Julio tidak pernah suka pulang tepat waktu.
Terutama kalau dia sudah “ketemu sesuatu yang menarik”.
GEDUNG PELNI — LANTAI 6 — SORE
“Lho iki… kok pindah jalur maneh…”(Lho ini… kok pindah jalur lagi…)
Jari kecil Julio bergerak cepat di keyboard.
Layar di depannya penuh data:
jaringan EV charging kendaraan listrik online distribusi energi
Semua terlihat seperti angka.
Tapi bagi Julio…
itu seperti peta permainan.
“Wah… iki malah luwih cepet…”(Wah… ini malah lebih cepat…)
Ia sedikit tersenyum.
“Tapi kamu belum pulang.”
Suara itu membuat Julio langsung diam.
Pelan.
Sangat pelan.
Ia menoleh.
Dan seperti biasa—
senyumnya berubah jadi canggung.
“Ibu…”
Sri berdiri di belakangnya.
Tidak marah.
Tidak keras.
Tapi tatapannya cukup untuk membuat Julio tahu—
dia sudah terlambat.
“Kamu bilang ‘sebentar lagi’ itu satu jam yang lalu,” kata Sri tenang.
Julio menunduk.
“Ini… bentar lagi kok, Bu…”
Sri mengangkat alis.
“Versi kamu atau versi jam?”
Di belakang, Arka yang kebetulan lewat langsung menahan tawa.
Julio mulai manyun.
“Ora pengen muleh…”(Tidak mau pulang…)
“Besok sekolah.”
“Tapi ini lagi seru…” 😄
“Julio.”
Suara itu datang dari belakang.
Berbeda.
Lebih tegas.
Doni berdiri di sana.
Tatapannya langsung ke anaknya.
Tidak marah.
Tapi cukup untuk membuat suasana berubah.
“Sekarang.”
Satu kata.
Pendek.
Namun tidak bisa ditawar.
Julio tidak menjawab.
Ia hanya menutup laptopnya pelan.
Lalu berdiri.
“Iyo…”(Iya…)
Masih sedikit manyun.
“Padahal lagi panas-panas e…”(Padahal lagi seru-serunya…)
Arka akhirnya tidak tahan.
“Panas atau penasaran?” 😄
Julio melirik.
“Dua-duanya, Mas.” 😄
Sri tersenyum kecil.
“Saya Sri.”
“Arka, Bu…”
“Maaf ya kalau dia mengganggu.”
“Enggak Bu… malah menarik.”
Julio langsung nyeletuk:
“Lho kok aku dibilang menarik terus…” 😄
Namun sebelum benar-benar pergi—
Julio berhenti.
Pelan.
Menoleh ke arah layar jauh di dalam ruangan.
Matanya berubah sedikit.
Lebih fokus.
Lebih dalam.
“Sesok lanjut…”(Besok lanjut…)
Pintu tertutup.
Julio pergi.
Dan ruangan kembali… normal.
Atau setidaknya—
terlihat normal.
MALAM — RUANG TIM SENYAP 08
Lampu redup.
Layar menyala.
Tidak ada tawa.
Tidak ada Julio.
“Putar ulang.”
Suara Doni terdengar pelan.
Rekaman diputar.
Arka.
Garuda.
Lalu—
indikator kedua muncul.
“PRIMARY SIGNAL.”
“SECONDARY TRACE.”
“Itu muncul saat dia dekat,” kata Arka.
“Bukan akses,” jawab Doni.
“Resonansi.”
Sunyi.
“Kalau resonansi…”
Profesor Arief berbicara pelan.
“…artinya sistem mengenali.”
“Dua orang?” tanya Arka.
Mayjen Okta menggeleng.
“Tidak seharusnya.”
Doni menatap layar.
Lebih lama.
Lebih dalam.
“Bukan dua orang…”
Ia menunjuk grafik.
“Dua pola.”
Tiba-tiba—
indikator kecil berkedip.
Sekali.
Dua kali.
SECONDARY TRACE — ACTIVE
Yuri langsung tegang.
“Itu bukan dari dalam!”
Doni menyempitkan mata.
“Mereka…”
TEMPAT LAIN — GELAP
Puluhan layar menyala.
Satu simbol muncul perlahan.
BLACK SUN
“Dua sinyal…”
Suara itu dingin.
Tenang.
“Yang satu stabil.”
“Yang satu… anomali.”
Senyum tipis terlihat di bayangan.
KEMBALI
Gedung PELNI tetap diam.
Kota tetap tenang.
Semua terlihat normal.
Namun di balik itu—
dua pihak telah saling menemukan.
LAST LINE
Dan tanpa disadari siapa pun…
permainan besar itu—
baru saja dimulai.
