Cherreads

Chapter 193 - Bab 193: Kepala Keluarga yang Selama Ini Ada di Dekatnya

Ruang tamu keluarga Kagehara yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sempit.

Keheningan yang tadi hanya dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam—seperti benang tipis yang ditarik terlalu keras dan siap putus kapan saja.

Mina berdiri terpaku.

Matanya menatap gadis di depan sana yang baru saja menyapanya dengan biasa.

Bukan bangsawan tua.

Bukan pewaris angkuh berumur matang.

Bukan sosok asing yang tak pernah ia kenal.

Melainkan—

Natsumi.

Gadis yang beberapa hari terakhir mendekatinya.

Gadis yang memaksa menjadi temannya.

Gadis yang mengaku ingin membantunya.

Dan sekarang… berdiri di rumah sebesar ini, di hadapan kedua orang tua yang bahkan para penjaga pun tunduk pada keluarga mereka.

Mina menatap Natsumi beberapa detik tanpa suara.

Lalu bibirnya bergerak pelan, seolah lidahnya sendiri tidak percaya dengan nama yang ia ucapkan.

Mina:

"Natsumi…?"

Natsumi yang melihat keterkejutan Mina tidak langsung mendekat.

Ia hanya berdiri di sisi kedua temannya, masih dengan pakaian yang rapi dan wajah yang perlahan kehilangan warna cerianya.

Natsumi:

"Halo, Mina."

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Mina terasa makin sesak.

Potongan-potongan kejadian langsung terhubung di kepalanya.

Nama keluarga itu.

Sikap Natsumi yang keras kepala ingin mendekat.

Cara Natsumi seolah tidak takut pada siapa pun.

Percakapan di kafe.

Ucapan tentang hadiah.

Ucapan tentang bantuan.

Semuanya mendadak terasa seperti jebakan yang sedari awal telah menunggunya.

Mina menatap Natsumi semakin tajam.

Mina:

"Apa yang kau lakukan di sini, Natsumi?"

"Atau jangan-jangan… ini memang tujuanmu sejak awal?"

"Mendekatiku, membuatku percaya, lalu memakai kelemahanku saat aku tidak punya tempat lain untuk lari?"

Natsumi sontak terkejut.

Ia maju setengah langkah, jelas ingin menjelaskan, tetapi sebelum sempat bicara—

dari belakangnya, Yuna melangkah lebih dulu.

Yuna:

"Hei. Jaga ucapanmu, manusia."

"Natsumi tidak seperti yang kau pikirkan."

"Jangan menuduh seenaknya kalau kau tidak tahu apa-apa."

Mina mengalihkan pandangan.

Baru sekarang ia menyadari Yuna dan Ilysta juga ada bersama dengan Natsumi, berdiri tidak jauh dari Natsumi seperti dua bayangan yang diam-diam menjaga.

Tatapan Mina berubah dingin.

Mina:

"Tidak tahu apa-apa, kau bilang?"

"Aku mendengarnya sendiri di kafe."

"Dengan jelas."

"Kalian membicarakanku. Membicarakan rencana. Membicarakan sesuatu yang tergantung padaku."

Natsumi membuka mulut.

Natsumi:

"Mina, dengar dulu—"

Tetapi Mina memotong dengan cepat, suaranya meninggi oleh luka yang sudah terlalu penuh.

Mina:

"Dan kau, Natsumi…"

"Orang yang sudah kupercaya sebagai teman…"

"Ternyata tidak lebih baik."

"Bahkan mungkin lebih buruk daripada keluarga Hayato."

"Karena kau mendekat bukan untuk mengerti… tapi untuk memanfaatkan."

Ruangan itu hening.

Ayah Mina dan ibunya hanya bisa menatap putri mereka dengan wajah pucat.

Mereka ingin menghentikan Mina—namun tidak sanggup.

Karena untuk pertama kali dalam waktu lama, putri mereka sedang mengatakan semua yang selama ini ia telan sendiri.

Ayah Natsumi, yang sedari tadi berdiri dengan tenang, akhirnya bersuara. Suaranya berat, tapi tidak kasar. Justru terlalu terukur.

Ayah Natsumi:

"Jaga ucapanmu, nak."

"Kau sedang berdiri di hadapan kepala keluarga kami."

"Dan bukankah tadi kau sendiri yang bilang… kau bersedia melakukan apa pun demi keluargamu?"

Kalimat itu menghantam Mina lebih keras daripada bentakan.

Kepala keluarga kami.

Bukan calon pewaris.

Bukan anak kesayangan.

Bukan putri keluarga biasa.

Kepala keluarga.

Kata itu terasa seperti pintu yang tertutup tepat di depan wajahnya.

Mina menatap Natsumi lagi.

Matanya melebar.

Lalu pelan-pelan bibirnya terangkat… menjadi senyum yang begitu pahit.

Ia tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Bukan pula tawa lega.

Tapi tawa seseorang yang akhirnya menyadari betapa ironis nasib sedang mempermainkannya.

Mina:

"Jadi begitu…"

"Sungguh ironis."

"Aku datang ke sini untuk meminta bantuan…"

"Tapi orang yang seharusnya kumintai bantuan… ternyata orang yang ingin memanfaatkanku."

Natsumi menggeleng cepat.

Natsumi:

"Tidak seperti itu—"

Mina tidak memberi ruang.

Mina:

"Sekarang aku mengerti."

"Kenapa kau begitu keras kepala mendekatiku."

"Karena kau merasa punya kuasa."

"Karena kau pikir orang sepertiku bisa kau gerakkan sesukamu."

"Seperti boneka."

Setelah itu, Mina menarik napas, menatap langsung ke mata Natsumi.

Mina:

"Tapi itu tidak akan terjadi."

"Lebih baik aku dan keluargaku hancur bersama menghadapi keluarga Hayato…"

"Daripada harus memohon kepada orang-orang yang hanya tahu cara memanfaatkan kelemahan orang lain."

Natsumi diam.

Yuna tertegun.

Ilysta yang tadinya dingin pun sedikit mengerutkan alis.

Ayah dan ibu Mina tidak berkata apa-apa.

Bukan karena setuju sepenuhnya.

Tapi karena mereka tahu—kalau mereka membantah sekarang, yang mereka patahkan bukan hanya keputusan Mina, tapi juga harga dirinya yang tersisa.

Mina pun berjalan.

Ayah dan ibunya ikut mengikutinya.

Natsumi berdiri kaku, jantungnya berdegup lebih keras dari yang bisa ia sembunyikan.

Natsumi (dalam hati):

Apa aku harus jujur sekarang…?

Kenapa semua ini tidak berjalan sesuai rencanaku…?

Mina sudah hampir melewatinya ketika Ilysta akhirnya bersuara pelan dari belakang.

Ilysta:

"Tunggu, manusia."

Mina tidak berhenti.

Ia terus melangkah.

Wajah Ilysta menegang.

Tatapannya berubah dingin.

Lalu tanpa peringatan, ia mengangkat satu tangan.

Sekejap kemudian—

udara di sekitar Mina, ayahnya, dan ibunya membeku.

Tubuh mereka berhenti bergerak.

Bukan tertahan tali.

Bukan terikat rantai.

Tapi seperti ruang di sekitar mereka menolak memberi izin untuk melangkah.

Mina menoleh cepat, napasnya memburu.

Mina:

"Apa yang kau inginkan?"

"Bahkan pergi pun tidak kau biarkan?"

"Jadi beginikah caramu membela harga dirimu yang terluka?"

Wajah Ilysta yang biasanya seperti boneka kini jelas-jelas menunjukkan emosi.

Geram.

Ilysta:

"Jaga bahasamu, manusia."

Ia hendak melangkah.

Tetapi secepat itu pula Natsumi bergerak.

Tangannya meraih pergelangan tangan Ilysta dengan kuat.

Natsumi:

"Cukup Ilysta."

"Lepaskan mereka."

Ilysta menoleh, tak percaya.

Ilysta:

"Apa kau yakin, Sumi?"

"Setelah apa yang mereka lakukan di depan keluargamu?"

"Dan di depanku?"

Mina justru tertawa sinis.

Mina:

"Lakukan saja."

"Aku ingin lihat seberapa jauh kau berani melangkah."

"Kalau kau berani bertindak…"

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu."

"Meskipun harus mengorbankan nyawaku saat ini."

Ucapan itu membuat Ilysta semakin tersulut.

Namun kali ini genggaman Natsumi di pergelangan tangannya makin kuat.

Natsumi menatap ke arah Ilysta lurus ke matanya.

Suaranya rendah, tetapi lebih berbahaya daripada amarah terbuka.

Natsumi:

"Sudah kubilang Ilysta."

"Lepaskan mereka."

"Atau kau mau melawanku sekarang juga?"

Ilysta membeku.

Beberapa detik yang hening itu terasa berat.

Lalu akhirnya ia mendecakkan lidah pelan, menurunkan tangannya, dan melepaskan sihirnya.

Tekanan di tubuh Mina dan kedua orang tuanya hilang seketika.

Mina menarik napas dalam.

Lalu tanpa menoleh lebih lama, ia kembali melangkah.

Natsumi masih diam di tempat.

Mina melewatinya.

Dan sebelum benar-benar menjauh, Mina berkata tanpa menoleh:

Mina:

"Jangan harap aku akan berterima kasih, Natsumi."

"Apa pun yang terjadi… aku tidak akan pernah meminta bantuanmu."

"Atau bantuan keluargamu."

Yuna tersulut.

Ibu Natsumi ikut menatap tajam.

Bahkan ayah Natsumi pun hendak bergerak sedikit, seolah siap ikut menghentikan keluarga Mina.

Namun sebelum siapa pun maju—

dari tubuh Natsumi keluar tekanan energi yang tajam dan mencekap.

Bukan ledakan besar.

Tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa seperti dicekik.

Yuna dan yang lain langsung diam.

Natsumi tidak menoleh pada mereka.

Hanya satu kalimat keluar, dingin dan mutlak.

Natsumi:

"Diam."

Mina, ayahnya, dan ibunya ikut merasakan aura membunuh itu.

Tubuh mereka bergidik.

Namun Mina tidak berhenti.

Ia tidak menoleh lagi.

Karena di dalam hatinya, ia masih yakin akan satu hal—

Natsumi tidak akan menyakitinya.

Bukan sekarang.

Karena Natsumi masih menginginkan sesuatu darinya.

Dan justru keyakinan itulah yang membuat langkah Mina tetap lurus saat ia pergi meninggalkan rumah Kagehara… bersama keluarganya… dan bersama luka baru yang belum sempat sembuh dari luka sebelumnya.

More Chapters