Langit malam menyelimuti kota dengan tenang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di trotoar. Di atap sebuah gedung tinggi, Raida berdiri sendirian.
Angin meniup pelan rambutnya. Tatapannya lurus ke cakrawala, namun pikirannya jauh lebih dalam dari itu. Kota di bawahnya tampak damai kendaraan bergerak perlahan, suara samar kehidupan terdengar seperti bisikan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Beberapa langkah di belakangnya, Fey muncul tanpa suara. "Kau sering berdiri diam seperti itu?" tanyanya santai.
Raida tidak menoleh. "Kadang."
Fey ikut memandang kota. "Zaman ini berisik."
"Zamanmu juga," balas Raida singkat.
Fey terkekeh pelan, lalu duduk di tepi atap dengan kaki menggantung. "Manusia berubah. Tapi pola mereka tidak."
Raida akhirnya duduk di sisi berlawanan. Tidak ada permusuhan. Tidak ada ketegangan. Hanya dua sosok kuat yang mengamati dunia yang sama dengan sudut pandang berbeda.
"Apa kau menyesal terbangun?" tanya Raida.
Fey berpikir sejenak. "Belum tahu. Tapi setidaknya… tidak membosankan."
Angin berhembus lebih kencang, membuat pakaian mereka berdesir ringan.
Di tempat lain, di dalam kamar Amel, lampu meja menyala lembut. Buku-buku terbuka di atas meja belajar, tapi pensil di tangannya berhenti bergerak.
Ia menatap kosong ke arah jendela.Bayangan duel tadi sore terlintas kembali di benaknya benturan energi, tatapan Fey, dan yang paling mengganggu… perubahan wajah Raida.Amel menghela napas kecil.
Di ranjangnya, Sarah duduk bersila. "Kau memikirkannya lagi?"
Amel tersenyum tipis. "Kelihatan ya?"
"Sedikit." balas sarah
Amel menutup bukunya perlahan. "Aku hanya merasa… ada sesuatu yang belum kita tahu."
Sarah menatapnya beberapa detik,lalu berbaring telentang menatap langit-langit. "Kalau ada sesuatu, kita akan tahu nanti."
Amel mengangguk pelan. Ia mematikan lampu meja. Kamar menjadi lebih gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Di luar, malam semakin larut.
Kembali ke atap gedung, Fey berdiri.
"Aku akan berkeliling sebentar," katanya.
Raida mengangguk. "Jangan terlalu jauh."
Fey menyeringai. "Kau tidak perlu khawatir?"
Raida tidak menjawab.
Dalam satu langkah ringan, Fey menghilang ke kegelapan kota.
Raida tetap di sana beberapa saat lebih lama. Matanya terpejam, napasnya stabil.
Jauh di atas, bintang-bintang bersinar tenang, seolah tidak peduli pada apa pun yang akan terjadi.
Beberapa menit kemudian, Raida menghilang dari atap itu.
Pagi datang dengan tenang.
Bel sekolah berbunyi, suara langkah kaki memenuhi lorong.
Amel berjalan berdampingan dengan Sarah, sementara Rey dan Zeks menyusul dari belakang.
Di kelas, Amel duduk di dekat jendela. Cahaya matahari pagi jatuh lembut di mejanya.
Tangannya menulis, rapi dan pelan. Sesekali ia berhenti, menatap keluar, lalu kembali fokus tanpa ekspresi berlebihan.
Sarah mencatat dengan cepat, sesekali melirik Amel, memastikan temannya baik-baik saja.
Rey bersandar di kursinya, memutar pulpen di jari, memperhatikan papan tulis sambil sesekali tersenyum kecil.
Zeks menguap, lalu menegakkan badan saat guru menoleh ke arahnya.
Tidak ada yang aneh. Dan justru karena itu, semuanya terasa berharga.
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk sekolah, Raida dan Fey berdiri di depan sebuah lembah tersembunyi.
Kabut tipis menyelimuti area itu. Tebing-tebing batu menjulang tinggi, dipenuhi ukiran kuno yang nyaris terhapus waktu.
"Tempat ini," gumam Fey pelan.
Raida mengangguk. "Peninggalan era Raja Pertama."
Mereka melangkah turun perlahan. Tanah di bawah kaki mereka terasa berbeda, lebih padat, lebih tua.
Di tengah lembah berdiri reruntuhan bangunan melingkar. Pilar-pilar patah, sebagian tenggelam ke tanah. Simbol kuno terpahat di permukaannya, samar bercahaya ketika mereka mendekat.
Fey menyentuh salah satu ukiran.
Cahaya itu berdenyut.
"Masih aktif," katanya singkat.
Raida melangkah ke pusat lingkaran. Di sana terdapat altar batu retak, dengan cekungan berbentuk kristal di tengahnya kosong.
"Kristal Kehidupan pernah berada di sini," ucap Raida tenang.
"tapi sekarang tidak," balas Fey.
Angin tiba-tiba berhenti. Kabut menebal.
Tanah bergetar pelan.
Raida dan Fey saling berpandangan tanpa kata.
Retakan menyebar dari bawah altar.
Suara berat dan dalam bergema dari bawah tanah.
BOOOOM.
Permukaan tanah meledak terbuka.
Sosok raksasa bangkit dari kedalaman. Tubuhnya terbuat dari batu hitam dan akar yang membatu, matanya menyala hijau redup. Retakan cahaya menjalar di seluruh tubuhnya seperti urat energi purba.
Makhluk itu menghembuskan napas berat, debu beterbangan.
Fey tersenyum tipis. "Sepertinya kita membangunkan penjaga."
Raida melangkah maju. "Cepat saja."
Tanpa aba-aba, monster itu mengayunkan lengannya.
Tanah hancur saat pukulannya menghantam.
Raida menghilang sekejap, muncul di atas bahu makhluk itu dan menghantam kepalanya dengan pukulan lurus.
Retakan menyebar
Fey melesat dari sisi lain, telapak tangannya memancarkan energi emas, menghantam bagian dada makhluk itu.
Dentuman keras menggema di lembah.
Makhluk itu meraung, gelombang tekanan menyapu sekitar, menghancurkan sisa pilar.
Raida mendarat dengan ringan. "Keras."
Fey menyeringai. "Lumayan."
Monster itu membuka mulutnya, cahaya hijau terkumpul di dalamnya.
Sinar energi ditembakkan ke arah mereka.
Raida mengangkat satu tangan, menahan sinar itu dengan perisai energi tipis. Tanah di belakangnya terbelah akibat tekanan.
Fey melompat tinggi, berputar di udara dan menghantam sinar itu dari samping, memecah arahnya.
Ledakan terjadi di langit kabut.
Monster itu bergerak lebih cepat dari ukurannya. Tangannya menghantam Fey, membuatnya terlempar menabrak tebing.
Batu runtuh.
Fey keluar dari reruntuhan dengan tawa kecil. "Sudah lama tidak merasakan itu."
Raida tidak menjawab. Tubuhnya memancarkan aura tipis.
Dalam satu langkah, ia berada tepat di depan inti cahaya di dada makhluk itu.
Pukulannya kali ini berbeda. Lebih padat. Lebih dalam.
BOOOM.
Cahaya di dada makhluk itu bergetar keras.
Fey muncul di belakangnya, kedua tangannya bersinar terang. Ia menghantam titik yang sama.
Retakan cahaya menyebar cepat ke seluruh tubuh makhluk itu.
Raungan terakhir menggema sebelum tubuh raksasa itu runtuh menjadi bongkahan batu tak bernyawa.
Debu perlahan mengendap. Lembah kembali sunyi.
Fey menghembuskan napas panjang. "Penjaga tanpa tuan."
Raida menatap altar yang kini retaknya semakin lebar.
Dari dalam cekungan kosong, serpihan kecil kristal bercahaya naik perlahan.
Fey mengulurkan tangan, menangkap serpihan itu.
"Ini bukan Kristal Kehidupan," katanya. "Hanya pecahan memori."
Raida mengangguk. "Cukup untuk petunjuk."
Serpihan itu memancarkan bayangan samar peta, garis energi yang mengarah ke tempat lain.
Fey tersenyum tipis. "Perburuan dimulai."
Raida memandang reruntuhan yang hancur di sekitar mereka. "Dan kita baru saja memberi sinyal."
Jauh di tempat lain, di ruang gelap tanpa jendela, mata menyala merah terbuka perlahan. "Segel pertama… telah disentuh."
Kembali ke sekolah, jam pelajaran terakhir hampir selesai.
Rey menopang dagunya. "Entah kenapa aku merasa gelisah."
Zeks mengangguk pelan. "Aku juga."
Sarah menoleh ke Amel.
Amel terdiam, menatap keluar jendela.
Langit siang terlihat biasa. Awan bergerak pelan.
Namun di dalam dadanya, energi itu kembali bergetar samar.
Seolah sesuatu jauh di sana baru saja bergerak.
Bel pulang berbunyi. Mereka berjalan keluar gerbang sekolah bersama.
"Apa kita latihan lagi sore ini?" tanya Zeks.
"Tentu," jawab Sarah tegas.
Rey menyeringai. "Aku tidak mau kalah lagi dari manusia kuno itu."
Amel tersenyum, tapi pikirannya melayang.
Di suatu tempat jauh, Raida berdiri di tepi tebing lembah kuno yang telah hancur.
Fey berdiri di sampingnya.
"Kalau ini hanya penjaga kecil," ujar Fey ringan, "aku penasaran seperti apa penjaga sebenarnya."
Raida menatap langit yang mulai berubah jingga. "Kita akan tahu."
Angin kembali bertiup.
Di bawah mereka, serpihan altar perlahan memudar menjadi debu.
Perburuan Kristal Kehidupan telah dimulai.
Dan tanpa mereka sadari, sesuatu yang lebih tua dari reruntuhan itu sendiri… mulai terbangun.
