ZWAASSH!!
Pisau spiralnya berkilat perak. Dengan gerakan cepat dan brutal, Kaivan menghantam senjata lawannya. Bilah itu hancur berkeping-keping, serpihannya beterbangan seperti bintang-bintang yang tercerai-berai di tengah badai salju.
Makhluk itu terpental ke belakang dan menghantam salju. Sebelum sempat bangkit kembali, Kaivan melompat tinggi. Tubuhnya melesat seperti proyektil. Ia mendarat tepat di atas dada makhluk itu lalu menghunjamkan pisau spiralnya ke kepala lawan.
CCCHHRRRTTT!!
Suara mengerikan menggema saat bilah itu menembus logam dan tengkorak sekaligus. Kepala makhluk tersebut terlepas dari tubuhnya, berguling melintasi tanah hingga berhenti tepat di kaki raksasa besar yang masih berdiri.
Raksasa itu menundukkan pandangannya, menatap kepala rekannya yang telah hancur. Geraman berat muncul dari dalam dadanya, seperti mesin diesel tua yang meraung karena amarah.
"RAAAAAAGHH!!"
Ia mengangkat senjatanya, sebuah meriam tank yang ditempa ulang menjadi gada raksasa. Dengan seluruh kekuatannya, makhluk itu menerjang maju, setiap langkahnya menghancurkan tanah dan salju di bawah kaki.
Kaivan berputar tajam lalu melompat ke samping. Gada raksasa itu menghantam tanah dan meledakkan salju serta puing ke udara. Pepohonan di sekitar terbelah akibat gelombang kejutnya.
Namun Kaivan sudah bergerak ke sisi kiri raksasa itu. Dengan tebasan berputar, ia menghantam lutut yang hanya dilindungi oleh pelat logam tipis.
CHCHCHKKTTTT!!
Bilah spiral itu menembus logam dan sendi, mengoyak jauh ke dalam. Darah hitam bercampur oli menyembur dengan liar. Raksasa itu meraung dan kehilangan keseimbangan. Kaivan kembali berputar lalu menghantam lutut satunya.
"ARGHHHH!!"
Tubuh setinggi lima meter itu ambruk ke tanah dengan suara menggelegar. Benturannya mengguncang hutan, membuat salju berjatuhan dari pepohonan dan melayang di udara seperti abu pemakaman yang pucat.
Kaivan berdiri tegak di tengah medan perang yang membeku. Tubuhnya berlumuran darah hitam yang menetes dari luka-luka yang tak terhitung jumlahnya. Satu-satunya kaki manusia yang masih tersisa menancap kokoh di tanah es, sementara lengan kanannya dibalut gelang spiral yang mengeluarkan desisan halus. Angin pegunungan mengangkat salju dan darah ke udara, membentuk pusaran-pusaran kecil di sekelilingnya.
Salah satu matanya yang masih manusiawi menyala merah. Bukan karena kemarahan, melainkan karena keberadaan yang telah melampaui batas antara hidup dan mati. Ia tampak seperti kutukan yang berjalan, pembalasan yang menjelma menjadi daging. Dengan nada rendah yang penuh ejekan, Kaivan meludah ke sisi kanannya.
"Kakimu masih utuh, bukan? Lalu kenapa kau tidak bisa berdiri?"
Raksasa yang tingginya lebih dari lima meter itu mengatupkan giginya dengan keras. Ia merangkak ke depan seperti binatang buas yang terluka, meninggalkan jejak-jejak dalam di tanah yang membeku. Salju dan puing beterbangan setiap kali tangannya menghantam permukaan.
WHUUMMM!!
Sebuah kepalan sebesar drum baja melesat ke depan. Kaivan hanya bergeser ringan, cukup untuk menghindari pukulan mematikan itu. Bilah spiralnya menari seperti kilat.
CLAAANG!! BRRAAAKK!!
Suara logam yang pecah menggema memekakkan telinga di seluruh medan perang. Sebagian lengan makhluk itu tercabik lepas, darah hitam menyembur seperti uap dari mesin yang rusak. Tubuh raksasa itu terhuyung lalu jatuh menghantam bebatuan yang terkubur di bawah salju.
Kaivan melompat dan mendarat di atas dadanya. Satu lengannya terangkat, siap menghantam. Tatapannya kosong namun begitu dalam, seperti lembah kematian yang menelan cahaya.
"Aku akan membuatmu mati tanpa sempat..."
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tangan kiri monster itu melesat dan mencengkeram tubuhnya. Genggaman itu menghimpit tubuh Kaivan seperti mesin pres baja.
"KHHH...!!"
Kaivan mendesis kesakitan saat tubuhnya diangkat dan diremas tanpa ampun. Dengan tangan yang masih bebas, ia menusukkan bilahnya berulang kali ke dada lawannya, tetapi setiap serangan terpental oleh zirah yang menyerupai tank tempur.
Makhluk itu tertawa keras.
"GUAHAHAHA!!"
Suaranya menggema di seluruh lembah, memecahkan keheningan pegunungan.
Tulang-tulang Kaivan berderak di bawah tekanan yang mengerikan, namun matanya justru menyala semakin terang. Ia meraung,
"JANGAN MEREMEHKANKU!!"
Gelang di lengannya memancarkan cahaya terang. Bilah spiral itu berputar semakin liar, melengking seperti bor baja yang menembus batu. Kaivan menghunjamkannya ke dada monster itu, tepat di bawah simbol bercahaya yang terukir pada zirahnya.
ZRRRRRTTTTTTTTT!!!
Percikan api, logam yang hancur, dan darah hitam menyatu menjadi kabut panas yang membara. Bilah spiral itu menembus lapisan demi lapisan baja, menghancurkan pertahanan terakhir makhluk tersebut.
"MATI! MATI! MATI!!"
Teriakan Kaivan mengguncang badai salju itu sendiri, berubah menjadi gema dari tekad yang tak akan pernah padam. Bilah spiral itu menembus lurus hingga ke jantung musuhnya.
