Cherreads

Chapter 1 - Chapter 1 – When the Boundary Trembled

Chapter 1 – When the Boundary Trembled (Saat Batas Itu Bergetar)

Dunia tidak pernah benar-benar damai. Bahkan di era sebelum perang zaman kuno itu terjadi, sebelum langit pertama kali mengenal warna dari kehancuran yang sesungguhnya, konflik sudah menjadi bagian dari tatanan yang ada. Para Immortal berperang memperebutkan wilayah kosmik, saling menghancurkan alam semesta yang berada dalam kendali masing-masing, membentuk dan membubarkan aliansi yang usianya kadang melampaui peradaban dan kadang tidak bertahan lebih lama dari satu pertempuran.

Bencana terjadi bukan sebagai pengecualian melainkan sebagai konsekuensi alami dari eksistensi mereka; galaksi yang runtuh karena dua Immortal King berebut otoritas atas hukum ruang di dalamnya, alam semesta yang terbakar dari dalam karena seorang Immortal Monarch memutuskan ia tidak lagi membutuhkan sejarahnya, dimensi yang terbelah dan tidak pernah kembali utuh karena dua kehendak yang sama-sama tidak mau membungkuk saling berbenturan di dalamnya.

Semua itu terjadi dan semua itu nyata, tapi bagi para Immortal yang hidup di era itu semua itu masih berada dalam batas yang bisa dimengerti. Perang masih punya logika. Kehancuran masih punya sebab. Bahkan konflik terbesar yang pernah tercatat dalam ingatan para Immortal paling tua masih bergerak dalam kerangka hukum yang mereka kenal; sebab dan akibat masih berjalan ke arah yang benar, Sungai Waktu masih mengalir dalam arus yang bisa dibaca, dan Tirai Bintang Pembatas Alam masih berdiri di tepi tatanan seperti yang selalu ia lakukan sejak awal keberadaannya.

Tirai Bintang Pembatas Alam adalah batas yang tidak pernah menjadi pusat perhatian justru karena ia tidak pernah berubah. Ia memisahkan tatanan kosmik yang dikenal dari apa yang ada di luarnya; bukan tembok yang dibangun, bukan hukum yang ditetapkan oleh siapapun, melainkan batas yang lahir bersamaan dengan keberadaan realitas itu sendiri, eksis karena realitas membutuhkan tepi untuk menjadi realitas. Para Immortal yang berumur panjang mengenalnya sebagai latar belakang kosmik yang tidak perlu dipikirkan, seperti mengetahui bahwa langit ada di atas tanpa perlu terus mendongak untuk memastikannya.

Sampai permukaannya mulai berubah... Tidak ada yang bisa menunjuk kapan tepatnya dimulai, karena perubahannya terlalu halus untuk ditangkap oleh pengamatan biasa.

Getaran pertama di permukaan Tirai Bintang Pembatas Alam tidak lebih keras dari pergerakan satu partikel di dalam lautan energi kosmik yang sudah ada selama jutaan siklus. Tapi ia ada, dan setelah getaran pertama itu yang lain mengikuti; perlahan, tidak beraturan, seperti sesuatu dari sisi lain yang sedang mencari titik paling tipis dari batas yang memisahkannya dari tatanan yang ada di sini.

Kemudian tiga warna mulai bocor dari permukaannya, merembes keluar dari celah-celah kecil yang terbentuk di titik-titik yang tidak bisa ditunjuk dengan koordinat ruang biasa.

Yang pertama hijau; bukan hijau yang hidup atau segar, melainkan hijau pekat dan tidak stabil, berpendar dengan cara yang tidak mengikuti pola apapun, merembes keluar seperti cairan. Di sekitar titik bocornya, hukum kehidupan yang mengatur hal-hal kecil di dekatnya mulai berperilaku ganjil; tanaman yang seharusnya tumbuh berhenti di tengah jalan, eksistensi kecil yang tidak cukup kuat untuk bertahan di dekat energi itu mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak punya nama dalam taksonomi yang pernah ada.

Yang kedua gelap; energi yang punya berat dan kehendak sendiri, kekosongan yang diberi massa dan dipaksa hadir secara fisik. Ia mengalir keluar dari Tirai Bintang Pembatas Alam dan langsung mengonsumsi cahaya di sekitarnya, menghapus jejak bahwa cahaya itu pernah ada. Di titik-titik di mana energi gelap itu menggenang, ruang mulai kehilangan kepastiannya dan celah-celah kecil terbuka tanpa sebab tanpa mau menutup kembali.

Yang ketiga merah, dan yang ini paling berbeda dari keduanya. Ia merembes sangat perlahan, hampir tidak terdeteksi, tapi di mana ia menyentuh lapisan realitas di sekitar Tirai Bintang Pembatas Alam, hukum-hukum yang mengatur tempat itu mulai berjalan tidak selaras. Sebab dan akibat di titik yang tersentuh energi merah itu kehilangan satu derajat kepastiannya, seperti roda yang kehilangan satu gerigi tapi belum berhenti berputar; masih berjalan, tapi tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya.

Para Immortal yang pertama kali melihat ini tidak langsung bertindak. Mereka mengamati, dan dalam pengamatan itu mereka merasakan sesuatu yang bahasa di era itu tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkannya. Bukan ketakutan dalam artian yang mereka kenal dari perang-perang sebelumnya, bukan antisipasi terhadap lawan yang lebih kuat atau kalkulasi tentang kekuatan yang harus dipersiapkan. Ini datang dari bagian diri mereka yang terhubung langsung dengan hukum-hukum yang mengatur realitas, dari fondasi eksistensi mereka yang tiba-tiba mengenali sesuatu yang tidak bisa dikenali dengan cara biasa; seperti seluruh tubuh yang mengetahui racun sebelum pikiran sempat memberi nama pada rasa sakitnya.

Hukum sebab dan akibat yang selama ini mengalir tanpa gangguan mulai memunculkan keretakan yang bisa dirasakan bahkan oleh mereka yang sedang bertempur di alam semesta jauh dari Tirai Bintang Pembatas Alam. Sungai Waktu yang biasanya membentang dengan ketenangan mutlak mulai memunculkan pusaran di permukaannya.

Momen-momen dari waktu yang tidak seharusnya berdekatan saling bersentuhan di dalam alirannya, arus yang biasanya membawa masa lalu dan masa depan di jalurnya masing-masing mulai mencampur keduanya di titik-titik tertentu. Para Immortal yang sensitif terhadap aliran waktu merasakan ini sebagai disorientasi yang tidak pernah mereka alami sebelumnya, seperti membaca peta yang titik-titiknya tiba-tiba berpindah tempat tanpa ada yang menggerakkannya.

Sebelum siapapun sempat menarik kesimpulan, Tirai Bintang Pembatas Alam terbuka sepenuhnya!

Bukan robek dan bukan hancur oleh serangan dari luar. Ia terbuka seperti batas yang sudah terlalu lama menahan sesuatu akhirnya tidak bisa lagi melakukannya, dan seluruh eksistensi Immortal merasakannya dalam satu momen bersamaan tanpa peduli di alam mana mereka berada atau di tengah pertempuran apa mereka sedang berdiri.

Fondasi realitas yang menopang mereka semua bergetar dalam satu frekuensi yang tidak pernah ada sebelumnya; bukan gelombang yang merambat dari satu titik, melainkan sesuatu yang langsung hadir di dalam lapisan terdalam dari tatanan yang mengatur semua yang ada.

Dan dari celah yang terbuka itu, mereka muncul! Bentuk mereka hampir menyerupai manusia; hampir, cukup dekat untuk membuat mata mencoba mengenali, namun terlalu jauh untuk benar-benar dipahami. Proporsi yang tidak asing, garis yang mengikuti pola yang seharusnya, tapi ada yang salah pada tingkat yang lebih dalam dari penglihatan. Bukan salah bentuk, melainkan salah keberadaan; seolah apa yang terlihat adalah proyeksi dari sesuatu yang dipaksa menyesuaikan diri dengan realitas ini tanpa pernah benar-benar menjadi bagian darinya. Kehadiran mereka terasa lebih dulu dari bentuk mereka sendiri, seperti sesuatu yang tiba di dalam eksistensi sebelum realitas sempat menyiapkan tempat untuknya.

Sebagian dari mereka memancarkan energi hijau yang berpendar tidak stabil, menyebar ke udara di sekitar tubuh mereka seperti wabah yang tidak butuh medium untuk berpindah. Di mana kaki mereka menyentuh permukaan medan, hukum kehidupan di sekitarnya tidak hanya mati; ia lupa cara menjadi relevan. Eksistensi yang terlalu dekat merasakan sesuatu dari dalam dirinya mulai bergeser, bukan menuju kehancuran yang bisa dikenali, tapi menuju sesuatu yang tidak lagi bisa disebut dengan nama yang sama seperti sebelumnya.

Yang lain dikelilingi kegelapan yang menyelimuti tubuh mereka seperti kulit kedua; energi gelap yang bergerak dan mengonsumsi, yang membuat ruang di dekat mereka kehilangan kepastian akan batas-batasnya sendiri. Celah spasial terbuka di jalur yang mereka lewati, robekan dalam jaringan ruang yang tidak mau menutup kembali dan terus melebar seiring energi gelap itu mengalirinya.

Para Immortal merasakan tekanan itu bahkan sebelum serangan pertama mendarat. Ini adalah tekanan dari keberadaan yang tidak tunduk pada hukum yang sama, yang tidak bereaksi terhadap serangan dengan cara yang bisa diprediksi, yang hadir di dalam realitas ini tapi tidak benar-benar merupakan bagian dari realitas ini. Hukum yang selama ini menjadi fondasi dari semua yang bisa mereka lakukan terasa seperti sesuatu yang tiba-tiba lebih tipis; seperti berdiri di atas lapisan yang selama ini diyakini padat lalu menyadari bahwa ada kedalaman di bawahnya yang tidak pernah terlihat sebelumnya.

Medan tempat benturan pertama terjadi adalah hamparan yang fondasinya terbentuk dari lapisan-lapisan hukum kosmik yang sudah mengeras selama jutaan siklus; permukaan yang bukan tanah dalam artian biasa, melainkan sedimen dari eksistensi yang sudah terlalu lama padat untuk bereaksi terhadap kehadiran yang tidak cukup besar. Langit di atasnya menyimpan tegangan energi kosmik yang terakumulasi sejak sebelum peradaban pertama lahir, bergerak dalam lapisan yang tidak terlihat oleh mata biasa namun terasa sebagai tekanan konstan oleh siapapun yang eksistensinya sudah cukup dalam. Formasi-formasi batu hitam yang terbentuk bukan oleh geologi biasa menjulang ke segala arah dengan retakan-retakan di sela-selanya yang memancarkan cahaya dari energi kosmik yang terperangkap di dalamnya sejak zaman yang tidak punya nama.

Ini adalah tempat yang bisa menahan kehadiran mereka; tempat yang fondasinya tidak akan runtuh hanya karena makhluk-makhluk itu berdiri di atasnya, setidaknya tidak langsung.

Ketika pertempuran dimulai, dampaknya tidak hanya terasa di medan itu. Setiap benturan besar mengirim getaran ke dalam struktur hukum yang mengatur alam-alam di sekitarnya. Sungai Waktu yang melintasi medan itu terguncang oleh intensitas benturan-benturan tersebut, alirannya membelah di titik-titik tertentu dan menciptakan arus anomali yang membawa momen-momen dari versi dunia yang belum terjadi.

Para Immortal yang bertempur di dekat arus yang membelah itu sesekali melihat bayangan diri mereka sendiri melakukan sesuatu yang belum mereka putuskan. Celah spasial yang dibuka oleh energi gelap para makhluk itu tidak menutup bahkan setelah pertempuran bergerak menjauhinya, meninggalkan robekan permanen dalam jaringan ruang yang terus mengubah geometri medan.

Di tengah semua itu, Kubah Petir Abadi berdiri kokoh sebagaimana ia selalu berdiri.

Ia sudah ada di sana jauh sebelum perang ini dimulai, domain yang terbentuk dari akumulasi hukum guntur dan hukum akhir yang selama jutaan siklus mengendap di titik itu sampai menjadi sesuatu yang permanen dan hidup dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh arsitektur biasa. Di dalamnya, guntur bergema tanpa henti sebagai satu suara yang tidak pernah berhenti sejak pertama kali dimulai, berkelanjutan dan dalam, getarannya meresap ke dalam fondasi tanah dan ke dalam lapisan realitas di bawah permukaan yang terlihat. Petir yang ada di dalamnya ada di mana-mana dalam kubah itu sekaligus, menempati seluruh ruang di dalam strukturnya, menghukum siapapun yang masuk tanpa izin dengan cara yang tidak memberi kesempatan kedua.

Penjaganya disebut Penaung Guntur Abadi; bukan satu sosok dan bukan satu generasi, melainkan gelar yang diwariskan kepada mereka yang dipilih oleh Kubah Petir Abadi itu sendiri untuk berdiri sebagai perpanjangan dari kehendaknya.

Ketika makhluk-makhluk yang membawa kegelapan mencoba memasuki domain itu, para Penaung Guntur Abadi membiarkan kubah berbicara sendiri. Petir di dalamnya memanggil sesuatu yang lebih dalam dari guntur biasa. Hukum akhir yang tersimpan di fondasinya mulai bergerak, dan setiap sambaran yang keluar membawa di dalamnya pernyataan tentang batas eksistensi, tentang di mana sesuatu seharusnya berhenti ada. Beberapa makhluk yang membawa kegelapan berhenti melangkah maju bukan karena terluka tapi karena sesuatu di dalam mereka mulai mengenali bahwa di tempat ini, batas itu nyata dan tidak bisa diabaikan.

Tidak jauh dari sana, seorang Immortal Emperor berdiri di atas Kereta Penghancur Zaman dan mengarahkannya ke barisan terdepan musuh.

Kereta itu bukan kendaraan dalam artian yang sederhana; ia dibuat untuk satu fungsi yang tidak punya nama lebih pendek dari deskripsinya sendiri. Roda-rodanya berputar di atas permukaan yang tidak selalu ada, melintasi lapisan realitas seperti sesuatu yang tidak membutuhkan izin dari hukum ruang untuk bergerak di dalamnya. Di jalur yang ia tinggalkan, zaman berubah; sesuatu yang seharusnya ada di sana tiba-tiba terlalu tua untuk berdiri, sesuatu yang lain terlalu muda untuk sudah ada, urutan waktu di titik yang ia lewati berjalan ke arah yang kereta itu tentukan. Ketika Kereta Penghancur Zaman menghantam barisan makhluk-makhluk itu, era di sekitar titik benturan digulung; waktu diperas sampai apa yang seharusnya terjadi dalam rentang satu zaman terjadi dalam satu momen, dan makhluk-makhluk yang ada di titik itu kehilangan pijakan temporalnya, terlempar keluar dari garis waktu yang seharusnya menopang keberadaan mereka di realitas ini.

Perang ini bukan perang biasa dan semua yang ada di era itu tahu itu. Bukan karena skalanya yang besar; skala besar sudah pernah ada sebelumnya. Tapi karena untuk pertama kalinya yang gugur tidak hanya kehilangan nyawa mereka, melainkan meninggalkan kekosongan di dalam fondasi realitas yang harus diisi sebelum hukum di sekitarnya runtuh mengikuti.

Setiap Immortal yang jatuh adalah satu titik yang hilang dari jaringan yang menopang tatanan kosmik, dan jaringan yang sudah kehilangan terlalu banyak titik tidak lagi bisa mempertahankan bentuknya. Ribuan Immortal menanggung luka yang mengoyak lapisan eksistensi mereka lebih dalam dari yang bisa disembuhkan oleh cara yang mereka kenal, dan ratusan di antaranya tidak bangkit lagi.

Di sekitar Tirai Bintang Pembatas Alam, pertempuran mengambil bentuk yang berbeda dari yang terjadi di medan terbuka. Di sini tujuannya bukan mengalahkan tapi menahan; menahan celah itu agar tidak melebar lebih jauh, menahan gelombang berikutnya yang terus mengalir keluar dari dalamnya. Para Immortal yang bertempur di titik ini berhadapan dengan tekanan berlapis; tekanan dari Tirai Bintang Pembatas Alam yang semakin menipis, dari energi tiga warna yang terus bocor dan merusak lapisan realitas di sekitarnya, dari makhluk-makhluk yang terus keluar dan langsung menyerang siapapun yang mencoba mendekati celah itu.

Seorang Immortal bergerak di antara retakan-retakan itu dengan petir yang ia kendalikan bukan sebagai senjata biasa tapi sebagai bahasa; setiap sambaran yang ia kirimkan membawa perintah kepada hukum-hukum di sekitarnya, memaksa ruang yang sudah mulai kehilangan bentuknya untuk kembali ke batas yang seharusnya, membakar energi hijau yang bocor sebelum sempat menginfeksi lapisan realitas lebih jauh. Petirnya bergerak dengan kesadaran, memilih jalurnya sendiri, mengincar titik-titik di mana hukum paling rapuh dan memperkuatnya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari hukum itu sendiri.

Di sisinya seorang Immortal lain menghunus pedang yang bilahnya terbentuk dari hukum pemisahan yang dipadatkan menjadi tepi yang bisa memotong bukan hanya materi tapi juga ikatan; ikatan antara sebab dan akibat, ikatan antara ruang dan apa yang seharusnya ada di dalamnya, ikatan antara eksistensi dan fondasi yang menopangnya.

Setiap tebasan yang mendarat pada makhluk-makhluk itu memotong hubungan mereka dengan energi yang mempertahankan keberadaan mereka di realitas ini, membuat mereka semakin asing dari tatanan yang sudah berusaha keras untuk tidak menerima mereka sejak awal.

Di sisi kirinya, tiga Immortal Monarch baru saja jatuh menghadapi satu makhluk yang sama.

Immortal Emperor lain membawa bendera yang ditenun dari bahan Benang Danau Semesta yang tidak bisa disebut oleh hukum materi biasa, bergerak bukan mengikuti angin tapi mengikuti arus hukum kosmik di sekitarnya. Setiap kali bendera itu diayunkan, ia membentuk domain sementara di sekitar titik yang ditujunya; wilayah di mana hukum yang berlaku adalah hukum yang dikehendaki pembawanya, wilayah di mana makhluk-makhluk itu tiba-tiba menemukan bahwa ketidaktundukan mereka pada realitas ini tidak lagi berfungsi. Di dalam domain yang dibentuk oleh bendera itu mereka menjadi lebih nyata, lebih terikat, lebih bisa disentuh oleh serangan yang sebelumnya menembus mereka tanpa efek.

Seorang wanita berpakaian emas bergerak di antara semuanya. Emas di pakaiannya bukan kilauan yang mencolok; emas yang dalam, seperti warna yang ada sebelum matahari belajar menjadi terang. Kehadirannya mengubah medan di sekitarnya dengan cara yang berbeda dari para Immortal lain yang bertempur; di radius keberadaannya hukum berjalan lebih tepat, setiap kemungkinan yang ada di sekitarnya dipaksa memilih satu bentuk tanpa ada lagi ruang untuk ambiguitas.

Ia menyerang menggunakan Belenggu Titah; kekuatan yang bekerja bukan dengan merusak eksistensi lawan, melainkan dengan mengunci semua kemungkinan yang tersedia baginya ke dalam satu garis yang sudah ia tetapkan. Makhluk yang terkena Belenggu Titah tidak kehilangan kekuatannya, ia kehilangan pilihan; setiap kemungkinan untuk bergerak, untuk menyerang, untuk melawan sudah dihapus dari daftar yang bisa ia akses, sampai yang tersisa hanya satu akhir yang tidak bisa ia hindari.

Masalahnya, medan di belakangnya tidak diisi oleh Immortal Emperor.

Lalu sesuatu berubah di Tirai Bintang Pembatas Alam untuk kedua kalinya, dan perubahan ini berbeda dari yang pertama dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh perbandingan apapun yang ada. Para Immortal yang bertempur di sekitar celah itu merasakannya pertama kali sebagai tekanan yang datang dari dalam Tirai Bintang Pembatas Alam sendiri, dari kedalaman yang ada di balik celah yang sudah terbuka, dari sesuatu yang selama pertempuran ini berlangsung belum menampakkan dirinya.

Dari dalam celah Tirai Bintang Pembatas Alam, sepasang kuda muncul perlahan.

Tubuh mereka besar, jauh melampaui proporsi kuda yang pernah ada di tatanan manapun, dengan otot-otot yang bergerak di bawah kulit yang berwarna seperti kegelapan yang dibakar dari dalam oleh bara yang tidak pernah padam. Mata mereka merah, bukan merah yang hidup melainkan merah yang kosong, seperti dua lubang yang memperlihatkan sesuatu di baliknya yang tidak seharusnya dilihat.

Dari setiap langkah kaki mereka yang menyentuh permukaan medan, fondasi di bawahnya retak karena realitas di bawah pijakan mereka tidak cukup kuat untuk menerima keberadaan mereka tanpa membayar harga. Napas yang keluar dari hidung mereka bukan uap biasa; ia mengalir turun ke permukaan medan seperti kabut yang membawa di dalamnya sesuatu yang membuat hukum-hukum kecil di sekitarnya berjalan mundur.

Kemudian kereta di belakang mereka muncul mengikuti; kokoh, gelap, membawa di setiap garis bentuknya sesuatu yang terasa lebih tua dari alam semesta manapun yang ada di tatanan kosmik ini, dengan pintunya yang tertutup dan di dalamnya sesuatu yang keberadaannya sudah terasa oleh semua yang masih hidup di sekitarnya bahkan sebelum pintu itu terbuka.

Para Immortal yang bertempur di sekitar celah Tirai Bintang Pembatas Alam mati pada saat Kereta Kuda itu selesai muncul sepenuhnya. Bukan karena diserang, bukan karena ada serangan yang mendarat pada tubuh mereka; eksistensi mereka runtuh begitu keberadaan yang ada di dalam Kereta Kuda itu hadir penuh di realitas yang sama dengan mereka. Seperti cahaya lilin yang padam bukan karena ditiup melainkan karena matahari baru saja terbit dan skala yang berbeda itu sendiri sudah cukup untuk membuat keberadaan mereka tidak lagi bisa mempertahankan dirinya.

Kemudian aura merah itu keluar dari dalam Kereta Kuda!

Tidak menyebar seperti cahaya dan tidak mengalir seperti energi biasa. Ia hadir sekaligus, di mana-mana, menyentuh setiap sudut medan perang di semua lapisan eksistensi yang terlibat dalam satu tarikan tanpa jeda.

Merah yang lebih dalam dari warna, lebih berat dari konsep, lebih tua dari hukum yang menetapkan bahwa warna adalah cara untuk membedakan satu hal dari yang lain. Di mana aura itu menyentuh retakan-retakan di fondasi hukum yang sudah hancur oleh pertempuran, retakan itu berhenti relevan.

Bukan disembuhkan atau ditutup, tapi diabaikan oleh kehadiran yang skalanya membuat kerusakan itu tidak lebih berarti dari debu di permukaan sesuatu yang jauh lebih besar. Di mana ia menyentuh para Immortal yang masih bertempur, mereka merasakan struktur yang selama ini tunduk pada kehendak mereka tiba-tiba terasa seperti konstruksi yang jauh lebih kecil dari yang pernah mereka sadari sebelumnya; bukan karena kekuatan mereka berkurang, tapi karena skala dari apa yang baru saja hadir membuat semua yang pernah mereka anggap besar menjadi sesuatu yang perlu diukur ulang.

Makhluk-makhluk yang selama pertempuran tidak pernah berhenti bergerak maju, yang tidak pernah mundur bahkan ketika gelombang serangan para Immortal melanda mereka, mulai berhenti bergerak. Ada yang berdiri diam di titik yang mereka injak, ada yang menarik diri beberapa langkah ke belakang, semuanya menghadap ke arah Kereta Kuda dengan cara yang tidak pernah mereka tunjukkan kepada siapapun selama pertempuran ini berlangsung.

Pintunya belum terbuka. Sosok yang ada di dalamnya belum keluar dan belum melakukan apapun yang terlihat. Tapi aura merah itu terus mengalir keluar, terus menyebar, terus menyentuh setiap lapisan eksistensi yang masih berdiri di medan ini dan di semua alam yang merasakan getaran dari perang ini; sebuah pernyataan yang tidak membutuhkan kata, bahwa sesuatu yang ada di dalam Kereta Kuda itu berada di tingkat yang berbeda dari semua yang pernah hadir di tatanan kosmik ini sebelumnya.

Di ujung medan, seorang Immortal berhenti sejenak di antara semua yang masih berlangsung. Rambutnya putih dengan pedang di tangannya, tubuhnya penuh luka yang sudah berhenti ia hitung sejak lama. Matanya bergerak ke Kereta Kuda itu, ke pintu yang belum terbuka, ke aura merah yang masih terus mengalir ke seluruh penjuru.

Dalam kepalanya tidak ada kalkulasi tentang kekuatan, tidak ada strategi yang dirumuskan, tidak ada kesimpulan yang ditarik; hanya satu pertanyaan yang muncul dengan sendirinya dan tidak butuh jawaban untuk tetap membuatnya melangkah.

"Sampai kapan kita bisa bertahan?"

Ia mengalihkan pandangannya dari Kereta Kuda dan kembali menghadap ke depan, ke pertempuran yang belum selesai, ke medan yang masih penuh dengan mereka yang datang dan mereka yang masih berdiri. Kakinya bergerak maju.

Perang belum berakhir.

More Chapters