Cherreads

Chapter 8 - BAB 8 — Undangan

Hari itu dimulai seperti biasa.

Langit cerah, kampus ramai, dan kehidupan berjalan seolah tidak ada yang berubah.

Mahasiswa berlalu-lalang. Suara tawa dan obrolan ringan memenuhi udara.

Namun bagi Kang Tae Hyun—

Semuanya terasa sedikit berbeda.

Tatapan.

Lebih banyak dari biasanya.

Lebih tajam.

Lebih… sadar.

Dia tetap berjalan santai, tangan di saku, seolah tidak menyadari apa pun.

Namun inderanya menangkap semuanya.

Mereka sudah mulai terang-terangan.

Langkahnya terhenti.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung fakultas.

Pintu terbuka.

Han Seo Rin keluar.

Tatapan beberapa mahasiswa langsung tertuju padanya.

Aura seorang Hunter tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Namun Seo Rin tidak peduli.

Dia berjalan lurus menuju Tae Hyun.

Berhenti tepat di depannya.

"Kamu sibuk?"

Tae Hyun meliriknya sekilas.

"Lumayan."

"Batalin."

Jawaban singkat.

Tanpa basa-basi.

Tae Hyun menghela napas pelan.

"Kenapa?"

Seo Rin mengeluarkan sebuah kartu.

Logo resmi tertera jelas.

Hunter Association.

"Undangan."

Tae Hyun tidak langsung mengambilnya.

"Kalau gue nolak?"

Seo Rin menatapnya lurus.

"Ini bukan undangan biasa."

Hening.

Angin berhembus pelan.

Tae Hyun tersenyum tipis.

"…kalau gitu makin nggak mau."

Beberapa mahasiswa di sekitar mulai memperhatikan lebih jelas.

Namun aura tegang di antara mereka membuat tidak ada yang berani mendekat.

Seo Rin tidak marah.

Sebaliknya—

Tatapannya menjadi lebih tajam.

"Kau tahu kenapa kami mencarimu."

Tae Hyun tidak menjawab.

"Dan kau juga tahu… kami tidak akan berhenti."

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Tae Hyun akhirnya mengambil kartu itu.

Namun tidak langsung menyetujuinya.

Dia memutar kartu itu di tangannya.

"…kalau gue ikut, ada syarat."

Seo Rin sedikit mengangkat alis.

"Sebutin."

Tae Hyun menatapnya.

"Gue nggak datang sendiri."

Hening.

Seo Rin tidak langsung menjawab.

"Siapa?"

"…kakek gue."

Jawaban sederhana.

Namun cukup untuk membuat Seo Rin berpikir sejenak.

"Kenapa?"

Tae Hyun mengangkat bahu.

"Biar gue nggak bosan."

Jawaban santai.

Namun jelas—

Itu bukan alasan sebenarnya.

Seo Rin memperhatikannya beberapa detik.

"…baik."

Jawaban itu keluar tanpa banyak ragu.

"Besok. Pagi."

Dia berbalik.

"Jangan telat."

Tae Hyun hanya melambaikan tangan ringan.

Seolah itu bukan hal penting.

Namun saat Seo Rin menjauh—

Matanya sedikit berubah.

Mereka mulai serius.

Keesokan harinya—

Gedung Hunter Association berdiri megah seperti biasa.

Namun kali ini—

Suasana di dalamnya terasa lebih waspada.

Langkah kaki terdengar di lorong.

Tae Hyun masuk.

Santai seperti biasa.

Namun di sampingnya—

Langkah berat yang berbeda terdengar.

Seorang pria tua berjalan dengan tegap.

Tatapannya tajam. Auranya berat meski tidak terlihat jelas.

Kang Dae Shik.

Beberapa Hunter yang berada di sekitar langsung melirik.

Insting mereka bereaksi.

Orang ini… berbahaya.

Seo Rin sudah menunggu.

Tatapannya langsung tertuju pada Dae Shik.

Untuk pertama kalinya—

Dia tidak langsung berbicara.

"…kau membawanya."

Tae Hyun mengangguk santai.

"Udah janji."

Dae Shik tersenyum lebar.

"Hahaha! Tempatnya lumayan juga."

Dia melihat sekeliling dengan santai.

Namun matanya—

Mengamati segalanya.

Seo Rin berbalik.

"Ikuti aku."

Mereka berjalan menuju ruang uji.

Pintu terbuka.

Ruangan luas dengan dinding diperkuat.

Mesin pengukur berdiri di tengah.

Di dalam—

Beberapa orang sudah menunggu.

Park Do Jin.

Choi Min Seok.

Dan Yoon Hae In.

Namun kali ini—

Fokus mereka langsung berpindah.

Bukan ke Tae Hyun.

Tapi ke Dae Shik.

Aura samar yang keluar dari pria tua itu…

Tidak bisa diabaikan.

"…siapa dia?" bisik Min Seok.

Seo Rin menjawab singkat.

"Pendamping."

Hae In menyipitkan mata.

"Dia bukan orang biasa."

Dae Shik tertawa kecil.

"Tenang saja. Aku cuma kakek biasa."

Tidak ada yang percaya.

Tae Hyun melangkah ke depan.

"Langsung aja."

Min Seok mengangguk.

"Tes sederhana."

"Serang alat ini dengan kekuatanmu."

Tae Hyun menatap alat itu.

Jangan terlalu jauh.

Dia menarik napas pelan.

Meridian terasa hangat.

Dia menahan.

Menekan.

Lalu—

DUK.

Satu pukulan.

Tidak besar.

Tidak mencolok.

Namun—

CRACK.

Retakan muncul.

Angka di layar naik.

Cepat.

Min Seok membeku.

"…ini…"

Hae In langsung berdiri.

"Itu bukan output normal."

Do Jin diam.

Matanya serius.

Seo Rin menatap Tae Hyun.

"…kau menahan diri."

Dae Shik tersenyum di belakang.

"Hahaha… jelas."

Semua mata langsung tertuju padanya.

Dia melangkah maju sedikit.

"Kalau dia serius…"

Tatapannya berubah tajam.

"…alat ini nggak bakal utuh."

Hening.

Tekanan di ruangan berubah.

Seo Rin menatap Dae Shik.

"…kau tahu sesuatu."

Dae Shik tersenyum.

"Banyak."

Tae Hyun menghela napas.

"…cukup."

Dia mundur satu langkah.

"Segitu aja."

Hae In terlihat tidak puas.

"Ini belum selesai—"

"Tapi untuk hari ini, cukup."

Seo Rin memotong.

Tatapannya masih tertuju pada Tae Hyun.

Lebih dalam dari sebelumnya.

Lebih yakin.

"…kami akan menghubungimu lagi."

Tae Hyun mengangguk ringan.

"Jangan terlalu sering."

Dia berbalik.

Dae Shik mengikuti.

Namun sebelum keluar—

Pria tua itu berhenti sejenak.

Menoleh ke arah Seo Rin.

Senyumnya hilang.

"…anak muda."

Nada suaranya berubah.

Lebih berat.

"Jangan terlalu dalam mengorek sesuatu yang belum siap kau hadapi."

Hening.

Tatapan mereka bertemu.

Seo Rin tidak mundur.

"…aku akan menentukannya sendiri."

Dae Shik tersenyum lagi.

"Hahaha! Bagus!"

Lalu dia berjalan keluar.

Pintu tertutup.

Sunyi.

Min Seok akhirnya bicara pelan.

"…kita baru saja membuka sesuatu yang besar, ya?"

Tidak ada yang menjawab.

Namun semua orang tahu—

Ini bukan lagi sekadar investigasi.

Di tempat lain—

Beberapa informasi mulai bergerak.

Nama.

Wajah.

Deskripsi.

Belum lengkap.

Namun cukup.

Beberapa pihak mulai tertarik.

Dan perlahan—

Lingkaran di sekitar Kang Tae Hyun mulai menyempit.

Sementara itu, di luar gedung—

Tae Hyun berjalan santai.

Dae Shik di sampingnya tertawa kecil.

"Hahaha… seru juga."

Tae Hyun meliriknya.

"Lu sengaja, kan?"

"Sedikit."

Tae Hyun menghela napas.

"…bakal makin ribet."

Dae Shik tersenyum lebar.

"Baru mulai."

Langit di atas mereka tetap cerah.

Namun badai—

Sudah mulai terbentuk kembali.

~~~•

More Chapters