Cherreads

Chapter 194 - Bab 194: Air Mata di Dalam Mobil

Mina dan keluarganya berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah itu, menuju mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari taman kecil dekat rumah keluarga Kagehara.

Begitu semua masuk, ayah Mina langsung menyalakan mobil dan membawa mereka pergi dari sana.

Begitu mobil keluarga Sakurai keluar dari kediaman keluarga Kagehara,

gerbang besar itu perlahan menutup di belakang mereka—seolah menelan sisa harapan yang tadi sempat muncul di hati mereka.

Tak lama sang ayah menghentikan mobilnya tak jauh dari gerbang keluarga Kagehara.

Di dalam mobil, tak ada yang langsung berbicara.

Hanya terdengar suara AC, napas yang berat, dan isak yang berusaha ditahan.

Mina duduk di kursi belakang, menatap jendela di sampingnya. Namun pandangannya kosong. Beberapa detik kemudian, air matanya jatuh lagi—pelan, diam, tapi tak bisa ia hentikan.

Ayah dan ibunya yang melihat itu sama-sama terdiam.

Tak ada kata yang terasa cukup.

Tak ada pelukan yang terasa pasti bisa memperbaiki apa pun.

Sang ibu yang duduk di depan akhirnya membuka pintu mobil, turun sebentar, lalu masuk lagi ke kursi belakang. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping Mina dan segera memeluk putrinya erat-erat.

Mina tak menolak.

Ia hanya menunduk, membiarkan air matanya membasahi bahu ibunya.

Di depan, ayah Mina menyalakan mobil dan membawa mereka menjauh dari rumah besar itu.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya sang ayah bersuara. Suaranya berat, seperti seseorang yang sedang memaksa dirinya tetap utuh.

Ayah Mina:

"Maaf, nak..."

"Ayah tidak tahu bahwa keluarga yang kita datangi untuk meminta bantuan..."

"…ternyata justru ingin memanfaatkanmu."

"Ayah merasa... sudah gagal sebagai kepala keluarga."

Sang ibu memeluk Mina lebih erat, lalu ikut bersuara dengan suara bergetar.

Ibu Mina:

"Ibu juga minta maaf..."

"Kalau saja ibu tidak memaksa ayahmu datang ke sana..."

"Mungkin kejadian ini tidak akan terjadi."

Mina yang tadinya masih menangis perlahan mengangkat wajahnya.

Ia menatap ibunya.

Lalu ayahnya di kaca depan.

Air matanya belum berhenti, tetapi suaranya justru terdengar lebih tenang daripada sebelumnya.

Mina:

"Tidak apa-apa, Ibu... Ayah..."

"Ini bukan salah kalian."

"Aku yang terlalu bodoh karena mengira orang yang mendekatiku benar-benar ingin menolong."

Ia mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan.

Mina:

"Tapi... berkat ini aku jadi sadar."

"Masalah ini memang harus kita hadapi sendiri."

"Meskipun kita tidak bisa menang melawan dendam keluarga Hayato..."

"Mungkin kekalahan seperti itu masih lebih baik..."

"Daripada harus menjadi boneka orang lain sekali lagi."

Seketika ruangan dalam mobil kembali sunyi.

Ayah Mina menggenggam setir lebih erat.

Ibu Mina menutup mata sebentar.

Keduanya seperti tersayat oleh ucapan putri mereka sendiri.

Ayah Mina (dalam hati):

Maafkan ayah, nak...

Ibu Mina (dalam hati):

Maafkan ibu... kami tidak bisa membahagiakanmu seperti anak-anak lain...

Dan tepat di tengah kesunyian itu—

ponsel Mina bergetar.

Mina menunduk dan melihat layar ponselnya.

Sebuah pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Alis Mina mengernyit pelan. Ia membaca isi pesannya beberapa kali, seolah tak yakin dengan apa yang tertulis di sana.

Lalu ia menoleh ke depan.

Mina:

"Ayah..."

"Tolong ke toko buku di pusat kota."

"Aku harus menemui seseorang."

Ayah Mina tak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk kecil.

Ayah Mina:

"Baik."

Mobil pun melaju lagi.

Perjalanan itu terasa panjang. Hampir satu setengah jam mereka berkendara, melewati jalan-jalan kota yang mulai dipenuhi cahaya sore. Namun di antara mereka bertiga, tak ada lagi percakapan. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.

Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah toko buku sederhana di pusat kota.

Mina membuka pintu dan hendak turun.

Namun sebelum menutup pintu, ia menoleh pada kedua orang tuanya.

Mina:

"Tunggu Mina sebentar saja, ya."

"Tidak akan lama."

Ayah dan ibunya hanya mengangguk.

Mina lalu berjalan masuk ke toko buku itu.

Di dalam, suasananya tenang. Rak-rak kayu berderet rapi. Aroma kertas dan tinta memenuhi udara. Hanya ada beberapa pengunjung yang berjalan perlahan di antara rak-rak.

Mina terus melangkah ke dalam sambil sesekali melihat ponselnya, memastikan isi pesan yang tadi ia terima.

Ia melihat ke kiri.

Ke kanan.

Ke arah rak novel, rak sejarah, rak buku pelajaran.

Tak ada siapa pun yang ia kenal.

Sampai kemudian—

sebuah suara pria terdengar tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Suara Pria Misterius:

"Akhirnya kau tiba juga."

Mina membeku.

Perlahan ia menoleh ke arah sumber suara itu.

Dan adegan itu berhenti tepat di sana.

---

Di sisi lain, di rumah besar keluarga Kagehara, pintu ruang tamu telah tertutup kembali.

Mina dan keluarganya sudah pergi.

Namun hawa yang mereka tinggalkan masih terasa seperti luka terbuka.

Natsumi berdiri diam beberapa detik, memandangi pintu yang barusan dilalui Mina.

Wajahnya kosong.

Tak ada senyum.

Tak ada candaan.

Lalu perlahan ia menarik kembali aura membunuh yang sempat memenuhi ruangan itu.

Udara yang tadinya mencekap berubah lebih ringan.

Dan mendadak—seperti seseorang yang baru selesai memainkan peran di atas panggung—Natsumi menghela napas ringan lalu tersenyum santai.

Natsumi:

"Fiuh..."

"Untung saja kalian tidak benar-benar bergerak tadi."

"Kalau tidak… aku mungkin harus turun tangan."

Cara Natsumi mengatakannya terlalu biasa. Terlalu santai.

Seolah niat membunuh yang tadi memenuhi ruangan itu bukan gertakan sama sekali.

Yuna dan Ilysta seketika merinding. Mereka saling menoleh sebentar.

Bukan karena tidak percaya.

Justru karena mereka tahu—jika tadi mereka melangkah sedikit lebih jauh, Natsumi benar-benar akan membunuh mereka.

Ayah Natsumi hanya mendecakkan lidah.

Sementara sang ibu, yang lebih lama mengenal sisi asli putrinya, hanya tersenyum kecil—senyum seorang ibu yang paham bahwa putrinya sedang kembali memakai "wajah" yang biasa ia tunjukkan.

Ibu Natsumi:

"Apa yang sedang kau rencanakan kali ini, nak?"

"Kenapa kau kembali memainkan trik di depan ibu?"

"Apa kau masih belum cukup melakukan hal yang sama di masa lalu... kepada keluarga kerajaan?"

Natsumi menoleh pada ibunya.

Ia tersenyum—manis, ringan, hampir seperti gadis biasa.

Natsumi:

"Aku tidak merencanakan apa-apa, kok, Bu."

"Dan soal kejadian lama dengan keluarga kerajaan..."

"Itu bukan sepenuhnya salahku."

Ia menyandarkan tubuh sedikit ke meja, lalu matanya menyipit tipis.

Natsumi:

"Dasarnya saja mereka terlalu mudah ditebak."

"Mereka terang-terangan memanfaatkan kebaikan putra keluarga kerajaan."

"Aku hanya menambahkan sedikit dorongan… agar semuanya bergerak lebih cepat."

Yuna langsung bereaksi.

Wajahnya tampak kesal, tapi lebih banyak ngeri daripada marah.

Yuna :

"Sedikit bumbu, kau bilang?"

"Karena kejadian itu seluruh kerajaan demon gempar!"

"Dalam satu hari... dua keluarga bangsawan lenyap!"

"Keluargaku dan keluarga Ilysta juga ikut terancam saat itu!"

Ilysta yang berdiri di sampingnya mengangguk pelan.

Ilysta :

"Benar Sumi."

"Kalau bukan karena keluarga kami buru-buru menjelaskan bahwa kami tidak ada hubungan dengan gadis beastkin itu..."

"Mungkin keluarga kami juga sudah dilenyapkan oleh pasukan elit kerajaan."

Natsumi malah tertawa kecil.

Bukan tawa mengejek terbuka.

Tapi cukup untuk membuat Yuna dan Ilysta makin kesal.

Natsumi:

"Apa kalian kira keluarga kerajaan akan percaya begitu saja kepada keluarga kalian?"

"Dan kalian tahu kenapa keluarga kerajaan memaafkan kalian?"

Yuna dan Ilysta terdiam.

Natsumi menatap keduanya satu per satu. Senyumnya tak berubah.

Natsumi:

"Karena akulah yang memberi mereka kebenaran lebih dulu."

"Jadi, kalau dipikir-pikir..."

"Kalian berdua berhutang budi padaku."

Kalimat itu jatuh pelan—namun menghantam lebih keras daripada bentakan mana pun.

Yuna membeku.

Ilysta menatap Natsumi tanpa berkedip.

Mereka sama-sama teringat masa lalu itu—bagaimana keluarga mereka yang awalnya yakin akan ikut terseret, tiba-tiba justru dibiarkan.

Waktu itu mereka hanya mengira keluarga mereka beruntung.

Sekarang, mereka baru tahu bahwa "keberuntungan" itu bahkan bukan milik mereka.

Itu adalah hasil tangan Natsumi.

Yuna (dalam hati):

Jadi... bahkan saat itu... kami hanya bergerak sesuai arah yang dia mau...?

Ilysta (dalam hati):

Selama ini... kami benar-benar hanya bermain di telapak tangannya...

Natsumi memandangi keduanya dengan santai, seolah apa yang baru ia ungkapkan bukan sesuatu yang besar.

Dan sekarang, setelah Mina pergi dengan kebencian di matanya…

Yuna dan Ilysta akhirnya sadar satu hal.

Sejak dulu, mereka tidak pernah benar-benar tahu seberapa jauh Natsumi sudah menyiapkan langkahnya.

Dan kali ini… mereka bahkan tidak tahu siapa yang sesungguhnya sedang digiring ke dalam rencananya.

More Chapters