Cherreads

Chapter 190 - Bab 190: Cincin yang Pecah

Angin hutan menerpa wajah Kael saat ia melesat melewati pepohonan, melewati jalan-jalan tanah, bahkan melewati beberapa kereta kuda sihir yang sedang melaju di jalur utama.

Kali ini… kecepatannya jauh di atas saat ia membawa Garm.

Di satu tangan, Kael menatap bola pelacak yang berpendar halus.

Kael (dalam hati):

Untung Aerisyl memberiku barang yang benar-benar aku butuhkan.

Dengan ini… perjalanan jadi lebih mudah.

Setelah berlari hampir setengah jam, Kael akhirnya melihatnya.

Dari kejauhan—tembok tinggi, menara pengawas, dan gerbang besar.

Kerajaan Beastkin.

Di pintu gerbang kota, dua penjaga beastkin ras serigala berjaga dengan tombak dan armor ringan.

Saat Kael hendak melangkah masuk, salah satu penjaga maju menghadang.

Penjaga Serigala 1:

"Stop. Apa urusanmu datang ke sini, ras elf?"

Kael berhenti. Wajahnya tenang—tapi otaknya cepat menyusun alasan.

Kael:

"Aku hanya ingin berkeliling… menikmati keindahan kota para beastkin. Katanya kota ini indah."

Ia sendiri bahkan tidak yakin itu benar.

Penjaga menatapnya tajam.

Penjaga Serigala 1:

"Untuk saat ini kota tidak bisa dimasuki tanpa izin resmi."

"Kalau tidak ada kepentingan, pergilah."

Kael menahan napas, menekan rasa kesalnya.

Kael:

"…Baiklah."

Ia berbalik, berjalan menjauh seperti pasrah.

Namun begitu tubuhnya tak lagi terlihat dari penjaga—

Kael menyelinap ke dalam hutan samping jalur gerbang.

Ia bersembunyi di balik batang pohon besar, menatap gerbang dari sela daun.

Kael (dalam hati):

Sial… aku bodoh.

Kenapa aku tidak minta tanda khusus atau surat izin dulu…

Sekarang aku harus cari cara lain.

Kael diam beberapa detik.

Lalu, seperti menelan keputusan pahit, ia mengangkat tangannya perlahan.

Tatapannya menjadi gelap—bukan marah… tapi berat.

Kael (dalam hati):

Aku tidak ingin membuka ini…

Tapi sepertinya aku tidak punya pilihan lain.

Demi Rei… aku lakukan.

Kael memejamkan mata.

Lalu ia berbisik, pelan namun tegas—seolah perintah pada sesuatu yang mengikatnya.

Kael:

"Lepaskan."

Detik berikutnya—

terdengar suara halus seperti cincin kaca yang pecah.

Bukan dari tanah atau pohon.

Melainkan… dari jari Kael.

Sebuah cincin yang entah sejak kapan melingkar di jarinya retak, lalu pecah—menguap jadi serpihan cahaya.

Kael membuka mata.

Auranya berubah.

Seolah sesuatu yang selama ini dikunci, akhirnya dilepas.

Bukan aura seorang "pengelana" biasa.

Ada sesuatu yang lebih tua… lebih dalam… seperti pintu yang baru saja dibuka.

Kael menatap gerbang dari kejauhan.

Lalu ia mengambil ancang-ancang.

Dalam sekejap—

Kael menghilang.

Bukan teleportasi instan jarak pendek seperti biasanya.

Ini bukan perpindahan biasa.

Ia seperti menyelinap ke sela ruang, tanpa jejak, tanpa suara.

Dua penjaga serigala tetap berdiri.

Tidak ada yang sadar ada sesuatu yang baru saja lewat.

Dan beberapa detik kemudian, Kael sudah berada di dalam kota—jauh dari gerbang.

Ia berhenti di sudut jalan, mengatur napas.

Kael (dalam hati):

Akhirnya masuk…

Tapi aku benci memakai ini.

Baiklah… dari mana kita mulai…?

—Duduknya Shiori di Depan Misa

Sementara itu, di sisi lain Kota Veyra…

Misa masih di restoran, menghabiskan makanan pesanannya—kali ini sendirian.

Ia mengunyah dengan kesal.

Misa (dalam hati):

Kael itu benar-benar aneh… tapi… ya sudahlah.

Tiba-tiba…

ada yang duduk tepat di hadapannya.

Misa mengangkat kepala—dan matanya melebar.

Shiori sudah duduk tepat di depannya.

Entah sejak kapan.

Misa:

"HUH?!"

Shiori menatapnya datar, tanpa ekspresi.

Shiori:

"Misa. Cepat kembali."

"Ketua mencari kamu."

Misa menepuk dadanya, berusaha menenangkan detak jantungnya.

Misa:

"Kamu keterlaluan, Shiori! Datang tanpa suara kayak hantu!"

"Tunggu sebentar, aku habiskan makananku dulu!"

Shiori hanya menatap.

Misa mempercepat makan dengan terburu-buru.

Beberapa menit kemudian, Misa berdiri—Shiori ikut berdiri.

Mereka keluar dari restoran.

Di jalan, Shiori berjalan di depan, langkahnya rapi dan tenang.

Misa mengejar di sampingnya.

Misa:

"Shiori."

"Kamu tahu pria yang kemarin ketemu kamu?"

Shiori tidak menjawab, terus berjalan.

Misa menambah.

Misa:

"Dia datang pagi ini."

"Dia cari kamu."

Baru kali ini Shiori bersuara.

Shiori:

"Maksudmu… pria demon itu?"

Misa sampai berhenti melangkah.

Seolah satu kalimat itu lebih aneh daripada yang seharusnya.

Misa:

"Demon?!"

"Dari mana demon? Dia jelas-jelas elf!"

"Kamu masih ngantuk, Shiori?"

Shiori tetap melangkah, tanpa menoleh.

Shiori:

"Apa yang dia butuhkan dariku?"

Misa menggaruk pipinya merasa ucapannya diabaikan.

Misa:

"Aku juga nggak tahu."

"Awalnya dia minta alamat rumahmu. Tapi aku nggak kasih—aku tahu kamu bakal marah kalau data kamu dikasih orang asing."

Shiori menjawab singkat.

Shiori:

"Baguslah, keputusan yang bijak."

Misa menghela napas, lalu—tanpa sadar—mengaku.

Misa:

"Tapi… aku bilang kamu biasanya datang pas jam makan siang selesai."

"Biar dia gampang tanya langsung."

Shiori berhenti.

Misa ikut berhenti, langsung panik.

Misa:

"Eh? Ada apa?"

"Aku salah ya?"

Shiori diam sesaat.

Lalu ia melanjutkan langkahnya lagi, suaranya datar.

Shiori:

"Tidak ada apa-apa."

Misa mengejar lagi, tapi hatinya makin curiga.

Misa (dalam hati):

Aneh… Shiori makin aneh sejak pria itu muncul.

Kayak… menyimpan sesuatu.

Misa menatap Shiori dari samping.

Misa:

"Ngomong-ngomong…"

"Kamu ada perasaan sama pria itu, Shiori?"

"Soalnya… aku lihat dia kayak ngejar kamu. Tapi kamu… nggak terlihat menolak sekeras biasanya."

Shiori tetap berjalan. Wajahnya datar.

Namun untuk pertama kalinya, di balik keheningan itu… ada sesuatu yang bergerak—bukan di wajahnya, tapi di dalam.

Shiori (dalam hati):

Karena… dia bukan orang asing bagiku.

Dan aku belum bisa bicara padanya dengan normal… sebelum aku menemui seseorang.

Agar dia tidak mengorbankan dirinya… seperti di masa lalu.

Misa tidak mendengar isi hati itu.

Yang ia lihat hanya Shiori yang tetap berjalan dingin—dan justru itu yang membuat Misa semakin yakin:

ada sesuatu besar yang Shiori sembunyikan.

More Chapters