Cherreads

Chapter 246 - Dia yang Menolak Tumbang

Ledakan demi ledakan menghantam Ya'juj dan Ma'juj tanpa henti. Pelat baja meleleh. Daging mutasi mereka meledak berkeping-keping. Darah hitam menyembur ke segala arah. Setiap ledakan terjadi dengan presisi dan ritme yang sempurna, seperti sebuah orkestra kematian.

Kaivan tidak berhenti.

Ia menghentakkan satu-satunya kaki yang masih tersisa ke tanah hingga lapisan es pecah berhamburan, lalu melesat ke udara seperti rudal yang ditembakkan dari bumi. Badai salju terbelah. Langit kelabu bergetar di bawah siluetnya yang menyala.

Saat tubuhnya terangkat, gelang di lengannya terbuka dan melepaskan sebuah bilah spiral tajam. Jagdkommando, senjata pengebor bermata tiga yang berputar hingga membentuk kerucut perak di ujung lengannya.

Permukaannya memantulkan cahaya api, kabut, dan darah.

Itu bukan sekadar senjata.

Itu adalah simbol dari kehendaknya untuk menghancurkan.

"AKU DATANG, LYRA!!"

Ia mendarat tepat di antara Lyra dan kawanan Ya'juj serta Ma'juj. Salju meledak ke segala arah.

Dalam sekejap, bilah spiral itu berputar. Kepala makhluk terdekat terpenggal, lalu bilah yang sama menembus tubuh makhluk lain secara diagonal, membelahnya dari bahu hingga pinggang.

"Tidak malukah kalian...?" teriaknya. "Dikalahkan oleh seseorang yang sudah hancur? Hanya dengan satu kaki... dan satu lengan? Olehku? MENYEDIHKAN!!"

Suaranya menggema di seluruh medan perang yang membeku, mengiringi tarian yang brutal sekaligus indah.

Meski cacat dan hampir hancur sepenuhnya, Kaivan bergerak seperti mesin pembunuh.

Serangan datang dari kanan. Ia merunduk, memutar tubuhnya, lalu menebas ke atas.

Tenggorokan terkoyak.

Tengkorak pecah.

Darah hitam menyembur ke langit, menodai salju putih dengan warna kematian.

Namun Ya'juj dan Ma'juj tidak mundur. Mereka kembali menerjang seperti kawanan lebah liar yang tak mengenal rasa takut.

Kaivan menyeringai.

"Kemarilah... akan kubuat kalian MERASAKAN RASA SAKITKU!!"

Ia melompat ke kiri, berputar hanya dengan satu kaki dan satu lengan, bergerak seperti penari yang dilatih untuk satu malam pembantaian. Bilah spiralnya berputar mengikuti setiap ayunan, memotong kaki, menghancurkan lengan, dan membelah kepala. Setiap gerakan melukis pola-pola darah di udara.

Satu tebasan mendatar merobohkan lima makhluk sekaligus.

Satu tendangan menghancurkan rahang seekor monster raksasa dan membantingnya ke tanah. Kaivan mendarat di atas dadanya lalu menghunjamkan bilahnya tepat ke jantung makhluk itu.

"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEBELUM CACING-CACING ITU SEMPAT MEMAKAN TUBUH KALIAN!!!"

Raungannya merobek kekacauan yang ada.

Dengan satu putaran terakhir, ia menyapu seluruh area di sekitar Lyra, memastikan tidak ada musuh yang tersisa dalam radius lima meter. Darah dan serpihan logam berhamburan seperti tinta merah gelap di atas kanvas salju.

Lyra terbaring di sana, menatapnya dengan campuran ketakutan, kekaguman, dan rasa bersalah. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Tanah yang telah hancur bergetar hebat. Salju mencair akibat panas ledakan, meninggalkan uap tebal yang menggantung seperti kabut neraka. Bau mesiu, darah, dan oli mesin memenuhi udara, terasa berat saat dihirup. Sisa-sisa tubuh Ya'juj dan Ma'juj berserakan di mana-mana, terbakar, tercabik, atau hancur berkeping-keping bersama fragmen gelang Kaivan.

Dari balik kabut dan puing-puing, muncul tiga sosok baru.

Suara gesekan logam yang kasar menggema di lembah Pegunungan Kaukasus yang kini telah berubah menjadi ladang kematian. Salju turun seperti peluru dari langit kelabu, menutupi tanah yang telah dipenuhi darah hitam.

Makhluk yang berada paling depan menjulang setinggi lima meter. Tubuhnya merupakan perpaduan antara tank tempur dan makhluk hidup. Pelat baja tebal menutupi seluruh tubuhnya, diukir dengan simbol-simbol biru redup yang bercahaya samar. Tanda pangkat atau klasifikasi dalam hierarki Ya'juj dan Ma'juj.

Dua makhluk lainnya, masing-masing hampir setinggi dua meter, menggenggam senjata yang terbuat dari bilah baling-baling helikopter yang telah diubah menjadi pedang raksasa. Setiap ayunannya melepaskan siulan tajam yang membelah udara.

Kaivan berdiri di tengah neraka beku yang ia ciptakan sendiri. Angin menghantam wajahnya, sementara jubahnya yang robek berkibar seperti panji perang. Salju, debu, darah, dan bara api menari di sekelilingnya. Satu-satunya kaki manusia yang masih ia miliki berdiri kokoh di tanah. Bilah spiral di tangannya berputar perlahan, meneteskan darah yang hampir membeku. Mata kirinya ternoda merah oleh percikan darah, namun tatapannya tetap lurus, dingin, dan mematikan.

"Benarkah kalian bertiga... berpikir bisa mengalahkanku?" bisiknya. Suaranya pelan, namun sarat dengan penghakiman, seolah bahkan waktu pun berhenti untuk mendengarkannya.

Salah satu makhluk yang lebih kecil meraung sambil menunjuk ke arah Kaivan.

"WUUAAARGHH!!"

Tanpa peringatan, keduanya langsung menerjang. Bilah berputar mereka merobek udara dan salju di bawah kaki mereka. Ledakan-ledakan kecil terbentuk di setiap langkah, menghamburkan pecahan es ke segala arah.

Kaivan tidak bergerak.

Waktu seolah melambat di dalam penglihatannya. Pikirannya menghitung kecepatan lawan, arah angin, dan sudut serangan yang datang. Ia merendahkan tubuhnya, menyelinap tepat di bawah bilah berputar yang nyaris memenggal lehernya.

More Chapters