Suara dengung server memenuhi ruang data center Gedung PELNI.
Lampu biru berkedip stabil.
Sistem berjalan sempurna.
Setidaknya… terlihat sempurna.
INT. DATA CENTER — SIANG
Doni berdiri di depan layar utama.
Yuri di sampingnya, memeriksa alur data.
Profesor Arief memperhatikan dari belakang.
Mayjen Okta berdiri dengan tenang, seperti biasa.
Arka berada sedikit menjauh.
Masih belajar membaca sistem yang terasa seperti dunia lain baginya.
ANOMALI KECIL
Salah satu panel kecil di layar…
berkedip.
Sekali.
Lalu lagi.
Doni langsung menyadarinya.
Matanya menyempit.
“Ada yang bergerak.”
Yuri menoleh cepat.
“Di mana?”
Doni memperbesar tampilan.
Baris kode muncul.
Cepat.
Terlalu cepat.
“Layer dua,” jawab Doni.
Yuri langsung serius.
“Itu internal.”
GERAKAN ANEH
Data tidak menunjukkan pola serangan.
Tidak ada brute force.
Tidak ada eksploitasi.
Lebih seperti…
seseorang yang berjalan santai di dalam sistem.
Seperti tahu jalannya.
Arka mengerutkan kening.
“Itu hacker?”
Doni diam.
Mengamati.
POLA YANG DIKENAL
Beberapa detik berlalu.
Yuri menghela napas pelan.
“Ini bukan hacker.”
Ia menyandarkan tubuh sedikit.
“Ini kebiasaan.”
Arka bingung.
“Kebiasaan… siapa?”
Doni menjawab singkat.
“Dia.”
KAMERA INTERNAL
Doni membuka feed kamera.
Layar menampilkan area kerja lantai 6.
Dan di sana—
seorang anak kecil duduk santai di kursi kerja.
Kakinya menggantung.
Laptop terbuka di depannya.
Tangannya bergerak cepat di keyboard.
Tidak ragu.
Tidak berhenti.
REAKSI
Arka mendekat.
“Itu…”
“Anak kecil?”
Yuri menutup mata sebentar.
Seperti orang yang sudah sering menghadapi ini.
“Dia lagi…”
TEKANAN NAIK
Doni memperbesar data.
“Dia masuk ke jalur EV charging.”
Arka terkejut.
“Ngapain dia di situ?”
Yuri menjawab:
“Ngacak-ngacak… atau belajar.”
DATA MENINGKAT
Tiba-tiba grafik melonjak.
“Dia pindah jalur!” kata Yuri.
“Transportasi online listrik!”
Arka melihat layar:
data driver lokasi kendaraan distribusi energi
Semua disentuh.
Semua dibaca.
Cepat.
LEVEL BERBAHAYA
Doni berkata pelan:
“Kalau dia lanjut…”
Ia berhenti.
Yuri menyambung:
“Dia bisa tembus ke layer tiga.”
Arka langsung menegang.
Layer tiga.
Itu berarti…
Garuda.
KEPUTUSAN CEPAT
Mayjen Okta akhirnya berbicara:
“Kita ke atas.”
Nada suaranya tenang.
Namun tidak memberi ruang untuk ragu.
INT. AREA KERJA — GEDUNG PELNI
Mereka berjalan cepat.
Namun tetap tenang.
Tidak menarik perhatian.
Sekitar 150 karyawan tetap bekerja seperti biasa.
Tidak ada yang tahu…
bahwa sistem hampir ditembus dari dalam.
PERTEMUAN
Di sudut ruangan—
anak itu masih di sana.
Duduk santai.
Kakinya masih menggantung.
Matanya fokus ke layar.
Jarinya bergerak cepat.
Doni berdiri di belakangnya.
“Julio.”
Anak itu berhenti.
Lalu menoleh santai.
“Oh.”
“Lho, wis teko toh…”(Oh, sudah datang ya…)
Arka membeku.
INTERAKSI LUCU
Doni menghela napas.
“Kamu ngapain lagi?”
Julio mengangkat bahu.
“Cuma lihat-lihat, Pa…”
“Ini loh, sistem charging e… keren.”(Ini loh, sistem charging-nya… keren)
Yuri langsung menyela:
“Kamu hampir masuk ke layer tiga.”
Julio menoleh.
Sedikit mikir.
“Belum toh…”(Belum kan…)
Yuri menatap datar.
“Itu masalahnya.”
ARKA SHOCK
Arka tidak bisa menahan diri.
“Tunggu… dia siapa sih?”
Doni menjawab singkat:
“Anak saya.”
Sunyi.
KONTRAS KUAT
Arka melihat Julio.
Anak 8 tahun.
Santai.
Tidak takut.
Tidak tegang.
Seolah semua ini… playground.
DIALOG JULIO
Julio berdiri.
Menatap Arka.
“Oh, iki sing Garuda ya?”(Oh, ini yang Garuda ya?)
Arka mengangguk pelan.
“Iya…”
Julio mendekat sedikit.
Matanya berbinar.
“Garuda e wis nyala kabeh?”(Garudanya sudah aktif semua?)
Arka bingung.
“Iya… kemarin.”
Julio tersenyum kecil.
“Wah… cepet yo.”(Wah… cepat ya.)
TIM INTI
Mayjen Okta mendekat.
“Julio.”
Nada suaranya tetap datar.
Julio langsung berdiri lebih tegak.
“Siap, Om.”
Yuri menggeleng pelan.
Profesor Arief tersenyum tipis.
“Dia tidak berubah.”
KETEGANGAN HALUS
Doni melihat laptop Julio.
Masih ada jendela terbuka.
Data masih berjalan.
“Matikan.”
Julio menghela napas kecil.
“Yo wes…”(Ya sudah…)
Ia menekan beberapa tombol.
Semua jendela tertutup.
Cepat.
Terlalu cepat.
FORESHADOWING
Namun…
sebelum layar benar-benar bersih—
Arka melihat sekilas sesuatu.
Sebuah baris kecil:
SIGNAL DETECTED
Lalu hilang.
MOMEN DALAM
Arka menatap Julio.
“Umur kamu berapa?”
“Wolu.”(Delapan.)
“Dan kamu bisa… semua ini?”
Julio mengangkat bahu.
“Ya biasa ae…”(Ya biasa saja…)
PENUTUP TEGANG
Doni menatap anaknya.
“Jangan terlalu dalam.”
Julio menjawab santai:
“Aku ora mlebu jero kok…”(Aku tidak masuk terlalu dalam kok…)
Ia berhenti.
Lalu menambahkan pelan:
“Tapi… ono sing aneh.”(Tapi… ada yang aneh.)
Semua langsung diam.
LAST LINE
Julio menatap layar kosong.
Matanya sedikit berubah.
“Koyok ono sing ndelok balik…”(Seperti ada yang melihat balik…)
