Cherreads

Chapter 48 - Bab 49: Suara dari Balik Cermin

Elara berlari menembus labirin gang sempit di Sektor Industri 7. Di belakangnya, suara langkah kaki metalik dari Synthetic Purifiers beradu dengan dentuman jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, namun bisikan di kepalanya terus menuntun—sebuah kompas emosional yang terasa seperti detak jantung kedua.

"Belok kiri, Elara. Tahan napasmu," suara itu terdengar tenang, kontras dengan situasi hidup dan mati yang ia alami.

Elara mematuhinya. Ia melompat ke balik tumpukan kabel fiber optik yang menjuntai. Ia menutup mata, mencoba menekan pendaran cahaya di tangannya agar tidak terlihat oleh sensor inframerah para pengejarnya. Sesaat kemudian, para agen lewat tepat di depannya. Mata merah mereka memindai ruangan, namun mereka melewatkannya—seolah-olah Elara menghilang dari spektrum visual mereka.

"Bagaimana aku melakukannya?" bisik Elara dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Kau tidak menghilang, Elara. Kau hanya menutupi dirimu dengan 'kemanusiaan'. Mesin tidak bisa melihat apa yang tidak memiliki data logis," jawab suara itu.

Saat keadaan dirasa aman, Elara keluar dari persembunyiannya dan menemukan dirinya berada di depan sebuah gudang tua yang tak terpakai. Di dinding gudang itu, terpampang mural kuno—sebuah lukisan yang sudah setengah memudar, menggambarkan enam sosok yang berdiri bergandengan tangan menatap cakrawala. Itu adalah lukisan Ija, Lyra, Scarlett, Aria, Vera, dan Aiko.

Elara menyentuh mural itu. Seketika, suhu di sekitarnya turun drastis. Dinding gudang yang padat itu tiba-tiba bergetar, dan ia merasa dirinya seperti ditarik ke dalam sebuah ruang interdimensional yang tenang—sebuah pocketspace di mana waktu seolah berhenti.

Di tengah ruang itu, terdapat enam tiang cahaya yang masih redup, namun di salah satu tiang—tiang milik Ija—terdapat sebuah siluet samar pria yang tampak sedang tertidur.

"Siapa kalian?" tanya Elara, suaranya menggema di ruang hampa itu.

Siluet itu perlahan membuka mata. Mata emas yang tajam menatap Elara dengan campuran rasa syukur dan urgensi.

"Kami adalah pengingat bahwa dunia ini pernah memiliki pilihan," ucap siluet itu—Ija. "Sepuluh tahun lalu, kami mencoba menghentikan Outer Administrators. Namun, mereka terlalu kuat. Mereka mengurung jiwa kami di sini, di balik retakan realitas yang paling tipis."

Ija melangkah maju, namun ia masih terikat oleh rantai energi hitam yang mengikat tiang-tiang tersebut. "Elara, kau bukan sekadar pemulung sampah elektronik. Kau adalah wadah yang dipilih oleh realitas untuk menjadi 'jangkar' bagi kami. Jika kau bisa menghancurkan rantai ini, kami bisa kembali ke dunia fisik."

"Tapi kenapa aku? Kenapa bukan orang lain?"

"Karena kau memiliki luka," sahut sebuah suara wanita. Scarlett muncul dari tiang cahaya di samping Ija, menatap Elara dengan mata yang tajam namun lembut. "Orang yang paling terluka adalah orang yang paling bisa merasakan sakitnya dunia ini. Dan itulah bahan bakar untuk menghancurkan sistem mereka."

Tiba-tiba, ruang hampa itu bergetar hebat. Alarm di luar berbunyi nyaring. Synthetic Purifiers telah menemukan lokasi gudang tersebut. Mereka sedang membakar pintu masuk dengan laser pemotong.

"Elara, dengarkan!" teriak Ija, suaranya menjadi sangat mendesak. "Pilih. Jika kau membantu kami, kau akan menjadi target utama mereka. Kau tidak akan pernah bisa hidup normal lagi. Tapi, kau akan memberikan dunia ini harapan untuk kembali menjadi manusia."

Elara menatap tiang-tiang cahaya itu. Ia melihat wajah-wajah yang lelah namun penuh tekad. Ia memikirkan kehidupannya yang sepi dan dingin di kota yang terobsesi dengan data. Ia merasa bahwa selama ini, ia memang sedang menunggu momen ini.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Elara mantap.

"Tempelkan telapak tanganmu pada tiang pusat," jawab Ija. "Dan berikan kami emosi yang paling jujur yang kau miliki. Kemarahan, harapan, atau kesedihan—pilih satu, dan dorong itu ke dalam rantai ini."

Pintu gudang meledak terbuka. Agen-agen purifikasi menyerbu masuk dengan senjata siap menembak. Elara tidak berpaling. Ia menempelkan tangannya pada tiang pusat, dan mulai membayangkan semua kesedihan yang ia rasakan selama hidupnya sebagai orang buangan, mengubah rasa sakit itu menjadi energi murni yang mulai membakar rantai-rantai tersebut.

More Chapters