Cherreads

Chapter 18 - Bab 17: Kabut yang Kembali ke Bumi

Kesadaran Arlan kembali seperti pisau yang ditarik keluar dari sarungnya—cepat, tajam, dan tanpa peringatan.

Ia membuka mata.

Langit-langit kamar kontrakannya yang kusam menyambutnya. Pipa uap di sudut ruangan mendesis pelan, memuntahkan uap tipis yang segera menyatu dengan udara dingin malam. Lampu minyak di atas meja masih menyala, melemparkan cahaya kuning yang berkedip-kedip di dinding beton.

Arlan duduk tegak. Refleks tubuhnya memeriksa sekelilingnya dalam tiga detik—tidak ada ancaman, tidak ada perubahan posisi benda-benda di ruangan, dan katana berkarat masih bersandar tenang di sudut tempatnya meninggalkannya.

Ia mengembuskan napas panjang.

Jadi itu bukan mimpi.

"Kau kembali," suara parau Kuro bergema langsung di dalam kepalanya, nadanya datar seperti seseorang yang sedang mengomentari cuaca. "Dua menit dua puluh detik. Pertemuan pertamamu di Mist Palace. Bagaimana rasanya duduk semeja dengan entitas yang usianya mungkin lebih tua dari peradaban manusia pertama?"

"Informatif," jawab Arlan singkat, tangannya bergerak otomatis menuju buku catatannya di atas meja. Ia membukanya ke halaman kosong dan mulai menulis—mencatat setiap detail dari pertemuan itu selagi ingatannya masih segar. Sistem jalur, aturan pertemuan, nama kehormatan Mr. Fool, teka-teki tentang simbol misterius, dan transaksi Batu Mana dengan Miss Justice.

"Kau tahu," Kuro bergumam sambil mengamati Arlan menulis, "kebanyakan orang sebelum diri mu yang baru pertama kali masuk Mist Palace akan butuh beberapa menit untuk menghentikan tangannya dari gemetar. Tapi kau langsung menulis catatan. Aku tidak tahu harus kagum atau khawatir."

"Gemetar tidak menghasilkan informasi," jawab Arlan tanpa mengangkat matanya dari buku catatan.

"Poin bagus." Kuro terdiam sejenak. Kemudian, dengan nada yang sedikit berbeda—lebih serius, namun tetap memiliki lapisan khasnya yang menyebalkan, "Arlan. Sekarang kau sudah resmi mengikat kontrak denganku dan menjadi anggota pertemuan itu, ada beberapa hal yang perlu kau ketahui tentang apa yang bisa kulakukan."

Arlan meletakkan penanya. "Aku mendengarkan."

"Bagus. Karena ini penting dan aku tidak ingin mengulangnya dua kali—oh, siapa yang aku bohongi, aku pasti akan mengulangnya berkali-kali karena kau pasti akan lupa detailnya." Kuro mendengus. "Dengarkan baik-baik. Sebagai partnermu, aku memiliki kemampuan yang bisa kau gunakan dalam pertarungan. Tapi—dan ini adalah 'tapi' yang sangat besar—semua kemampuan itu butuh persetujuanku. Bukan otomatis. Bukan hadiah gratis. Paham?"

"Paham. Lanjutkan."

"Baiklah. Kemampuan pertama yang bisa kau akses sekarang—karena kau sudah di Rank 2—ada dua." Kuro berhenti sejenak, seolah-olah ia sedang menyiapkan diri untuk memberikan ceramah panjang. "Yang pertama disebut Focus Strike."

Arlan mengangguk, tangannya kembali mengambil pena untuk mencatat.

"Focus Strike adalah kemampuan untuk menjaga fokus penuh setelah menyerang," lanjut Kuro. "Ketika kau menyerang dan pedang kembali ke sarungnya, biasanya ada celah—sepersekian detik di mana tubuhmu secara alami kehilangan momentum. Focus Strike menghilangkan celah itu. Kau bisa melakukan serangan beruntun tanpa jeda napas, tanpa kehilangan konsentrasi di antara setiap ayunan."

"Ini adalah fondasi dari gaya bertarung kita," Kuro melanjutkan dengan nada yang kini terdengar seperti seorang guru tua yang sedang menjelaskan prinsip dasar kepada muridnya. "Tanpa ini, semua teknik lainnya tidak akan pernah mencapai potensi penuhnya. Bayangkan kau memiliki senapan yang setiap kali ditembak harus diisi ulang selama tiga detik—Focus Strike mengubahnya menjadi senjata yang bisa menembak terus-menerus."

"Dan yang kedua?" tanya Arlan.

"Flowing Water." Nada Kuro berubah sedikit—ada sesuatu yang terdengar seperti kebanggaan yang sangat tertahan di dalamnya. "Ini favoritku. Bilah katana bergerak seolah-olah tidak memiliki massa. Alih-alih menahan serangan lawan secara keras, kau mengalihkan energi mereka—membelokkan serangan dengan gesekan minimal dan menggunakannya untuk menyerang balik."

Arlan meletakkan penanya untuk sesaat, matanya menatap ke dinding. Di dalam kepalanya, ia sedang membayangkan penerapan teknik itu dalam situasi pertarungan nyata. Gudang Sektor 7. Pedangnya yang patah. Jika ia memiliki Flowing Water saat itu—

"Kau sedang membayangkan bagaimana teknik ini bisa menyelamatkanmu di Sektor 7, bukan?" tebak Kuro dengan nada datar.

Arlan tidak menjawab, yang berarti jawabannya adalah iya.

"Bagus. Berarti kau sudah memahami kegunaannya secara instingtif." Kuro mendengus. "Tapi sekarang aku perlu memberitahumu sesuatu yang mungkin tidak akan kau sukai."

"Katakan."

"Kau tidak bisa menggunakannya. Belum."

Arlan berhenti menulis. "Jelaskan."

"Tubuhmu," kata Kuro dengan nada yang kini sangat serius, tanpa satu pun lapisan humor di dalamnya, "masih belum siap. Focus Strike membutuhkan kontrol otot dan koordinasi tangan yang jauh melampaui latihan pedang biasa. Flowing Water membutuhkan kepekaan terhadap aliran energi lawan yang hanya bisa dibangun melalui ribuan jam pertarungan nyata dan latihan khusus." Kuro berhenti sejenak. "Singkatnya—jika kau memaksa menggunakan salah satu dari kemampuan ini sekarang, yang akan terjadi bukan serangan yang indah. Yang akan terjadi adalah kau akan kehilangan kendali atas Auramu di tengah pertarungan dan mungkin mati karena itu."

Keheningan.

Arlan menatap tangannya. Tangan yang sama yang telah melakukan sepuluh ribu ayunan. Tangan yang sama yang pecah pembuluh darahnya di gudang Sektor 7.

"Berapa lama?" tanya Arlan.

"Bergantung sepenuhnya pada seberapa keras kau berlatih," jawab Kuro. "Dan kau tahu apa artinya itu."

Arlan menghela napas sangat tipis. Di dalam dadanya, ada campuran antara frustrasi yang terkendali dan tekad yang sudah sangat familiar—perasaan yang sama seperti saat ia pertama kali mencoba membangkitkan Aura dan gagal selama berbulan-bulan.

"Kau tahu," Kuro tiba-tiba bersuara lagi dengan nada yang berubah menjadi ringan, seolah-olah ceramah serius tadi tidak pernah terjadi, "aku punya lelucon yang sangat cocok untuk situasi ini. Kenapa pengguna Aura yang baru tidak pernah bisa tidur nyenyak?"

Arlan menutup matanya sebentar. "Kuro—"

"Karena mereka selalu kepikiran teknik yang belum bisa mereka kuasai! Hahaha! Ayo, itu lucu! Akui saja!"

"Tidur, Kuro."

"Aku tidak bisa tidur, aku pedang. Tapi kau bisa! Dan besok pagi, kita mulai latihan khusus untuk membangun fondasi Focus Strike. Setuju?"

Arlan tidak menjawab. Ia merebahkan dirinya di atas kasur tipis, menatap langit-langit yang kusam. Di dalam kepalanya, kata-kata Mr. Fool masih bergema dengan jelas.

Kabut yang tidak berasal dari pabrik.

Jawabannya sudah ada di tanganmu sejak malam itu.

Tangannya bergerak, meraba saku rompinya. Buku catatan kecil itu masih ada—dan di dalamnya, gambar simbol misterius yang ia buat di gang dermaga itu masih menunggu untuk diberi makna.

Tapi malam ini, ia terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh. Pertemuan di Mist Palace, ceramah Kuro, dan beban teka-teki Mr. Fool—semuanya menumpuk di atas tubuh yang masih dalam proses pemulihan.

Arlan menutup matanya.

"Kuro," bisiknya sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam.

"Hmm?"

"Terima kasih sudah menjelaskan semuanya."

Hening sejenak yang tidak biasa dari Kuro.

"...Jangan geer, Nak. Itu tugasku sebagai partnermu." Namun ada sesuatu dalam nadanya yang terdengar berbeda—hangat, sangat tipis, namun nyata. "Sekarang tidur. Besok kita kerja keras."

___________________

Di sisi lain dunia, di kota Oakhaven yang jauh lebih tenang namun tidak kalah penuh rahasianya, Evelyn von Valerius membuka matanya.

Langit-langit kamarnya yang dihiasi ukiran plesteran putih menyambutnya. Cahaya lampu minyak yang lembut masih menyala di atas meja riasnya, melemparkan bayangan yang bergoyang di dinding. Di luar jendela, kabut Oakhaven yang biasa sudah turun, menyelimuti jalanan berbatu dengan lapisan putih yang tenang.

Evelyn duduk perlahan, napasnya teratur namun pikirannya berputar dengan kecepatan penuh.

The Mist Palace. Mr. Fool. Mr. Chariot. Justice.

Semuanya nyata. Semuanya terjadi.

Sebuah gerakan di sudut matanya membuatnya menoleh. Di atas karpet tebal di samping tempat tidurnya, Sunny berbaring dengan kepala terangkat, mata cokelat besarnya menatap Evelyn dengan ekspresi yang sangat familiar—campuran antara ketenangan seorang pengamat dan kegembiraan yang sangat ditahan.

"Sunny," bisik Evelyn.

Sunny menggoyangkan ekornya satu kali. Pelan, namun penuh makna.

Evelyn turun dari tempat tidurnya, duduk di lantai di samping Sunny, dan memeluk leher anjing itu dengan kedua tangannya. Sunny membiarkannya—bahkan menyandarkan kepalanya di bahu Evelyn dengan gerakan yang sangat lembut.

"Kau sudah tahu sejak awal, bukan?" bisik Evelyn. "Bahkan sebelum malam di perpustakaan itu. Bahkan sebelum ayah membawamu pulang."

Sunny tidak menjawab dengan kata-kata. Namun kehangatan yang mengalir dari tubuhnya terasa seperti jawaban yang jauh lebih jujur dari kata-kata mana pun.

Evelyn menarik napas panjang. "Mr. Fool bilang kau bisa membantuku bangkit. Dan Mr. Chariot akan mengirimkan Batu Mana." Ia menatap mata cokelat yang dalam itu. "Kita bisa mulai segera, bukan?"

Sunny berdiri, meregangkan tubuhnya dengan gerakan yang anggun, lalu berjalan menuju sudut kamar di mana cahaya lampu minyak tidak terlalu kuat. Ia duduk di sana, memandang Evelyn dengan ekspresi yang kini berbeda—lebih fokus, lebih tajam, seperti seorang guru yang baru saja memasuki ruang kelas.

Evelyn memperhatikan perubahan itu dengan saksama. Sunny sedang mempersiapkan sesuatu.

Kemudian, tanpa peringatan, Sunny melakukan sesuatu yang membuat Evelyn terdiam sepenuhnya.

Anjing itu berdiri, berjalan pelan menuju Evelyn, dan menempelkan dahinya tepat di tengah dahi Evelyn—persis seperti malam di perpustakaan.

Namun kali ini berbeda.

Bukan visi singkat. Bukan sekadar koneksi. Yang mengalir masuk ke dalam kesadaran Evelyn adalah sesuatu yang terasa seperti buku yang terbuka sekaligus—halaman demi halaman pengetahuan yang memasuki pikirannya dengan kecepatan yang membuat kepalanya sedikit berputar.

BZZZT—

Dan dalam satu detik yang terasa seperti satu jam, Evelyn tahu.

Ia tahu bagaimana bayangan proyeksi itu terasa dari dalam. Ia tahu cara membangun ilusi visual yang cukup meyakinkan untuk mengecoh mata manusia biasa. Ia tahu batas kemampuan itu, kelemahannya, dan cara yang paling efisien untuk menggunakannya tanpa menguras energi secara berlebihan.

Semua kemampuan rank satu hingga rank tiga—lengkap, jelas, dan tertanam di dalam memorinya seperti ingatan yang sudah ada sejak lama.

Sunny menarik kepalanya kembali, duduk dengan tenang, lalu menjulurkan lidahnya dan menjilat hidungnya sendiri seolah-olah ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat biasa.

Evelyn menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk dideskripsikan.

"Kau..." Evelyn berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Kau baru saja memberikan semua kemampuanmu sekaligus. Tanpa syarat. Tanpa ujian."

Sunny mengibas ekornya. Dua kali. Cepat dan ceria.

Evelyn terdiam selama beberapa detik, memproses apa yang baru saja terjadi. Di dalam benaknya yang analitis, ia sudah tahu bahwa sistem kemampuan partner membutuhkan persetujuan—Mr. Chariot bahkan harus membuktikan diri berkali-kali kepada Kuro untuk bisa mengaksesnya. Namun Sunny, tanpa diminta, tanpa syarat, langsung memberikan semuanya.

"Sunny," ucap Evelyn akhirnya, suaranya antara terharu dan tidak percaya, "apakah kau melakukan ini karena kau sayang padaku?"

Sunny memiringkan kepalanya ke kanan. Matanya berbinar dengan ekspresi yang—jika diterjemahkan ke dalam bahasa manusia—kemungkinan besar berarti: tentu saja, kau ini bertanya apa.

Kemudian, seolah-olah ingin menegaskan jawabannya, Sunny melompat ke atas tempat tidur Evelyn, berputar dua kali, dan merebahkan dirinya di tengah-tengah bantal sutra mahal itu dengan cara yang paling nyaman dan paling tidak sopan yang bisa dilakukan seekor anjing besar.

Evelyn menatap pemandangan itu. Anjing besar berbulu emas yang kini menduduki setengah dari tempat tidurnya, dengan ekspresi paling puas di dunia.

Tawa kecil keluar dari bibir Evelyn—tawa yang murni, spontan, dan tidak terkontrol oleh etiket mana pun.

"Baiklah," ucap Evelyn sambil duduk di sisi tempat tidur yang masih tersisa, tangannya membelai bulu emas Sunny yang hangat. "Kita tunggu Batu Mana dari Mr. Chariot. Dan setelah itu..."

Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit Oakhaven yang mulai menampakkan semburat fajar pertama di balik kabut.

"Setelah itu, kita mulai."

More Chapters