Cherreads

Chapter 2 - Synthetic Anomaly, Get Ready

Raka menekan tombol samping, mengirimkan sekaligus menerima paket data berfrekuensi khusus—sebuah 'pulse' yang dilapisi energi Essence murni, disetel pada frekuensi yang hanya dikenali alat itu. Biasanya, alat seperti ini hanya memiliki fungsi seperti memperlancar komunikasi serta transfer data otomatis...Namun dengan sedikit modifikasi ilegal dari Raka, batasan itu telah menjadi garis yang kabur.

 Sebuah peta replika holografik meletus dari ujung alat itu, memproyeksikan grid jalanan 4th District di atas telapak tangannya. Titik merah berkedip—lokasi apartemennya di Blok 7.

Titik-titik kuning bergetar acak, menandakan aktivitas residual dengan tingkat anomali > 2 yang terekam.

> ACCESSING GPS...

> LOCATION FOUND: METROSTREET, BLOK 4

> DESTINATION: APARTEMEN, BLOK 7

300 METERS AWAY

> ESSENCE DENSITY: HIGH

> ANOMALY LEVEL: 4,5

-----------------------------------------

 Raka menatap data-data yang mengambang itu dengan saksama—pikirannya mencoba merekayasa berbagai skenario-skenario yang mungkin terjadi, dan kini dengan Eizo sebagai tangan kanannya, jalannya 'permainan' untuk 10 menit kedepan berada dalam jangkauannya.

 Meski demikian, aktivitas dua spirit teritorial jelas bukan sesuatu yang diinginkan seseorang yang sedang terburu-buru menuju apartemennya.

 Grid holografik itu bergetar di telapak tangan Raka, seolah mencoba memproses update pada data environmentnya. Dua titik kuning yang awalnya stabil, mulai terlihat bergetar. Sial...

>ANOMALY SPIKE DETECTED

>ESSENCE FLUCTUATION: UNSTABLE

>TERRITORIAL OVERLAP: CONFIRMED

-----------------------------------------

 "Overlap?! Yang bener?!" gumam Raka, rahangnya menegang—kemungkinan terburuk yang biasanya cuman ada dalam candaannya kini bangkit, menubuh di depan matanya. "Seriusan rebutan wilayah sekarang? Aduhhh!!"

 "Cihh...Lagi ga bisa Leap langsung kah ke apartemen?"

 Di atas pundaknya, bayangan tipis mulai mengental. Eizo akhirnya muncul, mata spiritualnya menyala redup, seperti kucing di kegelapan. "Kamu ingin eksistensi ku memudar? Energi yang diperlukan terlalu banyak untuk hal sepele seperti ini."

 "Kamu selalu memilih jalan tercepat. Asal kamu tahu, kecepatan dan kecerobohan seringkali berada dalam lingkup ruang yang sama," sindir Eizo, suara berlumur dengan lapisan antara sarkasme dan sinisme.

 "Udah diem ga usah banyak cocot! Scan dulu yang penting!" hardik Raka, merasakan perpaduan antara panik, bingung, dan...semangat bercampur dalam dirinya. Keringat dingin dapat terlihat di ujung hidungnya sementara ia mencoba mengotak-atik Modulator, berusaha me-refine ulang kesimpulan yang telah ia rekayasa dalam badai pikirannya.

 "Ya, ya, ya, terserahmu, 'tuan'..."

 Eizo menghela napas, mencoba memperdalam synchron-state yang sedang mereka jalani saat ini demi kelancaran aliran pikiran di antara mereka berdua. Namun, tepat sebelum aliran pikiran mereka mulai menyatu lebih dalam—

KRAKKK!!

 Retakan kecil dapat terdengar menggema di udara dalam sepersekian detik, berasal dari bangunan sebelah kiri jalan—bagaikan kaca tak kasat mata yang dipecahkan secara paksa dari sisi lain. Dan dalam sepersekian detik itu juga, beep peringatan Modulator Raka mengamuk. "Ha-?" Perkataannya tertahan di tenggorokan begitu ia sadar akan situasinya. Gawat.

 "EIZO!!" Nama itu menggema di antara beep peringatan. Sebuah perintah.

 Satu detik suasananya hening, detik selanjutnya dinding rumah bata di sebelahnya seolah meledak akibat nafasnya sendiri.

 Tekanan hebat dari dalam mendorong permukaan tembok itu hingga mencembung, sebelum—DUARR!!—batu bata dan semen tercerai berai menjadi peluru-peluru tajam yang melesat ke berbagai arah. Debu kelabu pekat menyambar keluar, menyelimuti area gang terbengkalai itu dalam kegelapan yang kental.

 Debunya masih berterbangan. Raka sudah bergerak tanpa sadar sepenuhnya akan apa yang terjadi.

 Tubuhnya berputar, punggungnya membelakangi sumber ledakan. Matanya menyipit, menyapu area sekitar, mencoba mengidentifikasi ancaman lain yang mungkin bersembunyi di depan mata. Lututnya sedikit tertekuk—posisi siap lari atau serang balik. Di saat itu juga, Modulatornya sudah mengirim pulse kedua.

> ATTACK SOURCE: LEFT

> DISTANCE: 5,6 METERS

> TYPE OF ATTACK: EXPLOSIVE, PHYSICAL, PRESSURE

> CURRENT STATE: UNHARMED

> ANALYSIS: A BRUTE-CLASS SPIRIT SPIRIT ATTACK

-----------------------------------------------

 Semua itu masuk kurang dari dua detik. Sebuah efisiensi yang tak akan ditemukan pada Modulator yang beredar di pasaran umum oleh alat modifikasi miliknya. Raka menatap data itu, menyeka keringat di wajahnya.

"Fiuhh...Untung gw aman..." Matanya mengerjap beberapa kali, seolah kata 'aman' terasa janggal di kepalanya dalam situasi seperti ini. "...Lah?"

Baru setelah itulah Raka sadar: dia tak terluka.

 Ia menoleh ke bawah, lalu ke depan. Bayangannya mengental pada satu titik, tepat di antara dirinya dan puing-puing itu—penghalang solid hitam pekat berdiri kokoh mengitarinya, menetralisir semua impact ledakan sebelumnya. Eizo...Gitu, ya...?

 Eizo menarik diri ke dalam bayangan Raka, mendengus puas. Jika saja dia punya mulut, Raka pasti akan melihat seringai tersombong yang pernah ada dalam hidupnya. Ia sadar betul akan hal itu. "Heh, jangan salah sangka dulu...Ini semua kulakukan demi botol cuka yang kau janjikan itu."

Raka menghela nafas lega, tapi belum sempat membalas ucapannya—

KRAKKK!

 Suara besar lain muncul, kali ini dari dalam lubang di tembok tadi. Pandangan Raka menajam dalam refleks, memfokuskan perhatiannya pada apa yang mungkin keluar dari lubang itu. Dari balik debu, satu siluet besar berkaki empat perlahan menampakkan diri, dengan geraman yang menusuk tulang. Beep peringatan Modulator bereaksi lagi, namun kali ini, bukan itu 'kanker' utamanya sekarang...

 Satu. Dua. Tiga.

Raka mengambil tiga langkah ke belakang, hampir tersandung tong sampah yang ada. Tatapannya fokus, terkunci pada siluet besar itu sembari menyadari keanehan lainnya. "Aneh..." gumamnya, "...Bukannya ada dua spirit, ya...?"

 "Tapi, yang keliatan cuma satu doang nih,"

 "...Eh...? Apa jangan-jangan..."

Perkataannya mati di ujung lidah, tercekik di antara tenggorokan begitu gulungan debu itu memuntahkan sebuah Essence Core yang melesat lalu menghantam dinding, meninggalkan sebercak tanda kenangan di samping telinganya.

 Sorot matanya bergeser perlahan, mendarat kasar pada benda itu yang kini tergeletak di lantai. Seluruh ragunya luruh seketika—inti dari eksistensi sebuah spirit, terlepas dari induknya. "...Ga bagus ini situasinya, " gumamnya, meneguk ludah. "Eizo, siap-siap..."

 Pandangannya beralih, terpaku kembali ke arah kabut debu yang kini mulai melahirkan sesosok siluet dari kegelapannya.

 Saat debu terakhir tersingkap, nampaklah wujud predator yang mengerikan: seekor makhluk hibrida dengan moncong tajam serigala dan ekor lebat rubah yang mengibas gelisah.

 Di beberapa bagian vital tubuhnya—bahu, punggung, dan rahang—terdapat plat armor metalik yang tampak menyatu dengan daging spiritualnya, berpendar ungu redup setiap kali ia menggeram.

​ "Lah...Armored Chimera? Terlebih...di tengah kota?!"

Raka mengusap wajahnya yang mulai kotor terkena jelaga. "Eizo, keknya ini bukan spirit territorial biasa...Tu armor...itu modifikasi buatan manusia, kan?"

​ Eizo tidak menjawab dengan kata-kata, namun Raka bisa merasakan aliran energi dingin di punggungnya menegang—sebuah sinyal konfirmasi yang tidak menyenangkan.

​ Makhluk itu merendahkan tubuhnya, cakarnya mengoyak jalan gang hingga hancur. Matanya yang kuning vertikal menatap Raka seolah pria itu hanyalah hambatan kecil menuju tujuannya. Tanpa peringatan, sang predator melesat. Ia tidak lari, ia melesat bagaikan anak panah perak yang membelah sisa-sisa debu.

​ "Ahh!!" Raka memutar tubuhnya ke samping, gerakannya nyaris terlambat. Angin kencang hasil terjangan makhluk itu menyambar jaketnya, membuatnya terhuyung.

​BZZTT! Modulator di tangannya bergetar hebat.

​> WARNING: UNKNOWN GEAR DETECTED ON TARGET

> SPEED: 120 KM/H AND INCREASING

-----------------------------------------

"...Sial kali keknya gw hari ini!" ungkapnya sembari menghindari terkaman yang datang bersamaan, kekesalan mendidih di nadanya.

 

Predator hibrid itu mengendalikan terjangannya—cakarnya mengikis tanah, menahan beratnya hanya beberapa inci sebelum sempat melakukan kontak dengan dinding, menciptakan momentum dan ruang terbuka yang menyambut penuh serangan-serangan berikutnya.

 Terkaman demi terkaman berhasil ia hindari, semua berkat bantuan Eizo yang mengendalikan refleks gerakan Raka melalui bayangannya sendiro.

 "Cihh...Hampir aja, nyusahin emang spirit petarung beginian..." gumamnya pelan, nafasnya sedikit terengah-engah. Ia menyipitkan mata, mencoba mencari celah untuk mendapatkan keunggulan dari situasi yang mendesak ini.

 Di antara semua detail yang dapat ia cerna, dua detail terasa mencolok bagaikan sepasang kaktus kering di tengah padang salju—bagaimana predator di depannya, yang terlihat buas ini, bereaksi pada bunyi-bunyi tajam yang ia hasilkan sendiri, serta bagaimana ia terlihat mencoba melindungi area di kepalanya ketika menerjang. "...Hmm...Gerak-geriknya aneh..."

 Perhatian Raka sudah terpusat pada dua hal ini. Ketika sang spirit mengeluarkan erangan kasar begitu bunyi tajam melengking dihasilkan dari gesekan cakarnya sendiri. Ketika sang spirit mencoba memalingkan kepalanya saat hampir melakukan kontak langsung dengan dinding.

 ...Semuanya masuk akal sekarang.

 Sebuah seringai terlukis bebas di wajah Raka, bagai seekor kucing yang habis melahap ikan teri. "Hoo...Jadi gitu, ya? Heheh...Pantes aja kamu punya armor ngelindungin bagian-bagian vital..."

 "Pancaindra mu diupgrade, toh...Ga heran kalau spirit kayak gini itu bekas eksperimen."

 Postur Raka perlahan mulai terlihat lebih siap dan percaya diri, mengetahui bahwa ia memegang kunci kemenangannya kali ini. Dan, jelas bahwa sang predator tak mengharapkan tindakan ini. Langkahnya terhuyung mundur, seolah kehilangan dominasi yang baru saja ia pegang.

 "Hmm? Aaahh...Mudah terintimidasi, ya...? Coba aja tau dari tadi..."

 "Jujur, kasian juga sih sama spirit modelan kayak kamu...Jadi korban pelampiasan pikiran busuk manusia..." samar-samar ucapnya, sementara bayangannya, tubuh Eizo, mulai menyebar ke segala arah. "Tapi, ga ada pilihan lain...Nasib adek gw lebih penting sekarang..."

"...Simpati tanpa rasionalitas bakal jadi beban buat gw."

 "Santai, ga bakal sesakit itu...Janji."

Gumam Raka untuk terakhir kalinya.

 Sang spirit yang terhuyung ragu perlahan mendapati ruang geraknya yang kian menyempit, terkekang oleh bayangan yang melilit kakinya. Ketajaman di tatapannya mulai pudar, digantikan dengan teror begitu kenyataan menimpa dirinya—tak ada lagi tempat bagi dirinya untuk melangkah

 Kemanapun ia memandang, hasilnya nihil. Hampir setiap sudut gang itu telah terbalut oleh lapisan bayangan yang terasa mencekik setiap detiknya.

 Sang Armored Chimera menggeram putus asa, kakinya mencakar-cakar aspal, mencoba melepaskan diri dari jeratan bayangan Eizo yang semakin erat dan dingin. Mata kuningnya menatap Raka dengan campuran rasa takut dan amarah yang murni.

Namun, Raka tidak lagi melihatnya sebagai ancaman mematikan, melainkan sebuah teka-teki logika yang baru saja ia temukan kunci jawabannya.

 Seringai Raka semakin lebar. Pikirannya berputar cepat, menyusun skenario taktis dalam hitungan detik. "Eizo, tahan dia sedikit lagi di tempat. Jangan biarkan dia bergerak sedikitpun." perintah Raka melalui batin, tangannya sibuk mengotak-atik Modulator di telapak tangannya.

 "Cepat...Menahan jeratan seperti ini menguras energi lebih dari yang kau kira," balas Eizo, suaranya terdengar sedikit tegang di benak Raka.

 Raka tidak menjawab. Jari-jarinya menari di atas proyeksi hologram Modulator, mengubah parameter output frekuensi dasar alat itu. Indikator merah di ujung Modulator mulai berkedip cepat, memancarkan cahaya ungu yang tidak stabil.

 "Okeh, selesai." gumam Raka. Ia menempelkan Modulator itu ke botol minuman keras yang baru saja ia beli di NeoMart, menggunakan botol kaca itu sebagai resonator darurat untuk memperkuat sinyal.

 "Woi, guguk!" seru Raka, menarik perhatian sang Chimera. "Pernah dengar lagu 'Rapsodi Frekuensi Tinggi'?"

 Tanpa menunggu jawabannya, Raka menekan tombol aktivasi pada Modulator.

 ZAPPPPP! KRRR-CHHHH!

 Gelombang suara berfrekuensi sangat tinggi, jauh di atas ambang batas pendengaran manusia, meledak dari Modulator dan diperkuat oleh botol kaca. Bagi Raka, itu hanya terdengar seperti dengungan samar yang mengganggu, tapi bagi sang Armored Chimera yang indra pendengarannya telah ditingkatkan secara artifisial, itu adalah siksaan murni.

 Makhluk itu melolong kesakitan, sebuah suara parau yang cukup menyayat hati dan telinga yang mendengar. Kepalanya berayun panik ke kiri dan ke kanan, mencoba melepaskan diri dari suara yang seolah menusuk langsung ke otaknya. Armor metalik di rahang dan punggungnya bergetar hebat, memancarkan percikan api kecil akibat interferensi frekuensi.

 "Mantap...kena juga kau..."

 Celah itu terbuka. Dalam kepanikannya, sang Chimera melupakan pertahanannya. Plat armor di kepalanya sedikit terangkat, memperlihatkan celah kecil di antara lapisan logam dan kulit spiritualnya. Dan yang lebih penting, matanya yang kuning vertikal tertutup rapat, melindunginya dari rasa sakit yang tak tertahankan.

 "GAS IN, EIZO!" teriak Raka.

 Itulah perkataan yang sudah Eizo tunggu-tunggu sedari tadi, akhirnya datang juga.

Dalam sekejap, bayangan tipis yang mengikat kaki sang Chimera menyebar, mengalir di atas tubuh makhluk itu seperti tinta hitam yang hidup. Eizo memusatkan kekuatannya, menyelinap melalui celah sempit di armor kepala yang terbuka.

 Raka bisa merasakan lonjakan energi dingin saat Eizo melakukan kontak langsung dengan Essence Core sang Chimera. Detik berikutnya, jeritan makhluk itu berhenti total, diledakkan dari dalam.

Tubuh besarnya mendadak kaku, diikuti dengan ledakan yang muncul dari dalam yang kemudian ditelan oleh Eizo, lalu ambruk ke aspal dengan dentuman keras, tidak lagi bergerak. Armor metaliknya meredup, kehilangan energinya.

 Modulator di tangan Raka berhenti berdenging. Keheningan tiba-tiba menyelimuti gang terbengkalai itu, hanya menyisakan suara napas Raka yang terengah-engah dan debu yang perlahan mengendap.

 Raka menatap tubuh kaku sang Chimera dengan perasaan campur aduk. "Hah...Berhasil," gumamnya, menyeka keringat dingin di dahinya. "Ei, Eizo, aman?"

 "...Lumayan...setidaknya." suara Eizo kembali ke pikirannya, kali ini terdengar lebih tenang namun tetap sarkastik. "Tapi jangan harap aku akan melakukan ini lagi tanpa...imbalan tambahan."

 

 Raka memutar bola matanya, menghembuskan napas panjang begitu kalimat itu keluar dari Eizo, seolah mengatakan 'mulai lagi' "Ya, ya.. Empat botol soda cuka premium. Deal is a deal." balas Raka, mendesah pelan mengingat isi dompetnya yang semakin menipis.

 Tiba-tiba, ponsel di saku jaketnya bergetar lagi, memecah keheningan. Nama 'Rina' kembali berkedip di layar.

 "Aduhhh! Rina!" Raka tersentak, teringat kembali pada keadaan darurat di apartemennya. Tanpa membuang waktu, ia menyambar Modulator dan botol minumannya, lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan gang itu. "Rin! I-iya ini udah beres! Otw balik! Tahan dulu!" teriaknya ke ponsel saat ia melesat kembali ke jalanan 4th District yang ramai.

Di belakangnya, tubuh Armored Chimera yang tak sadarkan diri tergeletak di antara reruntuhan bata, menjadi saksi bisu pertarungan singkat namun intens antara seorang Tracer serta spiritnya yang bokek dan makhluk hasil eksperimen yang malang. Di kejauhan, sirine Outpost S.E.A. mulai terdengar sayup-sayup, mendekat ke lokasi ledakan.

​...Sementara sang Tracer melesat pergi, menghilang dari tempat kejadian yang semrawut itu, teman bayangannya diam-diam merasakan sesuatu yang asing menyelinap masuk ke zona nyamannya.

More Chapters