Cherreads

Chapter 20 - Bab 20 Duel Raida dan Gezon

Malam itu, langit gelap hanya diterangi cahaya bulan. Raida berjalan pelan menyusuri jalan menuju rumahnya setelah meninggalkan rumah Amel. Saat ia menoleh ke langit, bayangan sosok tinggi muncul di atap rumah kosong di seberang jalan.

Sosok itu melompat turun dengan lincah, mendarat di tanah tanpa suara. Mata tajamnya menatap Raida. "Raida," ucapnya dingin namun tenang.

Raida berhenti sejenak, mengenali sosok itu. "Gezon," katanya singkat. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya sedikit menyipit. "Sudah lama."

Gezon tersenyum tipis, sedikit sinis. "Ya… terlalu lama. Aku hampir lupa bagaimana rasanya melihatmu tanpa menghadapi pertarungan sengit."

Raida mencondongkan badan sedikit, bersikap waspada tapi santai. "Dan aku juga hampir lupa… siapa yang memberi informasi tentang dalang di balik perang itu adalah Manusia, yang manghasut Nebros."

Gezon menelan ludah tipis, ekspresinya berubah sekejap. "Aku… hanya memberitahumu fakta. Itu saja."

Raida menatapnya lama. "Fakta yang mahal harganya. Lily dan teman-temanku… semuanya hilang karena itu." Suaranya tenang, tapi ada berat di setiap kata.

Gezon menunduk sejenak, lalu menatapnya kembali dengan nada serius. "Aku datang bukan untuk nostalgia. Aku diutus untuk menyingkirkanmu, Raida. Perintah dari Nebros."

Raida mengangguk perlahan, tetap tenang. "Aku ingat terakhir kali kita bertemu… kau sudah bilang sesuatu yang mirip."

Gezon menatapnya, seolah menilai apakah Raida benar-benar ingat. "Tapi sekarang tugas itu ada di tanganku. Aku harus melakukannya."

Raida menghela napas pelan, lalu mengeluarkan pandangannya. "Aku tidak akan lari. Kalau itu maksudmu, Tapi Gezon… aku harap kau tahu apa yang kau lakukan."

Gezon tersenyum tipis, menatap Raida sejenak sebelum menunduk dan melangkah mundur ke bayangan malam. "Tenang saja… aku tahu."

Raida tetap berdiri di jalan sepi itu, menatap ke arah tempat Gezon menghilang dengan cepat. Malam itu hening, hanya suara angin yang bergerak di antara pepohonan.

Raida tetap berdiri, menatap ke arah tempat Gezon menghilang. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah.

Gezon muncul lagi, kali ini melesat dengan kecepatan tinggi, mendarat di hadapan Raida dengan ekspresi serius. "Raida… aku tak bisa menunda lagi. Perintah Nebros harus dilaksanakan," ucapnya.

Raida menatapnya mantap, matanya tenang tapi penuh kewaspadaan. "Aku sudah memperkirakan ini. Kalau begitu, mari kita selesaikan sekarang."

Tanpa aba-aba, Gezon melesat ke arah Raida dengan pukulan cepat. Raida menangkis dengan cekatan, gerakannya halus tapi kuat. Kedua sosok itu bergerak lebih cepat dari kedipan mata di jalan malam, benturan kekuatan mereka menimbulkan semburan cahaya samar di sekitar.

Gezon menyerang dengan kombinasi pukulan dan tendangan berkecepatan tinggi, mencoba menembus pertahanan Raida. Raida menunduk, mengelak, dan sesekali membalas dengan serangan cepat, tepat pada titik lemah Gezon.

"Kau lebih kuat dari terakhir kali," ucap Gezon sambil mundur sejenak, menilai Raida.

Raida tetap fokus. "Dan aku lebih siap. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

Benturan terakhir membuat keduanya terlempar beberapa meter. Gezon mendarat di tanah dengan satu lutut menekuk, sementara Raida tetap berdiri, napasnya teratur, pandangannya tak lepas dari lawannya.

Gezon tersenyum tipis, menatap Raida. "Masih seperti dulu… tak mudah dikalahkan."

Raida mengangguk pelan. "Kalau begitu… kita lihat siapa yang lebih kuat malam ini."

Hening sejenak menyelimuti jalan. Angin malam semakin kencang, daun-daun bergesekan di tanah. Pertarungan itu bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga strategi dan pengalaman.

Di balik semua itu, Raida tetap tenang, matanya menatap Gezon dengan tekad kuat, ia tidak akan membiarkan dirinya kalah, dan tidak akan mundur dari ancaman yang pernah merenggut teman-temannya.

Raida mengambil posisi bertahan, matanya fokus pada setiap gerakan Gezon. Angin malam menyapu rambutnya, tapi wajahnya tetap tenang.

Gezon menyerang lagi, kali ini dengan kombinasi tendangan berputar dan pukulan yang diarahkan ke sisi tubuh Raida. Raida mengelak dengan cepat, memutar tubuhnya, dan memanfaatkan momentum untuk melepaskan serangan balik ke arah bahu Gezon.

Gezon tersentak sedikit, namun segera menangkis dan melompat mundur beberapa meter. "Masih sama tajamnya," ucapnya dingin, matanya menatap Raida penuh evaluasi.

Raida menghela napas pelan, kemudian menyerang dengan satu gerakan sederhana tapi cepat, memanfaatkan keseimbangan dan arah serangan Gezon. Pukulan itu tepat mengenai sisi perut Gezon, membuatnya mundur lagi.

Gezon menahan rasa sakit, lalu tersenyum tipis. "Kau memang berbeda dari terakhir kali. Kau lebih berhati-hati, lebih cepat membaca gerakanku."

Raida menatapnya tenang. "Aku belajar dari pengalaman. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang."

Keduanya bergerak cepat,lebih cepat dari kedipan mata. Setiap serangan dan pertahanan mengeluarkan energi yang memantul di sekitar jalan sepi, membuat debu dan daun beterbangan.

Gezon tiba-tiba mengayunkan serangan dengan tangan kanannya yang berenergi gelap, mencoba menembus pertahanan Raida dari atas. Raida membungkuk, menghindar, dan dengan satu gerakan tangkas, menendang sisi paha Gezon.

Gezon terhuyung, tapi cepat menahan dirinya dan melompat tinggi, melepaskan serangan gelombang energi yang menghantam tanah di dekat Raida, menimbulkan retakan kecil di aspal.

Raida melompat ke samping, memanfaatkan bayangan malam, lalu menyerang balik dengan pukulan tepat ke bahu Gezon. Benturan itu membuat Gezon jatuh terdorong ke belakang beberapa meter.

Gezon mendarat, napasnya berat, tapi matanya tetap fokus dan dingin. "Kau kuat… lebih kuat dari yang kubayangkan. Tapi perintahku jelas, Raida. Aku tidak bisa mundur."

Raida menatapnya, tenang tapi penuh tekad. "Kalau begitu… aku juga tidak akan mundur. Kita lihat siapa yang akan menang malam ini."

Hening menyelimuti jalan malam itu sejenak. Angin berembus kencang, membawa daun debu beterbangan. Kedua sosok itu berdiri saling berhadapan, tubuh mereka siap, mata mereka saling menatap.

Debu dan daun beterbangan di jalan malam saat Raida dan Gezon saling menghadapi. Pukulan dan tendangan cepat membuat kedua sosok itu tampak seperti cahaya kilat yang bergerak tanpa henti.

Tiba-tiba, dari ujung jalan, terdengar langkah cepat. Rey, Sarah, dan Zeks muncul, terengah engah. "Raida! Apa yang terjadi di sini?!" teriak Rey sambil melompat turun dari trotoar.

Sarah menatap Raida dengan panik. "Kau baik-baik saja? Kenapa ada cahaya aneh begitu?"

Zeks menyipitkan mata melihat sosok di depan Raida, bayangan tinggi dengan mata hitam yang menatap tajam. "Siapa itu, Raida? Kau kenal dia?"

Raida menoleh cepat ke arah mereka, matanya serius. "Jangan ikut campur! Jauhkan diri kalian dari sini. Ini bukan pertarungan yang kalian bisa hadapi!"

Rey maju selangkah. "Tapi… kita bisa bantu!"

Raida mengangkat tangan, menahan langkah mereka. "Tidak! Aku tidak ingin kalian terluka. Percayalah padaku. Tinggal di belakang dan awasi saja. Jangan coba-coba masuk!"

Sarah menelan ludah, matanya masih menatap Gezon dengan ketakutan. "Dia… siapa?"

Raida menggeleng, menatap Gezon sekejap. "Dia adalah Gezon, salah satu komandan musuh.Tapi percayalah, ini bahaya yang bukan untuk kalian."

Gezon, dari sisi lain, tersenyum tipis, menatap ketiga teman Raida dengan dingin. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi kehadirannya saja cukup untuk membuat mereka menahan napas.

Rey, Sarah, dan Zeks saling pandang, ragu-ragu. Mereka ingin membantu, tapi aura Raida membuat mereka mengerti mereka harus diam dan menunggu.

Raida menarik napas dalam, menyiapkan posisi bertahan, sementara Rey, Sarah, dan Zeks tetap di belakang, menonton dari jauh.

Raida dan Gezon saling menatap sejenak, napas mereka berirama dengan tegang. Tanah di sekitar mereka retak akibat benturan energi yang sebelumnya.

Gezon menyerang pertama, dengan pukulan berenergi gelap yang menghantam udara tepat di depan Raida. Raida membalas dengan satu tendangan cepat ke arah samping Gezon, membuatnya mundur beberapa langkah.

"Cepat dan terarah…" gumam Gezon, matanya menyorot tajam. "Kau bukan lawan yang bisa diremehkan."

Raida mengerutkan alis, mengambil posisi lebih rendah, lalu melepaskan serangan kombinasi cepat satu pukulan ke perut, diikuti tendangan melingkar. Gezon menangkis dengan tangannya, tapi serangan Raida memaksa dirinya mundur, membuat debu beterbangan di jalan malam.

Dari belakang, Rey menahan napas. "Astaga… seberapa kuat Raida sebenarnya.?"

Sarah menepuk bahu Zeks. "Jangan ganggu mereka! Raida bilang jangan ikut campur!"

Zeks hanya mengangguk, matanya menatap sosok misterius itu. "Tapi siapa dia? Tadi raida bilang dia komandan musuh bukan. Yang berarti dia sama dengan kedua Alien waktu itu."

Gezon menatap Raida, lalu tersenyum tipis. "Aku menghargai kemampuanmu, Raida. Tapi malam ini, aku harus menyelesaikannya."

Raida mengangguk perlahan, matanya tetap fokus. "Kalau begitu… ayo tunjukkan siapa yang lebih kuat."

Gezon melompat tinggi, melepaskan gelombang energi gelap dari kedua tangannya. Raida membalikkan tubuhnya dengan cepat, menghindar sambil menyerang balik dengan pukulan kuat ke arah sisi bahu Gezon. Benturan itu menimbulkan semburan energi, memecahkan beberapa batu di sekitar jalan.

Gezon terhuyung, tapi segera mengumpulkan kekuatan dan menyerang lagi dengan serangan beruntun tendangan cepat, pukulan berputar, dan gelombang energi yang diarahkan ke Raida dari berbagai sisi.

Raida menangkis setiap serangan dengan cepat, menggabungkan gerakan mengelak dan serangan balik yang presisi. Setiap benturan menimbulkan cahaya samar di malam gelap, seperti kilatan bayangan yang bergerak cepat.

Dari belakang, Rey, Sarah, dan Zeks menahan napas. Mereka menyaksikan Raida bergerak dengan tenang, setiap gerakannya penuh perhitungan. Namun aura Gezon tetap menakutkan, seolah setiap serangan bisa menghancurkan siapapun yang mencoba masuk ke pertarungan.

Debu dan daun beterbangan di jalan malam ketika Raida dan Gezon masih bertarung sengit. Benturan energi mereka menimbulkan cahaya samar yang menyorot bayangan di sekitar.

Tiba-tiba, dari ujung jalan, terdengar langkah pelan dan terhuyung. Amel muncul, wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lemas, masih mengenakan selimut tipis dari rumahnya. "Raida…" suaranya lemah, hampir tersedak.

Raida menoleh sekejap, matanya langsung berubah tegas. "Amel! Apa yang kau lakukan di sini!" serunya, tapi tetap bergerak cepat untuk menahan serangan Gezon yang datang dari arah samping.

Gezon menatap Amel dengan ekspresi dingin namun sejenak terkejut. "Jadi ini… gadis itu?" gumamnya, matanya menyorot tajam.

Rey, Sarah, dan Zeks segera menghampirinya, panik melihat kondisi Amel. "Amel! Kenapa kau keluar?! Bukankah kau sedang sakit!" teriak Sarah sambil berlari.

Amel menelan ludah, tubuhnya lemas. "Raida… aku… hanya ingin… memastikan dia baik-baik saja…" katanya pelan, hampir tersandung karena kakinya lemah.

Raida melesat ke samping, membentuk perisai di depan mereka, menangkis pukulan gelombang energi Gezon. "Diam di sini! Aku akan jaga kalian!"

Gezon tersenyum tipis, matanya menatap Raida. "Jadi ini alasannya kau begitu… protektif. Gadis itu penting bagimu."

Raida menatapnya datar, napasnya teratur meski serangan Gezon semakin cepat. "Dia bukan untuk kau sentuh. Jangan sekali-kali mendekatinya."

Amel menunduk sedikit, tubuhnya lemas namun matanya menatap Raida dengan khawatir. "Aku… aku tidak apa-apa… cuma ingin…"

Raida segera meraih tangannya dan menuntunnya mundur beberapa langkah. "Tidak! Aku bilang tinggal di belakang! Aku tidak akan membiarkanmu terluka."

Raida menahan napas, matanya fokus pada setiap gerakan Gezon. Dengan serangkaian gerakan cepat dan terukur, ia memanfaatkan celah pada serangan Gezon dan melepaskan pukulan keras ke sisi tubuhnya. Benturan itu membuat Gezon terpental beberapa meter, mendarat di tanah dengan satu lutut menekuk, napasnya terengah.

Gezon menatap Raida sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kau semakin kuat… tapi ini belum selesai."

Raida mengangguk pelan, matanya tetap menatap tajam. Sementara itu, Amel yang lemas ditopang oleh Sarah, Rey, dan Zeks.

"Amel, kau baik-baik saja?" tanya Sarah sambil menahan tubuh Amel agar tidak jatuh.

Rey menepuk pundak Amel dengan lembut. "Santai saja, kita di sini. Kau tidak sendirian."

Zeks menambahkan dengan nada bercanda tapi lembut, "Lihat? Kau dikelilingi tim penyelamat."

Amel tersenyum tipis meski tubuhnya masih lemas. "Terima kasih… kalian… semua."

Raida menoleh sekejap ke arah mereka, lalu menatap kembali Gezon. "Kalian tetap di belakang. Jangan ikut campur. Ini urusanku," ucapnya tegas, suaranya tenang tapi penuh kewaspadaan.

Gezon menarik napas dalam, lalu melesat kembali ke arah Raida dengan serangan yang lebih cepat dan ganas dari sebelumnya. Raida segera menyesuaikan posisinya, menghindar, menangkis, dan membalas dengan pukulan beruntun yang diarahkan ke sisi tubuh Gezon.

Benturan energi mereka menciptakan semburan cahaya samar, debu dan daun beterbangan di jalan malam. Raida bergerak dengan tenang, setiap serangannya penuh perhitungan, memastikan teman-temannya tetap aman di belakang.

Raida dan Gezon berdiri berhadap-hadapan di tengah jalan malam yang hening, debu dan daun beterbangan di udara dari benturan energi sebelumnya. Napas keduanya berat, tubuh mereka menunjukkan bekas pertarungan sengit, tapi mata Raida tetap tenang, penuh fokus.

Gezon melesat maju dengan serangan terakhir, gelombang energi gelap melesat dari tangannya. Raida mengelak dengan gerakan cepat, lalu memutar tubuhnya, melepaskan serangan balasan yang tepat ke arah dada Gezon. Benturan itu membuat Gezon terpental, mendarat di tanah dengan keras.

Gezon berusaha bangkit, wajahnya muram. "Kau… semakin kuat, Raida…" ucapnya pelan, napasnya tersengal. "Tapi aku… harus memberitahumu sesuatu sebelum aku pergi."

Raida menurunkan tangannya sejenak, menatap Gezon dengan waspada. "Katakan. Aku akan mendengarkan."

Gezon tersenyum tipis, meski kesakitan jelas terlihat. "Manusia itu… yang menjadi dalang di balik semua perang ini… selalu bersama Nebros. Itu yang membuatku kesal. Semua kehancuran, semua nyawa yang hilang… termasuk Lily dan temanmu… karena dia."

Raida menelan ludah, matanya menajam. "Aku tahu… tapi kau ingin aku melakukan apa?"

Gezon menatapnya dalam-dalam, tatapannya masih penuh amarah sekaligus penyesalan. "Singkirkan dia… Raida. Jangan biarkan manusia itu tetap bersembunyi di balik Nebros."

Raida mengangguk perlahan, suaranya tenang tapi tegas. "Aku akan mengingatnya. Dan aku akan memastikan kau tidak sia-sia bertarung malam ini."

Gezon tersenyum tipis lagi, perlahan menutup mata. "Hati-hati… tetap waspada… jangan anggap semuanya selesai begitu saja…" ucapnya, suaranya melemah.

Dengan satu tarikan napas terakhir, tubuh Gezon lumpuh, matanya tertutup. Energi gelap yang menyelimutinya meredup, lalu tubuhnya menghilang menjadi butiran cahaya berwarna gelap, meninggalkan kesunyian malam yang pekat.

Raida berdiri sejenak, menatap tempat dimana Gezon menghilang. Debu dan daun beterbangan di jalan malam, menambah kesan sunyi dan berat. Ia menarik napas dalam, menenangkan pikirannya.

Angin malam menyapu debu dan daun yang berserakan, menyisakan kesunyian yang pekat. Matanya menatap jauh ke arah langit gelap, memikirkan pesan terakhir Gezon.

"Manusia itu… dalang di balik semua ini…" gumam Raida pelan. Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba meredakan ketegangan yang masih terasa di tubuhnya.

Di belakangnya, Amel, Rey, Sarah, dan Zeks menatapnya dengan campuran kekhawatiran dan rasa lega. Amel berjalan pelan, tubuhnya masih lemas, tapi matanya menatap Raida penuh perhatian. "Raida… kau baik-baik saja?"

Raida tersenyum tipis, menenangkan dirinya. "Aku baik, Amel. Gezon… sudah tidak akan mengganggu kita lagi."

Rey mengerutkan dahi. "Tapi… siapa manusia itu sebenarnya? Kenapa bisa memulai semua perang ini?"

Raida menggeleng pelan, wajahnya serius. "Aku tidak tahu semua detailnya. Tapi aku tahu satu hal, dia selalu berada di belakang Nebros. Dan itu berarti ancamannya masih ada."

Sarah menghela napas, menatap Raida. "Jadi… apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Raida menatap mereka satu per satu, matanya menyalakan tekad yang kuat. "aku akan tetap di bumi sementara waktu. Aku akan memastikan kaliam aman. Tapi aku juga harus menyelidiki manusia itu… dan menghentikannya sebelum lebih banyak nyawa hilang."

Zeks menepuk pundak Raida, setengah bercanda, setengah serius. "Kau memang selalu mengambil beban terbesar, ya."

Raida menatapnya dengan tenang. "Itulah yang harus kulakukan. Aku tidak bisa membiarkan ancaman ini terus berjalan… dan aku tidak bisa membiarkan siapa pun yang aku pedulikan terluka lagi."

Zeks menepuk pundak Raida, setengah bercanda, setengah serius. "Kau memang selalu mengambil beban terbesar, ya."

Raida menatapnya dengan tenang. "Itulah yang harus kulakukan. Aku tidak bisa membiarkan ancaman ini terus berjalan… dan aku tidak bisa membiarkan siapa pun terluka lagi."

Amel berjalan mendekat, menaruh tangannya di lengan Raida. "Raida… kau selalu melindungi kami, tapi kau juga harus jaga dirimu. Jangan sampai aku harus khawatir lagi."

Raida menatap Amel sejenak, lalu tersenyum tipis. "Aku akan hati-hati… tapi malam ini, aku belajar satu hal lagi. Ancaman terbesar tidak selalu datang dari yang terlihat. Kadang, yang paling berbahaya… adalah yang bersembunyi di balik kekuasaan dan tipu daya."

More Chapters