Restoran pusat Kota Veyra siang itu tetap ramai—suara sendok, gelak tawa, dan denting gelas bercampur seperti musik yang biasa.
Kael baru saja hendak menghela napas lega… ketika ia mendengar ada suara memanggil dari belakangnya.
Ia menoleh cepat.
Ternyata hanya pelayan beastkin yang membawa sebagian pesanan mereka.
Pelayan:
"Permisi, ini pesanannya sudah siap."
Kael mengangguk, lalu menarik napas panjang—lega.
Kael (dalam hati):
Kenapa aku sempat panik barusan…?
Di depan meja, Misa memiringkan kepala, menatap Kael curiga.
Misa:
"Ada apa, Kael? Kamu tampak… gelisah."
Kael langsung mengalihkan topik, pura-pura santai.
Kael:
"Tidak apa. Kepikiran sesuatu sebentar. Sudahlah."
Namun saat ia hendak melanjutkan obrolan…
Suara itu muncul.
Bukan dari luar.
Bukan dari samping.
Tapi… langsung di dalam kepalanya.
Suara (telepati):
"Tuan."
Kael membeku.
Seperti refleks, ia berdiri mendadak.
Beberapa pengunjung menoleh heran.
Kael buru-buru menunduk.
Kael:
"Maaf… maaf…"
Ia duduk lagi cepat-cepat.
Misa makin curiga.
Misa:
"Kamu kenapa? Jangan bilang kamu mau kabur setelah pesan makanan!"
Kael tidak menjawab. Matanya menatap meja kosong, pikirannya bekerja liar.
Kael (dalam hati):
Suara siapa itu…? Kenapa jelas sekali…?
Jangan-jangan aku terlalu banyak pikiran sampai halusinasi…?
Suara itu menjawab—tepat setelah pertanyaan itu muncul.
Suara (telepati):
"Ini bukan halusinasi, tuan."
Kael menegang. Matanya melebar.
Kael (dalam hati):
Siapa kamu? Kenapa kamu ada di pikiranku?
Suara itu kembali tenang, tegas.
Aerisyl (telepati):
"Mohon maaf. Perkenalkan. Saya Aerisyl, salah satu Guardian di dunia ini—Guardian Angin. Saya harus bicara dengan Anda sekarang juga. Dan tidak boleh ada yang tahu pembicaraan kita."
Kael menahan napas.
Kael (dalam hati):
Guardian Elyndor…? Kenapa mencari aku? Apa aku melakukan kesalahan?
Aerisyl (telepati):
"Anda tidak melakukan kesalahan apa pun. Saya diminta oleh Rei untuk mencari Anda. Terkait masalah yang terjadi di Elyndor."
Begitu nama Rei disebut, Kael benar-benar terdiam.
Kael (dalam hati):
Rei mengutusmu… untuk mencari aku…? Untuk urusan apa—
Aerisyl (telepati):
"Saya membutuhkan bantuan Anda untuk menyelidiki sebuah organisasi. Mereka menculik bangsawan dan rakyat, lalu mengubah mereka menjadi pasukan yang dipenuhi energi anomali."
Wajah Kael mengeras.
Kael (dalam hati):
Energi… anomali…?
Aerisyl (telepati):
"Pergilah dari sana. Menujulah ke gang beberapa blok dari lokasi Anda. Saya sudah memberi tanda. Kita bicara langsung."
Kael mengangguk kecil—meski hanya di pikirannya.
Tapi Misa yang sedari tadi memanggil namanya mulai kesal.
Misa:
"Kael?!"
Lalu tiba-tiba—CUBIT.
Kael:
"Aduh! Kenapa kamu cubit tanganku?!"
Misa:
"Karena kamu kayak patung! Aku ngomong dari tadi!"
Kael menarik napas, menahan diri agar tidak panik terlihat semakin aneh.
Kael:
"Maaf. Aku… benar-benar harus pergi."
"Aku baru ingat ada urusan mendesak."
"Sebagai permintaan maaf, aku akan membayar semua pesanan ini."
"Dan lain hari, aku akan mentraktirmu lagi."
Misa menyipitkan mata.
Misa:
"Mencurigakan…"
"Tapi baiklah."
"Kalau kamu bayar semua pesanan ini, dan janji akan mentraktirku lagi, aku biarkan."
Kael:
"Tenang saja, pasti akan kubayar."
"Dan… ya, aku janji."
Misa masih cemberut, tapi ia mengangguk.
Kael bergegas ke resepsionis, membayar semua pesanan, lalu keluar dari restoran.
Sementara Misa menatap punggungnya yang menjauh dan mendengus pelan.
Misa (dalam hati):
Pria aneh… tapi tadi lucu juga. Hmph.
—Guardian Angin di Gang Sunyi
Kael mengikuti "tanda" yang hanya bisa ia rasakan—seperti angin tipis yang mengarahkan langkahnya.
Sekitar sepuluh menit berjalan, ia tiba di sebuah gang sunyi, sempit, dan kosong.
Tidak ada orang.
Tidak ada suara.
Hanya bayangan tembok dan aroma kota yang jauh.
Tiba-tiba angin berputar.
Menyatu.
Membentuk siluet.
Lalu… sosok perempuan muncul utuh di hadapan Kael.
Rambutnya bergerak pelan seolah selalu disentuh angin. Tatapannya tajam, dingin, namun tenang.
Aerisyl:
"Tuan Kael."
Kael membeku sesaat, lalu—secara refleks—mulutnya bergerak duluan.
Kael:
"…Sungguh sangat cantik."
Tatapan Aerisyl langsung berubah lebih dingin.
Aerisyl:
"Tuan. Sadarlah."
Kael tersentak.
Kael:
"Maaf."
Aerisyl langsung kembali ke inti.
Aerisyl:
"Seperti yang sudah saya katakan. Ada sebuah organisasi yang menculik bangsawan dari berbagai kerajaan. Mereka mengubah mereka menjadi pasukan dengan energi anomali. Sekarang… penculikan mulai merambah ke rakyat."
Kael mengernyit.
Kael:
"Untuk apa mereka menculik bangsawan dan rakyat? Dan kenapa hanya fokus di kerajaan?"
Aerisyl menatap Kael, suaranya datar.
Aerisyl:
"Untuk saat ini, kasus paling aktif terjadi di wilayah kerajaan. Kota-kota kecil seperti Veyra belum terkena. Dugaan kami, mereka ingin meruntuhkan fondasi kerajaan. Membuat rakyat kehilangan harapan dan rasa aman."
Kael menghela napas, memikirkan pola itu.
Kael:
"Lalu apa yang Rei inginkan dariku?"
Aerisyl:
"Saya hanya mendapat perintah untuk mencari Anda. Rei meminta Anda membantu menyelidiki… dan menyelesaikannya."
Kael mendecakkan lidah.
Kael:
"Rei… kau sungguh membuatku kesal. Menjatuhkan masalah segede ini begitu saja."
Aerisyl menatapnya tanpa emosi.
Aerisyl:
"Jika Anda tidak bisa, tidak apa. Ini masalah dunia kami. Tidak ada kewajiban pihak luar membantu."
Kael menatap Aerisyl, lalu tersenyum tipis.
Kael:
"Aku bukan tidak mau. Aku cuma malas."
"Tapi kalau Rei yang minta… aku tidak bisa menolak. Karena dialah, dulu aku bisa selamat."
Aerisyl terdiam sesaat.
Aerisyl (dalam hati):
Aneh…
Meski menjengkelkan, pria ini mungkin memang bisa diandalkan.
Kael mengangkat tangan pelan.
Kael:
"Baik. Pertama, aku butuh peta. Atau penunjuk lokasi semua kerajaan. Aku akan bergerak."
Aerisyl langsung menatap tajam.
Aerisyl:
"Anda yakin ingin bergerak sendiri? Anda menganggap mampu melawan organisasi itu seorang diri?"
Kael mendekat—terlalu dekat.
Senyumnya nakal.
Kael:
"Kalau aku berhasil menyelesaikan masalah duniamu… bagaimana kalau kau jadi wanitaku?"
Aerisyl menegang. Rasa jijiknya jelas.
Aerisyl:
"Sepertinya saya terlalu cepat menilai Anda."
Kael tertawa kecil, mundur setengah langkah.
Kael:
"Aku bercanda. Jangan dianggap serius."
"Sekarang… berikan yang kubutuhkan."
Aerisyl mengangkat tangan. Angin berkumpul di telapak tangannya, membentuk sebuah bola kristal kecil berukir halus.
Ia menyerahkannya pada Kael.
Aerisyl:
"Ini bola pelacak. Salurkan sedikit energi. Pilih tujuan. Selama masih di Elyndor, ia akan memberi navigasi."
Kael memegangnya, menatap kristal itu seperti menemukan alat lama yang pernah ia pakai dulu.
Kael:
"…Sudah lama aku tidak memakai ini."
Aerisyl menatapnya terakhir kali.
Aerisyl:
"Kalau Anda perlu menemui saya lagi, pergilah ke Kerajaan Elf."
"Tanyakan pada Raja dan Ratu Elf."
"Mereka tahu di mana saya biasa berada."
Ia berubah menjadi angin—lenyap, meninggalkan gang sunyi itu.
Kael menghela napas, lalu menyalurkan energi.
Kristal berpendar.
Kael:
"Baiklah."
"Pertama… Kerajaan Beastkin."
Dalam sekejap, tubuhnya seperti melompat dari ruang—menghilang dari gang itu.
Keheningan kembali.
Dan dari sudut gelap gang—tempat yang seharusnya kosong—
muncul seorang gadis elf berwajah datar.
Ia menatap tempat Kael menghilang barusan tanpa berkedip, seolah sudah menunggu momen ini sejak lama.
Shiori (dalam hati):
Jadi… rencana berubah…
Tapi kalau benar orang yang mereka maksud adalah dia…
Maka… aku harus mempercepat rencanaku.
