Setelah berkendara hampir dua puluh menit, ayah Mina akhirnya membawa keluarganya tiba di sebuah restoran terkenal di pusat kota.
Tempat itu sudah sangat akrab bagi Mina—tempat makan malam keluarga saat hidup mereka masih damai, saat kebersamaan belum terasa semahal sekarang.
Mobil berhenti perlahan setelah mendapat tempat parkir.
Begitu mesin dimatikan, ayah Mina menoleh ke kursi belakang dan melihat putrinya sudah tertidur di samping sang ibu. Wajah Mina masih terlihat lelah, kelopak matanya sedikit bengkak, jelas menandakan ia tertidur hanya karena tubuh dan pikirannya terlalu lelah menahan semua yang telah terjadi.
Sang ibu mengusap lembut rambut putrinya, lalu membangunkannya pelan.
Yukino:
"Nak… kita sudah sampai."
Mina membuka matanya perlahan. Rasa perih pada kedua matanya masih terasa, mengingatkannya pada tangisan dan pertemuan sebelumnya. Sesaat ia tampak bingung, namun sebelum kesedihan itu kembali naik, ibunya langsung memeluknya dengan lembut.
Yukino:
"Sudah, nak… jangan bersedih."
"Kami masih ada di sisimu."
"Jadi ayo kita hadapi semua bersama."
"Dan untuk sekarang… kita harus mengisi tenaga kita dulu dengan makan malam keluarga."
Dari kursi depan, ayah Mina ikut menoleh dan tersenyum lembut.
Ayah Mina:
"Benar, nak."
"Jangan terlalu larut dalam sedihmu, nak."
"Untuk malam ini… mari kita makan bersama dulu."
"Ayah sengaja membawamu ke tempat favoritmu."
Mina yang masih setengah sadar akhirnya memperhatikan restoran di hadapannya dan langsung mengenalinya. Dadanya menghangat sesaat, namun rasa hangat itu bercampur dengan nyeri karena ia tahu keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja. Hampir saja air matanya kembali jatuh.
Namun di saat itu, ibunya menggenggam tangan Mina yang berada di pangkuannya.
Saat Mina menoleh, ibunya hanya tersenyum.
Senyum itu seperti berkata: "Tidak perlu khawatir. Ayahmu sudah memikirkan semuanya."
Mina menarik napas pelan, lalu berusaha menegakkan dirinya.
Tak lama, mereka bertiga turun dari mobil. Ayah Mina menuntun putrinya dari satu sisi, sementara sang ibu berjalan di sisi lainnya, mendampingi Mina seperti dua orang yang takut putrinya runtuh lagi jika dibiarkan berjalan sendirian.
Begitu mereka sampai di depan restoran, salah satu pegawai beastkin yang sudah lama mengenal keluarga mereka langsung menyapa hangat dan mempersilakan mereka masuk. Mereka diantar menuju sebuah meja yang cukup besar, meja yang sebenarnya biasa dipakai untuk beberapa orang.
Setelah duduk, buku menu pun disodorkan.
Mina melihat sekeliling restoran itu. Lampu-lampu hangat, aroma makanan yang akrab, suara percakapan yang lembut, dan suasana nyaman yang sangat kontras dengan hidupnya saat ini. Lagi-lagi, tenggorokannya terasa sesak.
Tapi ia menahan semuanya.
Mereka pun memesan makanan.
Saat menunggu, Mina akhirnya bertanya dengan pelan:
Mina:
"Ayah… setelah ini kita akan tinggal di mana?"
Ayah Mina mengangkat tangan dan mengelus lembut sisi wajah putrinya.
Ayah Mina:
"Tidak perlu khawatir."
"Untuk sementara ini kita akan menginap beberapa hari di hotel yang tidak jauh dari sini."
"Sampai keadaan kita sedikit lebih normal."
"Dan sampai urusan asuransi rumah kita selesai."
"Setelah itu… kita akan hidup dengan damai kembali."
Mina menunduk pelan.
Bibirnya bergerak sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun pada akhirnya ia menahannya.
Mina (dalam hati):
Maafkan aku, Ayah…
Mina tidak bisa mengatakan bahwa mungkin setelah ini keadaan kita akan lebih buruk.
Tapi kalau diamku bisa melindungi kalian…
maka Mina akan diam.
Walaupun yang harus menanggung semuanya nanti adalah Mina sendiri.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, makanan akhirnya datang.
Aroma masakan hangat mulai memenuhi meja mereka.
Namun tepat di saat suasana perlahan mulai mencair—
terdengar suara seorang gadis tak jauh dari meja mereka.
Nada suaranya tajam. Dingin. Dan sangat familiar bagi Mina.
Suara Gadis:
"Bukankah ini manusia yang tidak memiliki sopan santun?"
Seketika tubuh Mina membeku.
Jantungnya berdegup keras.
Ia perlahan menoleh ke arah sumber suara itu.
Dan di sana—
berdiri sosok yang sudah ia kenal.
Semua orang sama-sama terkejut.
---
Beberapa waktu sebelumnya, di rumah keluarga Kagehara…
Di dalam kamar Natsumi, suasana jauh lebih santai—setidaknya di luar.
Natsumi sedang berbaring santai di atas kasurnya sambil memainkan ponsel dan bersenandung kecil. Di sisi lain, Yuna sibuk memakan kue yang ia bawa dari kafe sebelumnya, sementara Ilysta membaca buku di pinggir kasur Natsumi, tenang dan elegan seperti biasa.
Namun Yuna, yang dari tadi masih memikirkan pembicaraan mereka sebelumnya, akhirnya bersuara:
Yuna:
"Sumi… aku masih heran."
"Kenapa kau melakukan itu di masa lalu?"
"Dan apa keuntungan yang sebenarnya kau dapat dari kejadian itu?"
"Apa semua itu ada hubungannya dengan rencanamu saat ini?"
Mendengar itu, Ilysta menghentikan membaca dan ikut melihat ke arah Natsumi untuk melihat reaksi Natsumi.
Natsumi yang tadi sedang menggeser layar ponselnya ikut berhenti. Ia menoleh sebentar ke arah Yuna, lalu kembali melihat ponselnya sebelum akhirnya menjawab.
Natsumi:
"Seperti yang sudah kubilang…"
"aku tidak suka melihat seseorang mempermainkan orang lain dengan berlebihan."
"Dan kalau kau bertanya apa keuntunganku…"
"…jawabannya sederhana: kepuasan."
Yuna mengernyit.
Natsumi lalu menegakkan tubuhnya sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis.
Natsumi:
"Aku suka melihat rencana yang terlalu yakin pada dirinya sendiri…"
"runtuh hanya karena satu sentuhan kecil."
"Dan entah kenapa…"
"saat itu aku jadi termotivasi untuk membuat kejadian yang melebihi itu."
Mendengar itu, Yuna dan Ilysta sama-sama tampak kesal.
Namun hanya Yuna yang akhirnya bicara terang-terangan.
Yuna:
"Kalau kau berkata begitu…"
"bukankah itu sama saja dengan apa yang kau lakukan kepada kami…"
"…dan juga kepada temanmu itu?"
Kali ini Natsumi benar-benar berhenti memainkan ponselnya.
Ia bangkit dari posisi rebahan dan duduk tegak. Tatapannya bergantian melihat Yuna dan Ilysta.
Natsumi:
"Aku tidak mau ada yang bermain seperti itu di hadapanku."
"Kalau ada… berarti orang itu sedang menantangku."
"Dan di saat mereka merasa semua rencana mereka berjalan sesuai keinginan…"
"…aku suka melihat semuanya hancur seketika karena kesalahan mereka sendiri."
Setelah mengatakan itu, Natsumi tertawa kecil.
Namun tawa itu justru membuat Yuna makin tidak nyaman.
Yuna:
"Lalu… gadis yang tadi itu?"
"Apakah dia targetmu berikutnya untuk kau hancurkan?"
"Kalau benar, bukankah itu aneh?"
"Karena gadis itu saja sudah terlihat hancur."
Tawa Natsumi langsung berhenti.
Ia memandang Yuna, lalu menjawab dengan nada lebih pelan.
Natsumi:
"Dia bukan targetku."
"Dia orang yang akan kutolong."
Ilysta menurunkan bukunya sedikit.
Ilysta:
"Kau ingin menolongnya karena kesalahanmu di sekolah?"
"Karena kau menyebarkan rumor palsu itu?"
Natsumi menoleh ke arah Ilysta.
Natsumi:
"Itu salah satunya."
"Tapi aku memang benar-benar ingin membantu."
"Ya… walaupun tujuanku bukan cuma itu."
"Aku ingin mendapatkan seseorang melalui dirinya."
Ilysta berpikir sejenak, lalu menatap Natsumi lebih dalam.
Ilysta:
"Apakah yang kau maksud…"
"laki-laki yang pergi itu?"
"Manusia tanpa kekuatan yang dulu pernah kau ceritakan?"
Senyum Natsumi langsung muncul.
Natsumi:
"Benar sekali."
"Kamu memang teman yang paling pintar, Ilysta."
Namun Ilysta tidak tampak senang mendapat pujian itu. Ia hanya menatap datar sebentar, lalu kembali membuka bukunya.
Sementara itu Yuna masih belum selesai penasaran.
Yuna:
"Memangnya apa yang membuatmu begitu tertarik pada pria tanpa kekuatan itu, Sumi?"
Natsumi menghela napas, lalu menatap langit-langit kamar sejenak.
Natsumi:
"Kau ini, Yuna…"
"Belum saja melihat dia secara langsung."
"Tapi kalau kau sudah melihatnya sendiri…"
"…kau akan tahu kenapa aku sangat tertarik padanya."
Yuna tampak makin heran, tapi akhirnya ia memilih melanjutkan makan.
Namun ketika ia melihat kantong kue di tangannya dan menyadari semuanya sudah habis, wajahnya langsung berubah.
Yuna:
"Sumi…"
"aku lapar."
"Apa sudah waktunya makan malam?"
Natsumi menoleh.
Melihat Yuna yang tampak seperti kehabisan tenaga hanya karena kue habis, ia akhirnya bangkit dari kasur.
Natsumi:
"Baiklah."
"Ayo kita pergi makan malam di restoranku."
Seketika Yuna kembali bersemangat.
Ia bahkan menghampiri Ilysta dan menarik lengannya agar ikut bangun.
Ilysta yang tahu percuma melawan Yuna hanya bisa menghela napas dan pasrah ditarik paksa.
Tak lama setelah mereka bersiap, Natsumi dan kedua temannya berpamitan kepada ibu Natsumi yang sedang berada di ruang tamu.
Setelah itu mereka pun pergi.
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam.
Dan setelah mobil berhenti, tibalah mereka di sebuah restoran mewah.
Begitu turun, Yuna langsung menatap bangunan itu dengan mata berbinar kagum.
Yuna:
"Wah…"
"Ini restoranmu?"
Natsumi tersenyum bangga.
Natsumi:
"Benar."
"Inilah restoran yang kukelola sendiri."
"Dengan hasilku sendiri."
"Tanpa bantuan keuangan keluarga."
Yuna benar-benar terkesan.
Yuna:
"Kau sungguh hebat, Sumi."
"Membuat restoran semewah ini seorang diri…"
Namun Ilysta, seperti biasa, tetap kritis.
Ilysta:
"Tapi bukankah kau sekarang sudah menjadi kepala keluarga Kagehara?"
"Lalu apa bedanya restoran ini dengan aset keluarga yang lain?"
Natsumi langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Ilysta dan menjawab dengan penuh keyakinan:
Natsumi:
"Jelas berbeda."
"Hanya restoran ini yang menggunakan namaku."
"Bukan nama keluarga Kagehara."
"Karena aku membangunnya dengan usahaku sendiri."
"Tanpa bantuan uang ataupun koneksi keluarga."
Ilysta terdiam.
Ia tidak membantah.
Tak lama mereka pun masuk.
Seorang pegawai restoran menyambut Natsumi dengan sopan.
Pegawai Restoran:
"Selamat datang, Nona."
"Apa Anda ingin makan malam bersama teman-teman Anda?"
Natsumi:
"Benar."
"Hari ini aku ingin makan malam bersama teman-temanku."
"Siapkan meja yang cukup besar untuk kami."
Pegawai itu menunduk dan memandu mereka masuk lebih dalam.
Mereka bertiga berjalan pelan mengikuti pegawai itu.
Dan tepat saat mereka hampir tiba—
Yuna melihat seseorang yang sudah ia kenal.
Langkahnya langsung berhenti.
Matanya membesar.
Yuna:
"Hah…?"
Natsumi dan Ilysta yang melihat perubahan itu langsung ikut menoleh ke arah yang sama.
Ilysta berhenti.
Tatapannya mengeras seketika.
Ilysta:
"Bukankah ini manusia yang tidak memiliki sopan santun?"
Dan pada saat itulah—
mereka semua saling terkejut karena pertemuan yang sama sekali tidak terduga.
Mina dan keluarganya berada di sana.
Dan malam yang seharusnya hanya menjadi makan malam biasa…
berubah menjadi pertemuan yang menyeret kembali luka lama, rasa bersalah yang belum sempat ditebus, dan satu urusan yang belum benar-benar selesai di antara mereka.
