Cherreads

Chapter 204 - Pengakuan yang Tidak Bisa Dihindari

Setelah pertemuan tak terduga itu, dada Mina terasa makin sesak.

Di tengah restoran yang hangat dan penuh cahaya, ia justru merasa sedang berdiri di tempat paling tidak aman untuk dirinya.

Mina (dalam hati):

Kenapa aku harus bertemu mereka lagi…?

Apa aku memang tidak bisa hidup dengan damai… walau hanya satu malam saja…?

Di saat itu, Natsumi lebih dulu melangkah maju sedikit dan menoleh ke arah temannya.

Natsumi:

"Ilysta, jangan berkata seperti itu kepada temanku."

Mendengar itu, Ilysta sedikit mengernyit. Ia tidak membantah, tetapi jelas tidak senang ditegur di depan orang lain.

Setelah itu Natsumi menoleh ke arah Mina.

Tatapannya tidak seceria biasa. Ada kehati-hatian di sana, ada rasa bersalah yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya.

Natsumi:

"Maafkan temanku, Mina."

"Ia tidak bermaksud seperti itu."

Namun kata itu—

teman—

justru membuat Mina menunduk sesaat, lalu tertawa kecil dengan suara yang tipis dan pahit.

Mina:

"Teman… kau bilang?"

"Apa maksudmu teman?"

"Teman yang didekati hanya untuk dipakai demi tujuanmu sendiri?"

Ucapan itu membuat Yuna seketika tersulut.

Ia hendak maju, tetapi Natsumi lebih dulu menahan lengannya dengan satu tangan.

Natsumi:

"Ingat apa yang kubilang sebelumnya, Yuna."

Yuna mendecakkan lidah dengan kesal, tetapi akhirnya mundur setengah langkah.

Natsumi lalu kembali menatap Mina.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap langsung tanpa menghindar.

Natsumi:

"Mina…"

"Bukan maksudku seperti itu."

"Tapi jika kamu ingin aku jujur… baiklah."

"Akan kukatakan kepadamu apa tujuanku yang sebenarnya."

"Tapi pembicaraan ini… hanya boleh kamu sendiri yang mendengarnya."

Mina terkejut.

Jadi benar.

Memang ada tujuan.

Memang ada sesuatu di balik semua kebaikan Natsumi selama ini.

Dan perasaan itu langsung membuat luka lama Mina kembali terasa—luka karena dimanfaatkan, diarahkan, dipaksa memilih, dan dijadikan alat oleh orang lain.

Namun di saat yang sama, Mina teringat akan perkataan Hayato di toko buku sebelumnya.

Ia harus membuat Natsumi dekat dengannya.

Ia harus mencari cara.

Dan itu berarti… saat ini ia tidak bisa menolak begitu saja.

Setelah beberapa detik terdiam, Mina akhirnya menjawab dengan suara rendah.

Mina:

"Baiklah."

Natsumi mengangguk kecil.

Lalu tanpa sadar, mungkin karena terlalu buru-buru, ia menggandeng tangan Mina dan mengajaknya pergi ke tempat yang lebih sepi.

Melihat itu, kedua orang tua Mina langsung cemas.

Ibu Mina:

"Mina…?"

Ayah Mina:

"Mina, apa kau yakin?"

Mina menoleh sebentar kepada ayah dan ibunya. Walau di dalam hati ia sendiri tidak yakin, ia tetap berusaha membuat wajahnya terlihat tenang.

Mina:

"Tidak apa-apa, Bu… Yah…"

"Mina akan baik-baik saja."

Ucapan itu jelas belum cukup menenangkan hati kedua orang tuanya.

Namun karena tidak ada pilihan lain, mereka hanya bisa mempercayai putri mereka.

Natsumi terus membawa Mina menjauh dari meja makan dan keramaian restoran, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah lorong samping yang lebih sepi, hanya diterangi lampu dinding dan suara samar dari restoran utama.

Saat langkah mereka berhenti, Mina langsung melepaskan tangannya dari genggaman Natsumi.

Mina:

"Mau sampai mana kau membawaku, Natsumi?"

Natsumi seperti baru tersadar bahwa ia terlalu tergesa-gesa.

Ia mundur selangkah dan menundukkan kepala sedikit.

Natsumi:

"Maaf, Mina."

"Bukan maksudku membuatmu merasa terpaksa."

"Kurasa… di sini sudah cukup aman untuk bicara."

Lalu Natsumi menarik napas pelan.

Tatapannya berubah lebih serius.

Natsumi:

"Jadi dengarkan aku baik-baik, Mina."

"Apa yang akan kukatakan setelah ini…"

"…bukan sesuatu yang akan merugikanmu."

Mina tidak menjawab.

Ia hanya menatap Natsumi penuh keraguan.

Bibirnya tidak berkata apa-apa, tapi matanya jelas berkata:

Buktikan dulu.

Natsumi memahami tatapan itu.

Ia lalu menunduk sebentar sebelum mulai bicara.

Natsumi mengangkat wajahnya perlahan.

Tatapannya tidak lagi bisa dibaca sebagai candaan, tipu daya, atau rasa bersalah semata.

Lalu ia berkata:

Natsumi:

"Baiklah, Mina."

"Kalau begitu… dengarkan pengakuanku dari awal."

---

Di sisi lain…

Setelah Lirya memberitahukan bahwa ada sebuah organisasi dengan energi anomali di dunia Elyndor, seluruh orang di ruangan itu masih terdiam.

Berita itu terlalu besar.

Terlalu berat.

Dan terlalu tidak terduga untuk diterima begitu saja.

Yang pertama bersuara adalah Ravien.

Suaranya tidak lagi keras seperti biasanya. Justru terdengar seperti orang yang baru saja memahami potongan terakhir dari sesuatu yang selama ini ia salah pahami.

Ravien:

"Jadi… itu alasan keluarga tidak bisa membantu masalahku…"

Lirya menatap adiknya sebentar, lalu mengangguk.

Lirya:

"Benar."

"Jadi kakak harap kau mengerti."

"Dunia Elyndor saat ini…"

"…tidak kalah gawat dari permasalahanmu."

Setelah itu, Seris yang masih duduk lemah di tempat tidur akhirnya ikut bertanya.

Seris:

"Kalau begitu…"

"kenapa Kakak datang ke dunia manusia?"

"Kenapa bukan membantu masalah Elyndor saja, Kak?"

Lirya menghela napas pelan.

Tatapannya sebentar melirik ke arah Aelria dan Seris—dua orang yang sedikit banyak sudah tahu siapa "teman" yang ia maksud.

Lirya:

"Kakak datang ke sini…"

"karena seorang teman menyuruhku untuk lebih menjaga kalian."

"Dan membiarkan masalah organisasi itu… diserahkan kepadanya."

Mendengar itu, Seris dan Aelria sama-sama tersadar.

Keduanya tidak mengatakan apa-apa, tetapi mereka sama-sama tahu siapa yang dimaksud Lirya.

Rei di Hutan Terlarang.

Lalu Lirya mengalihkan pembicaraan kembali pada inti.

Ia menatap Ravien dengan lebih tajam.

Lirya:

"Sekarang…"

"katakan kepadaku."

"Apa kau tahu siapa orang yang berbuat seperti ini?"

Ravien menunduk.

Jari-jarinya saling menggenggam erat.

Ia hendak menjawab—

namun Seris lebih dulu bersuara, mungkin karena tidak tahan melihat kakaknya memikul semuanya sendiri.

Seris:

"Mereka adalah Lunaria dan Kaien, Kak."

"Orang-orang dari masa lalu… yang keluarga mereka musnah saat itu."

Seketika semua orang kembali terkejut.

Terutama mereka yang sebelumnya sudah mendengar cerita masa lalu Ravien dari Seris.

Rinna, Airi, Aelria, Rika, Noelle, Nerine, bahkan Rei—semuanya tampak menegang lagi.

Lirya sendiri mendengar jawaban itu dengan wajah yang tidak terlalu berubah. Jelas ia memang sudah menduganya, dan pertanyaannya tadi hanya untuk memastikan.

Ia menghela napas.

Lirya:

"Sudah kuduga."

"Perbuatanmu di masa lalu…"

"…pasti akan berakibat fatal suatu hari nanti."

Mendengar itu, Ravien tidak membela diri.

Ia hanya menunduk lebih dalam dan berkata dengan suara pelan:

Ravien:

"Maaf."

Seketika semua orang di ruangan itu terkejut.

Sekali lagi.

Karena ini bukan Ravien yang mereka kenal.

Ravien yang selama ini mereka lihat adalah demon dingin, keras, dan hampir selalu menanggapi segalanya dengan sinis atau amarah.

Namun di depan Lirya, ia seperti berubah menjadi seseorang yang jauh lebih tenang… dan jauh lebih patuh.

Lirya menatap adiknya beberapa detik, lalu berkata dengan nada keras namun tidak benar-benar kejam.

Lirya:

"Untuk apa kau meminta maaf kepada kami?"

"Jangan buang permintaan maafmu di sini."

"Simpan itu."

"Dan katakan langsung pada wanitamu saat kau berhasil membawanya pulang."

Ucapan itu membuat Ravien mengangkat wajahnya sebentar, lalu kembali menunduk.

Ravien:

"Baiklah, Kak."

Sekali lagi, semua orang terdiam.

Bahkan Nerine, yang biasanya paling cepat bersuara, sampai membeku sesaat melihat perubahan itu.

Aelria (dalam hati):

Jadi… Ravien benar-benar berubah total di depan Kak Lirya…

Airi (dalam hati):

Aneh sekali… tapi juga sedikit menenangkan…

Seris sendiri hanya tersenyum kecil.

Seris (dalam hati):

Inilah sifat asli Kak Ravien saat berhadapan dengan Kak Lirya…

Hanya keluarga kami yang tahu sisi ini.

Beberapa saat kemudian, karena suasana terlalu tegang, akhirnya Nerine membuka suara dengan semangat yang sangat tidak sesuai dengan keadaan.

Nerine:

"Baiklah!"

"Kalau sekarang memang tidak ada yang bisa kita lakukan…"

"…bagaimana kalau kita isi tenaga dulu?"

"…dengan makan malam?"

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Seketika wajah Nerine berubah panik.

Nerine:

"Eh—maaf!"

"Apa aku salah bicara?!"

Belum sempat orang lain menjawab, Noelle langsung memukul kepala adiknya itu.

Noelle:

"Apa isi kepalamu tidak lebih dari kata makan saja?"

Nerine:

"Aduh!"

"Maaf!"

Melihat itu, Lirya justru menghela napas pendek lalu berkata:

Lirya:

"Tidak perlu terlalu tegang."

"Benar yang dia katakan."

"Untuk saat ini kita memang tidak bisa berbuat apa-apa."

"Lebih baik kalian gunakan waktu ini untuk menenangkan diri."

"Urusan Ravien…"

"…akan kupikirkan bagaimana harus bertindak."

Mendengar itu, Nerine langsung terlihat lega.

Ia bahkan tampak senang karena seperti dibela oleh Kak Lirya.

Maka tanpa menunggu terlalu lama, ia pun kembali bersemangat mengajak yang lain keluar untuk makan malam.

Namun tepat di saat mereka hendak bergerak, Airi bersuara pelan:

Airi:

"Lalu… bagaimana dengan Seris?"

Semua orang langsung melihat ke arah Seris.

Seris tersenyum kecil, walau wajahnya masih pucat.

Seris:

"Tidak perlu khawatir."

"Aku di sini baik-baik saja."

"Kalian pergilah makan."

Namun sebelum yang lain bisa memutuskan, Rinna maju satu langkah.

Rinna:

"Biar aku yang menemani Seris."

"Jadi kalian pergilah."

Seris menatap Rinna, lalu tersenyum tulus.

Seris:

"Terima kasih."

Lirya juga ikut menoleh dan mengangguk pada Rinna.

Lirya:

"Kakak juga berterima kasih."

Dengan begitu, mereka pun mulai bersiap keluar.

Tetapi di saat semua orang hendak meninggalkan ruangan, Ravien tetap berdiri diam di tempatnya.

Lirya yang menyadari itu menoleh.

Lirya:

"Ravien. Kau ikut."

Ravien tidak bergerak.

Beberapa detik kemudian ia menjawab tanpa melihat siapa pun.

Ravien:

"Aku tidak akan ikut, Kak."

"Aku akan kembali ke kamar."

"Aku ingin menenangkan diri."

Lirya menatap adiknya yang berbalik pergi dalam diam.

Di luar, wajahnya tetap tegas.

Namun di dalam hati, ia tahu ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar amarah.

Lirya (dalam hati):

Hmmm…

Sepertinya adikku benar-benar sangat terpukul…

Karena wanita yang ia cintai tidak ada di sisinya.

Andai saja aku punya petunjuk…

mungkin aku bisa membantunya menyelesaikan ini dan melihatnya bahagia lagi seperti dulu…

Namun ia tidak memaksa.

Akhirnya Lirya hanya melanjutkan langkahnya keluar bersama yang lain.

Sementara itu, Ravien berjalan kembali ke kamar seorang diri—

membawa amarah, penyesalan, dan ketakutan yang kini tidak bisa ia tunjukkan kepada siapa pun lagi.

More Chapters