Ruang latihan privat di lantai bawah tanah markas Silver Compass bukanlah tempat yang mewah. Dindingnya terbuat dari bata hitam yang tebal, cukup kokoh untuk menahan ledakan Aura kelas menengah tanpa retak. Lantainya dilapisi oleh panel besi kasar yang sudah dipenuhi bekas tebasan dan lekukan dari para penggunanya sebelumnya. Di sudut ruangan, sebuah boneka sasaran berbahan kulit tebal berdiri di atas tiang besi yang tertancap kuat di lantai, permukaannya penuh dengan guratan dan sayatan yang menceritakan kisah ribuan sesi latihan sebelumnya.
Namun yang paling menarik perhatian adalah panel di dinding sisi kanan—sebuah alat pengukur intensitas Aura berbentuk lingkaran besar dengan jarum penunjuk di tengahnya. Skalanya terbagi dari satu hingga sepuluh, masing-masing tingkat diberi warna berbeda dari hijau redup hingga merah menyala. Di samping panel itu, sebuah papan tulis kecil mencatat rekor tertinggi yang pernah dicapai oleh pengguna ruangan ini.
Arlan menutup pintu besi di belakangnya. Suara gerendel yang mengunci terdengar tegas, memisahkan dirinya dari kebisingan markas di lantai atas.
Ia berdiri di tengah ruangan, matanya menyapu setiap sudut dengan kebiasaan lamanya. Kemudian ia meletakkan mantelnya di gantungan dekat pintu, menggulung lengan bajunya hingga ke siku, dan mengambil pedang standar cadangannya dari pinggang.
Katana Kuro tetap di sarungnya. Untuk saat ini.
"Ruangan yang bagus," komentar Kuro di dalam kepalanya. "Bau keringat dan frustrasi yang sangat familiar. Aku suka."
"Fokus," kata Arlan singkat.
"Aku selalu fokus. Kaulah yang perlu belajar fokus." Kuro mendengus. "Baiklah, Arlan. Hari ini kita mulai dari fondasi yang paling dasar. Dan aku perlu kau mengerti satu hal sebelum kita mulai."
Arlan mengambil posisi awal—kaki kanan sedikit ke belakang, lutut sedikit ditekuk, pedang di tangan kanan dengan pegangan yang tidak terlalu kencang dan tidak terlalu longgar. Posisi yang sudah ribuan kali ia lakukan hingga tubuhnya melakukannya secara otomatis.
"Katakan."
"Semua yang kau lakukan selama ini—latihan ayunan, teknik pernapasan, pembangunan Aura—itu bukan sia-sia," kata Kuro. Nadanya terdengar lebih serius dari biasanya, tanpa lapisan humor di dalamnya. "Tapi kau membangun rumah tanpa cetak biru yang benar. Kau memiliki fondasi yang kuat, tapi dindingnya miring. Hari ini kita luruskan dindingnya."
Arlan menyerap informasi itu tanpa komentar.
"Focus Strike," Kuro memulai. "Sebelum kau bisa menggunakannya, kau harus mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat kau menyerang dan pedang kembali ke sarungnya. Ada celah di sana—sepersekian detik. Bukan karena tubuhmu lambat. Tapi karena pikiranmu berhenti setelah menyerang."
"Jelaskan," kata Arlan.
"Saat kau menyerang, seluruh fokusmu ada pada titik tebasan. Bagus. Tapi saat pedang menarik kembali, pikiranmu secara alami melakukan sesuatu yang sangat manusiawi—ia mengevaluasi hasil serangannya. Apakah kena? Seberapa dalam? Apa reaksi musuh? Dan dalam sepersekian detik evaluasi itu, tubuhmu kehilangan momentum." Kuro berhenti sejenak. "Focus Strike menghilangkan jeda evaluasi itu. Kau menyerang, pedang kembali, dan pikiranmu sudah ada di serangan berikutnya bahkan sebelum serangan pertama selesai."
Arlan mencerna penjelasan itu. "Berarti ini bukan tentang kecepatan fisik."
"Tepat sekali! Kau tidak bodoh-bodoh amat rupanya," sahut Kuro dengan nada yang terdengar seperti pujian namun dikemas dalam bungkus ejekan. "Focus Strike adalah tentang kontinuitas kesadaran. Tubuhmu sudah cukup cepat. Masalahnya ada di sini." Arlan merasakan sensasi halus—seperti jari tak kasat mata yang mengetuk pelipisnya. "Sekarang, lakukan sepuluh serangan beruntun ke boneka sasaran. Jangan pikirkan hasilnya. Jangan evaluasi. Hanya serang."
Arlan menoleh ke boneka sasaran di sudut ruangan. Ia mengambil posisi, menarik napas, dan—
SYUUT—SYUUT—SYUUT—
Tiga serangan pertama terasa natural. Namun pada serangan keempat, Arlan merasakan apa yang dimaksud Kuro—ada jeda yang sangat tipis, hampir tidak terasa, di mana pikirannya secara refleks memeriksa apakah tebasan ketiganya sudah mengenai dengan benar.
SYUUT—jeda—SYUUT—
"Nah! Kau merasakannya?" seru Kuro. "Tepat di sana! Serangan keempat! Itulah celah yang akan membunuhmu suatu hari nanti jika tidak kau perbaiki!"
Arlan berhenti. Ia menatap boneka sasaran, lalu tangannya sendiri. "Aku merasakannya."
"Bagus. Sekarang ulangi. Seratus kali. Dan setiap kali kau merasakan jeda itu muncul, aku ingin kau sadar akan keberadaannya—bukan memaksanya hilang, tapi mengenalinya. Kau tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak kau akui keberadaannya."
Arlan tidak menjawab. Ia kembali ke posisi awal dan mulai lagi.
SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—jeda—SYUUT—
"Sana! Serangan kelima kali ini!"
SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—jeda—SYUUT—
"Lebih baik! Tapi kau masih terlalu keras memegang gagangnya saat kembali ke posisi. Rilekskan pergelangan tanganmu, bukan otot bahumu yang bekerja di sana!"
Waktu berlalu. Arlan tidak menghitungnya. Ia hanya bergerak, mendengarkan, dan bergerak lagi. Keringat mulai mengucur di pelipisnya, membasahi rambut birunya yang kusam.
Kuro tidak berhenti berkomentar. Setiap gerakan Arlan mendapat respons langsung—kadang tajam, kadang teknis, kadang terdengar seperti ceramah seorang kakek tua yang tidak pernah kehabisan kata-kata.
"Bahumu terlalu kaku! Kau bergerak seperti robot mesin uap, bukan seperti pendekar!"
SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—
"Lebih baik! Tapi kakimu! Jangan lupakan kakimu! Keseimbangan bukan hanya tentang pusat gravitasi, tapi tentang bagaimana kau mendistribusikan berat saat momentum berubah arah!"
SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—
"Nah! Itu dia! Tujuh serangan beruntun tanpa jeda yang terasa! Kau merasakannya?"
Arlan berhenti, napasnya memburu. Di dalam dadanya, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari latihan-latihan sebelumnya. Bukan kelelahan biasa—melainkan kelelahan yang memiliki arah. Seperti seseorang yang baru saja berlari di jalan yang benar untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berlari di tempat.
"Aku merasakannya," jawab Arlan, suaranya sedikit terputus oleh napas.
"Bagus." Nada Kuro terdengar puas—bukan puas yang berlebihan, melainkan puas yang terukur, seperti seorang pengrajin yang melihat logamnya mulai mengambil bentuk yang diinginkan. "Istirahat tiga menit. Lalu kita lanjut ke sesi berikutnya."
Arlan berjalan ke sudut ruangan, mengambil botol air dan meminumnya dalam beberapa tegukan besar. Matanya melayang ke panel pengukur Aura di dinding. Jarumnya masih di angka tiga—sama seperti saat ia masuk.
"Kuro," kata Arlan sambil menyeka keringatnya.
"Hmm?"
"Flowing Water. Kapan kita mulai membangun fondasinya?"
Kuro terdiam sejenak. Kemudian ia mengeluarkan suara yang terdengar seperti tawa kecil yang sangat tertahan. "Kau baru saja menyelesaikan sesi pertama Focus Strike dan kau sudah bertanya tentang Flowing Water. Kau tahu, ada satu hal yang aku benar-benar kagumi darimu, Arlan."
"Apa?"
"Ketidaksabaranmu yang sangat konsisten." Kuro mendengus. "Tapi baiklah, karena kau bertanya dengan sopan—Flowing Water bukan teknik yang dibangun secara terpisah dari Focus Strike. Keduanya adalah satu sistem. Flowing Water adalah aplikasi dari Focus Strike dalam mode pertahanan. Kau tidak bisa belajar mengalihkan energi lawan jika pikiranmu masih berhenti setelah setiap gerakan."
Arlan mengangguk pelan, menyimpan informasi itu.
"Artinya setiap kali aku membangun fondasi Focus Strike, aku juga sedang membangun fondasi untuk Flowing Water."
"Sekarang kau mulai berpikir seperti pendekar, bukan tentara bayaran," kata Kuro. Ada sesuatu yang terdengar seperti kepuasan yang sangat ditahan di dalam nadanya. "Perbedaannya? Tentara bayaran berpikir tentang serangan berikutnya. Pendekar berpikir tentang ritme pertarungan secara keseluruhan."
Tiga menit berlalu. Arlan kembali ke tengah ruangan, mengambil posisinya lagi. Di panel pengukur Aura, jarum masih di angka tiga—namun kali ini, Arlan memperhatikan bahwa jarum itu sedikit lebih stabil dari sebelumnya. Tidak bergetar seperti biasanya.
Kontinuitas, ia mengingatkan dirinya sendiri. Bukan kecepatan. Bukan kekuatan. Kontinuitas.
"Siap?" tanya Kuro.
"Siap."
"Bagus. Kali ini dua ratus serangan beruntun. Dan kau tahu kenapa pengguna Aura yang malas tidak pernah bisa maju, Arlan?"
Arlan sudah mengangkat pedangnya, siap untuk memulai. "Kenapa?"
"Karena mereka selalu berhenti di tengah jalan, persis seperti Aura mereka yang bocor di persendian! Hahaha! Ayo, mulai! Jangan berdiri seperti patung!"
Arlan mengembuskan napas sangat tipis—sebuah tanda yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, namun bagi seseorang yang mengenalnya dengan baik, itu adalah versi Arlan dari senyuman yang sangat kecil.
SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—SYUUT—
Di ruang latihan privat yang tertutup rapat, di bawah tanah markas Silver Compass yang bising, seorang pemuda berambut biru terus mengayunkan pedangnya. Tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang menghitung berapa kali ia gagal dan mencoba lagi. Tidak ada yang tahu bahwa di balik setiap ayunan yang tampak biasa itu, ada suara parau yang terus membimbing, mengoreksi, dan sesekali melemparkan lelucon yang sangat garing di saat yang paling tidak tepat.
Namun di ujung sesi itu, saat jarum panel pengukur Aura bergerak dari angka tiga ke angka tiga koma lima—sebuah pergerakan yang sangat kecil namun sangat nyata—Arlan menatapnya dalam diam.
Kuro tidak berkata apa-apa kali ini.
Ia tidak perlu berkata apa-apa.
