—Lorong Gelap di Balik Singgasana
Di tempat lain, jauh dari cahaya dunia luar…
Lunaria berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap.
Dinding batu di kiri dan kanan lorong itu dingin, lembap, dan dipenuhi retakan halus yang seperti menyimpan gema dari energi aneh di tempat itu. Langkah kaki Lunaria terdengar pelan namun jelas, memecah kesunyian yang nyaris mencekik.
Di ujung lorong, tampak sebuah pintu besar berwarna hitam pekat.
Pintu itu menjulang tinggi, jauh lebih besar daripada tubuh Lunaria sendiri. Permukaannya dipenuhi ukiran melingkar seperti akar, namun bila diperhatikan lebih lama, ukiran itu lebih mirip urat energi yang membeku di atas logam gelap.
Lunaria berhenti beberapa langkah di depan pintu.
Tak lama kemudian—
Grrrkkk…
Pintu besar itu terbuka perlahan dengan sendirinya.
Suara gesekan logam dan batu memecah keheningan ruang singgasana di baliknya.
Di dalam sana, ruangan itu luas, gelap, dan nyaris tanpa cahaya selain kilau samar dari beberapa kristal ungu gelap yang tertanam di dinding. Di ujung ruangan, di atas singgasana hitam yang tinggi, duduklah sosok yang selama ini disebut oleh Lunaria sebagai Master.
Lunaria melangkah masuk.
Langkahnya tenang, terukur, dan penuh hormat.
Setelah jaraknya tinggal beberapa meter dari singgasana, Lunaria berhenti lalu menundukkan tubuhnya memberi hormat.
Lunaria :
"Salam hormat untuk Master."
Sosok di atas singgasana tidak langsung bergerak.
Namun tak lama, suara seorang gadis tenang dan dingin terdengar menggema di ruangan itu.
Master :
"Bagaimana perkembangan gadis itu?"
Mendengar pertanyaan itu, Lunaria mengangkat wajahnya sedikit. Senyum tipis muncul di bibirnya—senyum puas yang jarang ia tunjukkan.
Lunaria :
"Semuanya berjalan sangat lancar, Master."
"Subjek itu jauh lebih stabil dari yang kami duga."
"Sekarang sudah sampai tahap pertengahan."
"Dan… dia sudah bisa digunakan jika Master ingin menggunakannya."
Setelah mendengar laporan itu, sosok di atas singgasana tampak puas.
Udara di sekeliling singgasana sedikit bergetar.
Lalu sang Master mengangkat satu tangan.
Dengan gerakan yang pelan, tajam, dan penuh kuasa, ujung jarinya membuat satu goresan di ruang hampa di atas Lunaria.
Srrrkkk…
Ruang di atas kepala Lunaria terbelah seperti kain tipis yang disobek dari dalam.
Dari sobekan ruang itu, jatuh sebuah bola energi.
Bola itu berwarna hitam keunguan, berdenyut pelan seperti jantung hidup, namun memancarkan aura yang membuat udara di sekelilingnya terasa lebih berat.
Lunaria menangkapnya dengan kedua tangan.
Matanya sedikit melebar saat merasakan energi di dalam benda itu.
Lalu suara Master kembali terdengar.
Master :
"Bawa benda itu bersama subjek."
"Lalu balaskan dendammu."
Ucapan itu membuat Lunaria terdiam sesaat.
Lalu senyum di wajahnya berubah menjadi jauh lebih dalam—lebih dingin, lebih puas, dan lebih penuh kebencian.
Ia menundukkan kepala lagi.
Lunaria :
"Terima kasih, Master."
Namun sebelum berpamitan, rasa penasarannya tetap muncul.
Lunaria menatap bola energi di tangannya, lalu bertanya pelan.
Lunaria :
"Master… apa fungsi benda ini?"
Di atas singgasana, sang Master tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, barulah suara itu kembali terdengar.
Master :
"Pada saat kau menggunakan subjek itu…"
"…pecahkanlah bola energi itu."
"Maka akan ada hadiah lain untukmu."
Lunaria terdiam sesaat.
Meski ia belum benar-benar memahami apa maksud "hadiah lain" itu, ia tidak cukup bodoh untuk bertanya lebih jauh. Ia tahu—jika sang Master berkata begitu, maka benda di tangannya ini pasti akan menjadi bagian penting dari rencana yang lebih besar.
Lunaria pun kembali membungkuk hormat.
Lunaria :
"Saya mengerti, Master."
"Terima kasih atas kepercayaan ini."
Setelah itu, Lunaria memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan ruang singgasana dengan bola energi itu di tangannya.
Pintu besar di belakangnya kembali tertutup perlahan.
Ruangan itu pun kembali sunyi.
Kini hanya tersisa sang Master seorang diri di atas singgasana.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lalu sang Master mengangkat satu tangan lagi, menatap ruang kosong di hadapannya, dan berkata pelan:
Master :
"Sepertinya… aku harus melaporkan ini kepada Tuan."
Setelah mengatakan itu, sang Master membelah ruang sekali lagi.
Sebuah portal gelap terbuka di hadapannya.
Dan tanpa ragu, sosok di atas singgasana itu bangkit lalu melangkah masuk ke dalam retakan ruang tersebut—
menuju entah ke mana.
---
—Sisi Tenggara Kota Beastkin
Di waktu yang hampir bersamaan…
Kael akhirnya tiba di arah tenggara kota beastkin.
Setelah berlari dan bergerak cepat dari pusat kota hingga ke wilayah yang lebih sepi, kini ia berdiri di depan area yang terlihat aneh karena terlalu kosong.
Beberapa saat kemudian, Rhovan dan para pengawal elitnya juga menyusul dari belakang.
Daerah itu sunyi.
Di depan mereka hanya ada tembok kota yang tinggi, serta beberapa rumah di sisi kiri dan kanan yang terlihat sepi tanpa tanda kehidupan. Jendela-jendelanya tertutup, pintu-pintunya diam, dan udara di tempat itu terasa terlalu tenang… seperti ketenangan yang dipaksakan.
Kael menyipitkan matanya.
Ia melihat ke sekeliling beberapa detik, lalu mengerutkan kening seperti baru merasakan sesuatu yang mengganggu.
Rhovan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya segera bertanya.
Rhovan :
"Bagaimana?"
"Apa Anda merasakan atau menemukan sesuatu?"
Kael menghembuskan napas panjang.
Lalu tanpa menoleh, ia berkata pelan:
Kael :
"Sekarang aku tahu…"
"kenapa temanku memintaku untuk menyelidiki dan menyelesaikan masalah ini."
Ucapan itu membuat Rhovan dan yang lain makin bingung.
Rhovan :
"Maksud Anda apa?"
"Apa Anda mengetahui sesuatu?"
Kael akhirnya menoleh ke arah Rhovan, ekspresinya terlihat sedikit lesu—bukan karena takut, tapi karena merasa orang-orang di belakangnya terlalu lambat menangkap apa yang menurutnya jelas.
Kael :
"Apa kau tidak merasakan keanehan di sekitar kita?"
Rhovan terdiam sejenak.
Ia mencoba kembali mengamati sekeliling, mencoba merasakan sesuatu, namun tetap tidak menemukan apa pun dengan jelas.
Akhirnya ia menjawab terus terang.
Rhovan :
"Maaf…"
"Aku tidak menemukan sesuatu yang aneh."
Mendengar itu, Kael memijat dahinya pelan.
Kael (dalam hati) :
Astaga…
Seorang raja sekuat ini… tapi bahkan tidak menangkap keanehan seterang ini.
Namun sebelum Kael sempat berkomentar lagi, salah satu bawahan Rhovan akhirnya bersuara.
Itu adalah seorang gadis beastkin.
Tubuhnya lebih kecil dibanding pengawal lain, namun matanya tajam dan fokus.
Gadis Beastkin :
"Maaf sebelumnya…"
"Entah ini benar atau tidak…"
"tapi saya merasa beberapa langkah di depan Anda itu memiliki sedikit keanehan."
"Namun saya tidak tahu apa itu…"
"karena ini pertama kalinya saya merasakan sesuatu seperti ini."
Mereka semua langsung menoleh kepadanya.
Kael sendiri memandang gadis itu beberapa saat, lalu tersenyum tipis.
Kael (dalam hati) :
Ternyata tidak semuanya tidak berguna.
Lalu Kael berkata dengan nada santai:
Kael :
"Benar. Tepat sekali."
"Kamu sangat pintar, kucing kecil."
Gadis beastkin itu sedikit tertegun, mungkin tidak menyangka akan dipuji langsung oleh orang asing yang baru saja mempermalukan pasukan elit mereka tadi.
Setelah itu Kael kembali menatap ke depan.
Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ruang kosong di depan mereka.
Kael :
"Di depan kita saat ini…"
"…terdapat suatu sihir gabungan."
"Dan ini bukan sihir sederhana."
"Ini adalah gabungan dari beberapa jenis sihir dalam satu titik."
Mendengar itu, semua orang di belakangnya terkejut.
Rhovan pun langsung menajamkan fokusnya.
Ia memejamkan mata, menarik napas, dan mencoba merasakan kembali energi di depan mereka—kali ini dengan petunjuk dari Kael.
Beberapa detik kemudian, Rhovan membuka matanya.
Wajahnya tampak lebih serius.
Rhovan :
"Sekarang… aku merasakannya."
"Kalau tidak diberi petunjuk, aku benar-benar tidak akan menyadarinya."
"Tapi… apa hubungannya ini dengan hilangnya putra Brom?"
Kael menghela napas lagi, kali ini lebih berat.
Kael :
"Daripada aku menjelaskan panjang lebar…"
"…lebih baik kalian lihat sendiri."
Ia melangkah satu langkah ke depan.
Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan namun jelas:
Kael :
"Di depan kita ada sihir gabungan."
"Bukan satu, bukan dua."
"Penyegelan, ilusi, ruang, teleportasi, kamuflase… dan angin untuk membunuh suara."
Mendengar itu, para pengawal elit beastkin saling memandang dengan wajah tidak percaya.
Rhovan sendiri benar-benar terpaku.
Bukan karena ia paham seluruh teori sihir itu—tapi karena ia sadar bahwa untuk menyatukan sebanyak itu dalam satu titik, pelakunya jelas bukan penyihir biasa.
Rhovan :
"Bagaimana mungkin…"
"ada seseorang yang bisa menggabungkan sebanyak itu di satu tempat…"
Kael tidak menjawab.
Ia hanya maju satu langkah lagi, lalu mengangkat satu tangannya lurus ke depan.
Matanya terpejam sesaat.
Udara di sekitar tangannya bergetar halus.
Beberapa detik kemudian, Kael membuka mata.
Sorot matanya berubah.
Lalu ia mengucapkan satu kata dengan nada tenang namun penuh tekanan.
Kael :
"Lepaskan."
Seketika—
KRAAK!
Terdengar suara seperti kaca raksasa yang pecah di hadapan mereka.
Ruang kosong di depan Kael bergetar.
Lapisan demi lapisan sihir yang tak terlihat mulai retak, seperti tirai bening yang terpaksa robek satu per satu.
Dan tak lama kemudian—
di hadapan mereka muncul sebuah pintu.
Pintu itu seolah sudah ada di sana sejak awal, tapi disembunyikan oleh lapisan-lapisan sihir yang rumit. Warnanya gelap, tertutup rapat, dan memancarkan aura yang membuat udara di sekitarnya terasa dingin.
Rhovan melebarkan matanya.
Para pengawal elit di belakangnya pun benar-benar tidak percaya.
Mereka tadi menatap ruang kosong.
Dan sekarang… di tempat yang sama, berdiri sebuah pintu yang tak masuk akal.
Kael menatap pintu itu dengan wajah datar, seolah semua ini sudah ia duga sejak awal.
Lalu tanpa menunggu siapa pun, ia melangkah maju menuju pintu tersebut.
Rhovan yang melihat itu masih belum sepenuhnya memproses apa yang baru terjadi. Namun karena tidak ingin tertinggal, ia segera menggerakkan tubuhnya dan mengikuti Kael.
Para pengawal elit lainnya pun ikut bergerak dari belakang—
masih dengan wajah yang belum bisa percaya bahwa selama ini, tepat di dalam kota mereka sendiri… ada sesuatu yang disembunyikan dengan sihir setingkat itu."
