Eps 1 : Kelahiran Kembali Sang Bayangan
Hujan deras mengguyur malam itu, membasahi aspal kota yang berkilauan seperti permata basah. Di balik tumpukan peti kemas di pelabuhan gelap, terdengar suara napas berat bercampur rasa sakit.
Rama, sosok yang dikenal dunia bawah tanah sebagai "Shadow of Evil"—saat ini sedang berbaring bersandar pada tumpukan karung.
Di dadanya, ada lubang peluru yang masih mengucurkan darah segar. Wajahnya yang dingin dan tajam kini dipenuhi ekspresi tak percaya. Di hadapannya berdiri sosok yang selama ini ia anggap saudara seperjuangan, orang yang ia percayai sepenuh hati.
"Maaf, Rama. Target kali ini terlalu mahal harganya. Dan kau... kau sudah terlalu hebat, membuatku merasa terancam," ujar teman itu dengan senyum sinis, diikuti suara langkah kaki yang menjauh meninggalkan Rama sekarat.
Rama mencengkeram dadanya erat-erat. 'Dikhianati... oleh orang yang paling kupercaya. Lucu sekali. Sepanjang hidupku aku memanipulasi kematian orang lain dengan membaca niat jahat dimatanya, tapi akhirnya aku mati karena tak mampu memahami niat busuk dalam mata seorang saudara'.
Pandangannya mulai kabur, suara hujan seolah menjauh, hingga akhirnya kegelapan total menyelimuti kesadarannya.
"Arghh!"
Rama tersentak bangkit, kakinya otomatis menendang ke belakang dan tubuhnya berguling menjauh dari posisi semula dalam satu gerakan cair dan terlatih. Udara yang ia hirup terasa berbeda—lebih tipis, berdebu, dan membawa aroma tanah basah bercampur dupa.
Dalam hitungan detik, matanya yang tajam mulai memindai seluruh ruangan dengan kecepatan dan ketelitian yang tidak wajar. Ini bukan lagi insting orang awam, ini adalah kebiasaan hidup mati yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Ruangan seluas 3x4 meter. Dinding tanah dengan ketebalan standar, tidak bisa ditembus peluru tapi cukup kuat untuk menahan benturan fisik. Di sudut kiri atas, ada lampu minyak yang menyala remang.
"Sumber cahaya tunggal. Ini menciptakan dua titik buta besar di sisi kanan dan belakang pintu. Sangat rawan untuk penyergapan," batinnya berputar cepat.
Matanya beralih ke atap.
"Langit-langit kayu berkualitas rendah. Papan-papan tua, sudah lapuk. Estimasi: butuh maksimal tiga tendangan keras untuk membuat lubang cukup besar untuk lewat. Jalur evakuasi alternatif pertama."
Kemudian pandangannya jatuh ke lantai dan struktur bangunan.
"Jendela di sebelah timur, jarak ke tanah di luar sekitar 3 meter. Tanah lembab, pendaratan aman. Tapi posisinya menghadap jalan utama. Risiko terlihat tinggi. Pintu utama di depanku, jarak 2,5 meter. Akses tercepat, tapi juga paling mungkin dijaga."
Bukannya kontainer pelabuhan, ia kini berada di sebuah ruangan kecil yang sederhana dengan dinding tanah dan lantai kayu yang sudah usang. Pakaian yang dikenakannya pun bukan jaket taktis hitam kebanggaannya, melainkan seragam katun berwarna abu-abu yang longgar dan terlihat murahan.
Dengan refleks seorang pembunuh ulung, Rama langsung meraba pinggang dan punggungnya mencari senjata, namun kosong melompong. Tubuhnya... terasa asing. Lebih kurus, lebih lemah, dan otot-ototnya tidak sekeras tubuh aslinya. Namun, insting tajamnya belum hilang. Ia langsung waspada, mengamati sekeliling mencari potensi bahaya.
"Apa ini? Di mana aku?" gumamnya pelan. Suaranya pun terdengar berbeda.
Saat ia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum mati, tiba-tiba rasa pusing yang hebat menyerang kepalanya. Seolah ada ribuan informasi yang dipaksa masuk ke dalam otaknya. Gambar-gambar, nama-nama, dan alur cerita mengalir deras di benaknya.
Secara tiba-tiba, sebuah sampul buku yang sudah agak usang melayang di imajinasinya. Tulisan emas yang besar terpampang jelas di sana:
"KEBANGKITAN SANG JENDERAL"
Rama tertegun. Judul itu... dia ingat! Itu adalah novel sejarah berbalut intrik politik yang sempat viral beberapa waktu lalu.
Novel yang ceritanya berpusat pada perebutan kekuasaan, di mana tokoh antagonisnya, Pangeran Murong Ze, sempat menguasai segalanya sebelum akhirnya dikalahkan oleh sang tokoh utama, Gu Changfeng.
"Tunggu... jadi aku sekarang ada di dalam cerita itu?" batinnya mulai gelisah namun tetap terkontrol.
Informasi tentang tubuh yang ia tempati pun bermunculan. Nama pemilik tubuh ini adalah Li Daiwang, seorang prajurit rendahan di Istana Kerajaan Dataran Timur. Sosok yang namanya hampir tidak pernah disebut dalam cerita asli kecuali sebagai latar belakang atau pengisi kerumunan. Sebuah NPC murni yang nasibnya bisa berakhir tragis kapan saja jika terseret konflik tokoh utama.
"Li Daiwang... prajurit rendahan? Hah, dari pembunuh bayaran kelas kakap turun pangkat jadi 'orang tak penting'?" Rama mencibir dalam hati, meski wajahnya tetap datar.
Ia bangkit berdiri, menatap bayangannya di sebuah baskom air kayu di sudut ruangan. Wajah di sana terlihat muda, polos, dan lembut, sangat bertolak belakang dengan wajah dingin dan bopeng bekas luka pertempuran yang biasa ia miliki.
"Tapi untunglah..." pikirnya lagi. "Kalau aku ini tokoh yang tidak penting, berarti aku tidak akan jadi sasaran pembunuhan kan? Selama aku tetap diam dan tidak menonjolkan diri, aku bisa bertahan hidup di dunia aneh ini."
Sebagai seseorang yang pernah mati karena dikhianati, prioritas utamanya sekarang jelas: Bertahan hidup.
Langit tiba-tiba bergemuruh.
Seketika, aliran hangat menjalar di sekujur tubuhnya, menyisakan pengetahuan mendetail tentang aturan kerajaan, hierarki jabatan, dan wajah-wajah tokoh penting dalam novel itu muncul di kepalanya. [Wawasan Dasar].
kepala nya kembali berdenyut kencang.
Rama menghela napas panjang, lalu mengepalkan tangannya. Tatapan matanya yang tadinya bingung perlahan berubah kembali menjadi tajam dan penuh perhitungan.
"Baiklah... Permainan baru dimulai. Mulai hari ini, aku bukan lagi Rama si pembunuh bayaran. Aku adalah Li Daiwang... seorang prajurit rendahan yang akan bertahan hidup, apa pun caranya."
Di luar jendela kecil kamarnya, terdengar suara lonceng malam dari arah istana, menandakan bahwa roda nasib di Kerajaan Dataran Timur terus berputar, dan sosok "tak penting" ini baru saja bangkit untuk mengubah alurnya.
****
Eps 2 : Topeng Sang Figuran
Kriiiek.
Suara pintu kayu yang berdecit memecah kesunyian.
Tubuh Rama menegang. Telapak tangannya otomatis terbuka, siap mencekik atau menangkis. Lututnya sedikit menekuk, bobot tubuh bergeser ke kaki belakang—posisi ideal untuk melesat maju atau menghindar ke samping.
Butuh satu detik penuh bagi otaknya untuk mengingatkan: Kau bukan Shadow of Evil lagi. Kau Li Daiwang. Prajurit. Rendahan. Lemah.
Ia memaksa bahunya turun. Melunakkan tatapannya. Menjadi tak berbahaya.
"Li Daiwang! Masih juga melamun di situ? Cepat bersiap! Sebentar lagi giliran kita jaga di Aula Utama. Jenderal Gu Changfeng baru saja kembali dari ekspedisi. Kau mau kepalamu digantung di tiang gerbang karena terlambat menyambutnya?!"
Wajah itu. Postur itu. [Wawasan Dasar] bekerja lebih cepat dari kesadarannya.
Zhang Hu. Sersan. Kasar. Bukan musuh.
Ancaman: Rendah. Tapi bisa menyulitkan kalau dicurigai.
Cukup. Untuk menghadapi orang seperti ini, informasi sebatas itu sudah lebih dari cukup.
Bahu turun. Kepala menunduk. Lutut rapat.
Dalam satu tarikan napas, postur pembunuh bayaran itu lenyap, digantikan sosok kikuk yang bahkan tak berani menatap mata atasannya.
"I-iya, Komandan Zhang." Suaranya bergetar, tipis. "S-saya segera siap. Maaf... tadi agak pusing."
KRAK.
Pintu tertutup. Langkah kaki menjauh.
Satu... dua... tiga.
Di hitungan ketiga, topeng itu rontok. Wajah ketakutan Li Daiwang menguap, menyisakan rahang yang mengeras dan mata yang kembali dingin seperti baja.
'Jika semua orang di istana ini semudah dia untuk dibaca... mungkin bertahan hidup tidak akan sesulit yang kukira.' Batinnya.
Lemari kayu kecil di sudut ruangan. Isinya menyedihkan—seragam cadangan yang sudah luntur di bagian siku, ikat pinggang kulit yang mengelupas, dan sepasang sepatu usang dengan sol yang hampir jebol.
Jadi begini standar hidup prajurit rendahan.
Ia mulai mengenakannya. Gerakannya cepat dan efisien—terbiasa memasang tactical gear dalam kondisi gelap dan waktu terbatas. Tapi kali ini ia sengaja memperlambat sedikit. Memastikan tidak ada gerakan yang terlalu luwes. Terlalu terlatih. Terlalu... mematikan.
Lambat. Kikuk. Seperti orang biasa yang baru bangun tidur.
Saat mengencangkan ikat pinggang, ia merasakan pinggangnya yang dulu berotot kini nyaris tanpa lemak maupun daging.
Tubuh ini butuh asupan. Otot tipis begini tidak akan selamat dari satu serangan pisau pun.
Ia melempar pandangan terakhir ke seluruh ruangan.
Keamanan: Nol.
Kunci: Tidak ada.
Privasi: Hampir tidak ada.
Kesimpulan: Jangan simpan apa pun yang penting di sini.
Tapi setidaknya... posisi ini menempatkannya di dekat pusat kekuasaan. Dekat dengan informasi. Dan yang terpenting: dekat dengan tokoh-tokoh yang harus ia hindari.
Ironis. Tempat paling berbahaya justru jadi tempat paling aman untuk bersembunyi.
Sebelum menyentuh gagang pintu, ia berhenti.
Menarik napas dalam. Mengembuskannya perlahan.
Di dalam dadanya, Shadow of Evil masih meraung ingin keluar. Ingin mengendus ancaman. Ingin bersiap membunuh.
Tapi di permukaan kulitnya, Li Daiwang harus tetap gemetar.
Satu tarikan napas untuk membunuh dirimu sendiri. Cukup.
Ia membuka pintu. Wajahnya kembali menjadi kanvas kosong seorang prajurit rendahan yang penakut.
"Oke." Suaranya nyaris tak terdengar. "Aula Utama. Pusat panggung. Tempat para aktor utama berkumpul."
Ia melangkah keluar.
Di kejauhan, Istana Kerajaan Dataran Timur menjulang megah diterpa cahaya fajar. Atap-atap emasnya berkilauan, menjanjikan kemuliaan bagi siapa pun yang berhasil menaklukkannya.
Tapi bagi Rama—yang kini hanyalah Li Daiwang sang figuran—istana itu bukan panggung untuk bersinar.
Itu adalah panggung untuk bertahan hidup.
Semoga hari ini Gu Changfeng sedang tidak ingin membantai prajurit rendahan hanya karena salah lihat.
Ia mengikuti langkah Zhang Hu menuju Aula Utama, menyembunyikan sepasang mata pembunuh di balik wajah seorang pengecut.
****
Eps 3 : Ujian Pertama di Aula Naga
Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor istana. Dinding-dinding batu berukir naga dan burung phoenix menjulang di kiri-kanan, menjebak langkah siapa pun yang berjalan di antaranya dalam rasa kagum sekaligus takut.
Semakin mendekati Aula Utama, keramaian semakin terasa. Para pejabat tinggi berbaris rapi—jubah sutra berwarna-warni, topi bersayap, dan ikat pinggang giok yang berkilau di bawah cahaya lentera. Mereka adalah orang-orang yang menggerakkan Kerajaan Dataran Timur.
Dan di belakang mereka semua, berjalan seorang prajurit rendahan bernama Li Daiwang. Tak terlihat. Tak penting. Persis seperti yang ia inginkan.
Rama mengikuti di belakang Zhang Hu. Kepala menunduk dalam. Rambutnya yang acak-acakan sengaja ia biarkan menutupi sebagian wajah.
Tapi di balik helai rambut itu, matanya bekerja liar. Memindai. Mengenali. Menganalisis.
Pejabat Kementerian Ritus. Menteri Keuangan. Perdana Menteri Xiao Yuan.
Wajah-wajah itu berkelebat di benaknya, cocok dengan data dari [Wawasan Dasar].
Lalu ia memandang naik ke atas.
Pandangannya terhenti seketika.
Di atas singgasana setingkat lebih tinggi dari lantai aula, duduk seorang wanita dalam gaun naga hitam keemasan. Posturnya tegak sempurna. Wajahnya tenang, tapi matanya—sepasang mata itu bergerak lambat menyapu ruangan seperti elang yang mengawasi mangsanya dari ketinggian.
Wei Qingwan. Maharani Kerajaan Dataran Timur.
[Wawasan Dasar] memberinya informasi lengkap tentang wanita ini. Tapi tidak perlu data untuk tahu satu hal sederhana: wanita itu berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari pedang mana pun di ruangan ini.
Di sisinya, Kasim Hong Dehai berdiri dengan mata yang sama waspadanya. Dua pasang mata. Satu ancaman.
'Tokoh utama wanita. Cantik. Mematikan. Satu langkah salah, dan kepalaku akan menghiasi tiang gerbang sebelum matahari terbenam.'
Suara genderang besar bergemuruh. Bisik-bisik di ruangan mati seketika.
"JENDERAL GU CHANGFENG DAN PASUKANNYA TELAH TIBA!"
Pintu utama yang menjulang setinggi tiga orang itu terbuka lebar.
Sesosok pria jangkung melangkah masuk. Baju zirah peraknya masih berdebu—tanda ia baru saja turun dari medan perang. Aura kemenangan memancar dari setiap langkahnya. Wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dan tatapan matanya menusuk seperti ujung tombak.
Di pinggangnya, pedang besar tergantung dalam posisi setengah terhunus. Seolah ia baru saja menggunakannya, atau siap menggunakannya kapan saja.
Gu Changfeng. Tokoh utama. Pahlawan besar Dataran Timur.
'Dan orang yang paling harus kuhindari sepanjang cerita ini.'
Tapi saat melewati barisan prajurit rendahan, langkah Gu Changfeng tiba-tiba terhenti.
Matanya—sepasang mata elang yang telah melihat ribuan pertempuran—menatap tajam ke satu titik. Lebih tepatnya... ke lantai di belakang Rama.
"Berhenti."
Satu kata. Tidak keras. Tapi seluruh aula seketika membeku. Bahkan genderang yang tadi bergemuruh kini diam seribu bahasa.
Jantung Rama berdegup. Sekali. Dua kali. Terlalu cepat.
Tenang. Kendalikan napas.
Ia tidak berbalik. Tidak boleh berbalik. Prajurit rendahan yang penakut tidak akan berani menatap mata sang jenderal. Tapi telinganya menangkap suara itu—gesekan halus logam di atas lantai batu. Tepat di belakang tumitnya.
Apa itu?
Perlahan, sangat perlahan, ia menurunkan pandangannya tanpa menggerakkan kepala. Matanya melirik ke bawah, melewati bahunya sendiri.
Di sana. Tergeletak di atas lantai. Sebuah pisau lempar runcing dengan gagang berukir naga emas.
Benda itu tidak ada sedetik yang lalu.
'Jebakan. Atau... kelalaian yang hampir mustahil terjadi di istana seketat ini. Tidak peduli. Yang penting: benda itu ada di dekatku. Dan di dunia politik istana, berada di dekat barang bukti sama dengan mengaku bersalah.'
Zhang Hu di sampingnya menegang. Wajahnya yang tadi merah karena panas, kini berubah pucat. "S-siapa?!" suaranya bergetar. "Siapa di antara kalian yang—"
Tapi Gu Changfeng sudah melangkah maju. Langkahnya berat. Terukur. Setiap injakan sepatu perangnya menggema di lantai batu.
Ia berhenti tepat satu meter dari barisan prajurit rendahan. Matanya menyapu mereka satu per satu. Lalu berhenti di pisau itu.
"Pisau itu." Suaranya rendah, tapi setiap orang di aula mendengarnya. "Milikku. Hilang saat aku turun dari kuda tadi."
Ia mendongak. Tatapannya kini mengunci barisan prajurit di depannya.
"Jadi... siapa di antara kalian yang berani menyentuh milik Gu Changfeng?"
Seluruh pandangan tertuju pada barisan prajurit rendahan itu. Para pejabat. Para pengawal. Kasim Hong Dehai. Bahkan Maharani Wei Qingwan menyipitkan matanya dari atas singgasana.
Dan pisau itu... masih tergeletak tepat di belakang kaki Rama.
'Posisi terjepit.'
Keringat dingin menetes di pelipisnya. Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama tertidur mulai bergerak. Bukan panik. Bukan takut.
Itu adalah ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah ratusan kali menghadapi kematian.
'Kalau aku diam, aku tersangka. Kalau aku bereaksi berlebihan, aku mencurigakan.'
Matanya melirik ke bawah sekali lagi. Ke pisau itu. Ke gagang berukir naga. Ke sudut kemiringannya di lantai.
'Tapi... sudut jatuhnya tidak masuk akal. Pisau seberat ini tidak mungkin jatuh dalam posisi itu kecuali... seseorang menjatuhkannya dari arah kananku. Bukan dari belakang.'
Dan dalam sekejap, ia tahu apa yang harus dilakukan.
Perlahan—sangat perlahan, seolah tubuhnya gemetar ketakutan—Rama mulai membungkuk. Tangannya terulur ke arah lantai.
Bukan untuk mengambil pisau itu.
Tapi untuk sesuatu yang lain.
'Ujian pertama. Jangan gagal.'
****
