"Karena jiwamu saat ini memang terlihat baik-baik saja."
"Tapi sebenarnya…"
"…jiwamu sedang tersiksa."
"Tubuhmu di luar sana sedang menerima penderitaan yang tidak bisa kau bayangkan."
"Dan bila terlambat…"
"…mungkin kau sudah menghilang sepenuhnya, Hina."
Seketika wajah Hina memucat.
Jari-jari yang memegang cangkir itu mengencang sedikit.
Ia teringat lagi—penculikan itu, ruangan gelap itu, rasa sakit yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami, dan kenyataan bahwa tubuhnya yang asli memang masih berada di sana… entah sedang mengalami apa.
Napas Hina sedikit tertahan.
Hina:
"Jadi… benar…"
"Aku memang masih… berada di sana…"
Elyss tidak menyela.
Ia membiarkan Hina memproses semuanya sebentar.
Setelah beberapa detik, Hina menunduk pelan, lalu berkata dengan tulus:
Hina:
"Terima kasih…"
Namun Elyss belum selesai.
Ia melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Hina dengan tenang.
Elyss:
"Bukan itu saja."
"Kamu punya banyak pertanyaan, bukan?"
Hina yang sempat larut dalam pikirannya kembali tersadar. Ia mengangguk cepat.
Hina:
"Benar."
"Aku ingin tahu siapa dirimu sebenarnya."
"Kenapa kamu menolongku."
"Dan… apa yang sebenarnya kamu cari dari semua ini?"
Mendengar rentetan pertanyaan itu, Elyss tertawa kecil. Tawa yang ringan, tidak mengejek, tapi terdengar seperti seseorang yang sudah menduga Hina akan menanyakan semuanya sekaligus.
Lalu ia menjawab pelan, satu per satu, tanpa terlihat tergesa.
Elyss:
"Untuk siapa diriku… kamu belum perlu tahu."
"Yang perlu kamu tahu hanya satu: aku tidak berniat menyakitimu."
"Aku menolongmu karena dulu… aku pernah berada di tempat yang hampir sama."
"Dan soal apa yang akan kudapat…"
"…anggap saja itu hutang yang mungkin baru bisa kau bayar suatu hari nanti."
Elyss berhenti sejenak, lalu menatap Hina lurus-lurus.
Elyss:
"Apakah jawaban itu cukup memuaskanmu?"
Hina tidak langsung menjawab.
Jujur saja, keraguan itu masih ada.
Ia masih tidak tahu siapa Elyss.
Ia masih tidak tahu apa sebenarnya yang disembunyikan gadis itu.
Namun melihat cara Elyss berbicara, melihat bagaimana ia memberinya minuman yang menenangkan jiwanya, dan melihat ketenangan di matanya…
pada akhirnya Hina hanya bisa memilih untuk percaya.
Sedikit.
Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk duduk di tempat itu tanpa rasa takut seperti sebelumnya.
Elyss seolah bisa membaca perubahan itu.
Ia kembali bersuara, kali ini lebih lembut.
Elyss:
"Aku tahu, Hina…"
"Kamu masih memiliki keraguan terhadapku yang orang asing."
"Tapi selalu ingat…"
"aku melakukan ini benar-benar demi kebaikanmu."
Hina menarik napas pelan.
Lalu akhirnya ia mengangguk.
Hina:
"Terima kasih, Elyss."
"Walau aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya…"
"…aku akan percaya denganmu."
"Lalu… apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Elyss yang semula santai mendadak terlihat jauh lebih serius.
Ia menegakkan punggungnya sedikit, lalu bertanya balik dengan nada yang tenang namun tajam.
Elyss:
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Kenapa kamu bisa menerima eksperimen ini?"
Hina langsung menunduk.
Pertanyaan itu membuat dadanya terasa berat lagi.
Ia menatap cangkir di tangannya sebelum menjawab pelan.
Hina:
"Sebenarnya… aku sedang diculik."
"Dan mereka yang menculikku…"
"…adalah mantan dari pacarku saat ini."
Mendengar itu, Elyss terdiam.
Sorot matanya berubah tipis, seperti sedang menyusun sesuatu di kepalanya.
Lalu ia kembali bertanya.
Elyss:
"Lalu… apa di antara mereka ada yang seperti profesor?"
"Dan… berapa banyak orang yang mereka culik?"
Kali ini Hina benar-benar heran.
Ia mengangkat wajah dan menatap Elyss dengan bingung.
Hina:
"Kenapa kamu menanyakan itu, Elyss?"
Elyss langsung mengangkat satu tangan pelan, seolah ingin menenangkan.
Elyss:
"Tidak ada apa-apa."
"Aku hanya penasaran."
"Kalau pertanyaanku membuatmu tidak enak…"
"…maka maafkan aku."
Hina menggeleng cepat.
Hina:
"Bukan begitu."
"Aku hanya heran…"
"Kenapa kamu ingin sekali mengetahui itu."
"Seperti… kamu membutuhkan sesuatu dari informasi itu."
Mendengar itu, Elyss menghembuskan napas pelan.
Lalu ia menjawab dengan suara yang lebih berat.
Elyss:
"Karena seperti yang aku bilang…"
"kamu sedang menjalani eksperimen seperti aku dahulu."
"Itulah kenapa aku heran…"
"kenapa eksperimen seperti ini bisa terjadi lagi."
"Apa mereka belum musnah sepenuhnya…"
Kata itu membuat Hina makin bingung.
Musnah.
Ia langsung mengangkat kepala.
Hina:
"Musnah…?"
"Siapa yang musnah?"
"Apa maksudmu, Elyss?"
"Aku tidak paham apa yang sedang kamu bicarakan."
Elyss menatap Hina cukup lama.
Seolah ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih besar, namun menahannya kembali.
Akhirnya ia memilih menarik napas pelan, lalu mengubah arah pembicaraan.
Elyss:
"Ngomong-ngomong…"
"Coba ceritakan mengenai pasanganmu itu."
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba hingga Hina langsung membeku.
Pipinya memerah nyaris seketika.
Ia menunduk, tidak sanggup langsung menatap Elyss, dan hanya bisa memainkan jari-jari tangannya sendiri di atas pangkuan.
Angin bunga masih berhembus pelan.
Dan di bawah pohon besar itu, untuk pertama kalinya sejak datang ke tempat aneh tersebut, Hina merasa malu… bukan karena takut, tapi karena seseorang baru saja menyentuh satu nama yang paling ia simpan di hatinya.
